Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Empat Puluh Empat


__ADS_3

Danita sudah selesai berganti baju. Dia sedang menatap dirinya sendiri di cermin. Merasa jika dirinya kali ini bertambah gemuk. Bahkan pipinya terlihat chubby. Merasa kurang percaya diri dengan pakaianya. Danita mengambil mantel hangat disisinya.


"Kenapa?" Tanya Malvin sembari memeluk Danita dari belakang.


"Bukankah aku terlihat gendut. Sepertinya berat badanku bertambah."


"Tidak apa. Kau tetap cantik."


"Pembohong."


Danita melepaskan pelukan itu dan memakai mantel hangatnya. Menatap Malvin yang saat ini sudah siap juga. Sebenarnya Danita bisa saja pergi sendiri. Malvin tidak mengizinkan dan bahkan tidak mempedulikan jika Danita tidak suka.


"Don sudah menunggu. Ayo."


Danita menggandeng tangan Malvin.


Sebatang rokok masih mengepulkan asapnya. Sebenarnya Razka bukanlah seorang perokok yang aktif. Hanya sesekali saja saat dirinya merasa bosan dan jenuh.


"Kau benar datang?" Tanya teman Razka.


"Ya. Bagaimana ruangan yang aku pesan."


"Sudah aku siapkan. Tamu seperti apa yang membuatmu membawanya kemari?"


"Teman."


"Pasti wanita," goda teman Razka itu.


"Ya."


"Aku berdo'a untukmu agar cepat menikah. Sendiri itu tidak mengenakan Raz."


"Aku tahu, hanya belum berjodoh."


"Kau ini."


"Berikan makanan yang cocok dengan wanita yang sedang mengandung ya."


"Apa?!"


Teman Razka benar-benar kaget saat tahu wanita yang akan ditemui Razka sudah hamil.


"Kau menghamilinya?"


"Apa aku terlihat serendah itu?" Razka balik bertanya.


"Lalu siapa yang menghamilinya?"


"Suaminya lah."


"Apa?!"


"Sudah sudah. Sebentar lagi dia datang. Aku masuk dulu."


"Ok."


Tidak menunggu lama sampai Danita dan Malvin sampai. Danita langsung ke meja resepsionis dan menanyakan ruangan yang sudah di pesan Razka. Terlihat sekali jika Danita begitu bersemangat.


Langkah kaki Danita begitu cepat. Membuat Malvin terus mencoba menghentikanya. Malvin tidak mau Danita jatuh dan membuat dirinya terluka. Apa lagi saat ini sedang hamil.


"Razka." Panggil Danita begitu membuka pintu.


Razka yang awalnya duduk langsung berdiri. Berniat menyambut kedatangan Danita. Tidak diduga jika Danita akan berlari dan langsung memeluknya.


Debaran jantung Razka yang awalnya biasa kini berubah berdetak dengan cepat. Bahkan dia sampai merasa dirinya berada di tempat lain.


Malvin masuk dan melihat adegan itu. Buru-buru dia menarik Danita dari pelukan Razka.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku hanya memeluk Razka," ucap Danita datar.


"Kau bilang hanya peluk."


"Kemarin dia bahkan menggendongku," kata Danita sembari duduk.

__ADS_1


Razka hanya tersenyum penuh kemenangan saat ini. Setelah itu beberapa pelayan masuk membawa hidangan makan malam.


"Ini sepesial untuk kamu. Kamu sedang hamil, jadi harus makan yang sehat," kata Razka.


"Bagaimana kau tahu dia hamil?" Tanya Malvin tidak senang.


"Aku dokter yang akan menanganinya," kata Razka sembari memperlihatkan kartu namanya.


Ya, Razka adalah seorang pebisnis juga dokter kandungan. Inilah alasan kenapa dia langsung tahu dimana Danita berada. Untuk kehamilan Danita, Razka tahu dari data yang dia curi di gedung praktek.


"Kau dokter?" Teriak Danita tidak percaya.


"Ya. Maaf aku lupa memberi tahumu."


"Aku senang. Setidaknya aku akan bertemu denganmu saat cek kandungan setiap bulan."


"Jangan," ucap Malvin langsung.


"Kenapa?" Tanya Danita.


"Aku...aku..."


"Dia cemburu." Kata Razka sembari mengerlingkan matanya.


"Aku tidak tahu dia pencemburu. Ayo makan, aku sudah lapar."


Untuk sesaat mereka kembali diam dan makan malam dengan tenang. Meski dalam diam Malvin dan Razka masih saling pandang dan terlihat tidak suka.


"Malvin aku ingin itu," kata Danita.


"Ini." Dengan sigap Razka mengambilkanya untuk Danita.


"Terima kasih."


Malvin hanya menatap Razka kembali. Setelah makan malam itu Danita ke toilet. Dia merasa mualnya kembali terasa.


"Kau bisa sendiri?" Tanya Malvin.


"Ya. Kau disini lebih dulu."


Hanya tinggal Malvin dan Razka saat itu. Mereka hanya saling tatap tanpa kata. Bahkan sampai mata mereka melotot mengerikan.


"Aku tidak pernah merebut milikmu. Bukankah dia yang mau denganku."


"Kau menggodanya di rumah sakit."


"Dia yang bosan padamu karena kau selalu bekerja."


"Perebut banyak alasan."


"Bukankah dia juga tidak memilihku."


Mengingat semua itu membuat Malvin dan Razka tertawa bersama. Mereka tidak menyangka, dulu bermusuhan karena wanita. Sekarang dekat lagi juga karena wanita.


"Kalian kenapa?" Tanya Danita yang bingung melihat keakraban itu.


"Tidak. Kau sudah selesai?" Tanya Malvin.


"Sudah. Aku lelah," kata Danita.


"Kita kembali ke hotel."


Danita mengangguk, lalu melihat pada Razka.


"Terima kasih untuk kemarin. Jika kau tidak datang, aku tidak tahu akan seperti apa."


"Tidak masalah. Kau selamat saja sudah membuat aku bahagia," kata Razka.


Danita kembali akan memeluk Razka. Malvin langsung menghadangnya. Membuat Danita langsung memeluk Malvin.


"Ucapan terima kasih sudah cukup untukmu," kata Malvin.


"Sampai bertemu lagi," kata Danita yang sudah digendong oleh Malvin menjauh.


Razka hanya tersenyum duduk kembali dan menyalakan rokok. Kali ini dia tidak akan menjadi Razka yang dulu. Meski dia harus terluka karena melihat Danita dengan Malvin. Setidaknya dia tidak akan kehilangan keduanya.

__ADS_1


***


"Kalian terlihat akrab," kata Danita saat di dalam mobil.


"Siapa?"


"Kau dan Razka."


Malvin diam. Dia mengingat masa lalu yang begitu menyenangkan. Dimana saat ada dirinya pasti ada Razka. Begitu juga sebaliknya. Sampai ada seorang wanita yang datang. Mempermainkan hati mereka. Sampai tanpa sadar tembok yang menjulang membuat mereka berpisah.


Wanita itu hanya bermain. Namun Razka dan Malvin sudah merasa semuanya nyata. Bertaruh akan segalanya, pada kenyataanya. Wanita itu memilih menikah dan bersama pria lain.


"Ada apa?" Tanya Danita.


"Tidak. Aku dan Razka memang sejak dulu seperti ini."


"Aku tidak yakin akan hal itu," kata Danita.


"Jika tidak percaya tanya saja pada Don. Benarkan Don?"


"Ya Nyonya."


"Lalu kenapa kalian terlihat bermusuhan?" Tanya Danita kemudian.


"Nona Clara yang membuat seperti ini," jawab Don spontan.


"Siapa Clara, Malvin?" Tanya Danita.


"Dia...dia..."


"Dia siapa?"


"Dia mantan tunanganku."


"Kau dulu pernah bertunangan?"


"Ya."


"Jadi bukan hanya aku yang pernah dekat denganmu?"


Kali ini wajah Danita sudah berubah marah. Bahkan merasa dihianati oleh Malvin.


"Ya, kan dulu. Saat kita belum bertemu."


Mobil berhenti tepat di depan hotel. Danita langsung pergi dengan amarahnya. Tidak peduli jika Malvin akan datang padanya atau tidak.


"Semua gara-gara kau Don," kata Malvin.


"Maaf Tuan."


Malvin turun dan mencoba mengejar Danita. Sampai di kamar Danita menangis dengan air mata yang deras. Malvin duduk disisinya dan mencoba menenangkan, tapi Danita malah semakin marah.


"Kamu jahat." Kata Danita dan langsung masuk ke kamar. Menguncinya.


"Danita. Maafkan aku Danita. Bukalah."


Tidak ada jawaban satu pun. Malvin hanya bisa duduk dan pasrah. Dia tidak tahu jika Danita ternyata begitu cemburuan.


*Sudah sampai? Danita sedang apa?*


Pesan dikirim oleh Razka.


*Sudah. Danita marah padaku.*


*Kenapa?*


*Tahu tentang aku pernah bertunangan.*


Razka yang membaca itu hanya tertawa. Tidak menyangka jika Malvin akan kerepotan karena hal semacam ini.


*Dia bahkan mengunci pintu dan menangis.*


*Dia sedang hamil Malvin. Kau biarkan saja, nanti juga dia akan lebih baik.*


*Berapa lama dia akan seperti ini?*

__ADS_1


*Kalau itu aku tidak bisa memastikan.*


Jawaban yang diberikan Razka tidak membantu Malvin sama sekali. Saat ini dia mengantongi ponselnya dan tidak sengaja memegang kartu memori itu.


__ADS_2