Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tujuh Belas


__ADS_3

Danita mengangguk perlahan. Bu Amel pergi. Danita duduk disebuah kursi diikuti oleh Razka yang masih menatap anak-anak panti itu.


"Kenapa kau selalu disini?" Tanya Danita.


"Aku memang sering datang. Ini adalah rumah pertamaku. Jadi, aku datang kesini setiap hari minggu."


"Apa kau..."


"Tidak. Orang tuaku menitipkan aku disini karena memilih mengasuh adikku saja."


Danita mengernyitkan dahi. Dia kaget karena tidak menyangka jika Razka memiliki masa lalu yang sulit. Padahal beberapa kali bertemu Razka terlihat seperti orang yang tidak kekurangan apapun.


"Jangan mengasihaniku. Aku bahagia disini, aku merasakan kehangatan orang tua ditempat ini." Razka tersenyum setelah mengatakanya.


"Bagaimana dengan masa kecilmu? Kau pasti bahagia bukan?" Razka bertanya karena Danita diam dan terus menatap pada anak-anak.


"Aku. Aku bahagia," jawab Danita.


Danita begitu ragu dengan jawaban yang dia berikan. Sampai saat ini hanya beberapa penggal kisah yang muncul dimimpi. Itu pun belum tentu menjadi kisahnya.


"Mau berkeliling?" Ajak Razka untuk memecah suasana.


"Boleh."


Mereka memilih untuk melihat-lihat panti asuhan itu. Dimana banyak anak dengan beragam sifat dan kehidupan. Meski begitu, mereka terikat karena panti ini. Persaudaraan yang melebihi ikatan saudara lainya.


Ponsel Danita berdering. Danita melihat jika Malvin lah yang menelfonya. Dia memilih untuk sedikit menjauh dari Razka.


"Halo."


"Kamu dimana? Aku sangat susah menelfonmu." Kata Malvin.


"Maaf. Aku dipanti, sepertinya signal disini cukup susah."


"Kau dengan siapa?" Tanya Malvin.


"Bu Amel. Juga anak panti yang sangat ramai. Bagaimana?"


"Tidak. Aku hanya ingin tahu kau dimana. Jika sudah selesai dengan urusanmu. Pulanglah."


"Tentu," jawab Danita.


Setelah selesai menelfon Danita kembali kesisi Razka. Dia sedang membantu seorang anak perempuan dengan boneka barbie nya. Danita ikut duduk dan membenarkan baju pada boneka itu.


"Anda siapa? Apa Anda pacar Kak Razka?" Tanya anak itu.


Danita tersenyum dan memberikan boneka itu pada anak itu lagi.


"Bukan Sayang. Aku adalah teman dari Kak Razka. Aku Danita."


"Kak Danita?"


"Ya."


"Kakak cantik." Gadis itu mendekat dan memegang rambut Danita yang terurai.


"Kamu juga cantik. Nama kamus siapa?"


"Bunga."


"Indah sekali namamu."


Danita mencoba mendekat pada anak-anak itu. Dia ingin lebih dekat dengan mereka. Tentunya agar datang ada yang menyambutnya dengan senyum. Itu pasti hal yang menyenangkan.


"Nyonya. Mobil sudah siap, waktu disini sudah habis."

__ADS_1


Danita menoleh. Ternyata sopirnya sudah kembali. Danita melihat ponsel, memang sudah waktunya dia kembali.


"Anak-anak. Kakak pamit dulu ya. Daaah."


Tidak lupa Danita juga berpamitan pada Bu Amel. Tidak mungkin dia pergi seenak dirinya. Razka mengantar Danita sampai pintu gerbang panti asuhan.


"Kau mau kembali?" Tanya Razka.


"Tentu. Aku pergi dulu."


"Tunggu Danita."


"Ya."


"Bisakah aku mengirim pesan untukmu?" Tanya Razka.


Danita tersenyum lalu mengangguk. Setelah itu masuk ke mobil. Mobil melaju dengan perlahan. Mata Razka dan Danita masih saja saling pandang.


***


Malvin meregangkan tubuhnya. Sedari tadi dia begitu fokus pada pekerjaanya. Dia langsung mengingat wajah Danita saat itu juga. Dia mencoba menelfon Danita. Beberapa kali dering tidak bisa. Sampai akhirnya berhasil menelfon Danita.


Baru saja selesai menelfon Don masuk keruangan Malvin. Dia meletakan ponsel dan melihat pada Don.


"Tuan. Ada masalah di markas."


"Masalah apa?"


"Ada yang mengirimkan kotak ini untukmu."


"Bukalah."


Setelah dibuka. Ternyata beberapa foto dari Danita. Disana juga ada sebuah catatan.


Mata Malvin terbuka lebar dan mengambil catatan itu dari tangan Don. Melihat jika itu adalah sebuah keras yang diprint. Jadi, tidak mungkin tulisan tangan.


"Selidiki."


"Baik. Tuan."


"Ada hal lain?"


"Tuan. Jika saya boleh memberi saran. Lebih baik jika Tuan tidak terlalu jauh menjalin hubungan dengan Danita. Cukup sampai tujuan Anda tercapai saja."


"Don. Lebih baik jika kau bekerja saja. Danita urusanku."


"Baik."


Setelah itu Malvin kembali duduk. Dia beberapa kali terlena dengan Danita. Pesona wanita itu tidak dapat dibohongi. Perlahan Malvin mulai terjatuh dalam gelombang cinta yang dibuat oleh Danita. Awal yang tidak dia duga sama sekali.


"Tuan. Apa Anda tidak ingin datang ke markas?" Tanya Don kemudian.


"Tidak. Aku akan pulang bertemu dengan Danita."


Kali ini Don hanya bisa menghela nafas panjang. Tuanya sudah benar-benar jatuh cinta. Akan sulit membuatnya kembali fokus lagi saat ini.


Disisi lain. Mobil yang dikendarai oleh sopir Malvin mogok. Danita hanya duduk diam di dalam dan menunggu sopir mencoba memperbaiki.


"Apa aku bisa membantu?" Tanya Danita.


"Lebih baik jika Nyonya di dalam saja. Saya tidak ingin ada resiko."


"Baiklah."


Danita melihat si sopir berulang kali menelfon seseorang. Danita hanya diam dan memilih untuk melihat ponselnya. Melihat jadwal yang cukup padat bagi seorang wanita yang tidak bekerja.

__ADS_1


Sebuah mobil berwarna merah berhenti. Seseorang turun dan menghampiri sopir Danita. Danita menoleh dan melihat Razka yang ada disana.


Danita melihat mobil Razka. Beberapa kali mereka bertemu dan melihat Razka bukanlah orang biasa. Dengan apa yang dia pakai dan mobil mewah yang dia bawa. Hanya saja, Danita merasa bersimpati karena Razka sukses namun masih ingat akan panti asuhan.


"Nyonya. Apa Nyonya bisa pergi dengan Tuan Razka lebih dulu. Disini jalan yang cukup berbahaya."


"Apa kau sudah tahu Razka?"


"Sudah Nyonya. Kami sudah kenal lama, Tuan Malvin juga sudah kenal dengan Tuan Razka."


"Kau tak apa jika aku tinggal sendiri?"


"Tidak apa. Sebentar lagi pihak bengkel akan datang dan menjemput saya," ucap Sopir itu.


"Baiklah. Aku akan pergi dulu, Malvin pasti sudah menunggu."


Baru saja Danita turun dari mobil. Gerimis sudah mulai datang. Danita menutupi dirinya dengan tas ditangan. Sampai saat dia berlari kecil kearah mobil Razka. Razka menarik tangan Danita dengan keras.


DDDOOORRR.


Danita masuk kepelukan Razka. Saat itu Danita menutup mata dan tidak berani membuka. Bukan karena menikmati pelukan itu, dia hanya kaget karena suara tembakan.


"Kau tak apa?" Tanya Razka.


Perlahan Danita membuka mata dan melihat Razka di depanya.


"Danita. Kau tak apa?" Kembali Razka bertanya.


"Tembakan. Tadi ada tembakan." Ucap Danita terbata.


"Ya. Kau hampir saja tertembak. Untung aku segera menarikmu."


Mata Danita dan Razka menoleh kearah yang sama. Mobil Razka ternyata yang terkena peluru. Untung saja mobil itu tahan peluru. Jika tidak, pasti sudah rusak.


"Nyonya tidak apa-apa?" Tanya Sopir dengan khawatir.


"Tidak apa. Aku hanya kaget saja."


"Baguslah Nyonya. Lebih baik jika Nyonya segera pergi dari sini."


"Tentu. Ayo Danita."


Mereka masuk ke mobil. Danita hanya diam sementara Razka mencoba membuka obrolan meski akhirnya tidak dipedulikan.


Setelah sampai Danita turun dan berterima kasih pada Razka. Razka mengangguk dengan senang. Dia senang karena bisa dekat dengan Danita. Meski Razka sudah tahu jika Danita sudah memiliki suami.


"Aku pulang." Ucap Danita saat masuk ke rumah.


Don langsung mendekat dan menarik tangan Danita.


"Ada apa Don?"


"Nyonya. Aku tahu kau adalah istri dari Tuanku. Hanya saja, aku selalu mengasasimu. Aku tidak ingin kau membuatnya hilang tujuan."


"Apa maksudmu Don?" Danita tidak tahu kenapa Don tiba-tiba seperti itu.


"Jauhi Tuan Malvin. Ingat. Kalian hanya menikah diatas kontrak."


Saat itu Malvin baru saja turun dari ruang kerjanya. Don kembali keposisi sementara Danita merasa bingung dengan apa yang dikatakan Don.


"Kau sudah pulang?" Tanya Malvin.


"Baru saja. Maaf terlambat." Ucap Danita yang mendekat pada Malvin.


"Sopir baru saja menelfonku."

__ADS_1


__ADS_2