
"Aku mencintaimu," ucap Mel sembari akan mencium Malvin.
Cup. Sebuah kecupan terjadi antara bibir dan bibir.
Beberapa pelayan kaget. Bahkan Lin tanpa sadar menutup mulutnya. Malvin tersenyum menatap pada Danita yang saat ini kebingungan. Bagaimana tidak, Danita mengira jika Malvin akan mencium Mel.
Ternyata perkiraan itu salah. Mel dilepaskan begitu saja oleh Malvin. Sementara tangan satunya menarik Danita membuat sebuah kecupan manis dengan Danita.
"Apa kau kira aku akan mencium Mel?" Tanya Malvin.
"Aku tidak peduli." Jawab Danita dengan pipi bersemu merah.
"Aku tahu kamu cemburu," bisik Malvin.
Merasa dirinya tidak bisa dikendalikan Danita langsung meninggalkan ruangan itu. Dia masuk ke kamar dan memegang dadanya. Jantungnya berdegup dengan begitu kencang.
Jika saja sejak awal Malvin benar-benar baik. Sudah tentu dia akan menerima hal ini. Hanya saja Malvin pernah memberikan cinta palsu. Danita tidak ingin terlibat lagi.
Malvin senang karena berhasil menggoda Danita. Entah kenapa melihat Danita tersipu malu Malvin merasa senang. Saat Malvin akan kembali ke kamar dia melihat Mel yang saat ini tertidur dilantai, itu membuat Malvin kasihan.
"Lin. Bawa Mel ke kamar tamu. Ganti juga pakaianya."
"Baik Tuan."
Baru akan dibantu Lin dan beberapa pelayan untuk bediri Mel langsung muntah. Hal ini membuat Malvin jijik. Dia langsung masuk ke kamar.
***
Malvin sudah berangkat lebih awal. Dia mengatakan jika Tuan G akan bertemu lebih pagi. Membahas beberapa proyek besar yang tentunya menguntungkan.
Sementara Danita duduk dengan Wina. Malvin memutuskan untuk melatih Danita lagi. Hal ini tidak ada yang tahu alasanya. Dia hanya menelfon Wina untuk datang dan kembali jadi guru Danita.
"Lama tidak jumpa," kata Wina.
"Ya Kak. Bagaimana kabar Kak Wina dan anak-anak?" Tanya Danita.
"Kami baik? Bagaimana denganmu?"
"Kakak bisa lihat sendiri."
"Kita bisa mulai latihanya?"
"Tentu."
Danita dan Wina baru akan pergi latihan saat Mel baru saja keluar dari kamarnya. Dia masih terlihat kucel dengan rambut yang berantakan.
"Dimana Malvin?" Tanya Mel langsung.
"Malvin pergi kerja." Jawab Danita.
"Kerja? Dia meninggalkan aku. Sialan."
Danita dan Wina kembali berjalan untuk keruang latihan. Wina kembali masuk ke kamar. Entah apa yanh akan dia lakukan.
Sementara Danita latihan. Diam-diam Wina masuk ke kamar Malvin. Dia melihat isi kamar itu. Memakai beberapa produk perawatan milik Danita.
Tanpa ragu Mel masuk keruang baju. Dia bahkan menggunakan baju milik Danita. Mencobanya dan membandingkan dirinya dan Danita.
"Cantikan juga aku. Kenapa Malvin memilihnya. Huh." Keluh Mel.
Sampai dia merasa lelah dan memilih mandi. Dia menggunakan sampo dan juga sabun Danita. Setelah selesai Mel menggunakan sebuah baju seksi Danita. Dimana baju itu belum pernah dipakai oleh Danita.
__ADS_1
Tanpa diduga Malvin masuk ke kamar. Dia pulang karena akan mengambil flashdisk yang tertinggal. Melihat seorang wanita yang menggunakan baju seksi Malvin merasa aneh.
Sementara Mel berdiri mematung karena akan ketahuan. Malvin yang menghirup wangi Danita mengira jika Danita sedang menggodanya. Tanpa ragu Malvin langsung memeluk Mel dari belakang.
"Kau menggodaku," bisik Malvin.
Mel kaget sampai membulatkan matanya. Meski begitu dia merasa begitu senang. Malvin memeluknya dengan suka rela.
"Terima kasih latihanya Kak," ucap Danita.
"Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi."
"Maaf tidak mengantarmu. Aku lelah, ingin mandi."
"Ok. Daah."
"Daah Kak Wina."
BUK.
Ponsel ditangan Danita terjatuh begitu dia melihat apa yang ada di dalam kamar. Dia tidak tahu akan mendapat hadiah semacam ini dari Malvin.
"Danita."
Malvin kaget melihat Danita yang mematung di depan pintu. Lalu dia menoleh pada wanita disampingnya. Ternyata Mel.
"Kenapa kau disini?" Tanya Malvin pada Mel.
Mel langsung memeluk lengan Malvin.
"Bukankah kau yang memulai," kata Mel.
***
Baru saja Danita selesai mandi. Dia melihat makanan apa yang bisa dia makan di apartemennya. Dia membuka kulkas. Ternyata tidak ada apapun. Ponsel juga tidak dibawa oleh Danita.
Saat ini Danita bahkan menggunakan baju seadanya yang ada dialmari. Jelas sekali itu baju untuk wanita yang sudah berumur. Meski begitu Danita merasa tenang karena masih ada pakaian.
Danita memutuskan untuk turun. Dia melihat sebuah tempat makan diarea parkir tadi. Setidaknya Danita tidak akan kelaparan. Sembari berjalan Danita terus memikirkan apa yang dia lihat di kamar tadi.
Rasa kesal kembali muncul. Membuat Danita tidak sadar sampai akhirnya dia hampir tertabrak oleh mobil yang melaju. Untung saja ada yang menarik tangan Danita saat itu.
"Nenek." Ucap Maria, "terima kasih."
"Lain kali hati-hati Danita."
"Iya, Nek."
"Lagi ada masalah? Kok melamun."
"Tidak, Nek aku hanya mengingat dimana ponselku berada. Aku lupa."
"Begitukah. Ayo temani nenek. Nenek ingin makan sesuatu," kata nenek Maria.
"Tidak perlu Nek. Aku...."
"Jangan menolak. Ayo." Nenek Maria langsung menarik Danita untuk menemaninya.
Tidak disangka nenek Maria membawa Danita ke restoran dimana dulu dia bekerja. Hal ini membuat Danita mengingat saat Laura mencoba untuk melukainya. Danita menggeleng keras, menepis ingatan itu.
"Mau makan apa? Pesan aja."
__ADS_1
"Aku ikut nenek saja."
"Ok."
"Panggilkan orang yang bertanggung jawab akan restotan ini," kata Nenek Maria kemudian.
Danita kaget dengan apa yang dikatan nenek Maria. Pelayan itu dengan patuh langsung masuk untuk memanggil Lucas. Danita tahu karena disini dulu Danita cukup lama. Bahkan pelayan tadi juga kaget karena Danita kembali datang. Bukan dengan Tuan Malvin, tapi dengan nenek Maria.
"Bagaimana hubungan kamu sama Malvin?" Tanya Nenek Maria.
"Baik kok Nek."
Entah kenapa Danita merasa aneh dengan apa yang ditanyakan nenek Maria.
"Nenek." Ucap Lucas begitu tahu nenek Maria yang datang.
"Iya. Aku bawakan tamu untukmu," kata Nenek sembari menunjuk pada Danita.
"Danita." Lucas begitu kaget melihat Danita ada disana bersama nenek Maria.
"Kalian saling kenal?" Tanya Nenek Maria.
"Saya dulu bekerja disini Nek."
"Benarkah itu?"
Danita mengangguk. Itu bukanlah hal memalukan bagi Danita. Mengakui jika dirinya dulu seorang pelayan.
"Kenapa kau tidak kenalkan Danita sejak dulu pada Nenek?" Tanya nenek Maria pada Lucas.
"Nek." Lirih Lucas.
"Duduklah dulu. Kita makan bersama," kata nenek Maria.
"Baik."
Lucas tidak bisa menolak permintaan itu. Apa lagi ada Danita disana. Lucas ingin banyak bertanya dan tahu tentang hidup wanita itu saat ini.
Makanan sudah tersaji. Saat itu nenek Maria pergi ke toilet. Meninggalkan Danita dan Lucas duduk berdua. Danita hanya diam dan tidak banyak bicara.
"Danita."
"Ya, Pak."
"Kau masih saja begitu. Panggil saja Lucas."
Danita mengangguk.
"Bagaimana hidupmu sekarang? Pasti lebih baik ya," kata Lucas.
"Begitulah."
Danita tidka terlalu terbuka. Apa lagi pada Lucas. Danita merasa segan karena sejak dulu Lucas begitu baik padanya. Tidak seperti pelayan yang lain, selalu membuli Danita. Entah dengan kata atau tindakan.
"Bagaimana bisa kamu datang dengan nenek?"
"Kami bertemu dijalan."
"Begitukah?"
Danita mengangguk kembali.
__ADS_1