
Makan malam sudah terhidang. Danita dan Malvin turun secara bersamaan. Tanpa mereka sadari, mereka kini terlihat sering berdua. Meski belum jelas hubungan antara mereka.
"Lin. Besok ada tamu yang akan bertemu dengan Danita. Kau siapkan perlengkapanya."
"Baik Pak."
"Don sudah memberimu pesan kan?"
"Sudah, Pak."
"Tamu? Untukku?" Tanya Danita kemudian.
"Ya. Mulai besok kamu akan memiliki guru."
"Guru? Aku tidak mau sekolah lagi."
"Aku tahu. Aku hanya mau kamu belajar bela diri."
"Untuk apa. Aku kan hanya dirumah saja."
"Apa kamu tidak ingat beberapa hari yang lalu? Dalam satu hari aku dua kali menolongmu. Bagaimana saat aku tidak ada?"
Danita diam. Jujur dihatinya saat ini dia merasa senang. Ada orang yang mau khawatir akan dirinya. Dia bahkan rela membayar orang lain untuk mengajari Danita.
"Lin. Jika Danita tidak mau, kau bisa menghukumnya," ucap Malvin lagi.
"Ti tidak. Aku akan mengikuti latihan itu."
"Bagus." Ucap Malvin sembari tersenyum.
Lin menatap dua majikanya itu. Mereka kali ini terlihat akrab. Tidak seperti diawal mereka bertemu dan datang. Lin tidak menyangka jika pria seperti Malvin akan mau bersama wanita.
Setelah mencuci muka Danita tidak langsung tidur. Dia duduk disisi jendela dan menatap keluar. Saat ini diluar terlihat terang dengan bulan yang bulat sempurna.
"Lihat apa kamu?"
Danita menggeleng. Sebenarnya dia tidak melihat apapun. Dia memikirkan tentang kalung itu. Ingin membahas dengan Malvin, tapi Danita takut jika Malvin tidak tahu. Atau mungkin Malvin juga mengincarnya.
"Kau terlihat mudah melamun saat pulang dari rumah Paman Mike. Ada apa? Bukankah Paman baik-baik saja?"
Malvin sengaja memancing Danita untuk membicarakan apa yang dia bicarakan dengan Paman Mike. Masoh terlihat jelas dari mata Danita jika dia ragu mengatakanya.
"Danita. Disini hanya ada aku untuk kamu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku juga akan melindungi kamu. Kamu paham?"
Danita mengangguk.
"Bagaimana? Jika memang kamu belum ingin bercerita. Aku tidak memaksa. Saat kamu sudah siap. Katakan saja, aku akan mendengarkan."
"Terima kasih Malvin."
Semua yang dikatakan Malvin membuat Danita lebih tenang. Dia memang hanya tahu Paman Mike dan Malvin. Hanya saja, saat ini Danita tidak tahu harus apa. Bahkan dia juga masih belum ingat akan masa lalunya.
"Tidurlah. Besok akan lebih baik lagi," kata Malvin.
Malvin adalah orang lain, tapi dia mampu membuat Danita lebih kuat. Bahkan Danita merasa begitu tenang saat bersama dengan Malvin. Ada rasa dilindungi dan dihargai.
***
Danita bangun dia merasa kepalanya begitu pusing. Bukan karena sakit, hanya saja mimpi yang terus berulang membuat Danita merasa aneh. Dimana dia terus bermimpi akan tragedi itu.
Hal itu membuat Danita merasa penasaran dengan masa lalunya. Apa lagi gambaran masa lalu itu bahkan hilang bagi Danita.
"Kau sakit?" Tanya Malvin yang melihat Danita masih duduk dikamar.
"Tidak. Aku akan turun sebentar lagi."
"Aku tidak sarapan. Aku harus ke kantor lebih pagi. Ada pertemuan penting dengan seseorang."
"Baik."
__ADS_1
Beberapa buku novel tertumpuk rapi diatas meja. Danita memilih salah satu buku dan duduk dengan tenang. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat dirumah. Saat ini Danita tidak memiliki kegiatan sama sekali.
Sampai bel rumah berbunyi. Lin langsung membukakan pintu. Seorang wanita dengan pakaian yang sederhana. Hanya tatapanya begitu tajam.
"Anda pasti Wina. Tuan sudah mengatakan tentang Anda. Mari masuk," kata Lin.
Wina masuk. Melihat Danita yang sedang duduk dengan buku ditanganya. Dyra melihat ada tamu. Dia langsung meletakan buku dan menyambut tamu itu.
"Silahkan duduk," ucap Danita.
"Terima kasih."
"Lin. Tolong buatkan minuman ya."
"Baik Nyonya."
"Saya Wina. Pelatih untuk Anda yang dikirim oleh Tuan Malvin."
"Saya Danita."
Wina menatap Danita saat itu. Lalu dia bertanya, "Anda sehat bukan?"
"Ya. Kenapa? Apa ada sesuatu?" Tanya Danita.
"Tidak. Saya hanya melihat Anda kurang sehat."
"Jangan panggil saya Anda. Panggil saya Danita."
Danita melihat wanita itu mungkin lebih tua beberapa tahun darinya. Mendapat panggilan Anda dari wanita itu membuat Danita segan.
"Bagi saya itu tidak sopan."
"Jika Anda melakukan ini. Saya akan segan, berlatih pun akan terasa membosankan."
"Jadi,..."
"Kau bisa panggil aku Danita. Aku akan memanggilmu Kak Wina."
"Silahkan diminum," ucap Lin setelah menyajikan minuman dan sepiring kudapan.
"Hari ini kita langsung berlarih Kak Wina?" Tanya Danita.
"Tidak. Kita berkenalan dulu saja. Besok baru kita mulai berlatih."
"Ok."
Ponsel Danita menyala. Bahkan berdering dengan cukup keras. Melihat siapa yang menelfon Danita langsung mengangkatnya.
"Halo Malvin. Ada apa?"
"Apa Wina sudah datang?" Tanya Malvin.
"Baru saja."
"Biarkan aku bicara denganya."
"Tentu." Danita menyodorkan ponselnya pada Wina "dari Malvin."
Wina mengambil ponsel itu.
"Bagaimana? Kau bisa mengajarnya bukan?" Tanya Malvin langsung.
"Tentu saja bisa."
"Tidak ada kendala, kan?"
"Hanya hal kecil. Kita bicara saat bertemu saja."
"Katakan saja saat ini."
__ADS_1
"Tidak bisa. Ini hal sensistif," kata Wina.
"Baiklah. Don akan menjemputmu nanti."
"Baik Pak Malvin."
Setelah selesai Wina memberikan ponsel Danita kembali. Perkenalan juga percakapan sudah mereka lakukan. Bahkan mampu membuat dua wanita itu tertawa. Mendapat teman adalah sebuah kesenangan tersendiri.
"Aku permisi. Jamku disini sudah selesai," kata Wina.
"Kau mengajar orang lain?"
"Tidak. Anakku sudah menungguku dirumah."
"Kau punya anak? Berapa?"
"Dua. Satu umur enam tahun, satu lagi umur dua tahun."
"Pasti mereka sangat lucu."
"Lain waktu aku akan membawamu kerumahku," kata Wina.
"Tentu. Sopir sudah disiapkan, pulanglah dengan senang." Kata Danita.
"Terima kasih."
Danita mengantar Wina sampai kemobil lalu dia kembali masuk. Saat menutup pintu Danita merasa kepalanya pusing. Bahkan sakit, dia terhuyung dan hampir terjatuh. Saat itu Lin lewat dan memapahnya.
"Terima kasih Lin."
"Anda kenapa?"
"Tidak tahu Lin. Aku hanya merasa pusing."
"Kita istirahat dulu ke kamar. Saya akan memanggilkan dokter keluarga."
Danita tidak menjawab. Sampai ditempat tidur Danita langsung terlelap. Dia terlihat tenang, meski begitu Lin tetap menelfon dokter keluarga. Danita adalah tanggung jawab Lin, jika terjadi sesuatu Lin akan disalahkan oleh Malvin.
Dokter keluarga itu mulai memeriksa Danita. Dia merasa tidak ada yang salah dengan Danita.
"Bagaimana dengan Nyonya?" Tanya Lin yang khawatir.
"Tidak ada apa-apa. Jika Nyonya mengeluh kepala pusing lagi. Beri saja obat ini," kata dokter sembari memberikan obat pada Lin.
"Terima kasih, Dok."
"Jika sakit kepalanya masih berlanjut. Langsung hubungi saya."
"Tentu Dok."
Dokter sudah berbalik dan akan pergi. Sampai Danita terbangun. Wajahnya pucat pasi, bahkan keringat dingin muncul.
"Nyonya kenapa?" Tanya Lin.
"Lin. Aku, aku tidak tahu Lin."
Dokter kembali duduk disisi tempat tidur. Dia kembali memeriksa tubuh Danita.
"Apa kau merasa ada yang salah?" Tanya Dokter.
"Saya tidak tahu. Saya hanya terus bermimpi tentang tragedi penembakan."
"Apa Anda pernah mengalaminya?" Tanya Dokter lagi.
"Aku tidak tahu Dok. Hanya saja semuanya seperti nyata."
"Mungkin karena terlalu lelah Nyonya begini. Sekarang perhatikan waktu istirahat Anda. Anda pasti akan jauh lebih baik."
"Ya Dok."
__ADS_1
Lin menyelimuti tubuh Danita kembali. Lalu keluar untuk mengantarkan dokter. Sementara Danita terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Mimpi atau kenyataan, Danita tidak tahu.