
Malvin sudah siap untuk meeting pagi. Awalnya dia berniat untuk membawa Danita sekaligus untuk sarapan. Hanya saja melihat Danita yang begitu lelap membuat Malvin tidak tega.
Sebelum pergi Malvin masih sempat mencium kening Danita lebih dulu. Dia juga menyiapkan makanan sebelum itu.
"Don. Cari jadwal Razka. Danita ingin bertemu denganya malam ini."
"Baik. Apa Anda tidak apa-apa?"
"Tidak apa. Masa lalu biarlah masa lalu. Istriku juga hanya ingin berterima kasih pada Razka."
Setelah itu sekertaris Malvin mendekat. Membacakan jadwalnya hari ini. Meski di kota W, namun Malvin masih memiliki jadwal yang padat.
"Don," panggil Malvin kembali.
"Siapkan penjaga diluar kamar Danita. Oh ya, kirimkan ponsel baru pada Danita. Dia akan bosan seharian di hotel."
"Baik."
Malvin dan sekertaris itu masuk ke dalam mobil. Sementara Don tidak, dia memiliki tugas sendiri. Saat ini Don tahu akan perasaan bosnya yang sedang jatuh cinta.
Danita bangun karena cahaya yang masuk. Melihat jika Malvin sudah tidak berada disisinya. Wajah Danita langsung tersenyum begitu tahu jika baju dan sarapan sudah disiapkan.
Omelet bayam dan nasi merah menjadi menu sarapan Danita. Juga ada susu hamil dan beberapa macam buah. Disana ada sebuah note kecil yang berhasil membuat Danita merasa moodnya begitu baik.
makanlah. untuk kesehatanmu dan anak kita.-
Sebelum sarapan Danita membuka jendela kamarnya. Pemandangan pantai langsung tersuguh saat itu juga. Danita merasa nyaman mendengar deburan ombak dan angin pantai.
Tok tok tok.
Ketukan pintu membuat Danita yang sedang menikmati waktu merasa terganggu. Dia bergegas mendekat dan akan membukanya. Sampai dia kembali merasa takut jika orang yang mengetuk akan menculiknya kembali.
"Siapa?" Tanya Danita.
"Saya Don. Ada titipan dari Tuan Malvin."
"Apa kau benar-benar Don?" Tanya Danita kembali.
Don diluar tahu akan ketakutan istri bosnya itu. Dia memberikan sebuah note ke Danita dari bawah pintu. Note itu membuat Danita percaya dan membuka pintu.
"Kau benar Don," lirih Danita.
"Ini, Tuan mengirimkan untukmu."
"Terima kasih."
"Jika ada yang dibutuhkan katakan saja pada dua penjaga ini," kata Don kemudian.
"Ya. Terima kasih."
Sarapan sudah selesai. Danita terus menatap ke pantai dan merasa bosan di dalam kamarnya. Saat itu ponselnya berdering, ternyata Malvin yang meminta videocall.
"Halo. Ada apa?" Tanya Danita.
"Sedang apa?" Tanya Malvin yang melihat istrinya cemberut.
"Aku bosan."
"Mau apa sekarang?" Tanya Malvin.
"Main ke panti."
"Tunggu aku sebentar lagi," kata Malvin yang langsung mematikan videocall itu.
Danita merebahkan dirinya di kasur. Menatap langit-langit kamar yang membosankan. Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Malvin datang dengan senyuman.
__ADS_1
"Cepat sekali kau kembali?" Tanya Danita.
"Ayo. Bukankah kau ingin ke pantai," kata Malvin.
"Ayo."
***
Wina tidak peduli akan tanganya yang terluka. Dia kembali ke gedung praktek itu. Suasana disana sudah sedikit lebih baik. Barang-barang juga mulai dibersihkan.
"Selamat pagi," kata seorang pendamping yang menyapa Bu Wina.
"Pagi. Bagaimana ruanganku?"
"Aman Bu."
"Terima kasih."
Langkah Wina begitu cepat. Sampai disana Wina mencari kartu memori. Semua laci sudah dibuka. Bahkan buku-buku sudah diperiksa namun kartu memori itu belum juga ditemukan.
"Semua pendamping masuklah keruanganku. Sekarang," kata Wina di depan speaker.
Tidak perlu menunggu lama sampai para pendamping datang semua ke ruangan Danita. Tanpa kata Wina memeriksa mereka satu persatu.
"Ada apa ini?" Tanya kepala gedung praktek.
"Aku mencari barang penting. Tuan Gun menginginkanya," kata Wina.
"Barang seperti apa tepatnya?"
"Kartu memori."
Mereka semua mencari. Sampai Pak Gun datang kartu memori itu masih belum ditemukan. Pak Gun terlihat tidak senang dengan semua ini.
"Sangat yakin Pak." Ucap Wina.
"Jika kau bohong. Aku tidak senang melakukan sesuatu pada anak-anakmu," kata Pak Gun.
"Ya Pak."
Setelah itu Pak Gun kembali keluar. Dia melihat kerusakan yang terjadi cukup parah. Dia bahkan harus melihatnya sendiri karena kelakuan Razka. Pak Gun baru tahu Razka yang melakukanya karena semalam Razka pulang dengan senjata yang dia bawa.
Sementara Razka duduk dengan rokok ditanganya. Dia masih memikirkan Danita semalam. Rasa rindu yang awalnya tidak ada kini semakin meningkat.
"Pak Razka ada tamu," kata sekertaris.
"Siapa?"
"Orang dari Pak Malvin."
"Biarkan dia masuk."
Sekertaris itu keluar, tidak lama Don masuk. Razka tersenyum, seperti menemukan teman lamanya saja.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Razka.
"Baik. Bagaimana dengan Anda Tuan?"
"Kau lihat sendiri. Aku patah hati Don."
Mereka tertawa. Ya, mau bagaimanapun dulunya mereka pernah dekat. Antara Malvin dan Razka sebenarnya tidak ada masalah. Mereka putus hubungan karena seorang wanita. Tidak disangka wanita itu memilih menikah dengan pria lain.
"Ada apa kau kesini?" Tanya Razka.
"Tuan dan Nyonya ingin bertemu Anda malam ini."
__ADS_1
"Dalam hal apa?"
"Tidak tahu."
"Baiklah. Jam delapan malam. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu."
"Baik."
Setelah berbincang cukup lama akhirnya Don memutuskan untuk kembali. Dia masih memiliki urusan yang harus dia kerjakan. Tidak mau menunda, karena semakin ditunda pekerjaan akan semakin menumpuk.
Pintu utama hotel yang ditempati oleh Razka. Don berpapasan dengan Pak Gun. Saat itu dia bersama beberapa pengawalnya, jadi Don tidak bisa mendekat apa lagi melukainya.
*Aku melihat Pak Gun di hotel yang ditempati Razka.*
Pesan itu langsung masuk ke ponsel Malvin.
Malvin menghentikan langkah kakinya dan melihat pesan dari Don. Saat itu Danita terus berlarian di pantai. Melihat sisi Danita yang seperti ini membuat Malvin merasa lega. Danita sudah tidak takut lagi padanya.
*Urus saja semuanya. Kabari lagi nanti.*
Pesan balasan itu diterima oleh Don.
***
"Pak Gun datang," kata Sekertaris Razka.
Razka berdiri dan langsung membukakan pintu untuk pamannya itu.
Bugh.
Sebuah tonjokan keras langsung mendarat dipipi Razka. Dia sudah terjatuh, dengan cepat dia berdiri lagi. Bahkan tersenyum pada Pak Gun.
"Kenapa kau menolongnya?" Tanya Pak Gun.
"Aku mencintainya."
"Kau gila? Dia musuhku."
"Kalau begitu aku juga musuhmu."
"Kau sudah hilang akal Razka."
"Ya. Cinta yang membuat aku begini."
"Aku kesini bukan karena cintamu itu Razka. Aku ingin membahas hubungan kita."
"Kita sudah tidak ada hubungan apapun."
"Maksudmu apa Razka?"
"Sejak kau menculik Danita. Saat itu juga kau membuat aku pergi."
"Hanya karena wanita sialan itu kau begini?"
"Dia bukan wanita sialan. Paham."
Perdebatan yang awalnya biasa saja berubah menjadi sengit. Razka sudah tidak mau lagi menjadi anggota Pak Gun. Dengan tegas Razka menyatakan jika Pak Gun tidak cocok menjadi ketuanya.
"Anak sialan kamu Razka."
"Aku tahu itu. Jika paman sudah selesai. Paman bisa pergi."
Razka kembali duduk dan menikmati rokokya.
*Tuan Razka sudah lepas dari Pak Gun.* Pesan itu dikirim kembali oleh Don pada Malvin.
Setelah melaporkan itu Don masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Untuk sesaat dia merasa Danita itu istimewa. Bahkan teman yang awalnya menjadi musuh kini akan kembali bertemu. Padahal sama-sama mencintainya.
__ADS_1