
Dalam perjalanan kembali Danita terlelap di mobil. Malvin membawa mobil itu dengan kecepatan rendah. Dia sesekali menatap wanita disampingnya itu.
Bayangan Danita berlari dan langsung memeluknya membuat Malvin sadar. Wanita itu tidak memiliki siapapun. Jadi, dia memilih untuk memeluk Malvin saat itu.
Flashback Malvin.
"Kalau aku sudah besar. Aku akan menikahi kamu," ucap seorang anak lelaki pada temanya.
Gadis dengan gaun biru itu tersenyum. Bahkan menerima bunga yang diberikan anak lelaki itu. Anggukan kepala menjadi tanda jika dia setuju.
Hubungan keluarga Brown dan keluarga Agora memang begitu dekat. Membuat Malvin dan Danita memiliki ikatan sendiri. Sampai hari tragedi itu datang. Malvin dan Danita harus berpisah.
Cinta monyet itu terus berkembang. Sampai pada titik rasa sakit dihati Malvin. Apa lagi dia masih belum tahu tentang kematian ayahnya. Penyebab ibunya memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
"Ini. Aku berikan cincin ini untukmu. Suatu saat nanti, aku akan berikan batang yang indah untukmu," kata malvin kecil pada Danita kecil.
"Aku akan menunggu."
Flashback berakhir.
Wanita bernama Danita itu kini sudah menjadi istrinya. Miliknya. Hanya saja perasaan Malvin sudah berbeda. Dia tidak lagi memiliki perasaan itu, hanya rasa ingin tahu akan hari tragedi itu.
Suara klakson dari mobil dibelakang Malvin membuatnya sadar. Dia kembali menjalankan mobil itu sampai kerumah dengan selamat. Begitu turun Lin sudah berada di depan pintu. Dia bersiap membawa Danita masuk.
"Tunggu." Ucap Malvin.
Lin berhenti saat itu juga. Dengan cekatan Malvin menggendong tubuh Danita sendirian. Dia tidak ingin jika Lin lebih dekat dengan Danita. Membuatnya menjadi teman lalu menyakitinya.
Lin diam. Dia mengikuti langkah kaki Malvin saat itu juga. Sampai saat seharusnya Malvin berbelok kali ini tidak. Danita dibawa oleh Malvin ke kamarnya yang luas juga tertata dengan rapi.
"Tuan. Bisakah saya mengganti pakaian Nyonya?"
"Ya. Lakukanlah."
Setelah disetujui oleh Malvin. Lin langsung mengambilkan pakaian ganti. Sedangkan Malvin memilih untuk duduk di depan laptop dan mulai mengerjakan beberapa hal. Sementara para pekerja yang diperintah oleh Mel kini harus menahan sakit dan dipecat.
"Sudah selesai Tuan. Saya permisi."
"Tunggu."
Lin yang berbalik lagi karena panggilan Malvin. Saat ini dia hanya menunduk dan menanti perintah dari Malvin selanjutnya.
"Aku ingin barang-barang Danita pindahkan kesini."
"Baik."
"Aku lupa. Apa Don sudah mengatakan padamu?"
"Sudah Tuan."
"Apa keputusanmu?"
Lin terdiam untuk sesaat. Dia masih memikirkan tentang apa yang dilakukan Malvin. Tawaran yang menggiurkan. Hanya saja, dia juga tidak bisa menghianati bosnya saat ini. Keluarganya akan dalam bahaya.
"Kau tenang saja. Aku akan melindungi keluargamu juga."
__ADS_1
"Baik. Saya akan putuskan malam ini."
"Bagus. Pergilah."
Malvin saat ini merasa lebih tenang. Satu musuh sudah masuk dalam genggaman. Meski begitu, Malvin belum bisa bernafas lega. Dia belum memiliki liontin bunga lily itu.
***
Mel turun langsung masuk kerumah. Dia bahkan tidak mengatakan apapun pada Don yang sudah mengantarkanya. Saat ini pikiranya begitu kacau. Lelaki yang selama ini dia kejar sudah memilih wanita lain. Ini membuatnya marah.
Brak. Mel mbanting tas yang dia bawa. Dia merebahkan dirinya diatas sofa. Tanganya memijat kening secara perlahan. Dia sudah merelakan semuanya hanya untuk dekat dengan Malvin. Bahkan Mel tidak peduli dengan perusahaan ayahnya.
"Kau pulang?"
Mel buru-buru duduk. Dia melihat ayahnya yang menggunakan kaca mata sedang turun ditangga.
"Wajahmu tidak baik. Ada apa? Apa Malvin membuatmu bekerja keras?"
"Bukan Pa."
"Lalu?"
"Malvin sudah menikah."
Kali ini Pak Gun menoleh pada Mel. Dia merasa terluka karena anak gadis semata wayangnya harus terluka karena seorang pria.
"Pa. Bantu aku, aku sangat mencintainya."
"Kamu mau Papa melakukan apa? Malvin bukan orang yang bisa tersentuh begitu saja."
"Keluar saja dari perusahaan itu. Kamu bisa menjadi Nona Gun yang terhormat. Mencari pria semaumu."
"Papa tahu bukan. Aku hanya mau Malvin."
"Mel. Kamu sadar dong."
"Sudahlah. Aku akan melalukanya sendiri. Papa hanya perlu mendukungku."
"Baiklah."
Pak Gun memang orang yang begitu menyayangi anaknya. Tidak peduli apa yang dilakukan oleh anaknya benar atau salah. Dia hanya peduli tentang anaknya. Mau orang lain terluka bukanlah urusanya.
Melihat Mel masuk kedalam kamar. Pak Gun menelfon anak buahnya. Dia ingin tahu wanita seperti apa yang sudah merebut kebahagiaan putrinya itu. Tanpa memberi tahu Mel, dia akan mengakhiri wanita itu.
Sementara Mel duduk di kamar. Beberapa kali dia menelfon Lin. Tidak ada jawaban. Bahkan nada itu terdengar jika Lin tidak bisa dihubungi saat ini.
"Dasar wanita murahan. Hanya mau uang saja," umpat Mel tidak senang.
Kamar Mel terlihat begitu rapi. Barang-barang mahal juga menghiasi kamar itu. Hanya satu sudut yang terlihat tidak rapi. Disana terpasang foto-foto dari Malvin. Dimana pria itu terlihat dingin tanpa senyuman. Meski begitu Mel begitu jatuh hati padanya.
*Maafkan aku. Aku tidak tahu jika Danita istrimu. Mau kan kau memaafkan aku?*
Pesan itu akhirnya dikirim juga oleh Mel. Dia tidak mau sampai Malvin marah dan pergi begitu saja. Dia masih ingin berjuang.
Lima menit kemudian.
__ADS_1
*Ya. Aku tidak mau ada lain kali.*
Mel langsung tersenyum mendapat balasan itu.
*Untuk permintaan maafku. Aku ingin membawamu kerestoran. Aku sudah memesanya.*
*Danita ikut.*
*Tentu.*
Setelah itu Mel menelfon restoran ternama dikota itu. Dimana dulu Danita berada disana sebagai pelayan. Mel sengaja melakukan ini. Dia ingin Danita dipermalukan dihadapan Malvin. Mel juga ingin melihat wajah kecewa Malvin karena Danita bukan wanita baik-baik.
***
Laptop Malvin masih menyala. Dia sedang melakukan rapat online dengan beberapa orang diluar kota. Tentu saja membahas pembangunan mall dikota itu. Dia ingin banyak orang berpartisipasi dan memberikan yang terbaik.
Saat ini Malvin juga sedang mengawasi beberapa orang. Dia tahu, mereka mengincar liontin bunga lily yang dimiliki oleh Danita. Malvin ingin membuat mereka tidak bisa berkutik lagi.
Tok tok tok.
Suara pintu kerja itu diketuk. Tidak lama Don dan Lin masuk secara bersamaan. Malvin sedikit menyungging senyum. Lalu mengakhiri rapat yang sedang dia adakan.
"Terima kasih untuk malam ini. Lain kali aku akan membuat pertemuan secara langsung. Jamuan yang mewah. Selamat malam."
Klik.
Layar laptop itu berubah gelap. Setelah itu Malvin menutup laptopnya dan menatap pada Lin. Dia masih tertunduk namun ditanganya membawa sesuatu.
"Bagaimana?" Tanya Malvin.
"Lin membawa USB yang berisi data orang yang dia ikuti."
"Berikan padaku."
Lin menyerahkan USB itu pada Don. Don langsung memberikanya pada Malvin saat itu juga.
"Lin."
"Ya Tuan."
"Aku akan tepati janjiku. Sekarang kau bisa tenang dirumah ini."
"Terima kasih."
"Pergilah."
Lin keluar dari ruangan itu. Dia menelfon keluarganya dan mendapat keluarganya sudah pindah ketempat yang nyaman. Dimana disana juga aman dari mantan-mantan bos Lin yang lain.
"Lihat USB ini Don. Aku ingin tahu siapa saja yang tahu Danita memiliki liontin itu."
Dengan cekatan Don membuka USB itu melalui laptopnya. Disana ada data beberapa orang yang penting. Sudah tentu mereka juga mengincar liontin bunga lily itu. Karena jika menjual isi data didalam liontin itu. Kekayaan mereka akan semakin bertambah.
"Stop."
Foto yang familiar dilihat oleh Malvin. Dia adalah Razka. Saingan yang selama ini juga mendekat pada Danita. Mencoba membuat wanita itu menjadi temannya.
__ADS_1
Disana juga ada data dari Pak Gun. Orang tua Mel, ternyata selama ini Pak Gun tidak menampakan wajah aslinya saat bersama dengan Malvin. Setelah ini, Malvin akan lebih berhati-hati lagi.