Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Duabelas


__ADS_3

Danita diam duduk dimeja rias. Dia tidak sedang merias dirinya sendiri. Dia duduk dan menatap kalung ditanganya. Kembali mengingat Paman Mike mangatakan semuanya. Dia memperingati Danita dengan sungguh-sungguh.


Tangan Danita mulai mencoba membuka kalung itu. Ctek. Terbuka, benar didalam bunga lily itu ada sebuah kartu memori.


Mendengar suara langkah kaki mendekat Danita langsung menyembunyikan kalung itu. Entah kenapa dia merasa takut ketahuan saat ini.


"Kau sudah pulang?" Sapa Danita saat Malvin masuk.


"Ya. Kau tidak jadi ketempat Paman Mike?"


"Sudah. Aku kembali beberapa saat lalu."


Malvin terlihat begitu lelah. Dengan inisiatif Danita mengambil handuk dan memberikanya pada Malvin.


"Mandilah. Kau terlihat lelah," kata Danita.


"Ya. Terima kasih."


Danita tersenyum.


Malvin masuk ke kamar mandi. Danita langsung ke meja rias. Menyimpan kalung itu dengan teliti. Sampai saat ini Danita masih belum tahu siapa yang harus dia percaya. Meski itu suaminya, karena selama ini Malvin belum juga menyentuhnya. Membuat Danita berfikiran yang tidak-tidak.


"Danita."


"Ya." Jawab Danita.


"Sedang apa?" Tanya Malvin yang melihat Danita sejak tadi berada di meja rias.


"Aku mencoba merias diri," jawaban itu tidak disengaja oleh Dyra.


Malvin tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan untuk berganti pakaian. Dia merasa senang karena Danita mulai memperhatikan penampilan. Menurut buku yang dibaca Malvin, jika wanita mulai merias diri itu tanda dia jatuh cinta.


Saat ini yang dekat dengan Danita hanya Malvin. Malvin langsung menyimpulkan jika Danita melakukan semua itu untuknya. Ada rasa yang langsung mengena dihati Malvin.


Dering ponsel Malvin membuatnya sadar dari lamunan. Nama Don tertera dilayar ponselnya.


"Ada apa?"


"Pria itu sudah ditangan kita. Mau diapakan?"


"Tunggu aku saja. Aku akan datang."


"Siap."


Malvin memutus sambungan telfon itu. Dia bergegas memakai baju dan keluar. Melihat Danita saat ini hanya menggunakan handuk mandi. Mata mereka saling bertatapan. Sampai Danita sadar dan langsung mengambil handuk tambahan untuk menutupi tubuhnya.


Malvin mengulas senyum pada Danita. Dia mendekat dan membisikan sesuatu.


"Jangan malu. Aku suamimu."


Danita membulatkan bola matanya. Dia tidak tahu jika Malvin juga bisa seperti pria lainya. Menggoda untuk hal yang sensitif.


Danita sadar. Malvin sudah tidak ada dikamar. Dia keluar tanpa memberi tahu mau kemana. Meski begitu, pipi Danita sudah dibuat memerah oleh Malvin.


Sementara Malvin terus teringat dengan bentuk tubuh Danita. Baru kali ini dia begitu dekat dengan wanita. Bahkan sampai melihat lekuk tubuhnya. Padahal biasanya tertutup. Mungkin itu daya tarik tertentu.


Selama ini Malvin sudah sering ke club dan bar. Dia sudah melihat banyak jenis wanita berpakaian dan bertingkah. Sampai dia menemukan Danita. Danita yang berbeda.


***

__ADS_1


Pak Gun duduk dengan beberapa temanya. Sampai dia melihat Mel masuk dengan raut wajah yang murung. Hal ini membuat hati pria itu terganggu.


"Aku menemui putriku dulu. Permisi."


Mel langsung melempar tasnya. Dia duduk disisi jendela. Menatap keluar melihat burung yang sedang berada dipohon. Mereka jelas sepasang burung. Hal ini membuat hati Mel iri.


Perlahan dia mengambil pistol disampingnya. DOR. Tembakan itu berhasil mengenai salah satu burung. Hal ini membuat Mel tersenyum.


Selama ini banyak yang tidak tahu jika Mel jago dalam menembak. Dia melakukan ini untuk keselamatanya sendiri. Karena banyak hal yang tidak bisa diprediksi.


"Bagus. Kenapa kau tidak melalukan hal yang sama?"


Mel menoleh. Melihat Pak Gun yang masuk, Mel langsung memeluknya dengan erat.


"Maksud Papa apa?"


"Hilangkan salah satu. Kau akan memiliki yang satunya."


Mel diam. Kembali menatap burung itu.


"Mel. Jika kau tidak melakukanya. Kau hanya akan terkurung dalam amarah dan kebencian." Nasihat Pak Gun.


"Aku tahu, Pa. Aku akan melakukan semuanya. Hanya saja, aku tidak ingin mengotori tanganku."


"Baguslah."


Percakapan singkat itu penuh dengan makna. Mel yang sudah didukung penuh oleh orang tuanya. Mana mungkin melepaskan kesempatan itu. Dia akan melakukan hal yang bagus dalam dramanya.


***


Malvin turun dari mobil. Beberapa orang datang dan langsung mengawalnya masuk. Melihat seorang pria duduk dikursi dengan ikatan. Malvin tahu dialah orang yang datang ke rumah Agora.


"Siapa kau?"


"Jhon. Apa benar yang dikatakanya?" Ini bukanlah sebuah pertanyaan dari Malvin. Melainkan dia ingin sebuah kejujuran.


"Benar."


"Siksa dia sampai dia mengaku. Aku tahu dia berbohong."


Malvin duduk dan melihat pria bernama Jhon itu dipukuli anak buahnya. Tidak mungkin Jhon dulu bekerja disana. Hampir semua pelayan disana Malvin tahu. Juga kenapa Jhon datang disaat ini, tidak sejak dari dulu.


"Dia ingin kau marah. Membiarkan kau mengembalikan kalung liontin lily itu." Ucap Jhon dengan suara yang lemah.


Malvin mengisyaratkan agar semuanya berhenti. Malvin menarik kursinya dan duduk di depan Jhon.


"Aku tidak memilikinya."


"Jelas kau memilikinya. Danita Agora, dia memilikinya."


Malvin tersenyum.


"Siapa kau kenapa tahu istriku?"


Jhon tersenyum. Bahkan darah sudah mengalir dari kepalanya. Namun tidak membuat pria itu menyerah begitu saja.


"Jika kau jawab jujur. Aku akan memberikan uang lebih dari bosmu itu."


"Aku tidak peduli dengan uang. Aku hanya ingin Danita Agora juga mati."

__ADS_1


Mendengar ancaman itu membuat Malvin emosi. Dia langsung menarik kaos yang dipakai Jhon.


"Kau siapa. Hah?!"


DDOORR.


Saat itu sebuah tembakan melesat kearah Jhon. Berhasil mengenai kepalanya, sementara Malvin tergores karena peluru itu melewatinya.


Don dan anak buahnya langsung mencari arah dari mana peluru itu. Don langsung menarik tubuh Malvin dan membawanya ke mobil.


"Jhon meninggal." Ucap Don.


"Sialan. Aku belum tahu siapa dia," lirih Malvin.


"Obati dulu luka itu."


"Tidak. Ini tidak sakit, kau tahu."


"Pertanyaan akan terlontar dari Nyonya Danita saat Anda pulang. Bahkan pertanyaan itu akan membuat Anda tidak bisa menjawab."


"Baiklah."


Dengan kesal Malvin mengambil kotak P3K itu. Dia mulai mengoles obat untuk luka.


"Bagaimana pelatih untuk Danita?" Tanya Malvin.


"Sudah ada. Besok akan datang kerumah dan menemui Nyonya Danita sendiri."


"Aku ingin melihatnya dulu."


"Baik Pak."


"Apa dia dari organisasi?"


"Tidak. Dia dulu mantan mata-mata. Saat ini memilih untuk berhenti demi anak-anaknya."


"Lalu kenapa dia mau jadi guru Danita?"


"Ekonomi."


Jawaban singkat, namun begitu terlihat jika wanita ini ingin keluarganya baik-baik saja. Don hanya membantu, sepenuhnya wanita itulah yang harus mengurus dirinya.


"Kirimkan aku email tentang wanita itu. Aku takut ada yang menelusup saat aku tidak ada."


"Siap."


Sampai dirumah Malvin melihat Danita sedang duduk di depan televisi. Hanya saja tatapanya begitu kosong.


"Nonton apa?"


"Tidak. Aku tidak menonton apapun."


Danita berdiri. Menatap suaminya yang datang, terlihat jelas ada goresan diwajah suaminya.


"Kamu kenapa?" Tanya Danita.


"Tidak. Aku tidak sengaja menabrak barang dan tergores."


"Sakit?" Danita mencoba untuk memegang luka itu.

__ADS_1


Saat itu tangan Malvin memegang tangan Danita. Tatapan mereka bertemu, sampai Malvin menggeleng dan melepaskan tangan Danita.


***


__ADS_2