
Bab 45
Meeting malam baru saja selesai. Malvin kebalkon kamar. Menghirup udara malam. Lalu menatap pada Danita yang masih marah padanya. Karena urusan masa lalu, hati Danita begitu rapuh.
Kembali Malvin memegang kartu memori. Berniat melihatnya malam ini. Dia sudah mengambil laptop dan akan melihat isinya. Baru saja akan melihat hal apa yang ada di dalamnya.
Tiba-tiba saja Danita menghampirinya dan langsung memeluk Malvin. Membuat Malvin menatap penuh tanya. Namun bukan sebuah ucapan, Danita berbaring di dada Malvin.
'Setidaknya kau tidak membuka kartu memori itu,' pikir Danita.
Sengaja Danita melakukan ini. Bukan karena amarah yang sudah selesai. Hanya saja karena melindungi Malvin untuk tidak melihat isi kartu memori itu. Hati Malvin pasti akan kecewa saat tahu apa yang ada di dalamnya.
"Malvin," panggil Danita lirih.
Malvin tidak menjawab. Danita mendongakan wajahnya. Melihat pria itu sudah terpejam. Perlahan tangan Danita mencoba meraih laptop itu dan mengambil kartu memori itu.
"Apa yang kau lakukan Danita?"
"Tidak. Aku hanya ingin melihat laptopmu saja."
"Benarkah?"
"Apa kau tidak percaya?"
Malvin tersenyum. Mencium pipi Danita perlahan dan menggendongnya kembali ke tempat tidur.
"Sudah malam. Tidurlah," ucap Malvin.
"Aku ingin tidur disisimu."
"Aku akan melakukanya."
Danita terus mencoba untuk menahan kantuknya dan mengambil kartu memori itu. Sampai akhirnya dia tidak tahan sendiri dan terlelap. Malvin mencoba membangunkan Danita. Istirinya sudah benar-benar terlelap.
"Don. Aku akan langsung ke kamarmu." Lirih Malvin di telfon.
Malam ini Malvin sudah berniat melihatnya. Jadi dia sengaja memberikan obat tidur di susu milik Danita. Malvin benar-benar ingin tahu apa yang ada di dalam kartu memori itu.
Sampai di kamar Don. Don sudah menggunakan baju biasa. Dia juga menyiapkan kopi dan makanan ringan. Laptop sudah berada di atas meja.
"Apa Razka dan Pak Gun benar hanya mengatakan hal itu?" Tanya Malvin.
"Ya. Aku tidak suka menutupi apapun," kata Don. Padahal dia menutupi jika Razka begitu tertarik dengan Danita.
"Berikan kopi itu padaku."
Don melempar kaleng kopi itu pada Malvin. Melihat Malvin yang saat ini membuat Don merasa tenang. Dia sudah kembali seperti dulu. Bahkan hubungan dengan Razka sangat membaik.
"Kau bisa istirahat dulu Don. Aku hanya akan disini sampai selesai melihat semuanya."
"Baik."
Don masuk ke dalam kamarnya. Dia hari ini sudah begitu lelah. Jadi memutuskan untuk tidur. Baru akan memejamkan matanya Don mendegar Malvin yang berteriak.
"TIDAAAAAK!"
"Ada apa Tuan?" Tanya Don.
"Ini tidak mungkin. Tidak mungkin jika dia adalah ayahku."
"Tuan. Tuan sadarlah."
"Don. Ini gila Don."
Setelah mengatakan itu Malvin langsung pergi. Don mengira jika Malvin kembali ke kamarnya. Jadi dia hanya membersihkan kekacauan yang terjadi saja.
***
Wina membuka matanya dan melihat kedua anaknya kini sudah tidak ada dirumah. Melainkan berada ditangan Pak Gun. Wina yang mengira bisa lepas begitu saja ternyata tidak bisa. Bahkan dia harus melihat anaknya bersama orang lain.
__ADS_1
"Kemana dia membawa anak-anakku?" Tanya Wina pada pengasuh kedua anaknya.
"Aku tidak tahu."
"Bukankah kau ditugaskan untuk mengurus anakku? Kenapa kau memberikanya pada Pak Gun?" Wina mengatakannya seperti orang gila.
"Disini aku bekerja pada Tuan Malvin. Kau sudah menghianatinya, jadi jangan salahkan aku menghianatimu."
Pengasuh anak itu membawa kopernya dan pergi dari rumah Wina. Membiarkan wanita itu kacau sendirian. Saat itu ponselnya berdering.
"Bagaimana Wina?"
"Dimana anak-anakku Pak?" Tanya Wina.
"Kau tenang saja. Mereka aman."
"Pak. Aku mohon kembalikan anakku."
"Kesepakatan kita harus terjadi. Berikan kembali kartu memori itu. Aku akan kembalikan lagi anakmu."
"Sulit Pak."
"Aku tidak peduli. Semakin kau cepat mendapatkanya. Semakin cepat anakmu kembali padamu."
"Halo. Pak Gun. Pak."
Telfon itu sudah terputus. Wina merasa sangat bodoh saat ini. Menatap foto kedua anaknya membuat Wina memikirkan cara. Dia akan melakukan apapun agar Danita memberikan kartu memori itu.
Wina memang sudah mengingat semuanya. Danita yang sudah mengambil kartu memori itu saat kekacauan.
"Jika aku kembali sekarang. Sudah pasti Danita akan kesal. Aku punya cara," kata Wina sembari tersenyum sinis.
***
Matahari sudah bersinar. Danita meregangkan tubuhnya dan melihat kesekeliling. Tidak menemukan Malvin dimanapun. Tidak ada catatan yang dia tinggal. Bahkan tidak ada sarapan juga.
"Nyonya Danita."
"Don. Aku kira kau sudah berangkat kerja dengan Malvin."
"Belum. Kami tidak ada acara hari ini. Jadi bersiap untuk pulang."
"Malvin tidak ada dikamar saat aku bangun."
"Apa?!"
Don langsung menghubungi anak buahnya yang berjada di depan kamar. Ternyata memang sejak semalam Malvin tidak kembali ke kamar.
Piring yang dibawa Don langsung di letakan kembali. Danita yang tahu jika ada kekacauan langsung ikut berlari untuk tahu apa yang terjadi.
"Cepat cari Tuan Malvin. Jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini."
"Kemana Malvin, Don?" Tanya Danita.
"Kami belum tahu."
"Apa yang terjadi semalam?"
Don mengatakan semua yang dia tahu. Sampai Danita sadar jika Malvin sudah melihat isi kartu memori itu.
"Apa kau tahu yang dilihat Malvin?" Tanya Danita dengan marah.
"Memangnya apa? Tuan tidak mungkin kacau karena video."
"Apa kau yakin? Jika kau diposisi Malvin kau akan kemana?" Tanya Danita.
"Memangnya apa yang Tuan lihat?"
"Kebenaran."
__ADS_1
Don tidak paham.
"Ayah Malvin adalah seorang pembunuh yang kejam. Mereka memiliki organisasi. Banyak orang terkenal dan sukses yang ikut. Semuanya diabadikan lewat video."
"Apa kau yakin Nyonya?"
"Apa kau ingin melihatnya?"
Melihat keseriusan diwajah Danita membuat Don yakin. Jadi dia memikirkan kemana Malvin akan pergi di saat kacau.
"Kau tidak tahu kemana dia?" Tanya Danita.
"Tidak, tapi ada satu orang yang tahu."
"Siapa?"
"Tuan Razka."
"Ayo kita ketempatnya."
Sampai di hotel yang ditempati Razka mereka kecewa. Razka sudah pergi sejak semalam dan belum kembali. Sampai seorang pengawal Razka mendekat. Dia kenal dengan Don, jadi sudah pasti akan memberi tahu.
"Dimana Tuan Razka?" Tanya Don.
"Siapa dia?" Tanya pengawal itu saat melihat Danita.
"Istri Tuan Malvin."
"Vila Blue."
"Terima kasih."
Don kembali ke mobil.
"Kau sudah tahu dimana?"
"Vila Blue. Cukup dekat dari sini." Kata Don.
Benar saja. Setelah setengah jam menempuh perjalanan mereka sampai di vila. Razka langsung menyambut Danita dan Don.
"Dimana Malvin?" Tanya Danita langsung.
Razka awalnya ingin menyembunyikanya. Hanya saat melihat Danita saat ini membuat Razka tidak tega. Dia memegang tangan Danita masuk, sementara Don menunggu di luar.
Vila itu begitu besar. Fasilitasnya juga cukup lengkap. Meski begitu tidak ada waktu bagi Danita mengaguminya. Saat ini dia ingin bertemu dengan Malvin.
"Kau harus tenang saat bertemu denganya."
"Ya. Terima kasih."
Danita perlahan membuka pintu."
Ruangan itu cukup gelap. Hanya ada cahaya masuk dari jendela, itupun masih ditutupi dengan tirai.
"Malvin. Aku datang."
"Kenapa kau kesini?"
"Aku khawatir padamu Malvin."
"Khawatir. Bukankah kau bahagia?"
Danita bingung dengan apa yang dimaksud Malvin.
"Kau menang Danita. Ternyata memang keluargaku yang bangsat. Keluargaku yang membuat keluarga orang lain hancur." Lirih Malvin.
"Kamu dimana?"
Danita terus masuk, tapi tidak bisa melihat apapun.
__ADS_1