
Malvin baru saja tiba dimarkas saat Don sudah mulai mengintrogasi dua orang yang membawa Danita. Saat ini mereka masih bungkam dan tidak mengatakan hal yang penting sama sekali.
BRAK.
Malvin menendang pintu itu dengan keras. Dia masuk dan melihat Don duduk di depan dua orang yang sedang berlutut. Don langsung berdiri dan menyiapkan kursi itu untuk Malvin.
Bukanya duduk Malvin malah mendekat pada dua orang itu dan langsung menendangnya. Tidak peduli orang itu kesakitan atau tidak.
"Dimana istriku?" Tanya Malvin.
"Benar juga apa yang dikatakan bos kita. Ternyata Malvin orang yang kasar," kata Si A.
Si B tertawa mengejek pada Malvin. Membuat emosi Malvin semakin meningkat. Dia mengambil cambuk dan melemparkanya pada Don.
"Cambuk mereka sampai mengatakan hal tengang Danita."
Ceter. Ceter. Ceter.
Cambukan cambukan itu berhasil membuat dua orang itu berlumuran darah. Si A yang awalnya mengejek Malvin kini terlihat lemah. Sementara Si B hanya menunduk dengan darah yang terus menetes dari tubuhnya.
"Dimana istriku?" Tanya Malvin tepat di depan Si A.
Cuih. Si A malah meludah. Membuat Don yang awalnya masih tenang langsung menendang wajah Si A dengan keras.
"Pisahkan mereka Don."
"Baik."
Dalam ruangan terpisah. Si A dan Si B masih saja disiksa oleh Malvin. Hanya saja kali ini pertahanan mereka sudah mulai goyah. Apa lagi B yang sejak tadi sudah terlihat letih.
"Dimana istriku?" Kembali pertanyaan itu muncul.
"Tuan Gun yang membawanya," ucap lirih Si B.
"Bodoh. Kau mau mati ditangan Tuan Gun?!" Teriak Si A.
"Dimana Gun membawa istriku?"
"Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu," kata si B.
Si A tertawa dengan keras. Meski jawaban itu sedikit buntu, tapi Malvin sedikit merasa lega. Setidaknya si B sudah memberikan informasi yang bagus.
"Untuk apa Gun menginginkan istriku?"
"Aku hanya mendengar jika organya akan dijual."
"Hanya itu? Kau yakin?"
"Ya. Aku bisa berpihak padamu dan ikut mencari istrimu," kata si B yang sudah terlihat lemah.
"Alasanmu apa?"
"Aku memiliki keluarga yang menantiku."
Mendengar hal ini membuat Malvin merasa miris. Meski tidak biasanya dia meraskan hal semacam itu. Si B sudah memberikan informasi yang kuat. Meski Danita belum tahu berada dimana.
"Bebaskan B. Cambuk yang keras untuk Si A. Dia takut mati di tangan Gun. Hanya saja dia akan mati ditanganku." Ucap Malvin.
Malvin dan Don keluar dari ruang penyiksaan. Mereka masuk keruangan yang lebih tenang. Disana Malvin duduk dan kembali melihat kalung yang akan dia berikan pada Danita.
"Cari tahu tentang Gun. Sampai keakar-akarnya."
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Kau dimana Danita?" Lirih Malvin saat Don sudah keluar dari ruanganya.
Laboratorium ilegal milik Pak Gunawan.
Danita sudah kembali bangun. Bedanya kali ini dia diruangan yang lebih kecil. Disana hanya ada satu ranjang dan almari. Tubuh Danita juga sudah tidak terikat. Membuat rasa ingin lari dalam diri Danita langsung muncul kembali. Baru saat dia akan menggapai pintu, tubuhnya tertahan.
Hampir saja menangis saat Danita sadar jika kakinya masih dirantai. Rantai itu terhubung langsung ke tembok kamar. Jadi, tidak mungkin Danita bisa membukanya.
Tuk tuk tuk.
Suara langkah kaki diluar membuat Danita langsung kembali ke tempat tidur. Dia juga pura-pura masih terlelap saat ada orang yang masuk.
"Bagaimana keadaanya?" Tanya salah satu dari mereka.
"Baik-baik saja."
"Bagus. Kita hanya tinggal menunggu Dokter Wina saja."
Setelah merasa orang-orang disekitarnya pergi. Danita membuka matanya. Dia memikirkan nama yang baru saja disebutkan oleh orang-orang itu. Wina, nama yang tidak asing bagi Danita. Wina adalah guru Danita.
"Bagaimana perasaanmu?"
Pertanyaan itu membuat Danita kaget dan langsung duduk. Melihat orang yang tidak asing dan dekat denganya. Danita langsung memegang tangannya.
"Kak Wina. Kak Wina tolong aku Kak. Mereka mau menjual organku Kak."
Wina melepaskan tanganya dari genggaman Danita. Membuat Danita kebingungan saat ini.
"Bagaimana dengan kondisi tubuhnya?" Tanya Wina pada orang yang mendampinginya.
"Belum. Apa perlu di cek?"
"Ya. Aku takut jika dia hamil atau ada hal yang tidak mendukung lainya." Kata Wina lagi.
"Ok."
Pendamping itu sudah pergi. Hanya tinggal Wina dan Danita saja saat ini.
"Danita. Kau pasti merasa bingung bukan?"
Wina bertanya sembari memberikan air minum pada Danita. Danita yang sudah tahu aslinya melempar gelas itu hingga pecah.
"Kenapa kau melakukan ini? Malvin sudah baik padamu," kata Danita.
"Apa kau kira dengan kebaikan aku akan hidup bahagia? Tidak Danita. Aku memiliki dua anak yang harus aku pikirkan. Saat ini Pak Gun memberikan segalanya. Tidak seperti Malvin."
"Kak Wina."
"Jangan panggil nama itu lagi. Sekarang aku adalah dokter disini. Apa kamu paham?"
Pintu kembali terbuka. Pendamping itu sudah kembali.
"Ruanganya sudah siap Dok."
"Bawa dia. Oh ya, untuk berjaga-jaga tolong jangan lepas ikatanya."
"Baik Dok."
***
Beberapa cek up sudah dilakukan oleh Danita. Sampai dia dibawa ketempat Wina lagi. Disana Wina sudah menunggu laporan pendamping yang sejak tadi bersama dengan Danita.
Saat ini Danita tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa melihat dan mendengar saja. Itu karena obat yang saat ini sudah masuk ke dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Dokter. Ada masalah," kata Pendamping itu.
"Apa? Ginjalnya rusak? Jantungnya rusak?"
"Bukan, Dok."
"Lalu apa?" Tanya Wina.
"Dia hamil Dok."
"Apa?!" Wina kaget mendengar hal itu.
Selama ini Wina mengira jika Malvin tidak mencintai Danita. Menyewanya juga untuk menyiksa wanita itu. Tidak menyangka saat ini Danita hamil.
Wina menekan sebuah tombol untuk menyambungkan telfon dengan Pak Gun.
"Ada apa Wina?" Tanya Pak Gun.
"Pak. Ada masalah."
"Apa?"
"Danita hamil."
Setelah itu terdengar suara tawa yang mengerikan. Pak Gun tidak merasa jika itu masalah. Dia malah merasa jika semua itu adalah uang.
"Kenapa Anda tertawa Pak?"
"Rawat Danita. Jika Malvin tidak mau anak itu, aku akan membuat anak otu menjadi uang."
"Baik Pak."
Setelah itu Wina mendekat pada Danita. Membelai perlahan wajah Danita dengan tanganya sendiri.
"Danita. Danita. Aku tidak tahu kau sepolos itu."
Saat itu Danita memikirkan tentang apa yang dikatakan Pak Gun. Bagi Danita, sudah pasti Malvin akan menerima anak itu.
"Apa kau kira Malvin akan suka dengan anak itu?" Tanya Wina.
Danita memutar bola matanya.
"Malvin bukanlah orang baik Danita. Apa kau belum tahu?"
Nafas Danita memburu.
"Aku akan memperlihatkan film yang bagus untukmu, tapi nanti. Saat ini kau harus istirahat dulu."
Wina mengambil sebuah bunga lily dan meletakannya disisi Danita.
"Bawa dia kembali ke kamar." Perintah Wina.
"Baik."
Wina duduk dan membuka sebuah laci. Perlahan dia mengambil sebuah kotak cincin. Membukanya dan memastikan barang yang ada disana aman.
Ternyata kartu memori yang dicari-cari selama ini berada ditangan Wina. Bukan karena kebetulan. Saat ini Wina menggunakan kartu memori itu untuk membuat dirinya sukses. Tidak peduli jika dia harus menyakiti orang disekelilingnya.
"Anak-anak. Sebentar lagi ibu akan pulang. Mau makan apa?" Tanya Wina saat melakukan video call dengan anak-anaknya.
"Burger Mama."
"Baiklah. Mama pulang dulu."
__ADS_1