Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Sampai di mal Danita melihat sebuah cafe yang dimaksud Wina. Dia mendekat dan melihat Wina melambaikan tanganya.


"Sudah lama?" Tanya Danita.


"Belum. Ada apa kau mau bertemu denganku?"


"Apa kita bisa bicara dirumahmu saja?"


"Boleh. Aku ambil barangku dulu sebentar," kata Wina.


Tidak membutuhkan waktu lama sampai mereka masuk kesebuah gang. Rumah sederhana dengan taman kecil di depan rumah. Wina mempersilahkan Danita untuk masuk.


Baru saja membuka pintu dua anak Wina langsung menghambur kedalam pelukan ibunya. Danita tersenyum melihat itu. Dengan tenang Wina membawa dua anak itu masuk ke kamar.


"Mau aku buatkan minuman?" Tanya Wina.


"Air putih saja."


"Baiklah."


Wina keluar membawa sepiring kudapan dan air putih. Dia duduk disisi Danita. Melihat wanita itu yang cukup sehat. Tidak seperti yang dikatakan oleh Malvin ditelfon.


"Kak Wina."


"Ya."


"Apa bisa aku minta tolong, tapi jangan katakan apapun pada Malvin."


"Kenapa? Sedang ada masalah ya."


Danita menggeleng. Dia tidak tahu harus mengatakan pada Wina alasanya atau tidak. Saat ini Danita hanya ingin menyembunyikan semua itu sendiri. Lebih tenang.


Dengan penjelasan panjang lebar Danita mengatakan semuanya. Dia berharap Wina akan segera melakukanya. Mengerti dirinya dan membantunya sampai akhir.


"Apa kau yakin?" Tanya Wina.


"Sangat yakin Kak. Aku ingin tahu semuanya."


"Baiklah. Setidaknya aku sudah mencoba memperingatkanmu. Aku takut kamu kaget lagi seperti waktu itu."


"Tidak Kak. Aku harus melakukanya."


Mereka masuk ke kamar Wina. Dia mulai melakukan hal yang sama seperti dirumah Agora. Kali ini mental Danita sudah lebih dari siap. Dia bahkan tidak banyak bertanya.


"Kau yakin Danita?"


"Ya."


Setelah itu Wina menyuntikan obat pada Danita. Perlahan kesadaran Danita mulai menghilang. Malvin masuk dan menatap istrinya yang begitu polos itu.


"Lakukan seperti apa yang dia inginkan," kata Malvin.


"Pak Malvin. Ini sangat menyakitkan, apa lagi dia akan kembali kemasa dimana dia terkunci."


Malvin menatap pada Wina. Wanita itu tidak biasanya banyak bicara. Saat ini dia begitu berbeda.


"Ada apa?"


"Tidak Pak."

__ADS_1


"Lakukan saja perintahku. Kau akan tenang," kata Malvin yang duduk dipojok ruangan.


Wina mulai melakukan tugasnya. Dia menstimulasi Danita agar masuk kembali ke masa lalunya. Membuat wanita itu menjadi ingat kembali bagaimana dia selama ini. Tanpa asuhan dari kedua orang tuanya.


Di dalam mimpi Danita.


Danita terbangun dan berada disebuah rumah yang sederhana. Melihat seorang pria yang sudah tidak asing lagi baginya. Dia adalah Paman Mike. Pria yang sama dengan pria yang memilih untuk tidak menembak Danita. Membawanya pergi dari rumah Agora.


"Kau siapa? Apa kau yang membawaku pergi?" Tanya Danita.


"Ya. Mulai saat ini aku adalah Pamanmu. Paman Mike."


Danita menatap orang itu kosong. Tanpa rasa senang atau sedih. Hanya merasa terluka karena kembali mengingat orang tuanya yang sudah meninggal.


"Paman mau apa?" Tanya Danita melihat Paman Mike mendekat dengan sebuah suntikan ditanganya.


"Ini akan membuat kamu tidak sakit lagi. Setelah ini kamu akan tenang, tidak ada yang akan melukaimu lagi." Kata Paman Mike.


Danita dengan polosnya memberikan tanganya untuk disuntik. Saat itu Paman Mike menatap Danita yang perlahan tidur.


Sampai saat Danita kembali bangun. Kali ini Danita tidak lagi berada ditempat Paman Mike. Paman Mike membawa Danita kerumah lain. Bahkan saat itu Danita sudah tidak ingat apapun.


Malvin duduk sembari menatap Danita. Terlihat sekali jika Danita merasa gelisah. Bahkan raut wajahnya sedikit takut, namun beberapa detik kemudian kembali tersenyum.


"Kapan selesainya?" Tanya Malvin.


"Sebentar lagi."


Malvin tersenyum lalu keluar dari ruangan itu. Don membuka pintu mobil dan membawa Malvin langsung pergi. Tentu saja membawa Malvin ke markas. Malvin ingin melihat keadaan Paman Mike saat ini.


Paman Mike masih bertahan saat Malvin masuk. Dia menatap jijik pada Malvin yang saat ini. Bahkan tanpa tahu hal yang sebenarnya Malvin melakukan semua ini.


Disisi lain Danita terbangun. Wina membantu melepaskan ikatan. Juga memberikan minum untuk menenangkan Danita.


"Bagaimana?" Tanya Wina.


"Terima kasih," kata Danita sembari memegang tangan Wina.


"Apa yang kau lihat? Kau terlihat bahagia." Tanya Wina.


"Aku tenang. Aku mempercayai orang yang benar. Aku hampir salah Kak."


"Baguslah jika begitu."


Danita menatap wajah Wina yang tidak secerah tadi. Seperti baru saja ada yang menekanya. Sampai Danita ingat jika Wina juga bekerja pada Malvin.


"Apa Malvin datang?"


"Tidak. Pergilah Danita, aku harus pergi bekerja part time."


"Kau tak apa Kak?"


"Danita. Semangat untuk kamu. Maaf aku hanya bisa membantu sampai saat ini."


"Tidak apa Kak. Aku sangat berterima kasih."


***


Danita sampai ditempat Malvin. Dia menatap bangunan yang indah itu. Dimana di dalamnya begitu mengerikan dengan berbagai hukuman dan siksaan. Saat ini Danita hanya tahu jika Malvin seorang yang kejam.

__ADS_1


"Anda siapa?" Tanya penjaga saat Danita akan masuk.


"Aku Danita Brown. Istri bosmu. Malvin Brown."


Penjaga itu terlihat bingung. Sampai penjaga kemarin yang menyeretnya datang. Langsung membukakan pintu dan membawa Danita masuk. Bedanya saat ini Danita tidak dipaksa sama sekali.


Melewati sebuah ruang tamu yang elegan. Sampai mereka masuk kelorong dimana disana ada pintu bersandi khusus. Bahkan Danita tidak diperbolehkan melihat sandi itu.


Baru saat masuk kelorong setelah itu. Danita melihat pemandangan mengerikan itu lagi. Kali ini Danita melihat mereka dengan jelas. Hampir semua yang berada disana adalah lelaki.


"Hei. Apa kau ingin memandangi mereka saja?" Tanya pria yang membawa Danita.


"Tidak."


Danita kembali melanjutkan jalanya. Sampai akhirnya mereka sampai ditempat paman Mike.


"Terima kasih." Ucap Danita.


Pria itu tidak menjawab dan langsung pergi. Danita tersenyum kecil dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan itu.


"Apa kau kira Danita akan tersenyum padamu? Kau sudah membuatnya hancur Mike. Kasihan, Danita merasa tertolong dengan tindakan gilamu itu."


Malvin masih menyangka jika Paman Mike adalah dalang dibalik semuanya. Jadi dia menanyakan dendam apa yang membuat Paman Mike melakukan pembunuhan itu.


Brak.


Pintu terbuka dengan kasar. Danita masuk dengan wajah marahnya. Dia menatap Paman Mike bergantian dengan Malvin.


"Lihatlah. Dia datang untukku," kata Malvin saat akan menyentuh Danita.


Danita menepis tangan Malvin dan mendekat pada Paman Mike. Melihat pria itu yang sudah memiliki banyak luka. Hanya masih bisa tersenyum pada Danita.


"Maafkan aku Paman. Aku terlambat menyadarinya." Kata Danita.


Malvin tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia menarik Danita dan menatapnya tajam.


"Kenapa kau masih memihaknya?" Tunjuk Malvin pada Paman Mike, "kau tahu? Dia yang sudah membunuh keluargamu. Dia juga yang menyiksamu selama ini."


"Jika dia memang ingin membunuh. Kenapa dia memilih membawaku dan mengasuhku sampai saat ini? Meski dia menyiksaku, tapi dia mau melakukan semuanya untukku."


Malvin menjambak Danita. Dia menghadapkan wajah Danita pada Paman Mike yang kini terlihat lelah dan kesakitan.


"Awalnya aku ingin memaafkan kamu Danita. Kini aku sadar, kau lebih memihak pada seorang pembunuh." Ucap Malvin.


Dengan kasar Malvin mendorong tubuh Danita sampai terduduk disisi Paman Mike yang dirantai. Danita tersenyum dan memeluk Paman Mike.


"Terima kasih sudah mau jadi anakku Danita."


"Paman. Jangan begitu, aku minta maaf karena tidak tahu."


"Paman senang kau masih menganggap Paman orang baik. Hanya saja, mungkin Paman tidak akan menemani langkahmu lagi. Maafkan Paman."


"Aku akan bebaskan Paman. Aku janji, aku akan berikan kalung itu pada Malvin. Setelah itu kita tinggal bersama lagi. Aku janji paman."


"Jangan. Jangan buat dirimu semakin terluka. Jaga kalung itu."


Setelah mengatakan itu Paman Mike tersenyum. Sampai akhirnya matanya terpejam dengan perlahan. Danita mencoba untuk menggoncang tubuh lemah itu. Hanya saja sudah tidak ada lagi tanda nafas.


"PAMAN! PAMAAAAN!" Teriak Danita.

__ADS_1


__ADS_2