
Danita kebingungan. Apa lagi dengan banyaknya orang yang menatap mereka. Hal ini membuat Danita sulit untuk menjelaskanya.
"Kenapa diam? Katakan jika memang Lucas mati karenamu." Teriak Laura.
Plak.
Kali ini tamparan itu berhasil mengenai wajah Laura. Danita kaget dan menatap tanganya sendiri. Setelah itu menatap kesisinya. Ternyata Malvin yang sudah mengangkat tangan Danita untuk menampar Laura.
"Sekali lagi," kata Malvin.
Danita tidak menjawab dan hanya menatap pada Malvin.
"Aku bilang sekali lagi Danita. Tampar dia sekali lagi." Ucap Malvin.
Danita masih diam. Sementara Laura menatap dengan tidak percaya. Rumor mengatakan jika Malvin hanya bermain dengan Danita. Saat melihat ini, rumor itu tentunya hancur.
"Mau aku yang menamparnya?" Tanya Malvin.
"Jangan. Biarkan saja, aku tidak menganggap apa yang dia lakukan itu perlu dibalas."
"Bagus. Kau memang istriku," ucap Malvin dengan senyuman.
Laura tersenyum jahat dan mendekat pada Malvin.
"Tuan Malvin. Apa Anda benar mencintai wanita murahan ini?"
"Apa maksudmu?"
"Tanya saja. Dia bahkan berkencan dengan banyak pria. Kau tidak khawatir dia datang padamu hanya karena harta?"
Danita diam. Tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan oleh Laura. Selama ini Danita tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Hanya dengan Malvin. Itu memang benar adanya.
"Apa benar yang dikatakanya?" Tanya Malvin pada Danita.
"Bagaimana jika benar?" Tanya Danita.
Malvin mendekatkan wajahnya pada wajah Danita.
"Aku tidak peduli."
Setelah itu Malvin dan Danita pergi dari acara itu dengan senyuman. Sementara Laura terus menggila dan mengatakan jika Danita yang membuat Lucas meninggal. Beberapa pria mendekati Laura dan langsung membawanya pergi dari sana.
"Malvin. Bukankah kita menikah palsu? Kau juga hanya menginginkan kalung liontin lily itu. Kenapa kau masih disini? Disaat kalung itu sudah tidak ada padaku."
Perasaan Malvin yang awalnya tenang langsung kembali bergejolak. Dia menatap Danita dan meminta penjelasan atas apa yang dia katakan tadi.
"Bagaimana jika aku disisimu bukan karena pernikahan? Karena aku ingin membunuhmu?"
"Tidak peduli apa yang kau lakukan nanti Danita. Aku hanya ingin disisimu saat ini. Meski akhirnya aku akan mati ditanganmu."
Disaat seperti itu Don datang. Membuat Danita langsung mundur beberapa langkah. Dia tahu, Don tidak suka jika Malvin dekat dengannya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Bisa kita bicara berdua saja Tuan?"
Danita tahu jika ini bukanlah hal yang harus dia dengar.
"Aku akan menunggu di mobil. Permisi."
Danita masuk ke dalam mobil yang cukup jauh dari Malvin dan Don berdiri. Dia memikirkan apa yang baru saja dikatakan Malvin. Dia terlihat begitu serius saat mengatakanya.
Saat ini Danita masih belum tahu balas dendam seperti apa yabg dimaksud oleh Paman Mike di dalam buku itu. Hanya saja, perasaan antara Danita dan Malvin sudah terlanjur tumbuh. Pasti ini akan sulit nantinya.
Sementara Don mengatakan dengan serius apa yang baru saja dia dapatkan. Meski Malvin terlihat tidak percaya, tapi akhirnya Malvin setuju dengan apa yang diusulkan oleh Don.
"Besok."
"Baik Tuan. Permisi."
***
Sebuah hotel berbintang. Mel menyewa sebuah kamar yang begitu mewah dengan berbagai jenis minuman beralkohol. Tidak lupa dengan makanan mewah. Saat itu Mel mengirim pesan pada Don. Dia ingin mengatakan apa yang dia dengar. Mungkin Don akan membantunya dalam mendapatkan Malvin.
Beberapa minuman beralkohol habis diminum oleh Mel. Dia merasa begitu tertekan setelah penculikan itu. Apa lagi dengan semua yang dia dengar dari si penculik. Danita adalah putri Agora yang hilang. Dia kembali, bukan karena cinta. Dia kembali karena ingin membalaskan dendam untuk kematian keluarganya.
"Sialan. Wanita itu bukan wanita biasa. Pantas sulit aku membunuhnya." Ucap Mel saat masih dalam keadaan kacau.
"Nona Mel."
Mel menoleh. Dia melihat Don dengan pakaian yang biasa dilihatnya. Hanya saja Don kali ini lebih tampan dari biasanya. Membuat Mel merasa ingin memilikinya.
"Kau datang? Apa kau ingin menggodaku?" Tanya Mel.
"Benar."
Mel menarik tubuh Don kedalam pelukanya. Mel mencoba membisikan beberapa hal yang membuat Don merasa terpancing. Pria mana yang tidak suka saat seorang wanita dengan pakaian terbuka menggodanya. Tanpa pikir panjang Mel dan Don akhirnya melakukan hal itu.
Razka terus mencoba menghubungi Mel. Mau bagaimanapun saat ini Mel adalah tanggung jawabnya. Sampa sebuah pesan dari anak buahnya masuk. Mengatakan jika Mel sedang berada dihotel. Tanpa pikir panjang Razka langsung datang kesana.
"Kamar atas nama Mel Gunawan."
"Maaf Pak. Kami..."
Bruk. Razka melempar segepok uang ke meja. Resepsionis menatap Razka tidak percaya.
"Maaf Pak, tapi kami tidak bisa menerimanya."
"Aku tidak menyogokmu. Itu uang bonus jika kau mau buka kamar itu untukku. Jika tidak, kau mungkin di pecat."
Wajah resepsionis itu semakin bingung. Razka mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk menelfon pemilik hotel. Akhirnya resepsionis itu memberikan kartu pas lain untuk kamar Mel.
"Bagus. Terima kasih."
Razka naik lift ke lantai 12. Sampai disana dia membuka pintu kamar Mel. Tidak menyangka apa yang akan dilihatnya itu adalah hal yang menjijikan. Mel dan Don tidur bersama tanpa busana.
"MEL!"
__ADS_1
Teriakan itu berhasil membangunkan Mel dan Don secara bersamaan. Saat mereka melihat satu sama lain. Jelas sekali mereka terlihat begitu kaget.
"Kenapa kau disini?" Tanya Mel.
"Nona sendiri yang meminta." Jawab Don.
Mel mencoba mengingat apa yang terjadi. Sampai saat dia ingat dia tidak tahu harus apa karena semua sudah terjadi.
Saat ini Mel dan Don saling diam. Mereka sudah berganti pakaian masing-masing. Sementara Razka tidak tahu harus menjelaskan apa pada Pak Gun nanti. Dia memijat kepalanya yang terasa pening.
"Jangan bilang sama Papa ya Kak," kata Mel memohon.
Razka hanya diam.
"Saya akan tanggung jawab. Nona Mel," ucap Don.
"Bisakah kalian berdua diam dulu," kata Razka yang sedang memikirkan caranya.
Tidak lama pintu terbuka. Ternyata Malvin yang datang. Entah kenapa Razka sendiri yang mengirim pesan pada Malvin. Tentu saja, karena anak buah kesayangan Malvin sudah membuat kacau.
"Katakan apa yang terjadi Don?" Tanya Malvin langsung.
Don mengatakan semuanya. Setelah itu Malvin menatap pada Mel. Saat itu Mel sudah tidak mampu mendongakan wajahnya di depan Malvin. Selama ini dia begitu cinta dengan Malvin, kini dia tidak bisa mengembalikan harga dirinya lagi.
"Kapan Pak Gun kembali?" Tanya Malvin.
"Besok sore," jawab Razka.
"Aku akan mengurusnya. Kalian bubarlah," ucap Malvin.
Dengan kasar Razka menarik tangan Mel pergi. Sementara Don meminta izin tidak bekerja selama beberapa hari.
"Tidak bisa. Kau harus tetap bekerja untuku."
"Baik Tuan."
"Sekarang pulanglah. Kembali kerja besok."
"Siap Tuan."
Danita ternyata menunggu di lobi hotel. Dia duduk dan membaca majalah yang disediakan. Setelah melihat Malvin kembali. Danita langsung mendekat.
"Bagaimana?" Tanya Danita.
"Kita akan mengurus acara pernikahan."
"Apa mereka setuju?"
"Setuju atau tidak. Mereka sudah membuat kesalahan yang fatal."
"Baiklah. Aku akan disampingmu," kata Danita.
"Ayo pulang."
__ADS_1
"Ok."