
Gaun malam yang indah melapisi tubuh Danita. Dia saat ini berada disisi Malvin Brown. Masuk kesebuah restoran dimana dia pernah menjadi pelayan disana.
Mereka mendapat tatapan dari hampir semua orang didalam sana. Malvin yang sudah terbiasa hanya fokus kedepan. Sementara Danita merasa begitu risih dengan tatapan itu. Apa lagi omongan dari para pelayan disana. Membuat Danita kembali sadar jika dia adalah pelayan.
"Kau kenapa?" Tanya Malvin.
Danita langsung menggeleng. Dia menggandeng tangan Malvin saat itu.
"Kalian sudah datang?"
Mel menyambut kedatangan Danita dan Malvin. Dia menggunakan gaun malam yang cukup terbuka. Menampakan bentuk tubuhnya. Tidak lupa dengan parfum yang sangat menggoda. Mel juga langsung meminta seorang pelayan datang. Pelayan itu menatap pada Danita yang duduk disisi Malvin. Terlihat sangat berbeda.
Mendapat tatapan itu Danita hanya menunduk saja. Kali ini dunia Danita terasa begitu berbeda. Sementara Mel menikmati hal itu. Dia memesan beberapa makanan untuk dimakan bersama.
"Aku senang kalian datang. Danita, aku minta maaf. Aku sudah salah."
"Tidak apa." Lirih Danita.
Danita mencoba terlihat baik-baik saja. Padahal dia masih merasa takut karena kejadian tadi siang. Dimana dia hampir diperkosa oleh beberapa lelaki.
Pelayan yang diminta Mel masuk kebelakang. Dia langsung mengatakan jika Danita datang. Semua orang langsung merasa ingin tahu. Apa lagi, Lucas mengatakan jika Danita keluar karena urusan pribadi.
"Apa benar dia datang?"
Tanya salah satu dari mereka.
"Ya. Dia datang dengan siapa? Malvin Brown."
"Apa?!"
Semua yang ada disana kaget dengan apa yang dilakukan Danita. Seorang pelayan bisa bersama dengan Malvin Brown. Ini adalah berita besar.
"Ada apa ini?"
Lucas datang dan melihat beberapa pelayan sedang bergosip.
"Pak Lucas. Itu, Danita datang dengan Tuan Malvin Brown."
"Apa ini menguntungkan kalian? Pergilah kembali bekerja." Ucap Lucas.
Para pelayan terlihat tidak senang. Mereka bubar dan kembali melakukan pekerjaan masing-masing. Lucas terdiam, dia merasa patah karena mendengar Danita sudah bersama Malvin. Lucas sadar, dia bukanlah apa-apa bagi Malvin Brown. Hal ini langsung membuat hati Lucas menyerah dengan cintanya.
Masih tidak percaya. Lucas memutuskan sendiri untuk datang ke meja Malvin. Dia memiliki alasan untuk menyambut tamu sepesialnya itu. Dia tidak ingin termakan gosip yang beredar.
"Selamat malam Tuan Brown," ucap Lucas.
"Malam."
"Terima kasih Tuan Brown sudah mau datang ketempat kami lagi. Apa ada hal yang Anda inginkan? Kami akan siapkan segera."
"Tidak ada. Istriku sudah nyaman disini."
"Baik."
Lucas melihat dimeja itu ada dua wanita. Satu Danita, satu lagi anak semata wayang keluarga Gun. Mendengar kata istri, tentu saja pikiran Lucas tertuju pada Mel. Dia lebih cocok dari segi penampilan juga pendidikan untuk bersanding dengan Malvin.
"Kenapa kau menatap istriku? Apa ada yang salah?" Tanya Malvin.
"Ti...tidak Tuan. Saya hanya kaget, karena tidak ada pesta pernikahan Anda."
__ADS_1
Malvin tersenyum kecil. Menatap pada Danita dan menggenggam tangan wanita itu.
"Aku tidak suka kecantikan istriku diumbar. Jadi, aku merahasiakan ikatan ini. Aku ingin dia menjadi milikku saja."
Danita terpana dengan apa yang dikatakan oleh Malvin. Dia tidak menyangka jika pria di depanya ini bisa mengatakan hal yang begitu manis dan menghipnotis.
Lucas dan Mel menatap tidak senang pada Malvin dan Danita. Semua itu terlihat indah dan begitu mesra. Hal yang belum pernah mereka lihat. Saat ini Lucas sadar sepenuhnya. Danita sudah dimiliki Malvin.
Sementara Malvin merasa senang dengan apa yang dia lakukan. Tidak sia-sia membaca buku tentang pernikahan. Membuat semua orang percaya jika cinta ada diantaranya dan Danita. Padahal, Malvin tidak peduli itu cinta.
"Permisi. Ini pesanan Anda."
Seorang pelayan membuyarkan pikiran semua orang dimeja itu. Mel yang sudah terlanjur kesal pura-pura berdiri. Lalu dengan sengaja mendorong tubuh pelayan itu. Membuat makanan ditanganya tumpah kebaju Danita.
"Aduuh."
Danita mengaduh karena makanan itu masih panas. Dia mencoba untuk membersihkanya, sementara Malvin hanya diam saja. Sampai dia melihat Lucas akan mendekat. Baru dia mengambil serbet dipundak pelayan dan membersihkan noda dibaju Danita.
"Sudah. Sudah. Aku ketoilet dulu, permisi."
Danita pergi disusul oleh Lucas. Sementara Mel menahan Malvin dengan berbagai pertanyaan dan pembicaraan.
"Danita."
Danita menoleh. Melihat Lucas yang mendekat.
"Kau benar menikah denganya?"
Danita mengangguk.
"Sejak kapan kalian kenal? Apa kalian menikah karena cinta?"
Pertanyaan ini sulit untuk dijawab oleh Danita. Dia tidak tahu apa Malvin mencintainya. Danita juga tidak tahu perasaanya pada Malvin. Mereka hanya menikah itu saja.
"Aku permisi dulu."
Tidak ingin membahasnya lagi Danita memilih pergi dan masuk ketoilet wanita. Dia mencoba membersihkan gaun malam yang indah itu. Dia tahu, gaun itu sangat mahal. Tidak seharusnya dia mengotorinya.
"Wah wah waaaah."
Danita menoleh. Melihat Laura keluar dari bilik toilet saat itu.
"Bukankah kau Danita? Kemana saja kau selama ini?"
"Bukan urusanmu."
Laura menatap Danita dari atas sampai bawah. Dia sadar pakaian itu begitu mahal dan berharga. Bahkan gaun yang Danita pakai milik desainer ternama.
"Jangan-jangan kau berhasil menggaet om-om untuk uang." Laura tertawa saat itu.
Danita diam. Dia memilih untuk kembali membersihkan gaun itu. Sampai saat Laura mengguyur air yang ada di dalam ember pada Danita.
Rambut yang tertata rapi itu kini sudah tidak berbentuk. Gaun yang dia bersihkan juga kini basah. Dengan marah Danita menatap pada Laura.
"Ada apa? Apa kau mau marah?"
Danita terus menatap pada Laura.
"Bukankah kau bisa meminta lagi pada Om mu itu untuk uang. Kau bisa membelinya lagi," kata Laura.
__ADS_1
Plak.
Kali ini Danita menampar Danita dengan keras. Membuat Laura merasa samakin tidak senang.
"Wanita murahan sepertimu berani menampar aku. Lihat ini."
Bugh.
Mel sedang makan dan membahas beberapa hal dengan Malvin. Sampai Malvin sadar sudah lama Danita masuk ke toilet dan tak kunjung kembali.
"Dimana toilet wanita?" Tanya Malvin saat seorang pelayan lewat.
"Masuk lalu belok ke kiri."
"Terima kasih."
"Malvin." Panggil Mel yang tidak dipedulikan.
Akhirnya Mel memilih mengikuti langkah kaki Malvin. Sampai di sana pintu terkunci dari dalam. Membuat Malvin merasa ada yang salah. Dengan keras Malvin mendobraknya.
Saat itu Danita sudah tergeletak dengan pakaian yang sudah sobek dibeberapa bagian. Rambutnya juga berantakan. Kembali Malvin teringat kejadian di tempat pembangunan.
Saat itu Mel juga datang. Melihat Malvin sudah bersiap pergi dengan Danita digendongannya.
"Apa ini yang kau lakukan?" Tanya Malvin.
"Ti...tidak. Mana mungkin aku melakukanya. Sejak tadi, aku bersamamu."
Malvin diam saja dan meninggalkan Mel sendirian. Mel yang marah melihat kesekeliling. Dia mendapati seorang wanita bersembunyi di balik bilik kamar mandi.
"Buka pintunya."
Perlahan Laura keluar. Dia terlihat ketakutan, namun jelas dia tidak terlihat awut-awutan.
"Kau yang melakukanya bukan?" Tanya Mel.
Laura mengangguk.
"Kenapa kau tidak membunuhnya sekalian." Ucap Mel dengan kasar.
"Maksudmu?"
"Lupakan saja."
"Tunggu. Bukankah kau anak dari Pak Gun. Ada masalah apa kau dan Danita? Kau terlihat tidak menyukainya."
"Bukan urusanmu. Lain kali, jangan lakukan ini lagi."
Laura tersenyum lalu berkata, "Aku mendengar semuanya. Sepertinya kau sudah pernah melukai Danita. Saat ini Tuan Brown tidak tahu siapa yang melakukanya. Kau terlihat salah dimatanya."
Mel terlihat tidak peduli.
"Mungkin kita memiliki hal yang sama. Aku akan membantu menyingkirkan Danita." Ucap Laura lagi.
Kali ini Mel menatap pada Laura.
"Kau tidak perlu membayarku. Aku melakukanya suka rela. Karena dia, sudah membuat tunanganku lari."
"Baiklah. Kau bisa melakukanya, aku akan melindungimu secara diam-diam."
__ADS_1
"Tentu."
Mulai saat itu mereka sudah sepakat akan membunuh Danita. Mel akan mendapat Malvin dan Laura puas karena balas dendamnya.