
Rumah Agora kembali hening. Tidak ada suara dan orang yang bergerombol lagi. Danita sudah dibawa ambulance tadi dengan disusul Malvin pergi.
Tidak lama seseorang datang kerumah Agora. Dia meletakan kembali kotak musik itu keasalnya. Dia melihat kesekeliling, dia tidak mau jika sampai ada yang tidak berada pada tempatnya.
"Tetaplah tenang rumah indah," lirih orang itu.
Sementara Danita sudah berada dirumah sakit. Malvin kembali ke kantor dan bekerja seperti biasa. Dia meminta Don yang menjaga Danita dirumah sakit. Saat ini Danita tidak memiliki hal yang membuat Malvin khawatir.
Don meminta dua pengawal untuk berada di depan pintu ruangan Danita. Dia tidak mau terjadi hal yang buruk. Apa lagi Danita jatuh pingsan dirumah Agora.
Tidak lama orang suruhan Don datang menemuinya. Membuat Don harus meninggalkan Danita sendiri. Seorang perawat melihat keadaan Danita. Setelah menyuntikan obat dia kembali keluar.
"Dimana ini?" Lirih Danita begitu membuka mata.
Kembali Danita mengingat apa yang terjadi. Dia merasa rumah itu memiliki hal yang berbeda. Membuat Danita bertanya pada dirinya sendiri. Rasa yang sungguh familiar, tapi Danita merasa tidak pernah kesana sebelumnya.
Mata Danita menoleh kesekeliling. Tidak ada siapapun, jadi Danita memilih untuk pergi. Apa lagi kondisinya sudah jauh lebih baik.
Baru saja membuka pintu kamar. BRUK. Danita tanpa sengaja menabrak seseorang. Dia yang masih lemah mencoba berdiri. Pria itu langsung membantunya.
"Maaf, aku tidak hati-hati." Ucap Danita.
Sampai saat mata mereka bertemu.
"Kamu." Ucap mereka bersamaan. Setelah itu mereka tertawa.
"Kenapa kamu disini?" Tanya Danita.
"Nenekku sakit. Jadi aku mau menjenguknya. Kebetulan bertemu denganmu," jawab Razka.
"Semoga lekas sembuh untuk nenekmu."
"Terima kasih. Kau sendiri kenapa disini?"
"Aku...aku kurang enak badan. Jadi kesini."
"Sendiri? Dimana pria itu?"
"Siapa? Malvin maksudmu? Dia sedang urusan dikantor."
Razka mengangguk angguk paham. Dia merasa jika Malvin tidak benar-benar mencintai Danita. Apa lagi dengan kondisi Danita yang sakit, tapi Malvin tidak ada.
"Apa kau mau pulang? Aku akan mengantarmu."
Danita sedikit berfikir. Saat ini dia sudah menikah dengan Malvin. Jika pulang dengan Razka sudah tentu itu tidak baik. Dengan senyuman akhirnya Danita menolak ajakan Razka.
"Maaf. Aku akan dijemput oleh suamiku."
"Oooh. Jadi kalian sudah menikah? Kapan? Kenapa tidak mengundangku?"
Pertanyaan beruntun itu membuat Danita salah tingkah. Dia tidak tahu harus menjawab apa saat ini.
"Nona. Mari pulang," kata Don tiba-tiba.
"Ba...baiklah."
Danita berdiri. "Razka. Saya permisi dulu."
__ADS_1
"Ya. Jika ada apa-apa kabari aku," kata Razka kemudian.
Danita mengangguk pelan. Sementara Don menatap Danita dengan lekat. Bagaimana bisa Danita dekat dengan Razka. Padahal, Razka dan Malvin tidak dekat. Jika Malvin tahu dia pasti akan marah. Hal ini Don akan sembunyikan saja, dari pada melihat Danita dalam masalah.
"Apa kalian kenal dekat?" Tanya Don saat berada di dalam lift.
"Siapa?"
"Tuan Razka."
"Tuan? Aku tidak kenal dekat. Kita berkenalan saat aku menemani Tuan Malvin joging."
Don mengangguk pelan. Setelah itu keheningan kembali menyelimuti.
***
Meeting baru saja selesai. Malvin keluar dan mengecek ponselnya. Don memberi laporan jika Danita sudah dibawa pulang. Tidak ada yang buruk pada tubuh Danita. Malvin tidak membalas, kembali mengantongi ponselnya.
Mel mendekat dan berjalan sejajar dengan Malvin. Mencoba mendekati Malvin dengan intens. Saat ini Mel sudah membuat rencana untuk dekat dengan Malvin. Dia akan memancarkan pesonanya untuk Malvin.
"Pak. Kapan akan melihat lapangan?" Tanya Mel.
"Kenapa? Bukankah lancar?"
"Tentu saja lancar. Hanya saja, pekerja ingin lebih mengenal bosnya."
Malvin berhenti melangkah. Sampai akhirnya dia mengangguk setuju. Setelah rapat jam 12 nanti Malvin akan datang kelapangan.
"Saya akan menemani Anda," kata Mel.
"Tentu."
Bukan karena Malvin bodoh mengambil tempat pinggiran kota. Dia hanya ingin menyasar kearea yang belum memiliki mall. Pasti akan banyak orang yang datang. Apa lagi fasilitas yang akan dilengkapi oleh Malvin.
*Bawa Danita kekantor.*
Perintah itu langsung sampai pada Don. Jadi dia langsung meminta Lin untuk mempersiapkan Danita. Dengan begitu profesional Lin mulai mendandani Danita. Membuat wanita itu seperti boneka, terserah pemiliknya mau mendandaninya sepeti apa.
Dress selutut dengan cardigan yang berwarna biru muda. Rambut yang biasanya tergerai kini didandani dengan kepang kecil di samping. Cantik, make up juga terlihat begitu natural.
"Kita mau kemana?" Tanya Don.
"Tuan Malvin ingin kamu ke kantor."
"Apa?"
"Ya."
Tidak ingin terlihat jelek atau membuat kesannya norak. Danita memikirkan cara yang tepat untuk menyapa karyawan dikantor nanti.
Sampai di depan kantor. Beberapa karyawan menatap Danita yang baru saja turun dari mobil. Wanita itu terlihat begitu anggun. Para karyawan juga langsung berbisik satu sama lain.
"Ikuti saya Nyonya."
"Baik."
Tidak ada kata yang keluar dari bibir Danita. Bahkan dia merasa begitu gugup saat melewati karyawan Malvin. Tatapan aneh juga bisikan-bisikan yang begitu jelas terdengar.
__ADS_1
"Mel. Dimana Tuan Malvin?" Tanya Don saat sampai dimeja resepsionis.
Kebetulan Mel ada disana. Dia sedang meminta perubahan jadwal untuk Malvin. Jika ada yang datang dan mencarinya tentu harus ditunda. Mel mengira Malvin akan pergi denganya saja nanti.
"Saat ini Pak Malvin akan keluar. Jadi, tidak bisa diganggu." Ucap Mel ketika melihat wanita di belakang Don.
"Nyonya bisa duduk dulu. Saya akan menelfon Tuan Malvin."
"Terima kasih."
Melihat kursi tunggu yang tidak jauh darinya. Danita duduk dan berdiam diri. Menunggu Don kembali, membawanya pada Malvin. Sementara Mel menatap tidak senang. Dia tahu, wanita itu adalah wanita yang ingin dicari oleh Malvin.
"Bukankah dia dulunya pelayan direstoran," bisik seorang wanita pada temanya.
"Benarkah?"
"Ya. Aku pernah melihatnya."
"Lalu kenapa sekarang disini? Dia bahkan terlihat berdandan."
"Aku tidak tahu. Mungkin dia datang untuk seseorang."
Senyuman Mel mengembang. Dia mendekat pada dua karyawan itu. Dia kembali menanyakan tentang Danita. Setelah tahu Danita hanya seorang pelayan Mel merasa lega.
Dia mendekat pada Danita yang duduk sendiri. Tanpa permisi dia langsung duduk disamping Danita.
"Saya sekertaris Malvin. Wanita yang dekat denganya. Kalau boleh tahu, kenapa Anda datang dengan Don kesini?"
Baru saja Danita membuka mulut. Dia akan mengatakan jika Malvin yang memintanya datang. Hanya saja Mel langsung berkata lagi, "Apa kau pacar Don? Atau istrinya?"
Danita menatap Mel. Sepertinya wanita ini mencintai Malvin. Membuat Danita langsung menjadi sainganya. Tidak ada kata yang diucapkan Danita sampai akhirnya Don kembali.
"Mari Nyonya."
"Ya. Saya permisi dulu, sekertaris."
Mel kaget dengan panggilan dari Don.
"Nyonya? Sebenarnya dia siapa. Don bahkan memanggilnya Nyonya. Aku harus cari tahu agar jelas."
Pekerjaan Malvin langsung terhenti saat Danita masuk ke dalam ruangan. Dia menyisihkan sebuah file dan duduk di sofa.
"Kau datang?"
Danita mengangguk.
"Kau ikut aku ke lapangan."
Wajah Danita langsung berubah. Dia tidak tahu jika dia juga harus ikut dalam bisnis Malvin.
"Aku tidak meminta persetujuanmu. Aku hanya ingin kau ikut."
"Baik. Apa dengan Don?"
"Kenapa?"
"Tidak. Aku hanya bertanya."
__ADS_1
"Baguslah. Kamu disini dulu, aku akan menyelesaikan beberapa file untuk Mel."
Danita duduk. Pandanganya beredar ke dalam ruangan itu. Terlihat begitu nyaman. Sampai Danita berfikir, pantas jika Malvin begitu suka bekerja.