Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Enambelas


__ADS_3

Langkah Lin begitu sigap. Sampai diarea tempat mencuci. Disana ada sebuah pintu lagi. Danita merasa takjub setelah masuk ke dalam. Lorong panjang dengan desain yang indah. Baru kali ini dia tahu jika dirumah Malvin ada yang seperti ini.


Tidak sampai disitu saja. Setelah lorong berakhir mereka masuk kesebuah ruangan. Terlihat begitu luas dengan berbagai alat latihan.


"Sudah sampai. Semua peralatan sudah disiapkan oleh Tuan Malvin. Jika masih kurang katakan saja, nanti saya akan mengururnya," kata Lin.


"Tidak. Ini lebih dari cukup." Ucap Wina.


"Kalau begitu saya permisi."


Danita merentangkan tanganya dan berjalan beberapa langkah. Merekasakan hawa ruangan itu yang dingin namun menyenangkan.


"Kita mulai latihan." Ucap Wina.


"Kenapa kau berubah begitu tegas."


"Nyonya. Saat ini kau adalah muridku. Disini, anggap saja kelas. Jika keluar dari sini sudah beda lagi. Aku ingin kau mempelajari semuanya dengan benar."


"Baik."


Sifat Wina yang langsung berubah juga membuat suasana disana terasa berubah. Mau tidak mau akhirnya Danita harus begitu serius melakukan latihan itu.


Tidak hanya bela diri tangan kosong. Danita juga akan diajari menembak dan memanah. Tidak lupa dengan senjata tongkat. Malvin benar-benar melakukan semuanya dengan teliti.


Beberapa kali Danita harus kena semprot oleh Wina. Mulai dari posisi berdiri yang salah hingga kepalan tangan yang tidak sempurna.


Saat itu dering ponsel terdengar. Danita tahu itu ponselnya. Malvin yang menelfonya pasti, karena hanya Malvin yang tahu nomor itu.


"Bolehkah aku mengangkatnya?"


"Aku yang akan mengangkat."


Dengan tenang Wina mengangkat telfon itu.


"Halo."


"Wina. Dimana Danita?" Tanya Malvin.


"Ada dikelas pelatihan. Ada apa?"


"Bisakah aku bicara denganya?" Tanya Malvin lagi.


"Tidak. Bukankah kau sudah tanda tangan kontrak. Selama jam latihan tidak boleh diganggu. Kau sudah melanggarnya dihari pertama."


"Lanjutkanlah. Aku tidak akan mengganggu," kata Malvin yang langsung mematikan telfonya.


Malvin meletakan ponselnya dan menatap pada Don. Apa yang Don katakan ternyata benar. Wina bukanlah guru sembarangan. Dia bahkan begitu disiplin.


"Dia benar-benar keras saat mengajar. Apa Danita akan baik-baik saja." Lirih Malvin.


"Tuan. Apa boleh saya mengatakan sesuatu?" Tanya Don.


"Katakan saja. Ada apa?"


"Apakah Tuan sudah jatuh cinta dengan Nyonya? Tuan terlihat khawatir saat ini."


"Mana mungkin aku jatuh cinta."


Don tersenyum. "Saya hanya takut Tuan akan lupa tujuan awal."

__ADS_1


"Tidak akan. Bagaimana dengan orang-orang yang aku suruh selidiki?"


"Mereka semua berkaitan. Bahkan mereka juga anggota dari mafia King."


"Mafia King?"


"Benar Tuan."


Mafia King adalah geng mafia terbesar. Bahkan anggotanya bukan orang biasa. Anggota digeng mafia itu terdiri dari orang-orang penting dan pengusaha. Mereka memiliki uang dan kekuasaan. Tentu saja akan sulit mencari pemimpin yang sebenarnya.


"Apa kau sudah tahu siapa pemimpinya?"


"Belum bisa terdeteksi."


"Maksudmu?"


"Sistem kita memang sudah bagus. Hanya dalam geng mafia ini banyak sekali jebakan. Apa lagi yang saat ini diincar adalah kalung itu."


Sampai saat ini Malvin masih belum tahu kalung itu ada dimana. Danita mungkin menyembunyikanya ditempat lain. Malvin ingin tahu isi di dalam kalung itu. Apa sebegitu berharganya sampai pemilik geng mafia King mengincarnya.


***


Dua jam berlalu dengan lambat bagi Danita. Dia keluar dari ruangan latihan dengan tubuh yang terasa remuk. Bahkan jalanya saja sampai gontai karena terlalu lelah.


"Begitu saja sudah lemas," kata Wina saat menyusul Danita keluar.


Wina sudah kembali seperti awal. Lembut juga penuh perhatian. Tidak akan ada yang menyangka jika Danita begitu keras saat mengajar.


"Kau tidak lelah?" Tanya Danita.


"Ini belum mengerikan. Jika kau masuk dalam pelatihan mata-mata. Mungkin akan sepuluh kali lipat dari ini," ucap Wina.


Mereka tertawa.


Diluar Lin sudah menyiapkan makan siang juga beberapa kudapan yang akan dibawa pulang oleh Wina. Malvin ingin anak-anak Wina tetap dapat kasih sayang dari ibunya. Tidak ingin sampai anak lain seperti dirinya.


"Kak Wina makan dulu saja. Aku mau mandi dulu," kata Danita.


"Tunggu sampai badanmu lebih tenang."


"Baiklah. Aku akan menemani Kak Wina disini."


"Terima kasih. Hanya saja aku harus langsung pergi. Anak-anak pasti sudah menunggu."


"Bukankah kau janji kita akan bicara berdua."


"Maafkan aku Danita. Aku harus pergi, lain kali kita bisa bicara."


Danita menggeleng dan mendekat pada Wina.


"Boleh aku minta nomormu. Siapa tahu aku ingin memberi pesan."


"Baiklah."


Akhirnya Danita dan Wina bertukar nomor. Setelah itu Danita mengantar Wina. Seperti biasa sopir rumah sudah siap untuk mengantar Wina.


"Nyonya."


"Ya Lin. Ada apa?"

__ADS_1


"Dua puluh menit lagi kita akan berangkat ke panti."


"Apa?! Aku lelah Lin."


"Bukankah tadi pagi Anda setuju. Saya sudah mengatakan pada pengasuh panti jika Anda akan datang. Barang juga sudah kita beli," jelas Lin.


"Baiklah. Aku akan mandi lebih dulu."


Dengan malas akhirnya Danita setuju untuk pergi ke panti asuhan. Dalam perjalanan kesana Danita merasa tidak asing dengan suasana itu. Benar saja. Dia berada di panti asuhan dimana dia pernah bertemu dengan Razka.


Untung saja Lin ikut. Jadi dia tidak kebingungan akan menemui siapa disana. Baru kali ini Danita datang, jadi belum tahu siapa-siapa.


"Mbak Lin sudah datang," sapa seorang wanita dengan pakain yang tertutup.


"Iya Bu. Kenalkan, ini istri Tuan Malvin. Nyonya Danita."


"Saya Danita."


"Saya Amel. Panggilan disini Bu Amel."


Setelah perkenalan mereka masuk keruang kerja Bu Amel. Terlihat disana banyak sekali berkas. Mungkin berkas milik anak-anak disini, pikir Danita. Disana juga ada piala, entah piala apa yang terpajang disana.


"Nyonya Danita. Mulai saat ini, Anda bisa datang kesini sendiri. Bu Amel akan membantu Anda," kata Lin.


"Baik Lin. Terima kasih."


"Kalau begitu. Saya permisi dulu." Lin mengangguk kearah Bu Amel dan Danita lalu pergi.


Saat ini Danita hanya tinggal dengan Bu Amel. Bu Amel menceritakan tentang panti asuhan ini. Dimana hampir semua anak ini bukan yatim piatu, melainkan ditelantarkan orang tuanya.


Danita berdiri dan melihat kearah luar. Anak-anak sedang bermain kesana kemari. Mereka terlihat bahagia. Saat Danita mencoba memikirkan masa lalunya. Apa begitu indah, atau begitu sedih. Danita ingin tahu.


"Nyonya."


"Ya, Bu Amel."


"Mari. Saya akan kenalkan dengan anak-anak disini."


"Baik Bu."


Sampai disebuah kamar. Mereka terlihat sangat bahagia dengan seorang pria berada ditengah-tengah mereka. Danita dan Bu Amel mendekat.


"Nak Razka. Perkenalkan, ini Nyonya Danita."


Razka menoleh. Danita tersenyum begitu melihat wajah yang familiar itu. Razka menurunkan seorang anak lelaki dari gendonganya dan mendekat pada Danita.


"Selamat datang," kata Razka.


"Terima kasih sambutanya. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi."


"Maaf, aku tidak memberimu pesan. Aku takut mengganggumu." Ucap Razka.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Bu Amel.


"Ya Bu. Beberapa kali kami bertemu," jawab Danita.


"Baguslah. Jadi, tolong Nak Razka. Ajak Nyonya Danita berkeliling. Saya akan pergi kebelakang dulu."


"Baik Bu."

__ADS_1


Danita mengangguk perlahan. Bu Amel pergi. Danita duduk disebuah kursi diikuti oleh Razka yang masih menatap anak-anak panti itu.


__ADS_2