Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Malvin meminta anak buahnya untuk mencari Danita. Dia tidak mau sampai wanitanya pergi begitu saja. Apa lagi karena salah paham yang baru saja dilihat oleh Danita.


"Sudah ada kabar Don?" Tanya Malvin.


"Belum Tuan."


Mel sudah berganti baju. Dia keluar dan duduk disamping Malvin. Ingin memeluk pria itu, namun dengan kasar Malvin menepisnya.


"Pulanglah."


"Tidak mau."


"Mel. Aku perintahkan kamu untuk pergi dari sini."


Mel tidak peduli. Dia mengambil jeruk diatas meja dan memakanya dengan santai. Tanpa Malvin sadari Mel merasa senang karena kepergian Danita.


"Bawa dia pergi Don. Aku lelah," kata Malvin.


"Baik Tuan."


Don akan mendekat, Mel langsung berdiri dan menatap Don lekat. Dia mengambil tasnya dan tersenyum.


"Don. Apa kau fikir kita masih sepadan? Tidak. Aku adalah Nona besar Mel. Aku bisa pergi sendiri." Ucap Mel.


Don hanya diam. Begitu juga Malvin. Namun saat akan pergi Mel mendekat dan sempat mencium pipi Malvin. Dengan senyum penuh kemenangan Mel berjalan melangkah pergi.


"Tuan."


"Cepat cari Danita. Aku ingin istirahat dulu."


Malvin masuk ke kamar. Menatap ponsel Danita yang tergeletak diatas meja rias. Malvin tidak menyangka jika sampai dia salah mengenali istrinya sendiri. Niat hati ingin menggoda kini malah membuat dirinya dalam masalah. Apa lagi Mel yang semakin berani.


Sementara Danita baru saja keluar dari restoran dengan Nenek Maria. Sebenarnya Danita ingin pulang keapartemen sendiri. Hanya saja nenek Maria meminta Lucas untuk mengantar Danita.


"Tidak perlu Nek. Aku bisa sendiri."


"Kamu ini wanita. Jangan suka kemana-mana sendiri." Ucap nenek Maria.


"Bukan begitu Nek. Lucas masih banyak kerjaan. Aku bisa pulang pakai taksi saja."


"Tidak." Nenek Maria mempertegas ucapanya. "Lucas. Antar Danita pulang."


Lucas sama sekali tidak menolak hal itu. Dia langsung mengeluarkan mobil untuk mengantar Danita. Kebetulan sekali saat itu Laura melihatnya. Dia langsung memfoto adegan itu. Langsung mengirimkanya pada Mel.


"Kenapa kamu sejak tadi diam saja?" Tanya Lucas.


"Tidak. Aku hanya lelah."


"Suamimu tidak menemanimu?" Tanya Lucas lagi.


"Dia sibuk. Aku tidak suka mengganggunya."


"Baguslah."


"Ya."


Perbincangan itu berakhir begitu saja. Sampai akhirnya Danita sampai di gedung apartemen lagi. Danita turun. Sama sekali tidak berniat membawa Lucas kembali kerumahnya.


"Terima kasih sudah mengantarku."


"Sama-sama. Bolehkah aku mampir?"


"Maaf. Suamiku mungkin akan pulang sebentar lagi. Aku tidak ingin dia sampai berfikir tentang hal lain."

__ADS_1


"Tidak apa. Aku bisa melakukanya lain kali."


Danita hanya tersenyum kemudian masuk ke gedung apartemenya. Dia menekan lantai rumahnya dan ingin segera istirahat. Kebetulan dia sudah berbelanja sedikit untuk beberapa hari.


Pintu terbuka setelah Danita menekan nomor sandinya. Tidak disangka saat Danita sampai sudah ada Malvin yang duduk tenang disofa.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Malvin.


Danita masuk ke dapur dan tidak mempedulikan Malvin. Malvin mengikuti langkah kaki Danita. Danita sibuk dengan belanjaanya. Danita memilah beberapa barang dan meletakanya ditempat khusus.


"Aku bertanya padamu Danita."


"Bukan urusanmu aku pergi kemana. Paham."


Danita akan kembali melewati Malvin. Saat Malvin menarik lengan Danita. Mereka bertatapan cukup lama.


"Kamu cemburu?" Tanya Malvin.


"Cemburu. Tidak mungkin, bukankah seharusnya kamu sadar aku memberikan ruang untukmu dan Mel."


"Begitukah? Kalau begitu aku tidak akan menyembunyikan lagi hubungan ini."


"Ya. Lakukan saja." Kata Danita kembali berjalan menjauh dari Malvin. Sampai saat akan masuk ke kamar Danita menoleh pada Malvin. "Pintu keluar terbuka lebar. Jangan lupa untuk ditutup kembali," kata Danita.


Sampai di kamar Danita merasa begitu kesal dengan sikap Malvin. Danita mengira jika Malvin akan membujuknya kembali. Ternyata tidak. Malvin bahkan terlihat santai dan mengakui hubungan itu dengan Mel.


Rasa cemburu dihati Danita semakin mbara ketika membayangkan Mel dan Malvin bersama. Hanya saja Danita tidak bisa mengungkapkanya.


Malvin menendang kursi di dapur dengan keras. Dia tidak menyangka sikap Danita begitu tidak peduli. Bahkam terkesan dia baik-baik saja saat jauh dari Malvin. Hal ini membuat hati Malvin kacau. Tidak seperti biasanya Malvin begitu tenang.


***


Mel menatap kalung liontin lily ditanganya. Dia melihat apa sepesialnya kalung itu. Mel masih saja belum menemukan jawabanya. Sampai ponselnya berdering beberapa kali. Beberapa foto langsung masuk ke ponsel Mel.


"Sebenarnya siapa wanita ini. Banyak sekali yang menginginkanya. Bahkan Kak Razka juga."


Brak.


Pintu kamar Mel terbuka. Ternyata Razka yang datang. Dia duduk disofa kamar Mel dan melihat Mel yang sedang menatap layar ponsel.


"Siapa itu? Apa Malvin?" Tanya Razka.


"Mau tahu saja."


Razka tertawa.


"Mel. Apa kau tidak bosan dirumah saja."


"Kata siapa dirumah saja. Aku baru saja pulang."


"Pantas saja Paman Gun begitu marah."


"Benarkah?"


"Ya. Dia bahkan meminta beberapa anak buahnya untuk mencarimu."


Mel menyeringai. "Tidak perlu mencariku. Semalam aku tidur dengan nyenyak dan nyaman dirumah Malvin."


"Apa?!" Razka tidak percaya akan hal itu.


"Ya. Kamu kaget?"


"Dia sudah beristri."

__ADS_1


"Aku tahu."


Saat Razka akan kembali bicara. Ponselnya berbunyi. Melihat nama yang tertera di ponsel itu. Razka keluar tanpa berpamitan pada Mel.


Mel yang melihat gerak-gerik aneh itu langsung mengikuti secara diam-diam. Dia ingat dengan janji yang diberikan oleh Malvin. Hal ini langsung membuat Mel semangat.


"Ada apa? Sudah aku katakan jangan menelfonku disaat aku tidak menghungimu."


"Maaf. Ini darurat."


"Darurat? Ada apa?"


"Barang dirumah itu sudah tidak ada. Kemungkinan jika ada yang mengambilnya."


"Sialan. Cari tahu. Bagaimana bisa kamu sampai seceroboh ini." Terlihat sekali jika Razka begitu marah.


"Maaf. Tadi ada kerusuhan sedikit."


"Cari tahu lagi. Aku tidak peduli."


Razka memutuskan panggilan itu. Mel langsung bersembunyi saat Razka berbalik. Untung saja Razka tidak kembali ke kamar Mel. Dia langsung turun dan berbincang dengan Pak Gun.


"Barang apa itu?" Tanya Mel penasaran.


"Sedang apa kamu disini?"


Mel terlonjak karena Pak Gun tiba-tiba sudah berada di dekatnya.


"Papa. Aku mau ke bawah. Ambil minum."


"Ambilah."


Mel mengelus dadanya. Dia merasa lega karena tidak dicurigai oleh orang tuanya itu.


"Kau pasti mendengarkan pembicaraanku di telfon," kata Razka.


"Tidak."


"Benarkah?" Razka mendekat pada Mel.


Mel langsung buru-buru menjauh. Dia merasa jantungnya berdegup dengan cepat. Tentu saja, dia takut ketahuan.


"Jangan bilang siapa-siapa. Jika sampai ada yang tahu aku akan mencarimu."


"Ti...tidak akan."


"Baguslah."


Pak Gun turun dan melihat Razka dekat dengan Mel. Dia merasa lebih baik kali ini. Bukan karena apa, Pak Gun lebih setuju Mel dengan Razka dari pada dengan Malvin.


"Razka."


"Ya Paman."


"Bisakah kau menemani Mel hari ini? Aku ada bisnis diluar kota selama tiga hari."


"Pa. Aku bisa melakukan apapun sendiri," ucap Mel.


"Baik Paman. Aku akan menjaganya untukmu."


"Terima kasih. Aku beruntung ada kamu disini," kata Pak Gun.


Razka tersenyum sembari melirik pada Mel. Jelas sekali Mel merasa tidak senang. Dia langsung pergi dan meninggalkan Razka.

__ADS_1


__ADS_2