
*Apa suamimu begitu mengekangmu? Pesanpun hanya kau baca.*
Amarah Malvin semakin tinggi begitu mendapat pesan itu.
Brak.
Tanpa ragu Malvin melempar ponsel kearah belakang mobil. Dia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Hanya saja, dengan semua pesan itu Malvin tahu ada yang mengharapkan Danita dengan sangat.
Sampai dirumah Malvin membuka pintu mobil. Don mendekat dan akan berbicara, tapi Malvin mengisyaratkan untuk diam saja saat ini. Dia begitu kesal membayangan Danita dengan pria pengirim pesan itu.
"Bagaimana dengan Nona, Tuan?" Tanya Lin saat itu.
Malvin berhenti melangkah. Menatap Danita yang saat ini berada didalam mobil dan terlelap.
"Bawa dia masuk. Aku masih banyak pekerjaan."
"Baik," jawab Lin.
Sampai diruangan tempat Malvin menyimpan foto keluarganya. Dia duduk dengan pikiran kacau. Dia menikahi Danita karena dendam, tapi kenapa dia merasa sakit saat orang lain menginginkanya. Hal ini membuat Malvin bingung dengan dirinya sendiri.
Dikamar Danita.
Lin baru saja selesai mengganti baju Danita dengan sebuah piyama. Saat Lin membenarkan selimut Danita bangun dan berteriak ketakutan.
"Aaaaa. Jangan siksa lagi. Jangan, jangaaaaan." Teriak Danita.
"Nona. Kenapa Nona?"
"Aku mohon jangan. Jangan siksa mereka. Tolong."
"Nona. Ini saya Lin."
Danita membuka mata lebar. Melihat Lin yang saat ini berada disisinya. Lalu dia melihat kesekeliling. Tempat yang sama, namun rasa dihati Danita sudah berubah.
"Nona kenapa?"
Pertanyaan itu tidak dijawab. Danita malah menarik Lin duduk dan langsung memeluknya dengan erat. Saat ini dia begitu membutuhkan pelukan penenang. Dimana dia merasa lebih tenang.
"Ada apa?"
Lin langsung berdiri karena tahu Malvin sudah datang.
"Nona menggigau Tuan."
"Benarkah itu sayang?" Tanya Malvin yang kemudian duduk disisi lain Danita.
Danita tidak menoleh. Saat ini perhatian Malvin hanyalah topeng. Topeng itu begitu mengerikan saat dibuka. Membuat orang yang awalnya mencintai langsung membenci.
"Tinggalkan kita berdua Lin," kata Malvin.
Lin mengangguk dan akan pergi. Saat itu Danita memegang tangan Lin dengan erat. Lin menoleh dan menatap Danita. Hanya saja Malvin mendekat dan membisikan sesuatu pada Danita.
"Dia orangku Danita. Apa kau bisa berharap denganya?"
Dengan lemah akhirnya Danita melepaskan tangan Lin. Membuat wanita itu langsung pergi keluar dari kamar. Dia mengira jika kedua majikanya akan melakukan hal yang mesra. Tidak berfikir lebih.
__ADS_1
"Danita. Danita. Apa kau kira kau bisa lepas dariku?" Tanya Malvin.
Danita diam dan memalingkan mukanya.
"Kota ini milikku. Kau tidak akan bisa lari."
"Benarkah. Kau begitu jahat Malvin. Kau tega menyiksa orang-orang itu tanpa ampun. Bahkan Paman Mike. Kau tega melakukanya."
"Sssshhhhhhttttt." Malvin meletakan jari telunjuknya didepan bibir, "Kau fikir kau bisa mengadu? Pada siapa?"
Danita diam. Dia memikirkan pada siapa dia harus mengatakan semuanya. Apa mereka akan membelanya atau ternyata mereka dipihak Malvin. Danita tidak tahu.
"Saat ini. Fikirkan dirimu saja Danita. Kau, juga bisa didalam posisi mereka saat aku mau."
Nafas Danita terasa berat. Meski begitu dia mencoba untuk tenang. Dia tidak ingin terlihat lemah saat ini. Paman Mike sudah menderita karena dirinya. Danita tidak mau orang lain juga terlibat.
"Jadilah istri yang baik. Lalu aku akan melepaskanmu sayang."
Malvin mencoba menyentuh wajah Danita. Hanya saat itu Danita langsung menjauh dari sisi Malvin. Melihat Malvin saat ini membuat Danita tidak nyaman. Meski tanpa sadar dia pernah memberikan hatinya. Miris.
"Tidurlah. Semoga tidurmu bermimpi indah," kata Malvin yang langsung keluar dari kamar.
Malam itu Danita memilih untuk tidur di sofa. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan Malvin lagi. Tidak ingin memberikan pada hati yang salah lagi.
Kembali pikiran Danita tertuju pada Paman Mike. Membayangkan pria itu sedang disiksa lagi oleh anak buah Malvin.
Tanpa sadar Danita menutup mata. Dia merasa begitu sakit hati saat ini. Sampai akhirnya Danita memberi pesan pada Wina.
*Kak Wina. Apa aku bisa menemuimu besok?*
Beberapa saat berlalu. Sampai akhirnya Wina membelas pesan Danita.
*Tidak apa Kak Wina.*
Lima menit kemudian.
*Bukankah besok tidak ada jadwal. Malvin yang mengatakan padaku jika kau ingin istirahat.*
Danita menghela nafas. Tidak percaya jika Malvin langsung menghentikan pelatihan itu. Padahal Danita berharap bisa berlatih lebih keras.
*Apa ada masalah?*
Pesan itu kembali dikirim Wina karena Danita tidak membalas.
*Tidak Kak. Aku akan kerumahmu saja. Aku ingin menemui anak-anakmu.*
*Tentu. Rumah kami terbuka untukmu.*
*Sampai bertemu besok Kak.*
Suara pintu terbuka. Danita pura-pura tertidur dan meletakan ponsel disisinya. Malvin melihat Danita yang tertidur di sofa. Biasanya dia akan memindahkan tubuh istrinya itu dengan senang hati. Kali ini tidak. Dia mengacuhkan Danita, bahkan memilih kembali menyelesaikan pekerjaan.
Meski Malvin mencoba fokus dalam pekerjaan. Pria itu masih merasa terganggu. Bukan karena pekerjaanya yang tidak selesai, tapi karena suasana yang berbeda. Danita tidak berada dekat disisinya.
"Sialan. Kenapa aku ini," ucap Malvin.
__ADS_1
***
Sejak bangun Danita tidak keluar dari kamar. Bahkan sarapan juga diantarkan oleh Lin ke kamar. Danita tidak mau berada dalam satu tempat dengan Malvin. Itu membuat ingatanya jatuh pada Paman Mike.
Saat itu Danita tidak sengaja mendengar Malvin yang sedang menelfon di depan pintu kamar.
"Baiklah. Aku akan segera datang."
Saat mendengar kalimat itu Danita merasa tenang. Dia bisa keluar tanpa harus menemui Malvin lebih dulu. Dia ingin bertemu Wina dan melanjutkan semuanya. Danita ingin tahu sampai akhir. Ingin tahu siapa yang pantas dia percaya.
"Nyonya."
"Ya."
Danita kaget karena saat itu Lin sudah berada didepanya.
"Nyonya sakit?"
"Tidak. Ada apa Lin?"
"Saya hanya mau menawarkan ini," kata Lin sembari memberikan kue dipiring.
"Kau yang buat?"
"Bukan. Koki di dapur."
"Aku akan mencobanya."
Danita menerima piring itu dan perlahan memakanya. Suapan demi suapan Danita lakukan. Tanpa sadar sampai sebuah kue habis dipiring.
"Apa masih?"
Lin tidak percaya dengan pertanyaan ini. Biasanya Danita tidak suka makanan manis. Hanya kali ini berbeda.
"Apa begitu enak kue itu?"
"Ya, aku suka. Lain kali buatkan lagi ya."
"Aku akan meminta koki untuk membuatkan setiap hari." Jawab Lin.
"Terima kasih."
Lin keluar. Saat itu Don langsung mendekat pada Lin. Melihat jika piring di tangan Lin sudah kosong. Setelah itu dia tersenyum dan pergi. Hal ini membuat Lin merasa aneh.
"Bagaimana?" Tanya Malvin saat Don masuk ke mobil.
"Nyonya sudah memakan semuanya. Sepertinya dia suka."
"Bagus. Lanjutkan saja. Aku ingin hal yang lebih."
"Baik Tuan."
Setelah melihan sendiri mobil Malvin pergi. Danita bergegas berganti pakaian. Kali ini dia memakai hoodie hitam dan celana jeans. Tidak lupa dia mengikat rambutnya dan memakai penutup kepala.
Melihat kondisi rumah yang sepi Danita langsung pergi lewat belakang rumah. Dia juga sempat memesan ojek online untuk mengantarnya.
__ADS_1
"Mau kemana mbak?" Tanya tukang ojek itu.
Danita memperlihatkan pesan dari Wina. Wina sendiri yang akan menjemputnya nanti di mal.