
Sampai di panti asuhan Danita membagikan mainan yang dia bawa. Tidak lupa bertemu dengan ibu panti. Untuk melepaskan sedikit bebanya. Danita memilih untuk bermain dengan anak-anak. Hal ini cukup membuat Danita tertawa.
Saat itu permainan langsung terhenti ketika anak-anak mendengar suara deru mobil. Setelah melihat siapa yang datang anak-anak langsung berlari menghambur. Siapa lagi jika bukan Razka yang datang.
Razka memang sudah begitu populer disana. Kebaikan dan kesabaran yang dia miliki mampu mengikatnya dengan anak-anak panti. Setelah menghibur mereka, Razka meminta mereka untuk bermain sendiri.
"Kau sudah datang lebih dulu ternyata," kata Razka begitu melihat Danita.
"Ya. Kenapa kamu datang terlambat hari ini?"
"Ada urusan mendadak saat berangkat kesini. Apa kau merindukanku?" Tanya Razka menggoda Danita.
"Apa aku punya alasan untuk itu?"
Mereka tertawa saat itu. Razka dan Danita duduk dibawah pohon rindang. Tidak lupa Razka menceritakan banyak lelucon. Membuat wanita yang sedang banyak pikiran itu terus tertawa.
"Mau minum? Aku ada cafe dekat sini dengan makanan yang enak." Tawar Razka.
Sebelum menjawab Danita melihat jam tanganya lebih dulu. Masih ada waktu satu jam. Danita mengangguk dan pergi bersama Razka.
"Coklat panas untukmu," kata Razka setelah sampai di cafe.
"Kau sudah memesanya?"
"Ya. Aku tidak ingin waktumu denganku terbuang hanya untuk menunggu."
"Terima kasih."
"Kenapa kau selalu datang sendiri? Aku tidak pernah melihat suamimu bersamamu."
"Dia begitu sibuk. Aku tidak mungkin memaksanya."
Razka mengangguk.
"Apa kau dan dia tidak saling cinta?" Tanya Razka.
"Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal itu. Aku bahkan merasa begitu senang dengan pernikahan ini."
"Aku kira masih ada peluang," lirih Razka.
"Peluang untuk apa?"
"Mencintaimu."
Untuk sesaat suasana menjadi hening. Bahkan tatapan Danita dan Razka langsung berubah karena patu kalimat itu.
"Aku bercanda," ucap Razka kemudian.
Danita langsung tertawa. Dia tidak menyadari jika Razka saat ini terlalu lekat menatapnya. Tawa itu membuat Razka hampir gila memikirkanya saja. Razka tidak menyangka pria seperti Malvin akan mendapatkan wanita seperti Danita.
Ponsel Razka berdering. Dia menjauh sebentar dari Danita untuk menjawab telfonya itu. Danita menunggu dengan tenang.
"Danita, maaf. Aku harus pergi karena ada urusan penting." Kata Razka dengan wajah tidak tenang.
"Ada apa? Apa ada masalah?"
"Aku akan ceritakan nanti. Maaf sekali Danita."
"Tidak masalah."
Danita hanya bisa menatap Razka yang masuk ke mobil dengan buru-buru. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja Razka tidak terlihat baik-baik saja.
"Jemput aku di cafe dekat panti," kata Danita melalui telfon.
Tidak lama sopir Danita datang. Danita masuk dan langsung meminta diantar ke apartemen. Dia ingin istirahat disana. Merasakan ketenangan.
__ADS_1
"Anda yakin Nyonya? Tuan akan mencarimu nanti."
"Tidak masalah. Aku akan menelfonya nanti."
"Baik Nona."
***
Malvin sedang melakukan rapat dengan Tuan G dan beberapa orang lain saat Don masuk dan membisikan sesuatu. Malvin melihat ponselnya. Benar saja, disana sudah ada pesan yang dikirim oleh seseorang dengan sebuah foto.
*Aku sudah mendapatkan pemilik kalung lily. Apa kau tidak ingin menyelamatkanya?*
Pesan itu berhasil membuat Malvin marah. Dia dengan tenang menghentikan rapat itu.
"Pak Malvin. Kenapa Anda selalu melakukan ini? Kami juga tidak memiliki banyak waktu," kata Tuan G.
"Maaf. Hanya saja ini keadaan darurat. Kita akan bahas lagi besok."
Hampir semua orang didalam ruangan itu setuju. Mau tidak mau Tuan G juga ikut setuju. Saat itu Tuan G juga mendapat pesan. Hal ini membuat Tuan G merasa senang karena pemberhentian mendadak rapat.
"Cari tahu tentang orang itu Don," kata Malvin.
"Sudah. Belum ada hasil."
"Maksudmu?"
"Sepertinya orang ini sengaja menggunakan nomor yang berbeda setiap beberapa menit."
"Lakukan yang terbaik. Jangan buat Danita tersiksa karena ini."
"Baik."
Beberapa anak buah Malvin juga langung dikerahkan. Malvin ingin tahu siapa yang berani menyentuh miliknya tanpa izin.
"Halo." Ucap Malvin begitu orang misterius menelfonya.
"Jangan lakukan apapun padanya. Aku akan berikan apapun, tapi jangan pernah kau menyentuhnya."
"Tenang-tenang. Aku tidak akan menyentuh wanitamu ini. Hanya saja, aku merasa tergoda sedikit," ucap pria itu.
"Bangsat. Jangan lakukan apapun. Mau kamu apa?"
"Tidak banyak. Aku hanya ingin dua milyar saja. Untuk kalung aku menginginkanya."
Malvin terdiam sesaat. Di dalam kalung itu ada hal yang dia inginkan. Danita juga tidak ingin kehilangan kalungnya. Hanya saja, Malvin juga tidak mau terjadi hal mengerikan pada Danita.
"Pikirkan baik-baik. Aku akan menghubungimu setelah ini."
"Tuan. Lebih baik jika Anda menerima kalung itu."
Malvin menatap tajam pada Don.
"Kau gila. Dia istriku, aku tidak mungkin melepaskanya."
"Tuan. Dua milyar..."
"Itu tidak ada apa-apanya dibanding Danita. Siapkan uangnya. Aku akan menemui pria itu."
"Baik Tuan."
Disisi lain Danita baru saja turun dari mobil. Dia meminta pada sopir untuk menunggu di rumahnya saja. Disaat waktunya ingin kembali, Danita akan memilih untuk menelfonya.
"Baik Nyonya."
"Terima kasih."
__ADS_1
Dengan sengaja Danita mematikan ponselnya. Dia tidak ingin Malvin menghubunginya. Saat ini Danita ingin istirahat dengan nyaman tanpa terbebani apapun.
"Danita."
"Nenek. Mau kemana?" Tanya Danita saat melihat nenek Maria ada di apartemen.
"Aku baru saja datang. Kamu juga disini?"
"Iya Nek. Aku ingin mengambil beberapa barang."
"Mampir dulu ke tempat nenek ya."
"Maaf Nek..."
"Jangan menolak. Ayo," kata Nenek Maria sembari menarik tangan Danita.
Kali ini Danita tidak bisa menolak dia akirnya berkunjung ke tempat nenek Maria.
Baru saja masuk Danita sudah terpesona dengan apa yang ada di rumah nenek. Dimana rumah itu terlihat minimalis karena banyak barang yang tertata rapi. Di balkon juga terlihat banyak tanaman yang berbunga.
"Mau minum apa?"
"Tidak perlu Nek."
"Jangan sungkan. Nenek akan buatkan teh khusus untukmu."
"Terima kasih."
Tidak membutuhkan waktu lama nenek Maria kembali. Dia membawa dua cangkir teh. Menyuguhkanya pada Danita. Danita langsung mengambil cangkir itu dan menghirupnya.
Aromanya begitu menenangkan. Bahkan untuk sesaat Danita merasa tenang dengan semua pikiranya.
"Bagaimana? Enak bukan?"
"Enak Nek. Menenangkan."
"Ini teh khusus yang nenek punya. Nanti nenek kasih juga untuk kamu."
"Tidak perlu Nek."
"Kamu masih sungkan saja."
Danita tersenyum. Mereka berbincang dengan hangat. Sampai akhirnya Danita tahu kenapa nenek Maria sering ke apartemen. Ini adalah teman yang tenang bagi nenek. Tidak ada yang mengganggu.
"Dimana suamimu?"
"Kerja Nek."
"Dia pasti penggila kerja."
Kembali Danita hanya bisa tersenyum. Setelah lama Danita akhirnya memilih untuk pamit. Nenek Maria juga memberikan teh itu untuk Danita. Setelah berhasil masuk, Danita langsung tiduran di kasur.
Tanpa sadar dia akhirnya tertidur dengan sangat lelap. Dia mimpi begitu indah sampai terasa begitu nyata. Setelah sekian lama, Danita akhirnya bisa tidur dengan tenang.
***
Sebuah gudang dipinggiran kota menjadi titik temu antara Malvin dan orang yang membawa kalung itu. Kali ini Malvin datang sendiri. Dia melihat gudang itu dengan risih. Kotor dan banyak semak belukar yang tumbuh.
"Dimana?" Tanya Malvin begitu penculik itu menelfon.
"Letakan saja uang itu di dalam tong warna biru. Setelah itu kau bisa menemui wanitamu itu."
"Baik."
Setelah mencari akhirnya Malvin menemukan tong biru itu. Dia mencoba menelfon penculik itu. Tidak bisa dihubungi. Sampai penculik itu mengirim sebuah pesan.
__ADS_1
*Lantai tiga. Ruang ke empat.*