Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Malam sudah semakin larut sampai saat Danita dan Malvin sampai di rumah. Lin menyambut Danita dengan selimut hangat. Dia harus menyiapkan semua ini karena cuaca diluar cukup dingin.


"Apa Tuan mau secangkir kopi?" Tanya Lin.


"Tidak. Panaskan coklat saja untuk Danita."


"Baik."


"Kau tidak dingin?" Tanya Danita.


"Entahlah. Aku merasa kasihan pada Don. Aku baru melihatnya seperti ini."


"Benarkah?"


"Ya. Biasanya dia tidak menampakan wajah sedih, apa lagi sampai menangis."


"Apa kau pernah sedih dan menangis?"


Malvin terdiam. Sampai dia ingat kembali bagaimana dia menangis meraung-raung saat tahu Ibunya bunuh diri. Mengingat ayahnya yang mati karena pembunuhan. Hal ini langsung membuat Malvin sadar akan Danita.


"Malvin," panggil Danita.


"Mulai besok kau harus menyiapkan semuanya untukku. Don libur."


"Baiklah. Kau mau..."


Belum selesai Danita selesai bicara. Malvin sudah pergi tanpa kata. Lin juga datang dengan segelas coklat panas.


Malvin masuk ke ruang tenangnya. Dia menatap foto keluarganya dengan lekat. Seperti merasa bersalah dan hanya bisa merenung.


"Apa aku salah sudah mencintainya? Aku bahkan melupakan tujuanku karenanya Pa, Ma."


Kalimat-kalimat seperti itu terus muncul pada benak Malvin. Hanya saja orang yang dia ajak bicara sudah tidak menjawabnya. Membuat Malvin merasa frustasi.


*Tuan. Aku baru mendapat kabar jika kalung itu ditemukan. Hanya saja isinya sudah tidak ada.*


Pesan itu dikirim dari ponsel Don.


*Beri aku alamatnya. Besok akan aku ambil kalung itu.*


*Tuan. Apa Anda sudah lupa dengan semuanya?*


*Entahlah Don. Aku lelah.*


Don hanya mengirimkan alamat yang dimaksud Malvin. Besok dia sendiri yang akan mengambil kalung liontin lily itu. Memberikan pada Danita. Membuat wanita itu tersenyum dengan bahagia.


***


Pagi-pagi sekali Danita bangun. Dia mengikat rambutnya dan menatap dirinya sendiri di cermin. Bayangan Mel tiba-tiba saja muncul. Membuat Danita langsung menutup matanya.


Danita kembaki mengingat tentang tulisan dengan darah di kertas. Hanya Danita yang melihatnya, meski begitu Danita tahu jika Mel menulis semua itu untuknya.


'Kau sudah merebut semuanya dariku.'


Perasaan bersalah menyelimuti Danita. Saat bertemu dengan Malvin. Danita tidak tahu jika ada wanita yang begitu mengharapkanya. Setelah menikah, Danita tidak mau memberikan pria itu pada wanita yang mencintainya. Sampai tanpa sadar Danita akhirnya jatuh dalam perasaan cinta itu.


Tidak ingin larut dalam pikiranya. Danita menyiapkan baju untuk Malvin berangkat ke kantor. Dia juga tidak lupa melihat sarapan yang akan dimakan oleh Malvin.


"Kenapa Anda datang kesini?" Tanya Lin yang melihat Danita di dapur.


"Aku hanya ingin melihat sarapan apa untuk Malvin."


"Anda butuh sesuatu yang lain?"

__ADS_1


"Tolong siapkan sopir. Hari ini aku akan ke panti."


"Baik."


"Sayang." Malvin datang dan langsung memeluk tubuh Danita dari belakang.


"Pagi Malvin."


"Pagi. Apa kau yang memasak?"


"Apa kau ingin aku memasak?" Tanya Danita.


"Tidak terdengar bagus. Oh ya, aku akan pulang lebih cepat. Aku ingin kau yang menyambutku di depan pintu."


"Ada apa ini? Apa kau sudah jatuh hati padaku."


"Mungkin."


Setelah selesai sarapan Danita mengantar Malvin ke luar sampai masuk ke mobil. Setelah itu Danita mengambil tas tanganya dan masuk ke mobilnya sendiri. Dia berangkat ke panti lebih pagi dari biasanya.


"Nyonya." Panggil Lin dengan terburu-buru.


"Ada apa Lin?"


"Apa Anda sudah mau berangkat?"


"Ya. Aku ingin pulang lebih cepat. Ada apa?"


"Maaf. Mainan belum selesai dibungkus."


"Aku akan datang dulu. Siapkan saja mobil untuk mengantar mainan-mainan itu. Oh ya, tambahkan juga camilan untuk anak-anak."


"Baik Nyonya."


"Maafkan aku. Lain kali aku akan datang dengan banyak hadiah," kata Danita.


"Aku akan menunggu. Ayo kita bermain lagi," kata anak bernama Diana.


"Maafkan anak-anak. Mereka terlalu banyak meminta."


"Tidak apa Bu."


Tidak berselang lama mobil yang membawa mainan datang. Tepat dibelakangnya juga ada mobil dati Razka.


Anak-anak langsung menghambur dan berbut memeluk Razka. Danita hanya tersenyum saat melihatnya.


"Apa kak Razka membawa mainan untuk kami?" Tanya Diana.


"Tidak."


"Bagaimana dengan mobil penuh mainan itu?" Tunjuk Diana.


Razka mencari kesekeliling. Menemukan Danita yang sefang menatapnya.


"Itu diberikan oleh kakak Cantik. Apa kalian suka?"


"Ya. Kami sangat suka."


"Ambilah."


Baru saja Razka akan mendekat kearah Danita. Sopir Danita sudah lebih dulu datang.


"Nyonya. Sudah waktunya kembali."

__ADS_1


"Baiklah."


Danita duduk disisi Ibu panti. Dia memberikan amplop coklat dan tersenyum.


"Bu. Aku permisi dulu. Ada hal lain yang harus aku kerjakan."


"Baik. Hati-hati dijalan. Terima kasih juga untuk semuanya."


"Sama-sama."


"Kau sudah mau kembali?" Tanya Razka.


"Ya. Aku permisi."


Razka terus menatap Danita sampai mobil yang dia tumpangi pergi. Ibu panti tahu akan tatapan itu. Dia perlahab memegang pundak Razka dari belakang.


"Razka. Dia sudah memiliki suami."


"Aku tahu Bu. Hanya saja, aku merasa bahagia saat melihatnya tersenyum."


"Kau ini. Kamu harus jaga batasanmu," kata Ibu panti mengingatkan.


"Baik baik."


Sementara Malvin baru saja keluar dari sebuah rumah yang terlihat mewah namun tidak dirawat. Tanaman merambat disana-sini. Bahkan lumut juga sudah mulai tumbuh dirumah itu.


"Akhirnya kamu kembali juga," kata Malvin pada kalung di tanganya.


Dia sudah berhasil mendapatkan kalung itu. Meski harga yang dia berikan cukup tinggi. Malvin hanya ingin memberikan hadiah yang sempurna untuk istrinya itu.


*Pakailah gaun yang cantik saat aku kembali. Aku hampir sampai dirumah.*


Danita membaca pesan itu merasa senang. Dia ingin mengetik sebuah pesan balasan. Sampai suara tabrakan membuatnya linglung. Dengan panik Danita keluar dari dalam mobil. Melihat mobil yang dia tumpangi sudah ringsek.


Sopir yang membawanya juga tidak sadarkan diri. Danita mencoba berjalan ke jalan yang lebih ramai. Namun luka ditubuhnya sudah begitu banyak berdarah. Membuatnya jatuh ke tanah.


"To...loo...ngg." lirih Danita.


Malvin memarkinkan mobilnya secara sembarang. Dengan langkah cepat dia membuka pintu rumah. Tidak ada siapapun yang menyambutnya.


"Tuan sudah pulang?" Tanya Lin.


"Dimana Danita?"


"Sepertinya Nyonya belum sampai dari panti."


Saat itu di TV tersiar jika ada sebuah kecelakaan. Dimana korbanya seorang pria dengan pakaian sopir. Malvin dan Lin melihat mobil yang sedang diberitakan. Malvin langsung tahu jika mobil itu yang digunakan Danita.


"Danita!"


"Nyonya!"


Seru Malvin dan Lin secara bersamaan. Dengan terburu-buru Malvin kembali membawa mobilnya. Dia bahkan tidak peduli menerobos lampu merah dan melanggar rambu. Saat ini dia hanya ingin cepat sampai dilokasi kecelakaan.


Sampai disana Malvin menerobos keramaian dia mencari Danita di dalam mobil. Namun tidak ada siapapun di dalam sana.


"Nak. Apa Anda keluarga korban?" Tanya seorang pria paruh baya.


"Ya."


"Baru saja dibawa kerumah sakit terdekat. Sebaiknya kau cari saja disana."


"Terima kasih Pak."

__ADS_1


Sampai dirumah sakit Malvin menatap dengan tidak percaya. Bahkan tatapanya kosong. Dia merasa hidupnya runtuh seketika.


__ADS_2