Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

Sampai dirumah Malvin langsung masuk ke dalam kamar. Sampai dia sadar jika Danita tidak ada dirumah. Lin juga terlihat sibuk dengan pekerjaanya.


"Dimana Danita?" Tanya Malvin.


"Maaf Tuan. Sejak tadi pagi Nyonya belum kembali."


Pikiran Malvin masih tenang sampai saat dia mencoba menelfon tapi nomor Danita tidak aktif. Hal ini membuat pikiran yang awalnya tenang langsung merasa kacau. Apa lagi jika mengingat tentang Mel yang baru saja diculik.


Sementara di apartemen. Danita terlelap dengan ponsel ditanganya. Dia bahkan lupa mengisi daya sampai ponsel itu mati.


Terlihat rumah itu kini bersih dan tertata rapi. Danita kelelahan karena membersihkan semua itu sendiri. Makanan juga belum ada yang masuk ke mulut Danita saat ini.


Malvin baru saja sampai di apartemen Danita. Dia membuka pintu dan melihat Danita yang terlelap disofa. Malvin duduk perlahan disamping Danita. Menatap wajah cantik yang dimiliki istrinya itu.


"Sayang. Bangunlah."


Danita tidak bangun, dia hanya berpindah posisi saja.


"Bangunlah. Aku merindukanmu."


"Jangan gila. Aku bahkan tidak peduli tentangmu," ucap Danita masih dengan mata yang tertutup.


"Danita. Kau bilang tidak peduli padaku."


Danita mengerjapkan matanya. Dia melihat Malvin sudah berada di depanya saat ini. Danita terlihat bingung karena saat ini Malvin terlihat marah.


"Ada apa?"


"Kau tidak peduli padaku?" Tanya Malvin.


"Apa maksudmu?" Tanya Danita sembari duduk.


"Kau tadi mengatakan jika tidak peduli padaku."


"Benarkah? Kapan?"


"Danita."


Danita membuka matanya lebar karena suara Malvin yang sudah meninggi.


"Kau marah padaku?" Tanya Danita.


Malvin diam. Dia menarik tangan Danita membawa wanita itu ke dalam pelukanya. Pelukan yang erat namun begitu nyaman. Membuat Danita merasa tenang.


"Jangan katakan hal seperti itu padaku."


"Baiklah."


***


Suara alarm berbunyi beberapa kali. Tanpa membuka mata Malvin mematikan ponselnya. Dia kembali memeluk Danita dan tidur.


Setelah itu beberapa telfon masuk. Membuat Danita yang awalnya enggan bangun langsung membuka mata. Melihat siapa yang menelfon. Ternyata Don. Danita ingin membangunkan Malvin, hanya saja pria itu tidur dengan begitu nyenyak.


"Halo."


"Nyonya. Apa Tuan sedang bersama Anda?" Tanya Don yang terdengar gugup.

__ADS_1


"Ya. Ada apa? Meeting pagi ya?"


"Bukan. Tolong katakan saja pada Tuan. Aku sangat membutuhkanya saat ini," kata Don lagi.


"Baiklah."


Telfon itu langsung terputus. Danita dengan perlahan mengguncang tubuh Malvin. Sampai Malvin sedikit membuka mata. Pria itu tersenyum dan kembali menarik tubuh Danita kembali berbaring.


"Malvin."


"Ya."


"Don baru saja menelfonmu."


"Biarkan saja. Hari ini aku ingin bersamamu," kata Malvin.


"Dia mengatakan jika begitu membutuhkanmu saat ini."


Malvin mencoba mengingat ada apa hari ini. Sampai Don terdengar begitu tertekan. Sampai dia ingat tentang pernikahan Mel dan Don.


"Sial. Aku lupa." Kata Malvin yang langsung bangkit dari tempat tidur. Membuat Danita yang melihatnya merasa bingung.


"Ada apa?"


"Don dan Mel akan menikah hari ini," kata Malvin.


"Apa?! Kenapa kau tidak mengatakan padaku."


"Aku lupa semalam. Maaf."


"Tolong siapkan baju ganti untuk kita. Aku akan membersihkan diri lebih dulu."


"Baik."


"Halo Lin. Tolong kirimkan baju untuk pernikahan Don ke alamatku."


"Baik Nyonya."


"Cepat ya. Malvin akan terlambat nantinya."


"Baik."


Sementara Don sudah berada di tempat acara. Dia terlihat begitu gugup dengan setelan jas saat ini. Dia terus mengingat wajah Mel yang menangis meminta untuk menghentikan pernikahan ini. Hanya saja Don tidak bisa langsung memutuskan.


"Aku mohon. Kita tidak saling cinta Don. Kita melakukan kesalahan, hanya itu." Kata Mel sembari terisak.


"Maaf Nona Mel. Aku tidak bisa langsung memutuskan."


"Kenapa? Apa karena ini perintah dari Malvin?"


Don hanya diam dan melihat Mel yang terus meneteskan air mata.


"Katakan pada Malvin. Jika dia tetap meminta pernikahan ini. Aku akan memilih mati."


"Jangan begitu Nona. Aku akan katakan pada Tuan Malvin."


Dengan derai air mata Mel kembali ke kamarnya. Saat ini dia menatap dirinya sendiri di kaca. Dimana gaun pengantin berwarna putih sudah melekat ditubuhnya. Bahkan riasan itu begitu indah, hanya saja Mel tidak bahagia.

__ADS_1


"Kenapa. Kenapa harus aku," lirih Mel yang kembali terisak.


Tamu yang datang begitu sedikit. Hanya keluarga inti dari Mel saja. Selain itu dari pihak Don hanya ada Malvin dan Danita. Pak Gun sengaja melakukan ini karena malu anak semata wayangnya menikah dengan dengan seorang pria biasa.


Tidak lama Malvin dan Danita sampai. Seorang pelayan langsung membawa mereka ke ruangan Don. Disana Don terlihat sedang mondar mandir tidak jelas. Malvin langsung menghentikan langkah Don.


"Tuan."


"Ada apa? Seharusnya kau senang karena akan menikah."


"Tuan begini..."


Don mengatakan semuanya. Hal ini membuat Danita merasa kasihan pada Mel. Baru saja setengah bicara, suara diluar terdengar sampai kedalam. Banyak orang yang berteriak.


Malvin dan yang lain langsung keluar. Melihat kearah dimana kerumunan berada. Disana sudah ada wanita dengan gaun berdarah-darah karena jatuh dari lantai dua.


"Mel!" Teriak Danita.


Keadaan yang semula baik-baik saja langsung kacau. Saat itu Pak Gun hanya berdiri tanpa ekspresi. Dia terlihat tidak khawatir sama sekali.


"Pak Gun. Mel...."


"Aku tidak kenal denganya," kata Pak Gun langsung pergi dengan mobilnya.


Danita yang melihat itu merasa prihatin. Sampai akhirnya polisi datang dengan ambulance. Entah siapa yang memanggil. Hanya saja suasana semakin kacau kali ini.


"Don bawa Danita pergi dari sini."


"Tuan. Aku tidak bisa meninggalkan Mel," kata Don.


"Benar Malvin. Aku akan disini menemanimu."


"Baiklah."


Polisi menemukan sebuah surat dikamar Mel. Disana tertulis jika Mel bukanlah anak dari Pak Gun. Saat tahu jika Mel melakukan kesalahan fatal Pak Gun sudah tidak peduli. Inilah yang membuat Pak Gun setuju Don menikah dengan Don.


Saat ini Don, Malvin, dan Danita sudah berada dirumah sakit. Menunggu keputusan Dokter tentang keadaan Mel. Beberapa menit berlalu sampai dokter keluar dari ruangan Mel.


Malvin akan mendekat sampai Don mendahuluinya.


"Bagaimana keadaan Mel, Dok?"


"Maaf Pak. Kami tidak bisa menolongnya lagi. Darah yang keluar cukup banyak."


"Anda berbohong."


"Maaf sekali Pak."


Dokter berlalu. Don akan mengejar namun Malvin menghentikanya.


"Don. Nyawa bukan manusia yang mengaturnya," kata Malvin.


"Tuan. Ini karena diriku. Jadi, Nona Mel...."


"Don. Ini takdir." Ucap Danita.


Entah kenapa Don terlihat begitu kehilangan saat ini. Dia terduduk lemas dikursi tunggu. Masih tidak percaya jika wanita yang akan dia nikahi meninggal dengan gaun pengantin.

__ADS_1


Sementara Pak Gun menghentikan mobilnya secara mendadak. Dia berharap saat ini ada mobil atau hal yang bisa membunuhnya. Dia merasa kacau ketika tahu anaknya sudah tidak memiliki hal yang berharga.


Sampai dia tahu jika apa yang dia lakukan membuat gadis kecilnya itu memilih mengakhiri hidupnya. Tepat di depan Pak Gun. Sakit, Pak Gun merasakanya hanya saja dia tidak mau terlihat orang lain.


__ADS_2