
Saat itu Malvin baru saja turun dari ruang kerjanya. Don kembali keposisi sementara Danita merasa bingung dengan apa yang dikatakan Don.
"Kau sudah pulang?" Tanya Malvin.
"Baru saja. Maaf terlambat." Ucap Danita yang mendekat pada Malvin.
"Sopir baru saja menelfonku." Kata Malvin.
"Dia mengatakan apa?" Tanya Danita. Dia takut jika Malvin marah karena dia bersama Razka.
"Apa kau lihat siapa yang menembakmu?"
Danita menggeleng.
"Kau yakin?"
"Sangat yakin."
"Kalau begitu istirahatlah. Aku akan ke kamar sebentar lagi."
"Baik."
Danita melangkah menuju kamar. Sementara Malvin duduk di sofa dengan tangan langsung mengambil ponsel. Dia menelfon sopir itu untuk segera datang.
Beberapa saat berlalu sampai sopir itu datang. Don berdiri disisi Malvin. Menatap pada sopir itu dengan tatapan menusuk.
"Ceritakan apa saja yang terjadi disana." Kata Malvin.
Sopir itu mengatakan semuanya tanpa terkecuali. Termasuk kedatangan Razka dan tumpangan yang diberikanya. Malvin masih mendengarkan sampai sebuah telfon menghentikan cerita sopir itu.
"Siapa?" Tanya Malvin pada Don.
"Dari bengkel."
"Angkat. Keraskan suaranya."
"Halo. Kami dari pihak bengkel ingin menyampaikan. Kerusakan mobil ada dipusat mesin. Sepertinya ada yang sengaja menyiram air bahkan sampai membuat menis rusak."
"Terima kasih." Ucap Don dan langsung menekan tombol merah.
Malvin tahu ini pasti ulah seseorang. Hanya saja saat ini dia tidak peduli. Dia hanya peduli pada keselamatan Danita.
"Kamu cari tahu lokasi itu. Secepatnya kita harus menangkap orang yang akan melukai Danita."
"Tuan..."
"Don. Aku tahu apa yang aku lakukan. Pergilah."
Sampai dikamar Danita terus teringat dengan suara tembakan itu. Bahkan begitu terngiang-ngiang ditelinganya. Hal ini membuat Danita tidak tenang.
"Danita."
Danita terlonjak dari duduknya saat namanya dipanggil. Malvin yang melihat itu merasa aneh. Padahal suara pintu cukup jelas kenapa Danita terlonjak begitu kaget.
"Kamu kenapa?" Tanya Malvin.
"Malvin. Apa suara tembakan begitu mengerikan?" Tanya Danita.
"Memangnya kenapa?"
"Aku merasa begitu gelisah setelah penembakan itu."
__ADS_1
Malvin duduk ditepi tempat tidur. Danita juga melakukan hal yang sama. Saat ini dia tidak tahu harus bicara dengan siapa. Hanya Malvin yang begitu dekat denganya.
"Mau aku minta pengawal disisimu?"
"Tidak perlu."
"Danita. Kau masih belum ingat masa lalumu?" Tanya Malvin kemudian.
Danita terdiam. Hatinya yang sudah terbuka pada Malvin tentu ingin mengatakan semuanya. Perlakuan Malvin selama ini begitu baik, Danita percaya akan hal itu.
"Malvin. Bisakah aku bertemu dengan dokter. Kau tahu? Aku tidak ingat apapun. Aku ingin tahu masa laluku seperti orang lain. Aku ingin normal."
Saat ini Malvin merasa menang. Dia sudah berhasil membuat pertahanan Danita mengendur. Ternyata pengertian dan perhatianya ini perlahan memberikan hasil yang memuaskan.
"Kau mau membantuku, kan?" Tanya Danita.
Malvin tersenyum.
"Aku akan lakukan apapun Malvin. Apapun. Asal aku tahu masa laluku. Aku ingin tahu siapa orang tuaku dan aku ingin seperti yang lain."
"Baik. Wina bisa melakukanya. Aku akan meminta bantuanya." Kata Malvin.
"Benarkah?"
"Ya. Aku tidak ingin menbohongi dirimu."
Perasaan bahagia membuat Danita langsung memeluk Malvin. Saat itu jantung Malvin terasa berhenti. Bahkan nafas saja dia tahan karena pelukan yang diberikan Danita.
"Terima kasih. Terima kasih Malvin."
"Ya."
Wina baru saja sampai dirumah Malvin. Dia kali ini datang dengan sebuah tas yag cukup besar. Semalam Malvin menelfonya dan meminta Wina untuk membantu Danita. Dengan senang hati Wina mau membantunya saat itu juga.
"Kau sudah datang Kak?" Danita langsung memeluk Wina.
"Ya. Bagaimana kabarmu?"
"Aku..., Apa Malvin sudah mengatakan padamu?"
"Sudah."
Danita tersenyum. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Saat itu Don juga datang. Dia terlihat tenang, hanya saja tatapannya sudah berubah pada Danita. Jelas sekali Don sudah tidak menyukai Danita.
"Mobil sudah siap. Ayo." Ucap Don.
"Tentu. Ayo Danita."
"Kita mau kemana?"
Don mendekat dan menatap pada Danita.
"Tidak usah banyak bicara. Karenamu Bosku berubah. Diam, itu lebih baik." Ucap Don penuh penekanan.
"Don. Ayolah."
"Ya. Nyonya, kau akan ikut sopir sementara Wina akan bersamaku."
Kembali Danita dibuat bingung. Sampai akhirnya dia memilih untuk tetap berjalan dan melakukan apa yang Don minta. Padahal Danita merasa Don adalah orang yang baik. Salah apa yang membuat Don berubah sikap pada Danita.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya mereka sampai di rumah Agora. Disana sudah ada beberapa pengawal yang berjaga. Tentu saja karena Malvin yang memintanya.
__ADS_1
Sesaat Danita seperti mengulang sesuatu. Hanya dia tidak tahu apa itu. Dia merasa sulit bernafas dan tertekan. Sampai akhirnya Wina mendekat dan menggandeng tangan Danita. Danita lebih merasa tenang.
"Dimana kamar itu?" Tanya Wina.
"Lantai dua paling pojok."
"Terima kasih."
Danita dan Wina berjalan kelantai dua. Mereka sampai dikamar dimana Danita pernah pingsan disana. Kembali Danita menatap semua barang dikamar itu.
"Berbaringlah."
"Apa?"
"Kau menginginkanya Danita. Ayo."
Perlahan Danita berbaring. Wina mengambil peralatanya dari tas. Dia megikat tubuh Danita diranjang. Dia tidak mau saat Danita berontak semuanya selesai.
"Aku tidak mengikatnya secara kencang. Tenanglah."
Danita mengangguk. Sampai saat dimana Wina mengeluarkan sebuah obat. Obat dimana Danita akan tidur secara perlahan. Disaat antara sadar dan tidak Wina akan memulai tugasnya.
"Kau siap?"
"Siap."
Wina duduk dikursi kecil. Dia bahkan memutar kotak musik itu perlahan. Membuat mata Danita perlahan menutup. Wina mulai mengatakan semuanya, dimana Malvin sudah menceritakan detail-detail itu.
Sebuah cahaya terlihat. Danita perlahan mendekat dan membuka tirai yang menutupnya. Dia kembali, dimana saat dia pertama bertemu dengan Malvin.
Suara khas anak-anak masih saja terngiang. Saat pertama bertemu, Malvin tidak menyukai Danita. Hingga akhirnya melempar sebuah vas bunga hingga pecah.
Sebuah pecahan berhasil mengenai Danita. Tepat dibelakang telinga Danita. Membuat sebuah goresan yang cukup dalam. Bahkan darah bercucuran dengan cepat.
"Kau tidak apa sayang?" Tanya Mama.
Danita tidak menjawab dan akhirnya pingsan saat itu juga.
Danita terbangun. Dia berada ditaman rumahnya. Ada pesta yang sedang berlangsung. Itu adalah pesta untuk ulang tahunya. Ulang tahun yang kesebelas.
"Ini untukmu," kata Malvin sembari memberikan sebuah kotak hadiah.
Danita langsung membukanya dan mendapat kotak musik. Dia langsung memeluk Malvin dan berterima kasih.
Bayangan-bayangan masa lalu kembali hadir. Sama seperti saat didalam mimpi. Hanya saja ini seperti perjalanan waktu yang singkat.
Wina masih saja mengatakan semuanya. Dia melihat Danita masih terlelap dengan tenang. Kadang tersenyum, kadang menangis. Namun tidak ada penolakan.
Sampai saat Wina menceritakan tragedi rumah Agora. Tubuh Danita mulai meronta. Bahkan dia sampai berteriak. Ranjang yang digunakan Danita juga sampai ikut bergerak saat itu.
Di dalam mimpi Danita.
Danita mencoba untuk mencari pertolongan keluar. Saat dia membuka pintu dan melihat para polisi dia berniat untuk berteriak. Sampai seseorang bertubuh tinggi tegap datamg dan langsung membawanya pergi secepat kilat.
Kembali Danita dibuat pingsan oleh orang itu.
Wina langsung mengambil sebuah cairan dan menyemprotkan air itu pada Danita. Dalam beberapa detik Danita langsung membuka mata.
"Kau tidak apa?" Tanya Wina.
Sebenarnya ini belum selesai. Hanya saja Wina tidak mau terjadi hal mengerikan karena terlalu lama. Jadi, hari ini Wina menyudahinya.
__ADS_1