Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Danita merasa remuk tubuhnya begitu bangun. Dia kelelahan karena permainan yang dimulai Malvin. Jika tanpa cinta, hubungan itu pasti tidak akan terjalin. Meski antara Danita dan Malvin masih belum menyatakan satu sama lain.


Malvin sudah tidak ada disisinya saat Danita bangun. Dengan langkah perlahan Danita masuk ke kamar mandi. Membersihkan dirinya dan kembali berpakaian.


Saat mengeringkan rambut. Danita ingat dengan pertanyaan Malvin tentang kalung liontin lily itu. Danita melihat kotak perhiasan. Disana sudah tidak ada kalung itu.


"Dimana? Jelas-jelas aku meletakanya disini," ucap Danita sembari terus mencari kalung itu.


Danita bahkan tidak sadar jika Lin sudah berada di belakangnya.


"Cari apa Nyonya?"


"Lin. Kau disini? Aku mencari kalungku."


"Kalung? Bukankah tempat kalung Nyonya ada di almari ini," kata Lin sembari membuka kotak berisi kalung.


"Bukan Lin. Bukan kalung itu. Aku cari kalung liontin bunga lily."


Lin kaget mendengarnya. Dulu, dia ditugaskan disini untuk mencari kalung itu. Tidak disangka jika saat ini Danita kehilangan kalung itu.


"Aku akan membantumu."


"Terima kasih, Lin."


Bukan isi kalung yang Danita cari. Danita mencari kalung itu karena alasan lain. Kalung itu begitu bermakna, hanya kalung itu yang ada disaat Danita begitu terpuruk. Bahkan Paman Mike ingin Danita menjaganya.


Malvin baru saja kembali saat melihat kamarnya berantakan. Bahkan Danita terlihat sibuk mencari sesuatu. Malvin mendekat dan memegang tangan Danita.


"Cari apa?"


Entah kenapa Malvin sekarang begitu halus pada Danita. Bahkan tidak suka melihat Danita kesusahan.


"Kalung. Kalung itu tidak ada disini," kata Danita.


"Maksud kamu? Kalung milikmu hilang?"


Danita mengangguk.


"Kenapa kau begitu ceroboh," kata Malvin sembari ikut mencari.


Danita diam dan kembali ikut mencari. Kali ini bahkan Don juga mencarinya. Malvin terus bertanya dan meminta Danita mengingat-ingat dimana dia meletakanya.


Setelah lelah mencari dan tidak ditemukan. Danita duduk di sofa. Dia memijat kepalanya sendiri. Baru kali ini dia merasa begitu kehilangan.


"Bawakan minum untuk Danita, Lin."


"Baik Tuan."


Malvin ikut duduk disisi Danita. Untuk sesaat Malvin melupakan apa yang sudah terjadi antara mereka.


"Kamu meletakanya dimana?" Tanya Malvin.


"Aku selalu meletakanya di kotak cincin. Aku tidak tahu jika akan hilang."


"Bagaimana kamu seceroboh ini Danita."


"Biasanya juga disana dan tidak hilang."


"Kamu tenang dulu. Biarkan Don yang mencari tahu."


***


Mel melihat ponselnya setiap kali ada pemberitahuan. Dia berharap Malvin akan segera membalasnya. Sampai oesan itu dibaca Mel masih juga belum menerima balasan.


*Kenapa tidak membalas. Padahal aku memberikan informasi untukmu.*


Lima menit kemudian.


*Besok kita bertemu.*


Setelah mendapat pesan balasan itu Mel langsung melonjak gembira. Dia tidak sadar jika Razka ada di belakangnya. Razka mendekat dan berbisik, "Apa Malvin membalas cintamu?"


Mel menoleh dan mendapati Razka disana. Mel buru-buru menutup ponselnya dan mencoba tidak peduli.

__ADS_1


"Apa kau begitu mencintainya?"


"Kau tidak ada pekerjaan ya? Kau selalu saja menggangguku."


"Kerjaku saat ini menjagamu." Jawab Razka enteng.


"Sial."


Razka mengangkat tanganya yang membawa ponsel. Mel baru sadar jika saat ini Razka dan Pak Gun sedang melakukan video call.


"Anakmu sepertinya tidak ingin aku disini," kata Razka.


"Mel. Hormati sedikit kakak sepupumu itu."


"Ya Pa."


"Sudah dulu ya Paman. Kami mau makan malam bersama."


"Ok."


Panggilan video itu berakhir. Razka menyimpan ponselnya dan duduk di kursi Mel. Dia menatap Mel yang terlihat begitu kesal.


"Kenapa kau harus melakukan ini? Kita tidak sedekat itu," ucap Mel.


"Bagaimana jika kita lebih dekat."


"Tidak."


"Kau cepat menolakku."


"Ya. Karena kau bukan tipeku, aku juga bukan tipemu."


"Aku tahu. Buatlah makan malam, aku lapar."


"Tidak. Pergilah dari kamarku."


"Aku tamu disini Mel."


Mel mendorong Razka keluar dari kamarnya. Setelah itu Mel menguncinya. Dia tidak mau sampai Razka kembali masuk dan mempengaruhi moodnya.


Sementara Razka merasa lebih baik. Setidaknya Mel tidak akan mengganggu dirinya saat ada telfon. Setelah mengingat tentang Danita. Razka masuk ke kamarnya. Langsung menelfon nomor Danita.


"Halo," ucap Danita.


"Aku kira kau tidak akan menjawabnya."


"Ada apa Razka?" Tanya Danita.


"Besok kau ke panti?"


"Ya. Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya."


"Begitu ya. Aku kira ada yang penting."


"Tidak. Sebenarnya..."


"Danita." Panggil Malvin saat itu.


Razka yang mendengar suara Malvin kembali sadar akan kenyataan. Danita bukanlah wanita yang mudah dikejar. Dia sudah memiliki suami.


"Maaf. Aku pergi dulu." Ucap Danita kemudian.


"Baik. Sampai bertemu besok."


Danita memutuskan telfon itu. Dia berpaling pada Malvin yang baru saja kembali setelah menyelidiki kalung hilang itu.


"Bagaimana?" Tanya Danita.


"Masih belum ditemukan. Apa kau ingat siapa yang masuk kesini?"


Danita mengingat hal itu. Sampai dimana dia ingat dia melihat Mel ada disini. Dengan Malvin, ingatan itu berhasil membuat wakah Danita cemberut lagi.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Malvin.


"Seharusnya kau ingat siapa yang datang kesini selain kita. Apa jangan-jangan kau yang mengambilnya?"


"Kau curiga padaku?" Tanya Malvin kemudian.


"Siapa lagi? Selama ini hanya kamu yang begitu menginginkan kalung itu. Malvin, aku tidak peduli apa yang ada di dalamnya. Hanya saja kembalikan kalung itu."


"Danita. Aku tidak paham maksudmu."


"Lupakanlah. Malam ini aku ingin istirahat dengan tenang."


Danita memilih pergi ke kamar tamu dan menguncinya. Dia menghela nafas panjang. Kembali mengingat apa yang sudah dia lakukan dengan Malvin. Bagaimana Malvin begitu dekat dengan Mel, Danita merasa sangat bodoh.


Bahkan saat ini Danita mengira jika Mel dan Malvin sengaja melakunya. Untuk mengambil kalung yang selama ini dia simpan.


Malvin tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dia tidak tahu jika Danita akan marah karena pertanyaan yang dia lontarkan. Padahal Malvin benar-benar tidak tahu dimana kalung itu.


"Tuan."


"Ya, Don."


"Tuan. Sebenarnya ada yang harus Anda tahu."


"Apa?"


"Kemungkinan Nona Mel yang mengambil kalung itu. Lihatlah ini," kata Don sembari memperlihatkan rekaman cctv di depan rumah Malvin.


Terlihat jika Mel sedang melihat dengan seksama kalung ditanganya. Setelah itu dia berjalan dengan santai meninggalkan rumah Malvin.


"Mel sialan. Besok aku harus mendapatkanya."


"Baik Tuan. Saya akan atur semuanya."


"Tidak. Dia akan memberikan kalung itu sendiri padaku."


Don mengangguk.


***


Danita bangun kesiangan. Dia melihat matahari sudah cukup tinggi saat dia membuka jendela. Setelah membersihkan diri Danita keluar. Melihat Malvin yang sedang minum kopi. Danita memilih tidak peduli dan langsung masuk ke dapur.


"Nyonya mau sarapan apa?" Tanya Lin.


"Apa saja."


"Baik. Silahkan duduk."


Setelah makanan dihidangkan. Danita menyantapnya. Dia terus teringat dengan kalung itu saat ini. Keberadaanya tidak diketahui, tentu saja hal ini begitu buruk.


"Nyonya. Setelah sarapan kita pergi ke panti asuhan," kata Lin.


"Ya. Siapkan saja mobilnya."


Saat itu Malvin datang. Memberi tanda pada Lin dan yang lain untuk pergi. Mereka semua pergi. Meninggalkan Malvin dan Danita.


Danita sadar jika ada Malvin. Dia meletakan alat makanya dan akan pergi. Malvin menarik tangan Danita.


"Kamu marah?"


"Ya."


"Karena Mel kamu marah?"


"Mel? Aku mencari kalung itu. Kembalikan."


"Apa kau tidak percaya jika aku tidak tahu?"


"Kau bukan orang yang pantas dipercaya," kata Danita.


"Dengar. Aku akan membuatmu percaya jika bukan aku yang mengambilnya. Aku akan kembalikan kalung itu padamu."


Danita tidak peduli. Dia melepaskan tangan Malvin dan langsung pergi. Saat ini Danita tidak membutuhkan omong kosong. Dia ingin sebuah bukti.

__ADS_1


__ADS_2