
Suara tembakan itu membuat semua orang menatap kearah yang sama. Darah mulai mengenang. Hampir semua yang ada disana berteriak kaget. Danita menatap tanganya yang sudah memiliki darah.
Malvin membelah kerumunan. Dia melihat Danita yang saat ini ada dipelukan Razka. Tanpa ragu dia menarik lengan Danita kembali kepelukanya.
"Kau tidak apa?" Tanya Malvin.
Danita melepaskan pelukan itu. Lalu menatap pada Razka.
"Terima kasih. Jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah tertembak," kata Danita.
"Aku senang kau selamat."
Beberapa orang Pak Gun datang. Mereka langsung membawa wanita yang tertembak itu pergi. Sementara yang lain membersihkan darah wanita itu.
"Kita pergi."
Malvin dengan kasar menarik tangan Danita keluar dari vila. Tamu yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka bahkan bertanya-tanya dengan apa yang terjadi.
"Kenapa kau mau berdansa dengan Razka?"
"Dia menyelamatkan aku lagi. Aku suka itu."
Malvin berdecak.
"Lagi pula kamu tidak cinta padaku. Tidak peduli, lalu untuk apa kamu melakukan ini."
"Masuklah."
Dengan kasar Malvin mendorong Danita masuk ke dalam mobil. Entah kenapa tapi Malvin merasa begitu tersiksa saat melihat Danita bersama Razka. Dia merasa jika Danita miliknya, hanya miliknya saja.
Malvin tidak peduli dengan jeritan dan wajah ketakutan Danita. Dia terus melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan. Bahkan hanya dalam waktu singkat Malvin sudah sampai disebuah tempat.
Malvin turun dan menatap seorang penjaga ditempat itu.
"Seret dia masuk," kata Malvin.
Pria itu melakukanya. Dia menarik tangan Danita dengan keras. Bahkan langkah Danita yang tidak bisa mengimbangi membuat Danita beberapa kali terjatuh. Pria itu sama sekali tidak peduli.
Baru saja masuk Danita sudah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan. Disana ada beberapa ruangan yang terlihat seperti kandang. Danita bisa melihat orang-orang di dalam sana. Mereka terlihat mengerikan dengan luka dan tampangnya.
"Masuk."
Danita didorong masuk kesebuah ruangan. Malvin duduk dikursi menatap seorang pria yang sedang disiksa. Awalnya Danita hanya merasa ngeri, sampai dia sadar siapa pria yang disiksa.
"Paman Mike!" Teriak Danita.
Tanpa ragu dia langsung memeluk Paman Mike. Tidak peduli jika dia juga akhirnya akan ikut disiksa.
"Danita," lirih Paman Mike.
"Paman. Ada apa ini Paman? Kenapa Paman seperti ini?" Wajah Danita begitu pedih. Lalu dia menatap pada Malvin, "Lepaskan Paman Mike. Dia tidak tahu apa-apa Malvin."
Malvin tersenyum sinis. Dia menatap pada Danita yang terlihat begitu menyedihkan.
__ADS_1
"Bagaimana dia tidak salah. Selama ini Paman Mike mu ini sudah menyembunyikanmu. Itu kesalahan besar bagiku."
"Aku sudah ditanganmu. Aku mohon lepaskan Paman Mike."
"Aku akan lakukan maumu dengan senang hati, tapi berikan kalung liontin lily padaku."
Danita menoleh pada Paman Mike. Meski selama ini Paman Mike begitu kasar. Paman Mike lah yang menjaganya. Bukan orang lain, bahkan mungkin Danita akan hilang arah.
"Aku akan berikan."
"Jangan Danita," ucap Paman Mike.
"Paman, aku tidak peduli Paman. Aku hanya ingin Paman baik-baik saja."
"Danita. Kau harus menjaga kalung itu seperti nyawamu. Paman tidak peduli dengan siksaan ini. Yang penting kalung itu dalam genggaman yang benar."
Saat itu Danita tidak tahu harus apa. Danita terduduk dengan air mata yang menetes.
"Siksa dia." Suara Malvin menggema.
Kembali cambukan demi cambukan menerjang tubuh Paman Mike. Danita semakin histeris menangis. Saat akan mencoba mendekat lagi Malvin menariknya pergi.
Suara tangisan Danita begitu lirih, tapi menyayat hati yang mendengarnya. Malvin kembali memasukan Danita kedalam mobil. Tidak ingin mendengar Danita terus menangis Malvin memilih untuk menyuntikan obat bius. Setidaknya Danita tidak akan membuatnya pusing.
Tangisan Danita tanpa sadar menyentuh hati Malvin. Membuat pria itu hampir goyah. Jadi dia melakukan semua ini agar Danita tidak membuatnya berhenti dalam tujuanya.
***
"Aku tidak sengaja. Kami sedang menari."
"Apa kau kira aku percaya? Beberapa kali kau mencoba menemui wanita itu. Dia bukan orang sembarangan Razka. Kau bisa terbunuh karenanya."
Razka tidak peduli dengan apa yang dikatakan Mel. Dia kembali minum dan meletakan gelas kosong dengan keras. Menatap Mel dengan senyuman sinisnya.
"Kita memang dekat, tapi bukan berarti kau bisa mengurusi hidupku."
Razka membenarkan jasnya dan pergi begitu saja. Mel menghentakan tanganya. Dia benar-benar kesal dengan kakak sepupunya itu.
"Nona Mel."
"Apa?" Mel menjawab dengan nada kesal.
"Nona Laura sedang menunggu di ruang baca."
"Aku kesana," kata Mel yang langsung pergi begitu saja.
Laura duduk dengan gelisah diruang baca. Dia merasa kerjaanya kali ini sudah salah. Mel pasti tidak akan melepaskanya dengan mudah.
"Nona Mel." Lirih Laura begitu Mel masuk.
Mel menatap pada Laura. Dia mendekat dan langsung mencengkram dagu Laura. Laura hanya diam, saat ini pasrah adalah hal yang perlu dia lakukan.
"Kenapa tidak tepat? Dua kali, kau gagal lagi Lau."
__ADS_1
"Maaf Nona."
"Maaf. Apa kau kira hanya dengan maaf aku bisa tenang?" Mel melepaskan Laura. Dia menatap pada dinding kaca disisinya.
Mengingat sekali lagi bagaimana Malvin memperlakukan Danita. Bagaimana Razka mengejarnya. Semua ini benar-benar membuat Mel kesal.
"Aku akan melepaskanmu. Hanya saja, jika aku butuh. Kau harus datang."
"Ba baik Nona Mel."
"Pergi."
Buru-buru Laura keluar dari ruangan Danita. Bahkan para penjaga itu juga menatap Laura. Membuat Laura merasa begitu takut. Dia terus berlari sampai diluar vila. Saat itu para tamu sudah tinggal beberapa.
"Lucas. Kau disini?"
Laura tanpa ragu memeluk Lucas saat itu. Lucas kaget karena bisa melihat Laura disana. Lucas melepaskan pelukan itu dan menatap pada Laura.
"Ya. Aku ada pekerjaan disini. Kenapa kamu disini?"
"Aku. Aku kenalan Nona Mel. Kami cukup dekat."
"Begitu ya."
"Apa kau sudah mau pulang?" Tanya Laura.
"Ya. Ada apa?"
"Bisakah aku pulang denganmu. Aku tidak membawa kendaraan."
Lucas sekali lagi menatap pada Laura. Dari tatapan Laura jelas sekali dia sedang ketakutan. Lucas bahkan sempat melihat kebelakang Laura. Tidak ada apapun.
"Ayo." Ucap Lucas kemudian.
"Terima kasih."
Laura langsung masuk ke dalam mobil. Saat itu sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Laura.
*Kau suka hadiahku bukan? Lebih dari bayaranmu.*
Setelah membaca pesan dari Nona Mel. Laura menatap pada Lucas yang perlahan menjalankan mobilnya. Ternyata Nona Mel sengaja melakukan ini. Sebagai bayaran atas apa yang dilakukan Laura untuknya.
Sementara Razka menatap layar ponselnya beberapa kali. Dia ragu untuk mengirim pesan pada Danita. Apa lagi Malvin membawanya dengan paksa. Hanya daja, Razka tidak bisa bohong. Dirinya tersihir oleh Danita sejak pertama bertemu. Apa lagi dengan tarianya tadi.
*Hai. Aku menepati janjiku untuk memberikan pesan padamu.*
Pesan itu dikirim oleh Razka. Dia tidak tahu saat ini Danita masih terlelap karena pengaruh bius yang diberikan oleh Malvin.
*Apa kau tidak suka aku memberi pesan? Apa suamimu itu marah?*
Kembali pesan itu dikirim oleh Razka. Dia sangat ingin mendapat pesan balasan. Meski balasan itu kadang tidak sesuai dengan harapan.
Malvin menatap layar ponsel Danita yang beberapa kali menyala. Dia mengambil dan melihat pesan-pesan itu. Tanpa nama, hal ini membuat Malvin merasa kesal. Istrinya sudah memiliki penggemar.
__ADS_1