Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tujuh


__ADS_3

"Kita pergi."


Danita tersadar dari lamunanya. Melihat Malvin yang sudah mulai melangkah Danita langsung menyusulnya. Dia berjalan tepat disamping Malvin. Tanpa suara.


"Pak Malvin."


Mel datang dan langsung menyela diantara Danita dan Malvin. Hampir saja Danita terjatuh untung dia langsung berpegangan pada tembok.


"Ini. Bukankah Anda ingin melihat detail lapangan dan lokasinya."


"Terima kasih." Ucap Malvin yang langsung memeriksa file itu.


Kini Danita berada di belakang Malvin dan Mel. Dia hanya bisa menatap suaminya yang begitu dekat dengan sekertarisnya. Hal ini langsung membuat Danita merasa aneh. Apa lagi saat ini dia sudah menjadi istri Malvin, tapi tidak tahu apa-apa tentang dia.


Mobil sudah disiapkan. Malvin duduk di belakang dengan file yang masih menjadi fokusnya. Baru Danita akan masuk kembali Mel membuat Danita mundur karena ditarik.


"Kamu duduk di depan. Aku dan Pak Malvin masih banyak yang harus dibicarakan."


"Ya."


Dengan berat hati Danita membuka pintu depan. Dia duduk di samping sopir yang sesekali melirik kearahnya. Membuat Danita sedikit merasa terganggu. Beberapa kali Danita menoleh kebelakang. Masih terlihat Malvin yang sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak tahu jika istrinya sedang dilirik oleh pria lain.


Perjalanan dari kantor ke lapangan cukup lama. Danita memilih untuk melihat jalanan. Sedikit membuatnya lebih nyaman dari pada harus diam seribu bahasa.


"Sudah sampai Pak," ucap Sopir yang mengantarkan.


Danita turun. Diikuti oleh Malvin dan Mel. Tidak ada kata istirahat. Mereka langsung melihat kondisi lapangan itu. Seperti apa gedung itu akan dibangun.


Sampai saat Danita hampir terjatuh. Malvin langsung menahanya. Membuat Danita tersenyum sekaligus meminta maaf karena sudah merepotkan.


"Hati-hati."


"Baik."


Mel menatap hal itu merasa cemburu. Jadi, dia mencari hal lain agar Danita dan Malvin tidak bersama. Mereka sampai di lantai kedua digedung yang baru akan dibangun itu.


"Danita. Bisakah kau ambilkan aku dan Pak Malvin minum?"


"Tentu. Dimana?"


"Disana." Tunjuk Mel pada sebuah ruangan tertutup.


"Baiklah."


Danita melangkah tanpa ragu. Dia tidak tahu jika Mel sudah menyiapkan jebakan untuknya. Mempermalukanya di depan Malvin secara langsung. Setelah melihat Danita pergi. Mel kembali kesisi Malvin, ikut membahas beberapa hal dengan arsitek yang disewa Malvin.


Danita baru saja masuk. Dia melihat ruangan itu begitu gelap. Sampai seseorang menyalakan lampu diruangan kecil itu. Disana ternyata ada sopir yang membawa Danita tadi. Juga beberapa pria lain.


Perasaan Danita tidak curiga sama sekali. Dia hanya mengulas senyum dan mendekat kearah meja dimana ada botol air mineral.


"Mau kemana?" Tanya Sopir itu melihat Danita kembali melangkah ke pintu.


"Aku akan memberikan minuman ini untuk Pak Malvin."

__ADS_1


Sopir itu tersenyum aneh. Begitu juga dengan beberapa pria disana.


"Nona Mel sudah memberikan kamu pada kami."


Danita mengernyitkan dahi.


Ceklek. Suara pintu terkunci. Danita kaget, saat ini dirinya dalam bahaya. Wajah cantik dengan body yang tidak biasa membuat para pria itu semakin tergoda.


Tanpa ragu Danita mulai berteriak. Berharap jika ada yang datang menolongnya saat itu juga. Saat ini, pikiran Danita bercampur. Ingatan lama juga mulai berdatangan. Semakin membuat Danita berteriak.


"Tolooooong."


Sampai Malvin mendengar teriakan istrinya itu. Dia awalnya tidak peduli, sampai saat suara itu semakin melengking. Malvin buru-buru mencari sumber suara.


"Dimana Danita?" Tanya Malvin pada Mel.


Mel menggeleng. "Saya tidak tahu. Dia pergi secara diam-diam."


"Apa? Cepat cari dia."


Malvin juga langsung menelvon beberapa anak buahnya yang dekat disana. Mel pura-pura ikut mencari, hanya saja dia terus membuat Malvin salah tempat.


"Dari sini asal suaranya Pak," teriak arsitek dari arah berlawanan Malvin.


Buru-buru Malvin mendekat. Benar saja, suara Danita keluar dari ruangan itu. Hanya saja pintu terbuat dari besi. Akan sulit untuk membukanya.


Didalam Danita terus meronta. Dia merasa tubuhnya begitu lelah karena terus berontak. Sementara beberapa pria disana merasa senang melihat Danita tersakiti.


"Tuan. Minggir," kata anak buah Malvin yang bertubuh tinggi besar.


Sementara didalam Danita merasa begitu tertolong dengan datangnya Malvin. Dia berlari tertatih dan langsung memeluk Malvin. Desiran halus membuat Malvin merasa berbeda.


Mata tajam Malvin langsung menatap para pria disana. Dia tahu dari kondisi Danita saat ini. Bahkan beberapa kancing baju Danita sudah terlepas. Dengan tenang Malvin melepas jasnya dan dia berikan pada Danita. Menutupi tubuh itu, tubuh yang masih murni dan belum tersentuh.


"Urus mereka," kata Malvin yang langsung menggendong tubuh Danita pergi dari sana.


Mel melihat semua itu semakin marah. Bagaimana wanita seperti Danita mampu membuat Malvin jatuh hati. Melindunginya secara pribadi. Bahkan memberikan bajunya tanpa pikir panjang.


"Mel."


Suara Malvin membuat Mel sadar. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang sudah dia bayar. Saat ini dia berjalan kearah Malvin.


"Ambilkan minum untuk Danita," kata Malvin.


"Sa...saya?"


"Ya kamu. Siapa lagi disini," kata Malvin tanpa menoleh.


Mel meraih sebuah botol air mineral dan memberikanya pada Malvin. Krek, botol itu terbuka. Malvin memberikan pada Danita. Membuat wanita itu merasa lebih nyaman.


"Kamu tidak apa?" Tanya Malvin.


"Mereka...mereka mau..." Tangis Danita pecah begitu saja.

__ADS_1


"Sudah sudah. Jangan menangis. Aku akan memberikan pelajaran yang pantas pada mereka."


Danita masih menangis dalam pelukan Malvin. Beberapa kali Mel menghentakan kakinya. Merasa kesal dan tidak nyaman dengan adegan didepanya itu.


"Kenapa kamu kesana?"


"Nona Mel meminta aku mengambil minuman." Lirih Danita.


"Benar yang dikatakan Danita?" Tanya Malvin sembari menatap Mel.


"Ya. Bukankah Nona Danita adalah pelayanmu disini. Jadi, aku memintanya mengambil minuman untuk kamu."


"Kau gila. Kali ini aku akan memaafkan kamu. Jika sampai terulang, aku tidak peduli jika kau harus pergi dari perusahaanku."


"Hanya karena pelayan ini kamu mau membuat aku pergi. Kita kenal lama lho Vin." Kali ini Mel memperjelas hubunganya dengan Malvin.


Malvin tersenyum. Dia berdiri dan membantu Danita juga berdiri.


"Sepertinya kau salah kira. Danita bukanlah pelayanku. Dia istriku."


Wajah Mel terlihat tidak percaya. Bahkan dokumen ditanganya terjatuh begitu saja. Orang yang selama ini diincar oleh Mel, bahkan Mel melakukan segalanya untuk Malvin. Kini Malvin malah menikah dengan wanita lain. Wanita itu seorang pelayan.


"Ayo. Kita pulang dulu." Ucap Malvin.


Kali ini Malvin sendiri yang menyetir mobil untuk Danita. Dia tidak mau jika sampai ada yang melihat kondisi Danita saat ini. Apa lagi rasa malu yang saat ini dirasakan oleh Danita.


***


Don datang dengan sebuah mobil kantor. Dia ditugaskan oleh Malvin untuk menjemput Mel di tempat pembangunan Mall. Don sampai dan melihat Mel sedang berdiri dengan tatapan kosong. Dia terlihat begitu berbeda dari Mel yang biasanya. Mel yang semangat, kini terlihat murung.


"Nona Mel."


"Ya."


"Aku datang untuk menjemputmu."


"Terima kasih."


Mel langsung masuk ke mobil. Dia terus saja memikirkan apa yang dikatakan oleh Malvin. Dimana dia menyatakan jika Danita adalah istrinya. Hal ini memukul hatinya.


Brak. Mel menggebrak tanganya ke kursi mobil. Dia saat ini sangat ingin berteriak. Dia merasa bodoh karena tidak dari dulu mengatakan cinta pada Malvin.


"Ada apa Nona?"


"Sejak kapan Danita dan Malvin menikah?"


"Sejak mereka bertemu."


Jawaban dari Don membuat Mel kembali merasa begitu bodoh. Dia ingat saat Lin menelfonya. Ternyata wanita itu benar-benar Danita. Hanya karena melihat foto Danita sekali membuat Mel tidak ingat.


"Nona Mel. Mau saya antar ke kantor atau kemana?"


"Kerumah."

__ADS_1


"Baik."


__ADS_2