Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Malvin terus mencari Danita di rumah sakit itu. Sampai saat seorang sopir ambulance datang pada Malvin. Membawa Malvin ke tempat dimana korban kecelakaan baru saja dia bawa.


"Disini Pak," kata pria itu.


Malvin membuka pintu. Dia melihat sopirnya yang sedang di tangani Dokter. Melihat kesekeliling, namun tidak ada sosok yang dia cari.


"Dimana istriku?" Tanya Malvin.


"Maaf Pak. Dalam kecelakaan itu hanya ada bapak ini yang kami selamatkan."


"Lalu dimana istriku?" Tanya Malvin panik.


"Maaf Pak. Kami tidak tahu."


"Sialan."


Malvin berjalan keluar. Dia menelfon kemarkasnya dan meminta untuk mencari Danita saat ini juga. Dia tidak peduli apapun saat ini. Hanya Danita yang saat ini membuat Malvin tidak tenang.


"Anda memanggil saya Tuan?" Tanya Don.


"Ya. Maaf aku memanggilmu padahal sudah memberi izin libur."


"Memangnya ada apa Tuan?"


"Danita hilang. Mobil yang dia bawa juga kecelakaan."


"Bagaimana dengan sopir?"


"Dia belum sadar."


Don terdiam.


"Don. Cari Danita sampai ketemu. Aku tidak peduli bagaimana caranya."


Cinta yang sudah tumbuh membuat Danita dan Malvin melupakan semuanya. Bahkan membuat mereka hilang tujuan satu sama lain.


***


Perlahan Danita membuka mata. Dia melihat secercah sinar yang masuk melalui lubang pintu. Danita merasa begitu sakit di bagian kepala. Saat akan mencoba memegangnya. Dia baru sadar jika tubuhnya saat ini diikat.


Rasa pengap langsung menghampiri Danita. Ruangan itu begitu mengerikan bagi Danita. Bahkan oksigen rasanya begitu sedikit. Berulang kali Danita mencoba melepaskan ikatanya. Hanya saja tidak bisa terlepas.


"Tolooong. Tolooong." Teriak Danita sekuat tenaga.


Brak.


Pintu terbuka dengan kasar. Dua orang pria masuk dan tertawa saat melihat Danita sudah terbangun.


"Kalian siapa?"


"Kamu mau tahu siapa kami? Tanyakan saja pada suamimu itu."


Danita masih mencoba membuka ikatan ditangan dan kakinya itu. Saat ini dia dalam posisi duduk dan ikat dengan kursi. Sangat sulit untuk bergerak.


"Tolooong. Tolooong."


Plak.


"Diam." Ucap salah satu dari mereka.


Tamparan itu sungguh perih mendarat diwajah Danita. Danita langsung merasa takut. Saat ini dia sendiri dan dengan kondisi terikat. Mana mungkin dia akan bisa melawan dua pria itu.


"Percuma saja kau minta tolong, Danita. Tidak akan ada yang menolongmu untuk saat ini."

__ADS_1


"Malvin akan menolongku," ucap Danita optimis.


Dua pria itu tertawa dengan keras. Gema diruangan itu membuat Danita tertunduk lemas. Dia tidak tahu harus apa saat ini. Dia merasa sangat takut.


Klik.


Layar putih langsung terlihat di depan Danita. Sesaat kemudian terlihat wajah Pak Gun disana. Danita merasa aneh saat melihat hal ini. Bagaimana bisa Pak Gun ada disana.


"Halo Nona Danita Brown." Sapa Pak Gun dengan senyum aneh.


"Bagaimana disana? Apa menyenangkan?" Tanya Pak Gun lagi.


Danita diam dan terus menatap pada Pak Gun.


"Aku bertanya padamu. Jawablah."


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Danita.


"Kau bertanya padaku? Seharusnya kau sudah tahu kenapa aku melakukanya."


"Apa karena Mel?"


Pak Gun menatap foto putrinya dengan sakit hati. Karena Danita, Mel jadi hilang akal dan memilih bunuh diri. Tentu saja membuat Pak Gun tidak bisa mengampuni Danita.


"Itu bukan salahku. Mel sendiri yang ingin bunuh diri."


"Bagaimana dengan ini?"


Pak Gun memperlihatkan sebuah surat yang ditulis oleh Mel dengan darah. Danita menggeleng dengan keras. Dia terus mencoba untuk menjelaskan masalah sebenarnya. Hanya saja Pak Gun sudah tidak peduli lagi.


"Danita. Bersiaplah, mungkin beberapa saat nanti kau akan menjadi orang lain."


"Apa maksudmu?" Tanya Danita.


Bukanya jawaban yang Danita dapatkan. Layar itu kini sudah menghilang. Danita mencoba berontak. Namun sekali lagi tamparan mendarat diwajahnya.


"Halaah. Yang digunakan juga organya bukan wajahnya," timpal yang lain.


Mata Danita membulat saat mendengar hal itu.


"Apa yang kalian katakan?"


"Kau tidak tahu? Tuan Gun ingin semua organmu dijual. Ini hal menguntungkan untuknya."


"Bodoh. Diam dan jangan beri tahu dia."


Setelah itu mereka berdua pergi. Danita kembali sendiri. Kali ini dengan pikiran yang tertuju pada perkataan dua pria itu. Dia akan dibedah dan organya akan dijual.


Danita menggeleng keras. Tanpa sadar air matanya sudah menetes. Dia begitu takut saat ini. Dia akan mati untuk hal yang tidak dia inginkan.


Sebelum sampai di tempat penculikan.


Danita masih terus mencoba meminta tolong. Matanya sudah terpejam dan tidak sadarkan diri. Dua pria datang dengan mobil yang disediakan oleh Pak Gun. Melihat mangsanya sudah tidak sadar membuat dua pria itu dengan mudah membawa Danita.


Bahkan setelah mendapatkan Danita. Beberapa ratus juta sudah ada ditangan mereka. Hal ini membuat mereka merasa jika Danita adalah tambang uang yang menguntungkan.


"Wanita itu cantik. Aku menginginkanya," kata A saat keluar dari ruangan Danita.


"Jangan. Nanti kau akan kena hukuman." Jawab B.


"Bos juga tidak tahu."


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Sialan."


Danita terus menangis sampai pintu itu kembali terbuka. Kali ini bukan dua pria itu yang masuk. Melainkan beberapa orang dengan seragam putih. Menggunakan masker dan terlihat rapi.


Belum sempat Danita bereaksi sebuah suntikan sudah tertancap ditubuh Danita.


"Kalian siapa?"


Itu pertanyaan lirih dari Danita sampai dia akhirnya tidak sadarkan diri. Seorang perawat itu mendekat pada dua pria itu dan melemparkan koper.


"Tuan ingin kalian melakukan hal ini lagi," katanya.


"Siap. Kami selalu siap."


***


Malvin mencoba terus untuk menemukan Danita. Bahkan semua anak buahnya sudah dia kerahkan. Beberapa botol minuman habis diminum oleh Malvin. Dia menatap kalung yang dia sediakan untuk Danita. Wanita itu kini telah pergi.


"Tuan. Berhentilah minum," kata Don.


"Diam kau. Apa kau sudah menemukan Danita?"


"Belum, tapi sudah ada laporan tentang orang yang membawanya."


"Aku ingin orang itu ada di depanku secepatnya."


"Baik."


Don keluar. Mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada beberapa anak buahnya. Melihat Malvin saat ini membuat Don tidak tega.


"Danita. Danita," ucap Malvin saat dia menutup matanya.


"Apa kau sudah menemukan orang yang menculik Nyonya?" Tanya Lin.


"Belum. Mungkin beberapa jam lagi mereka akan ditemukan."


"Aku tidak tega melihat Tuan seperti ini."


"Apa kau kira aku tega Lin?"


Ponsel Don berdering. Dia mendapat kabar jika orang yang menculik Danita sudah ditangkap. Saat ini dalam perjalanan ke markas.


"Tuan."


"Jangan Don. Biarkan Tuan tidur sebentar," kata Lin.


"Baiklah. Aku akan ke markas lebih dulu."


"Baik."


***


Danita kembali sadar. Kali ini bukan ruangan gelap dan pengap. Melainkan ruangan besar dengan dominasi warna putih. Banyak peralatan yang Danita tidak paham. Hanya saja terlihat seperti laboratorium.


Meski ruangan itu berbeda. Tubuh Danita tidak bisa bergerak karena ada ikatan ditubuhnya. Rasa takut langsung menghampiri Danita ketika mengingat apa yang dikatakan dua pria sebelumnya.


Sesaat kemudian seseorang datang. Dia menggunakan masker. Meski begitu terlihat jika orang itu tersenyum pada Danita.


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanyanya.


"Aku dimana?"


"Sepertinya kau baik. Kita akan melakukan pengecekan sebentar lagi. Tenang ya."

__ADS_1


"Lepaskan aku. Aku mohon, lepaskan aku," kata Danita.


Orang itu tidak peduli. Dia bahkan pergi begitu saja. Membiarkan Danita terus meminta tolong sampai menangis.


__ADS_2