Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Dua Puluh Enam


__ADS_3

*Hai*


Sebuah pesan masuk ke ponsel Danita. Hanya sapaan dan dengan nomor yang masih tidak dikenal. Danita memilih melanjutkan aktivitasnya.


*Selalu saja tidak membalas. Aku Razka, Danita.*


Setelah tahu itu Razka. Danita menghentikan tanganya yang sedang merangkai bunga.


*Hai. Maaf, nomormu sepertinya tidak sengaja terhapus.*


*Begitu ya. Pantas saja aku beberapa kali mengirim pesan tidak kau balas.*


Danita mengecek pesan masuk. Memang hanya itu pesan yang masuk. Tidak ada pesan lain. Mungkin saja terhapus, hanya saja Danita tidak pernah merasa menghapus nomor dan pesan Malvin.


*Kau sedang senggang?* Tanya Razka.


Danita tidak tahu harus membalas apa. Dia memfoto bunga yang sedang dia rangkai. Lalu mengirimkanya pada Razka.


*Karyamu bagus.*


*Selalu saja memuji,* jawab Danita.


*Ya. Mau tahu sesuatu?*


*Apa?*


*Suamimu begitu sempurna. Tidak takut diambil yang lain?*


Begitu mendapat pesan itu Danita tidak tahu harus membalas apa. Saat ini, hubunganya begitu kacau. Bahkan bunga yang hampir tumbuh langsung mati begitu saja. Bukan karena tidak ada benih, hanya karena yang digunakan menyiram adalah kepalsuan.


*Mau jalan-jalan denganku?*


*Kau tahu. Aku tidak pergi dengan pria lain. Nanti akan ada berita scandal yang mengerikan.*


Emoticon tertawa dikirim oleh Razka. Hal itu membuat Danita ikut tertawa. Bagi Danita, Razka adalah orang baik. Selalu datang disaat Danita membutuhkan bantuan. Dua kali, Danita selamat dari tembakan karena Razka.


"Nyonya."


Ponsel Danita terjatuh karena kaget.


"Nyonya tidak apa?" Tanya Lin sembari mengambilkan ponselnya.


"Tidak. Ada apa Lin?"


"Anda harus bersiap mandi dan bersiap. Tuan Malvin tidak suka dengan kata terlambat."


"Aku tahu."


***


"Don."


"Ya Tuan."


"Cari kalung itu dengan cepat. Aku tidak tahu kenapa Danita masih saja membela Mike. Padahal seharusnya dia membencinya."


"Baik."


"Bagaimana dengan orang yang kita tangkap."


Don menggeleng. "Hampir semuanya memilih mati dari pada bicara jujur."


"Apa?!"

__ADS_1


"Ya Tuan. Kami sudah melakukan berbagai cara."


"Bagaimana dengan teman dekat Mike?" Tanya Malvin.


"Kami kehilangan jejak saat memilih mengikuti Nyonya."


"Pergilah." Ucap Malvin.


Malvin termenung sendiri diruanganya. Melihat beberapa orang yang dia siksa hanya untuk tahu siapa dalang pembunuhan yang sebenarnya. Saat Malvin begitu yakin Mike yang melakukanya. Danita tidak sepakat dengan pemikiran Malvin. Ini menjadi beban dalam pikiranya.


"Siapa sebenarnya, Pa? Aku hampir hilang arah. Apa lagi dengan istriku, dia melihatku seperti monster saat ini." Lirih Malvin.


Kali ini satu-satunya kunci adalah kalung liontin lily milik Danita. Hanya saja Danita menolak memberikanya. Dia terus menyembunyikan kalung itu.


"Halo."


Suara wanita langsung terdengar begitu Malvin mengangkat telfon.


"Sudah ada hasil?" Tanya Malvin langsung.


"Baru saja sehari. Kau sudah ingin hasil. Aku merindukanmu."


"Cari tahu saja dulu." Setelah itu Malvin memutuskan telfon dari Mel.


Mel menggebrak meja dengan keras. Dia tidak menyangka Malvin begitu tahan akan godaan. Mel menginginkan Malvin dengan cepat. Dia terus memikirkan caranya.


"Nona Mel. Tuan menunggu diruang tamu."


"Aku datang."


Dengan terpaksa Mel meletakan ponselnya dan keluar dari kamar. Dia duduk di depan Pak Gun yang saat ini memang sedang marah dengan Mel.


"Dari mana saja kamu?" Tanya Pak Gun.


Memang sejak acara ulang tahun itu Mel tidak kembali kerumah. Banyak alasan yang digunakan oleh Mel.


"Sudah besar kamu bilang. Jika kamu sudah besar kamu tidak akan melakukan hal bodoh itu."


Mel memutar bola matanya. Bosan dengan apa yang dikatakan oleh Pak Gun.


"Pa. Hanya seorang wanita tidak penting yang mati. Kenapa Papa begitu peduli."


"Papa tidak peduli siapa wanita yang kamu bunuh itu. Papa hanya mau kamu jangan melukai Danita."


Bola mata Mel membulat. Dia tidak menyangka jika Pak Gun akan mengatakan hal ini padanya.


"Jangan bilang Papa..."


"Dia memang tidak penting bagi Papa Mel. Hanya saja dia memiliki barang yang Papa incar."


"Apa? Jika Papa ingin aku berhenti mengganggunya. Katakan barang apa."


"Liontin bunga lily."


Pak Gun melempar sebuah kertas foto. Disana tergambar kalung liontin bunga lily itu dengan sangat jelas.


"Banyak yang jual Pa."


"Papa ingin barang didalam kalung itu."


"Terserah Papa. Aku tidak peduli. Yang aku mau hanya Malvin."


Mel kembali pergi membuat Pak Gun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sejak ibu Mel meninggal. Pak Gun sendiri yang mengurus Mel. Agar tidak mengganggu dia hanya memberikan Mel apa yang dia mau. Sampai akhirnya hal itu berlanjut. Tidak peduli meminta apa, Mel akan selalu memintanya.

__ADS_1


***


Malam sudah datang. Danita sudah siap di depan meja rias. Tinggal menunggu Malvin kembali dan membawanya kerumah Tuan G.


"Nyonya. Tuan sudah datang," ucap Lin.


"Baik."


Kali ini Malvin membawa mobil sendiri. Dia ingin datang kerumah Tuan G hanya bersama dengan Danita. Itu yang diinginkan oleh Tuan G.


"Masuklah. Jangan buat Tuan G menunggu," kata Malvin.


"Baik."


"Jaga sikapmu Danita. Aku harus mendapatkan kontrak ini. Semakin luas aku memiliki bisnis. Semakin luas juga kekuasaanku."


"Apa kau tidak berniat melepaskan aku?" Tanya Danita.


"Ada apa kau menanyakan hal ini?"


"Tujuanmu menemukan pembunuh Papamu bukan. Kau sudah tahu, lalu kenapa kau masih menahanku."


Malvin tancap gas dan tidak mempedulikan Danita yang bicara. Dia tahu Danita hanya memancingnya untuk berbicara lebih. Malvin tidak mengira jika Danita berniat pergi. Padahal sebelumnya aman-aman saja.


"Berikan kalung itu. Aku akan melepaskanmu."


"Apa isi kalung itu?"


"Jika aku tahu. Untuk apa aku ingin tahu," jawab Malvin.


"Bagaimana jika isi kalung itu membuatmu terluka?" Tanya Malvin.


"Kau terlihat begitu yakin."


"Entahlah. Aku merasa aneh saja padamu. Kenapa tidak melepaskan aku? Apa karena cinta masa lalu kita?"


Malvin mengerem mendadak. Membuat Danita kaget dengan apa yang dilakukan Malvin saat itu. Wajah Malvin mendekat pada Danita. Membuat nafas mereka bertemu.


"Apa kamu masih peduli dengan cinta monyet itu?" Tanya Malvin.


Danita diam. Dia tidak tahu kenapa. Hanya saja cinta masa kecil itu selalu berada dimimpinya. Membuatnya merasa nyaman. Hanya saat ini Malvin sudah berubah.


"Diam. Itu lebih baik Danita."


Sampai dirumah Tuan G. Danita turun dan beberapa pelayan berada dibelakang Danita dan Malvin. Danita dan Malvin bergandengan tangan sampai di meja makan.


"Danita," ucap Nenek Maria begitu melihat Danita dan Malvin masuk.


Saat itu Malvin, Tuan G dan istri Tuan G kaget melihat nenek Maria langsung datang memeluk Danita.


"Nenek. Kenapa Nenek disini?" Tanya Danita.


"Memang kita berjodoh Danita. Aku harap kamu belum menikah. Cucuku pasti menyukaimu." Ucap Nenek Maria.


Malvin menatap Danita. Mendengar apa yang diucapkan Nenek Maria membuat Malvin merasa jika Danita masih banyak yang menginginkan.


"Ma. Duduk dulu, kita mengundang Tuan Malvin dan Nyonya Danita untuk makan malam bersama," kata Istri Tuan G.


"Maaf atas ketidak nyamananya," kata Guan G pada Malvin.


"Tidak apa."


Mereka membahas pekerjaan setelah makan malam. Saat itu Nenek Maria terus bercerita pada Danita. Sampai Danita tahu dari istri Tuan G. Nenek Maria mengasuh cucu dari panti asuhan. Alasanya karena Tuan G dan istrinya memilih untuk tidak memiliki anak.

__ADS_1


"Aku ingin kau bertemu dengan cucuku Danita. Dia tampan, lebih tampan dari suamimu itu," kata Nenek Maria.


Danita hanya tersenyum. Malvin melihat kearah Danita yang tersenyum dengan manis. Membuat getaran aneh dihati Malvin.


__ADS_2