Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Dengan cepat pemberitaan tentang putra tunggal dari Tuan G menyebar. Mereka memang tidak tahu siapa yang meninggal. Karena selama ini Tuan G tidak pernah membahas tentang anaknya itu.


Meski begitu berita itu tersiari diberbagai media. Bahkan banyak yang mencoba menjadi terkenal karena hal ini. Ada yang mengaku kenal dekat dengan anak Tuan G. Ada yang merasa jika dia pernah berpacaran denganya.


Danita baru saja selesai mandi saat melihat berita itu. Danita tahu siapa yang meninggal. Membuatnya langsung menutup mulutnya. Dia tidak percaya jika Lucas sudah meninggal.


"Ada apa?" Tanya Malvin saat melihat Danita menatap TV.


"Apa benar berita ini?"


"Ya. Aku juga mau datang kesana. Apa kamu mau ikut?"


"Tentu. Aku kenal dengan Lucas." Jawab Danita.


"Aku tidak menyangka. Ternyata kenalanmu bukan orang sembarangan."


"Ka...kami kenal direstoran. Kau ingat dengan pria itu bukan. Saat bersama Mel."


"Ya. Aku ingat."


"Dia Lucas."


Untuk sesaat Malvin tidak percaya dengan itu. Sementara ini dia menyembunyikan perasaan itu. Takut jika Danita akan tersinggung nantinya.


"Kamu berganti bajulah. Aku akan menunggu dibawah." Ucap Malvin.


"Ya."


Sembari berganti pakaian. Pikiran Danita terus tertuju pada Lucas. Dimana beberapa hari lalu mereka masih bersama. Sampai dia mendapat kabar ini. Tentu saja mengagetkan sekali.


Disisi lain.


Malvin sedang duduk dan melihat berita di TV itu. Dia menatap dengan seksama foto pria ditv dengan bayangan waktu di restoran.


"Tuan."


"Ya Don."


"Mobil sudah siap," kata Don.


"Aku masih menunggu Danita."


"Tuan. Ini acara yang cukup penting. Tidak mungkin Anda akan membawa Nyonya bukan."


"Memangnya kenapa kalau aku membawanya? Apa ada yang salah?"


"Tuan. Maaf, saya melihat jika Tuan tidak peduli lagi dengan tujuan Anda. Anda terlalu fokus pada Nyonya Danita."


"Benar. Dia itu tidak baik Malvin. Bahkan yang menculikku juga mengatakanya. Wanita itu punya banyak rencana," kata Mel yang baru saja datang.


Malvin memilih diam. Mel mendekat dan mengatakan apa yang penculik itu katakan. Bahkan Mel mengatakan jika Danita adalah rubah berekor sembilan. Meski begitu Malvin tetap tenang. Hatinya sudah terlanjur masuk dalam jurang cinta yang dibuat oleh Danita.


"Tuan. Ada baiknya Anda mendengarkan Nona Mel," ucap Don kemudian.


"Don. Lebih baik kau cari tahu dimana kalung itu. Dan kau Mel, aku tidak peduli dengan semua itu."


Malvin yang melihat Danita turun dari tangga langsung menghampirinya. Memeluk pinggang ramping itu dan keluar dari rumah. Mel dan Don hanya bisa menatap dengan aneh.


"Aku tidak menyangka Malvin bisa secinta itu pada wanita," kata Mel.


"Benar Nona. Baru kali ini saya melihatnya."


"Aku akan membuat Danita pergi. Bagaimanapun caranya."

__ADS_1


***


Sampai dirumah Tuan G. Banyak sekali wartawan dan orang yang melayat. Mereka melayat bukan karena orang yang mati. Melainkan karena ingin dekat dengan leluarga Tuan G.


Malvin dan Danita turun dari mobil. Para wartawan langsung menyorot keduanya. Banyak pertanyaan yang diajukan, hanya saja Malvin diam dan terus berjalan. Tidak lupa tanganya terus menggandeng tangan Danita.


Sampai di dalam Danita dan Malvin datang pada Tuan G dan istrinya. Jelas sekali jika Tuan G menangis palsu, sementara istrinya benar-benar terlihat kehilangan.


"Kami turut berbela sungakawa Tuan G," kata Malvin.


"Terima kasih."


"Anda Nyonya Danita bukan?" Tanya Istri Tuan G.


"Benar."


"Ibu ingin menemuimu."


Danita menatap pada Malvin. Malvin mengangguk. Danita pun ikut dengan istri Tuan G. Sampai dilantai dua, Istri Tuan G membuka pintu sebuah kamar. Disana ada nenek Maria yang sedang duduk sendiri. Dia menatap kosong keluar jendela.


"Masuklah," kata Istri Tuan G.


"Baik."


"Aku pergi dulu."


Danita masuk. Suasana sunyi membuat Danita merasa ikut berbela sungkawa. Bahkan tanpa sadar dia juga merasa kehilangan. Mau bagaimanapun Lucas adalah orang yang baik bagi Danita.


"Nenek."


"Danita. Kau benar datang?"


"Ya Nek. Aku datang, aku berbela sungkawa atas kepergian Lucas, Nek."


Danita duduk di sisi nenek Maria. Wanita yang sudah tidak lagi muda itu tersenyum. Dia menatap kelangig dan berkata, "Mike, akhirnya kau bertemu lagi dengan putramu."


"Mike? Maksud Nenek Paman Mike?"


"Ya."


"Bu...bukankah Lucas dari panti asuhan?"


"Nenek memendam ini selama ini. Hanya nenek yang tahu kebenaranya. Lucas, dia tidak hidup di panti. Selama ini Nenek yang mengurusnya."


Danita diam. Mendengarkan apa yang nenek Maria ceritakan. Dimana sebuah kejadian terjadi. Saat itu nenek tidak kenal dengan keluarga Paman Mike.


Paman Mike dan keluarganya begitu baik pada nenek Maria. Seperti anak sendiri, tidak seperti Tuan G. Karena ada Mike dan adiknya, nenek Maria menjadi betah.


Sampai disuatu malam. Nenek Maria mendengar suara tembakan yang bertubi-tubi. Nenek Maria membuka pintu dan melihat Paman Mike yang sudah berlumuran darah.


"Mike. Ada apa?" Tanya Nenek Maria.


Paman Mike tidam menjawab. Dia hanya menggendong Lucas dan memberikannya pada nenek Maria. Setelah itu langsung mendorong nenek Maria ke dalam. Menutup pintu dengan rapat.


Nenek Maria tidak berani keluar sampai keesokan harinya Nenek Maria melihat rumah Paman Mike sudah bersih. Bahkan tidak ada tanda-tanda kejadian semalam.


"Mulai sejak itu. Nenek lah yang mengurus Lucas. Lucas juga kehilangan masa lalunya. Dia hanya tahu jika nenek membawanya dari panti asuhan," ucap nenek Maria kemudian.


"Jadi, Lucas tidak tahu jika Paman Mike saat itu masih hidup?"


"Ya. Nenek menceritakan ini padamu karena nenek tahu. Kamu dekat dengan Mike."


"Apa nenek tahu siapa penyerang itu?" Danita penasaran. Dia takut jika orang yang melakukan pembunuhan itu sama dengan orang yang menyerang rumahnya.

__ADS_1


"Hanya nama terakhir orang itu. Itu pun saat akhirnya Mike tidak pernah kembali."


"Siapa?"


"Brown."


Nama itu membuat Danita hanya diam. Dia tahu nama Brown adalah milik ayah Malvin. Ternyata dalang pembunuhan itu sama, Tuan Brown.


"Apa kau kenal?" Tanya nenek Maria.


"Ti...tidak Nek."


"Jika aku bertemu dengan Brown itu. Aku sangat ingin bertanya, kenapa dia menjadi seorang pembunuh keluarga."


Tok tok tok.


Istri Tuan G muncul dari balik pintu. Dia membawakan minum juga kudapan. Hanya saja nenek Maria terlihat tidak peduli. Terkesan tidak suka.


"Ibu. Makanlah sesuatu dulu. Sejak kemarin ibu belum makan apapun," kata istri Tuan G.


"Apa pedulimu tentang aku. Bukankah kau akan bebas jika aku mati."


Danita kaget melihat perubahan nada bicara nenek Maria. Sangat berbeda dengan apa yang Danita lihat biasanya.


"Bu, aku..."


"Pergilah. Aku ingin istirahat."


"Baik."


Setelah itu Danita juga berpamitan. Dia keluar dan masih mendapati istri Tuan G diluar pintu. Wanita itu terlihat menghapus air matanya.


"Aku iri padamu," kata istri Tuan G.


"Maksud Anda apa Nyonya?"


"Ibu menyukaimu. Selama ini Ibu bahkan seperti tidak melihatku. Mungkin karena aku memilih tidak memiliki anak."


Disaat pembicaraan itu akan berlanjut Tuan G datang dan langsung membawa Istrinya pergi. Danita diam, dia memilih untuk keluar dan menemui Malvin.


Beberapa kali Danita mencari Malvin. Dia masih tidak menemukanya. Apa lagi disaat seperti ini hampir semua orang memakai baju yang sama.


Sebuah tangan menarik tangan Danita dengan keras. Dia langsung menjambak rambut Danita tanpa ampun. Danita berteriak saat itu, sampai mereka menjadi pusat perhatian. Setelah puas menjambak rambut Danita, wanita otu melepaskanya dan langsung menampar Danita.


"Laura," ucap Danita.


Plak. Kembali Danita mendapat sebuah tamparan.


"Kamu kenapa Lau..."


Plak. Kembali tamparan itu mendarat dipipi Danita.


"Kamu sudah puas? Pacarku meninggal Danita, dan kamu datang tanpa rasa bersalah."


"Apa maksudmu?" Tanya Danita.


"Jangan munafik Danita. Bukankah kau menjalin hubungan dengan Lucas. Sekarang kau tidak mengaku jika dia terbunuh karena dirimu."


Danita kebingungan. Apa lagi dengan banyaknya orang yang menatap mereka. Hal ini membuat Danita sulit untuk menjelaskanya.


"Kenapa diam? Katakan jika memang Lucas mati karenamu." Teriak Laura.


Plak.

__ADS_1


__ADS_2