
"Dimana Malvin? Kata Mama dia akan datang," ucap Danita kecil pada mamanya.
"Sayang. Tuan Brown datang untuk bisnis dengan Papa. Jika Malvin ikut tentu saja akan mengganggu."
"Malvin kan bisa bermain denganku Ma."
Mama hanya tersenyum. Mereka menuruni tangga sampai ke bawah. Semua orang tertawa dan bahagia dengan acara itu.
Craangg. Craaang.
Kaca jendela rumah itu mulai pecah satu persatu. Lalu beberapa orang masuk menggunakan topeng. Mereka menembak dengan membabi buta. Sampai saat seorang penembak datang pada Mama dan Danita.
Door. Door. Door.
Tiga tembakan berhasil menembus tubuh Mama. Darah memercik pada tubuh Danita. Dia tidak peduli dan duduk disisi Mama. Danita menangis seketika, sampai pria itu mengacungkan pistol pada Danita.
"Ke kenapa kalian membunuh orang tuaku?" Tanya Danita.
"Kau masih kecil. Belum paham."
Perlahan topeng orang itu terbuka. Tersenyum dengan lembut. Lalu setelah Danita melihat jelas siapa dirinya. Pria itu lalu memakai topeng dan kembali pergi.
Pakaian sudah berlumuran darah. Meski begitu Danita tidak terluka sama sekali. Dia berjalan sampai akhirnya dia membuka pintu rumah. Dia berniat untuk meminta bantuan, tapi seseorang berpakaian serba hitam sudah membawanya pergi.
Mata Danita tiba-tiba terbuka. Dia merasa mimpi ini sangat nyata. Bahkan saat ini dirinya tidak bisa membedakan mana nyata mana mimpi.
"Kamu tidak apa?" Tanya Malvin begitu Danita membuka mata.
"Tidak Malvin. Apa terjadi sesuatu padaku?"
Malvin menggeleng. "Panasmu sudah reda. Kau hanya tampak lelah."
Sejak bersama dengan Malvin, Danita sama sekali tidak tahu kenapa dia dinikahi. Cinta, jelas saja tidak mungkin.
"Malvin. Kenapa kau menikahiku?" Tanya Danita.
Malvin menghentikan aktivitasnya. Dia duduk dikursi kecil dan menatap pada Danita. Baru kali ini dia bertanya tentang alasan menikah dengannya.
"Kenapa bertanya?"
"Aku hanya ingin tahu. Jika karena cinta, tidak mungkin bukan."
"Kau akan tahu nanti Danita," ucap Malvin. 'Saat kau ingat semuanya' pikir Malvin.
"Apa karena membenciku?" Entah kenapa Danita bertanya tapi perasaanya sangat sedih.
"Bodoh," Malvin mengelus kepala Danita perlahan, "jika aku benci. Mana mungkin aku menikahimu."
Danita tersenyum dengan perlakuan manis itu. Meski itu bukanlah jawaban yang dia inginkan. Setidaknya Malvin tidaklah membencinya.
"Ada apa sampai kau bertanya seperti itu?"
"Tidak. Aku hanya merasa aneh. Menikah tapi tanpa tahu alasan."
"Tenang saja. Selama hubungan kita baik. Jangan risaukan yang lain, aku suamimu jika butuh apapun katakan."
"Baik."
Hari semakin malam. Danita yang masih belum merasa mengantuk memilih untuk menonton film. Malvin masuk ke dalam kamar dan melihat Danita yang masih tenang menonton.
"Nonton apa?"
__ADS_1
"Film."
"Aku tahu. Film apa?"
"Tidak tahu judulnya. Mau ikut menonton?"
"Boleh."
Mereka duduk di tempat tidur dan menonton bersama. Terlihat sangat romantis memang. Hanya saja mereka masih belum melakukan hubungan suami istri. Malvin masih bingung untuk melakukanya. Meski kadang ada rasa ingin.
Dalam pertengahan film ada adegan berciuman. Bahkan juga lebih dari itu. Danita langsung bersemu merah. Dia memang belum pernah melakukanya. Hanya saja dia seorang wanita dewasa, pasti tahu akan hubungan suami istri itu.
Malvin melirik pada Danita. Tanpa kata sampai dia salah tingkah sendiri. Dia memilih pura-pura untuk tidur dan menyelimuti dirinya sendiri.
"Kau mengantuk?" Tanya Danita.
"Ya."
"Aku juga. Aku matikan TV dulu."
"Ok."
Danita kembali ke tempat tidur. Ikut menyelimuti dirinya. Setelah menonton adegan itu, perasaan Danita dan Malvin begitu aneh. Bahkan terkesan gelisah, sampai akhirnya Malvin berbalik badan dan memeluk tubuh Danita.
Nafas Danita langsung terhenti. Dia tidak berani menghembuskan nafasnya saat ini. Pelukan Malvin begitu lembut hanya saja membuat Danita tidak bisa bernafas.
"Bernafaslah. Aku akan begini sampai pagi," kata Malvin.
"A a aku. Aku..."
"Diamlah. Aku hanya ingin begini."
Mau tidak mau Danita ikut memejamkan mata.
Perlahan mentari pagi menyapa. Malvin masih saja memeluk tubuh Danita dipagi itu. Danita berbalik, menatap pria tampan yang ini menjadi suaminya itu. Melihat wajah Malvin dengan lekat, perlahan kenangan kecil muncul dihadapan Danita.
"Kau berjanji akan menikah denganku? Kapan kita menikah," ucap Danita kecil.
"Saat aku sudah menjadi pengusaha seperti Papa. Aku akan melamarmu. Kita akan bersama," ucap Malvin kecil.
Lalu mereka tertawa bersama. Kembali bermain dalam tenda kecil yang mereka buat.
Seperti kilat yang langsung hilang. Saat itu Danita hanya tahu nama Malvin dan Danita kecil. Dia belum terfikirkan dengan Malvin yang saat ini berada disisinya.
Danita kembali sadar. Kali ini mata Malvin sudah terbuka juga. Senyuman hadir dibibir Malvin. 'Sangat mirip dengan yang dimimpi' pikir Danita saat itu.
"Pagi." Ucap Malvin.
"Pagi juga." Lirih Danita.
"Apa semalam tidur nyenyak?"
Danita mengangguk pelan. Membuat senyuman Malvin semakin lebar saja. Tidak ingin terlena, Malvin beranjak dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Sementara Danita ditinggal dengan perasaan bahagia.
Hari ini Danita akan kembali bertemu dengan Wina. Dia akan belajar beberapa macam bela diri. Sampai Danita menemukan yang cocok denganya.
Sarapan hari ini Malvin dan Danita sama sekali tidak bersuara. Hanya ada mata yang berbicara satu sama lain. Beberapa pelayan juga menyadari ada yang beda dengan kedua majikan mereka itu.
"Kalian lihat apa?" Tanya Lin.
"Tidak Lin. Kami hanya melihat Tuan dan Nyonya berbeda. Terlihat lebih romantis," kata salah satu pelayan.
__ADS_1
Lin melihat kearah Malvin dan Danita. Benar, mereka sudah semakin dekat. Awalnya Lin mencoba membuat mereka hancur. Sampai sadar jika Malvin sudah begitu baik membantunya. Sadar, Lin langsung menatap dua pelayan itu.
"Apa kalian ingin potong gaji?" Tanya Lin dengan tatapan tegas.
"Maaf Lin. Permisi."
Dua pelayan itu sudah pergi saat itu. Lin mendekat dan berdiri disisi Danita. Hal ini sudah biasa dia lakukan. Setelah sarapan Lin akan membacakan jadwal hari ini bagi Danita.
"Bacakan sekarang saja Lin," kata Danita.
"Baik Nyonya."
Hari ini jadwal Danita sudah ditambah. Bukan karena Danita tidak ada pekerjaan. Malvin mengurusnya karena tidak mau Danita bosan. Jadwal itu akan membuat Danita sibuk selama Malvin tidak dirumah.
"Panti asuhan?" Danita menoleh pada Lin karena mendengar kunjungan ke panti asuhan.
"Benar. Aku ingin kau bertemu anak-anak disana. Mereka sangat lucu, menggemaskan. Tentunya kau akan merasa senang." Ucap Malvin yang menyela perkataan Lin.
"Baguslah. Memang aku punya niat itu, hanya belum tercapai."
"Jika kau suka. Aku juga suka."
Lin tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Saat ini Malvin begitu pandai berkata manis. Bahkan di depan para pelayan. Sangat jauh dengan sifat Malvin yang dulu.
"Aku ke kantor dulu. Jika pergi dari rumah. Hati hati dijalan."
"Baik."
"Jika ada hal aneh dan mencurigakan. Langsung telfon aku."
"Baik."
Danita mengantar Malvin yang akan pergi ke kantor. Setelah itu dia masuk dan Lin mulai membahas beberapa hal hari ini.
"Saya sudah siapkan semua hal untuk ke panti asuhan."
"Terima kasih, Lin. Kau sudah sangat membantu. Maaf terlalu merepotkanmu."
"Tidak Nyonya. Ini sudah tugas saya."
Ting tong. Ting tong.
"Saya akan membuka pintu dulu."
Danita mengangguk. Dia duduk disofa dan melihat majalah hari ini. Lin kembali masuk dengan disusul Wina. Kali ini Lin langsung meletakan majalah dan mendekat pada Wina.
"Selamat datang Kak Wina."
"Kau terlihat bahagia hari ini. Apa ada sesuatu?"
Danita menggeleng malu dan membawa Wina untuk duduk dulu.
"Tolong buatkan teh dulu untuk Kak Wina. Lin."
"Jangan. Kita akan langsung latihan." Ucap Wina.
Danita menoleh. "Kenapa? Aku ingin bicara banyak denganmu."
"Kita bisa bicara saat latihan nanti."
"Baiklah. Lin, antarkan kami ke ruang latihan."
__ADS_1
"Baik Nyonya."