Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Sebelas


__ADS_3

Rapat itu tertunda karena Malvin yang tertidur. Meski begitu pembawaan Malvin dalam rapat itu masih begitu bagus. Tidak ada yang mengira jika Malvin baru saja tertidur.


Setelah rapat Mel dan Malvin kembali ketempat pembangunan. Melihat bagaimana para pekerja disana. Juga melihat sudah sampai mana pekerjaan itu dibuat.


"Apa sudah sesuai dengan laporan?" Tanya Malvin pada Mel.


"Sudah Pak."


"Berikan bonus pada para pekerja. Dengan begini mereka akan lebih semangat untuk bekerja."


"Baik Pak."


Malvin berbalik. Melihat tempat dimana dia menyelamatkan Danita. Dimana wanita itu memeluknya dengan erat. Ketakutan membuat wanita itu merasa dilindungi oleh Malvin.


"Pergilah dulu ke mobil. Aku ingin melakukan sesuatu dulu disini," kata Malvin.


"Saya bisa menemani Bapak disini."


"Terserah kau saja."


Malvin mencoba menelfon Danita. Tepat dering kedua Danita menjawab telfon itu. Suara lembut Danita langsung terdengar oleh Malvin.


"Halo Malvin. Ada apa menelfon?"


"Tidak. Aku hanya mencoba apa telfonmu yang baru bisa digunakan atau tidak."


"Baguslah kau menelfon. Sebenarnya aku ingin menelfonmu sejak tadi, tapi takut mengganggu."


"Ada apa? Apa ada masalah?"


"Tidak. Jika kau membolehkan, aku ingin pergi kerumah Paman."


Sebenarnya Malvin tidak ingin Danita berhubungan dengan Paman Mike. Hanya saja Paman Mike mungkin tahu sesuatu, jadi dia akan membebaskan Danita untuk beberapa waktu berhubungan denganya.


"Malvin. Apa boleh?" Tanya Danita.


"Ya. Jika ada apa-apa langsung telfon aku."


"Baiklah. Terima kasih."


Panggilan itu berakhir begitu saja. Malvin masih merasa ada yang kurang saat itu. Hanya dia tidak tahu apa itu. Malvin tidak sadar jika wanita dibelakangnya sedang menatap cemburu. Wanita yang selama ini begitu menginginkanya.


Malvin berjalan dia tidak sadar Mel terus menatap tanpa mengikuti langkah kakinya. Sampai saat dia menoleh dan melihat Mel diam saja ditempat.


"Apa kau mau menginap disini?" Tanya Malvin.


"Ti..tidak."


Mel langsung melangkah untuk berada disisi Malvin. Karena perasaan yang sulit dikontrol membuat Mel merasa tertekan. Jika dia sampai lepas kendali, Malvin akan mengusirny. Hal itu akan membuat Mel tidak bisa bertemu dengan Malvin lagi. Karena hal ini yang membuat Mel bisa disisi Malvin.


"Setelah ini ada jadwal apa?" Tanya Malvin.


"Kembali ke kantor. Ada beberapa hal yang harus Anda setujui."


"Ok."


***


Setelah menelfon dan memastikan Paman Mike dirumah. Danita memutuskan untuk mengunjunginya. Tidak lupa dengan beberapa bingkisan kecil untuk pamanya itu. Ada buah dan camilan.


"Sopir sudah siap Nyonya." Kata Lin.


"Terima kasih."


"Nyonya?"


"Ya Lin."


"Apa saya boleh ikut? Saya takut terjadi apa-apa dengan Nyonya."


"Tidak perlu Lin. Malvin akan datang jika terjadi sesuatu padaku."

__ADS_1


Lin mengangguk. Lalu membantu Danita membawa barang ke dalam mobil.


Dalam perjalanan Danita diam dan mengamati kiri kanan. Dia masih begitu paham dengan suasana ini. Dia masih paham akan jalan pulang kerumah paman Mike. Dia masih merasa senang saat akan kembali.


Perlahan mobil berbelok ke gang yang lebih kecil. Anak-anak yang sedang bermain mulai menyingkir. Memberikan jalan untuk mobil yang akan melintas.


"Sudah sampai Nyonya," kata Sopir.


"Terima kasih, Pak. Bisa bantu aku membawa semua barang ini?"


"Tentu Nyonya. Mari."


Langkah Danita pasti. Dia mengetuk rumah Paman Mike beberapa kali. Sampai saat pria itu membuka pintu. Danita langsung memeluk pria itu dengan riang. Danita hanya ingat rasa kasih yang pernah diberikan oleh Paman Mike. Dia melupakan rasa sakit yang pernah diberikan oleh Paman Mike.


"Apa kabar Paman?"


"Baik. Aku kira kau hanya membuat lelucon akan datang."


"Bagaimana bisa aku lakukan itu. Hanya kau yang ada didunia ini."


Paman Mike tersenyum.


"Paman aku membawa beberapa hal untuk paman."


"Tidak perlu repot begini." Ujar Paman Mike.


Sopir mulai membawa barang-barang masuk kerumah. Setelah itu kembali keluar. Danita duduk dirumah itu dengan nyaman. Tidak seperti dulu, dia begitu takut duduk karena tidak membawa uang untuk Paman Mike.


"Aku lihat keadaan Paman jauh lebih baik."


"Beginilah. Kamu juga terlihat baik-baik saja. Apa Tuan Brown memperlakukanmu dengan baik?"


"Tentu. Dia sangat melindungiku."


Jawaban itu memuaskan hati Paman Mike. Apa lagi dia mendengar desas desus tentang Malvin Brown yang begitu acuh pada perempuan.


"Danita."


"Tidak ada yang mendengarkan pembicaraan kita, kan?"


"Tidak," jawab Danita sembari menggeleng.


Paman Mike melihat ke kanan dan kekiri. Dia menatap Danita dengan gelisah. Dia berpindah duduk kesisi Danita.


"Paman tahu kau punya kalung itu."


Danita tidak paham dengan apa maksud Paman Mike.


"Jaga kalung itu. Jangan sampai orang jahat mendapatkanya."


"Maksud Paman kalung liontin bunga lily?"


Paman Mike mengangguk pasti.


"Memangnya kenapa Paman? Kalung itu tidak memiliki harga."


"Dengar. Di dalam kalung itu ada sesuatu yang sangat berharga. Bagimu mungkin tidak, tapi bagi dunia gelad dan dunia mafia. Mereka mengincarnya."


"Aku tidak paham."


"Kau akan tahu sendiri nanti. Intinya, jangan berikan kalung itu pada orang jahat. Simpan dengan baik."


"Baiklah."


"Kau janji?"


"Ya. Aku berjanji Paman."


"Anak baik."


Mereka juga membicarakan banyak hal. Paman Mike merasa berterima kasih dengan apa yang dilakukan Malvin untuknya. Saat ini Paman Mike juga membuka sebuah bengkel. Jadi, sedikit sedikit paman Mike bisa mencukupi kebutuhanya.

__ADS_1


"Apa Paman tidak ingin menikah?" Tanya Danita.


"Kau bercanda? Paman sudah terlalu tua."


"Karena aku Paman tidak menikah. Paman takut istri paman tidak menyukaiku bukan?"


Paman Mike hanya tersenyum kecil. Dia memang melakukan itu untuk Danita. Dia takut istrinya akan mencampakan Danita. Gadis yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Lupakan tentang istri. Ini, ini milikmu."


Paman Mike memberikan sebuah kartu debit. Danita menatap pada Paman Mike.


"Ini hasil kerjamu selama ini. Uang dari Tuan Brown juga paman masukan ke kartu debit itu."


Danita tidak tahu harus apa. Selama ini dia mengira jika Paman Mike begitu rakus akan uang. Kali ini, semua pernyataan itu dipatahkan oleh Paman Mike.


"Paman Mike. Paman tahu bukan, aku medapatkan suami yang begitu kaya. Dia mau menghidupiku, membelikan apapun yang aku mau."


Danita memegang tangan Paman Mike dan mengembalikan kartu debit itu.


"Paman gunakan saja uang ini untuk menikah. Aku akan tenang karena paman tidak sendirian lagi."


"Tapi Danita, ini uangmu."


"Uangku juga uang paman."


Melihat waktu Danita memutuskan untuk kembali. Dia tidak mau saat Malvin kembali tidak ada dirinya dirumah.


"Maaf Paman. Aku pulang dulu ya. Lain kali aku akan datang lagi."


"Hati-hati dijalan."


Danita keluar. Dia baru ingat jika mobil akan parkir diluar gang. Mengingat jalan digang itu hanya cukup untuk satu mobil. Jadi, Danita harus berjalan dulu untuk sampai ke mobil.


Brak.


Danita hampir terjatuh karena menabrak seseorang. Saat itu orang itu langsung menangkap tubuh Danita. Mata mereka bertemu, cukup lama Danita sadar dan melepaskan tangan itu.


"Maaf aku menabrakmu," kata Danita.


"Seharusnya aku yang minta maaf. Apa kau tidak apa?"


"Tidak Razka. Aku baik."


"Lama tidak bertemu."


Danita hanya tersenyum.


"Ada apa kamu disini?" Tanya Razka.


"Aku mengunjungi seseorang. Kamu?"


"Aku baru saja dari sana." Razka menunjuk kesebuah bangunan.


Danita menatap tulisan panti asuhan disana. Kini Danita baru sadar jika disana ada panti asuhan. Tidak menyangka jika orang seperti Razka akan peduli tentang anak-anak.


"Kau berhati baik." Ucap Danita.


"Mau ikut aku kesana?"


"Aku sangat ingin. Hanya saja aku harus pulang. Lain kali jika ada waktu aku akan ikut datang."


"Baiklah. Simpan nomorku. Jika kau ada waktu, kabari aku."


Razka mengambil ponsel ditangan Danita. Dia sendiri yang menuliskan nomornya di ponsel Danita.


"Aku permisi," kata Danita kemudian.


"Hati-hati."


Razka terus menatap Danita sampai akhirnya dia berbelok keluar dari gang. Setelah itu Razka tersenyum dan kembali ke panti asuhan.

__ADS_1


__ADS_2