
Don sudah mencari hampir keseluruh kota. Bahkan tempat yang belum pernah dia datangi juga sudah dia cari. Hanya saja Danita masih belum ditemukan. Saat ini berita juga sudah menyiarkan kehilangan Danita. Malvin melakukan ini agar jika ada yang melihat bisa langsung menghubunginya.
"Pak Malvin. Ini ada surat yang dikirim kilat," kata sekertaris baru Malvin.
"Dari siapa?"
"Tidak ada nama Pak."
"Kau bisa keluar."
Melihat alamat si pengirim tentunya bukan dari kota ini. Sudah pasti dari kota lain. Malvin membukanya dan melihat isi surat itu. Beberapa foto USG dan foto Danita yang terikat.
# Bagaimana? Apa kau ingin mereka lenyap?
Dengan marah Malvin menggebrak meja. Telfonya juga berdering pada saat itu.
"Halo Malvin. Bagaimana kabarmu?"
"Dimana Danita?" Tanya Malvin begitu mendengar suara Pak Gun.
Pak Gun tertawa. Tidak menyangka jika Malvin begitu panik kehilangan Danita. Meski begitu Pak Gun puas dengan hal ini.
"Jangan tertawa. Dimana kau membawa istriku?" Kali ini kesabaran Malvin sudah berada diujung.
"Kau memiliki apa sampai menginginkan istrimu lagi?"
"Kau mau apa?"
"Berikan kembali Mel padaku."
"Sialan. Kau sendiri yang membuatnya terbunuh."
Telfon itu langsung terputus. Dengan marah Malvin melemparkan ponselnya. Dia merasa sudah sangat bersalah karena membiarkan Danita selalu sendiri.
"Tuan."
Don langsung menghampiri Malvin yang sedang duduk dengan darah ditanganya.
"Kenapa Anda melakukan ini?" Tanya Don sembari membalut tangan Malvin.
Malvin hanya diam. Dia benar-benar kehilangan arah dan kekuatanya. Dulu dia mencari orang dengan begitu cepat. Kini mencari istrinya saja begitu sulit.
"Kami sudah memiliki titik terang Tuan. Anda jangan menyerah."
"Benarkah?"
"Malam ini kita terbang ke kota W. Nyonya ditahan oleh Pak Gun disana."
***
Kali ini Danita sudah tidak diikat. Hanya saja dia memakai sebuah gelang ditanganya. Dimana gelang itu memiliki kunci khusus. Jika Danita berniat pergi, tubuhnya akan lumpuh saat itu juga.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Wina begitu masuk ke kamar Danita.
Dengan marah Danita melemparkan gelas kearah Wina. Mudah sekali bagi Wina untuk menghindari semua itu. Dia kemudian duduk di tepi ranjang Danita.
Ingin menyentuh gadis itu, hanya saja Danita menghindar. Membuat Wina merasa tidak senang.
__ADS_1
"Apa kau kira kau akan bebas? Tidak akan Danita. Kau sudah menjadi aset disini."
"Diam. Jika kau melakukan hal gila padaku. Aku akan memilih mati."
"Apa kau kira mati semudah itu? Lagi pula kau sedang hamil. Anakmu pasti senang."
Danita hanya diam. Saat ini dia sedang mengandung anaknya dan Malvin. Tidak mungkin jika dia akan memilih mati. Dia memimpikan keluarga yang indah dengan Malvin dan anak ini.
"Oh ya. Aku lupa ingin dirimu menonton film. Film yang begitu indah."
Danita menatap pada Wina.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya ingin kau tahu apa yang seharusnya kau tahu."
Wina mulai mempersiapkan Danita. Seorang pendamping juga datang dan mengawal Danita. Disebuah ruangan Danita duduk di kursi. Layar yang awalnya putih kini sudah memperlihatkan gambar.
Video-video mengerikan sudah mulai diputar. Danita merasa kaget dengan apa yang dia lihat. Ternyata semua itu adalah video pembunuhan yang terjadi.
Sampai divideo ketiga Danita tahu jika itu keluarga Paman Mike. Dia akhirnya tahu kenapa Paman Mike ingin dia balas dendam. Ternyata tuan Brown sudah menyiksa dengan kejam keluarga Paman Mike.
"Bagaimana?"
Video itu dihentikan dan Wina bertanya.
"Apa maksudmu?" Tanya Danita.
"Danita. Apa kau ingin melanjutkan menontonya?"
"Apa kau kira aku takut menontonya? Tidak."
"Bukan takut yang aku bahas. Aku hanya mengingatkan siapa pria yang kamu nikahi."
"Lanjut," kata Wina pada pendamping.
Video kembali diputar. Kali ini bahkan video dirumah Agora. Hal itu membuat Danita tidak ingin melihatnya. Namun Wina dengan sengaja membuat Danita membuka matanya dan melihat semua itu.
Tidak disangka setelah melihat semua itu. Danita hanya diam. Tatapanya begitu kosong dan dia ketakutan. Mengingat semua itu membuat Danita lemah.
"Kembalikan dia ke kamar."
"Baik."
Pak Gun sedang melihat apa yang sedang terjadi pada Danita. Sampai pintu ruanganya dibuka. Razka masuk dan langsung menggebrak meja dengan kasar.
"Dimana Danita?" Tanya Razka.
"Untuk apa kamu memikirkanya? Dia di tempat yang aman."
"Benarkah? Berikan dia padaku."
Pak Gun tersenyum. Tidak dia sangat jika Razka juga menyukai Danita. Hal ini begitu lucu karena awalnya Pak Gun ingin Razka menikahi anaknya Mel.
"Aku akan berikan dua rumah sakit milikku untukmu, tapi berikan Danita padaku."
"Tidak semudah itu Razka. Pergilah."
"Paman. Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
__ADS_1
"Kesenangan."
Sekilas Razka melihat video Danita. Dimana dia sedang berada di kursi roda dan didorong ke dalam sebuah kamar.
"Kau begitu bodoh Paman." Kata Razka yang kemudian pergi.
Pak Gun tidak mempedulikan semua itu. Dia terus kembali bekerja dan memantau apa yang sedang dilakukan Wina pada Danita.
***
Razka sudah siap dengan beberapa anak buahnya. Dia sudah siap untuk mengambil Danita dari tangan Pak Gun. Pak Gun mengira jika Razka tidak tahu apapun, tapi selama ini Pak Gun masih berada di bawah Razka.
"Aku hanya ingin wanita ini. Yang lain biarkan saja."
"Baik Pak."
Disisi lain Malvin dan Don baru saja sampai di kota W. Mereka masih mencari titik dimana Danita dikurung oleh Pak Gun.
"Bagaimana Don?"
"Anda tenang saja. Anak buah kita sedang berusaha."
Malvin terus menatap foto USG dari anaknya. Ini membuatnya ingin segera bertemu dengan istrinya itu. Tidak disangka perasaan Malvin bahagia tahu jika Danita hamil.
"Nyonya hamil?"
"Ya. Aku sangat ingin menemukanya saat ini. Berharap dia baik-baik saja."
Dengan cepat Razka sudah menemukan tempat dimana Danita berada. Dengan anak buahnya Razka sudah berhasil masuk.
Situasi malam yang awalnya begitu tenang kini langsung berubah mencekam. Razka terus mencadi disetiap sudut kamar sebuah gedung yang terlihat seperti rumah sakit.
Tidak peduli jika ada korban. Jika ada yang menghalanginya. Razka akan menembaknya.
"Lantai satu tidak ditemukan," kata anak buah Razka.
"Cari dilantai yang lain."
Sementara Don baru saja mendapat kabar dan alamat dimana Danita dikurung. Tidak merasa lelah sama sekali Malvin dan Don langsung menuju ke tempat yang dimaksud.
Razka menemukan Danita saat mendobrak pintu di lantai empat. Saat itu Wina datang dan langsung menembak Razka. Tembakan itu meleset, namun tembakan anak buah Razka berhasil mengenai lengan Wina.
"Kamu tidak apa?" Tanya Razka sembari menyentuh wajah Danita.
Danita hanya diam dan menatap kosong. Pikiranya ini bukanlah tentang dimana dia diselamatkan oleh Razka dan huru hara yang terjadi. Pikiranya masih tertuju pada apa yang tadi dia lihat.
"Danita." Panggil Razka.
Melihat Danita yang tidak bereaksi sama sekali. Malvin melepaskan gelang dari tangan Danita dan menggendongnya. Dua anak buah Razka sudah berada di sisi Razka untuk melindunginya.
Ternyata Pak Gun sudah mengirim orang-orangnya. Membuat kacau gedung itu.
Malvin dan Don baru saja sampai dan melihat jika gedung itu sudah kacau. Bahkan suara tembakan terdengar begitu banyak.
"Bagaimana Tuan?"
"Kita masuk."
__ADS_1
Don tersenyum dan mengisyaratkan anak buahnya untuk mengikutinya.