
Danita baru sadar dari pingsanya. Dia mendapatkan dirinya terbaring ditempat tidur. Saat ini Malvin sedang duduk disisi Danita. Membuat Danita merasa kejadian tadi hanyalah mimpi dan hayalanya saja.
"Lin." Panggil Malvin.
"Ya Tuan."
"Siapkan Danita. Aku akan membawanya pergi."
"Acara apa Tuan?"
"Ulang tahun Mel."
"Baik."
Malvin menatap sekilas pada Danita yang masih ling lung dengan kejadian yang menimpanya. Saat ini Malvin terlihat biasa saja, jadi Danita memutuskan semuanya hanyalah mimpi saja.
"Nyonya. Mari mandi dan berganti pakaian. Anda harus membuat Tuan Malvin senang."
Danita mengangguk. Lin membantu semua persiapan Danita. Pakaian dan perhiasan yang akan dipakai juga Lin yang mengaturnya. Bukan tanpa alasan, Malvin sendiri yang sudah memilih baju itu. Tanpa diduga, Danita sudah menyerahkan dirinya menjadi boneka hidup untuk Malvin.
Kaca rias berbentuk oval itu menyadarkan Danita. Bagaimana tidak, Danita menolak jika kejadian itu mimpi. Hanya saja bekas cekikan dileher membuat Danita sadar.
"Nyonya." Panggil Lin.
"Ya Lin."
"Anda sudah siap. Tuan sudah menunggu dibawah."
"Baik."
Malvin dan Don sedang membahas beberapa hal. Bahkan tanpa sepengetahuan Danita, Paman Mike sudah berada ditangan Malvin. Saat ini dia diminta untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Tuk tuk tuk.
Suara ketukan sepatu diatas tangga membuat Malvin menoleh. Saat itu Danita turun dengan anggun. Bahkan baju yang dia pakai berhasil menutupi bekas luka dilehernya. Dengan lengan terbuka membuat Danita terlihat begitu cantik dan elegan.
Baju cheongsam bergaya mermaid itu membuat aura Danita semakin terlihat. Untuk sekejap Malvin benar-benar jatuh dalam angan. Meski begitu dia kembali sadar.
"Kita sudah siap. Ayo Don."
"Baik Tuan."
Perjalanan kali ini terlihat begitu berbeda. Di dalam mobil itu hanya ada kesunyian. Bahkan suasana diluar yang gelap membuat bulu kuduk Danita berdiri.
Jalanan terjal dengan pohon dikanan kiri semakin terlihat mengerikan. Danita diam, dia tidak bertanya mereka akan kemana. Meski Danita dibawa ketempat berbahaya Danita sudah tidak peduli.
Tanpa diduga. Sebuah mobil menikung mobil yang ditumpangi Danita. Beberapa orang dengan topeng turun. Meminta Malvin dan yang lain turun dari mobil.
"Dimana kalung itu?" Tanya salah satu dari orang bertopeng itu.
__ADS_1
"Kalung? Kalung apa?" Tanya Malvin.
"Bunga Lily. Jangan pura-pura bodoh."
Malvin menoleh pada Danita. Saat ini Danita tidak memakai perhiasan kalung sama sekali.
"Berikan atau aku bunuh wanita ini," kata pria itu sembari menodongkan pistol pada Danita.
Mata Danita membulat. Dia tidak menyangka akan seperti ini. Bahkan mereka tahu akan kalung bunga Lily itu. Saat pria itu meloloskan tembakan Malvin langsung menarik tangan Danita.
Saat ini Danita menatap Malvin. Pria itu terlihat begitu marah. Hanya saja dia masih terlihat tampan. Danita jatuh kesisi kiri Malvin saat pria itu melepaskanya.
"Lain kali selamatkan nyawamu sendiri," ucap Malvin sembari mengambil pistol disakunya.
Malvin mulai menembaki mereka. Begitu juga dengan Don. Sementara Danita hanya diam dan mengamati semuanya. Karena kekuatan yang dimiliki Don dan Malvin. Penjahat itu memilih pergi.
"Masuk," kata Malvin pada Danita.
Kembali Danita masuk kemobil. Danita merasa kaget saat tahu jika banyak yang mengincar kalung yang dimilikinya itu. Bahkan mungkin Malvin juga mengincarnya.
"Apa ini alasanmu menikahiku?" Tanya Danita kemudian.
Malvin menyeringai. Dia menatap pada Danita dengan tajam. Danita menelan salivanya karena takut.
"Berikan kalung itu padaku."
"Tidak. Itu bukan milikmu."
Mendengar sebutan Papa dari bibir Malvin membuat Danita kembali mengingat tragedi itu. Mengingat kejadian dimana Tuan Brown begitu hilang akal.
"Mau kau berikan padaku atau tidak. Aku tidak peduli, karena kalung itu akan segera menjadi milikku." Ucap Malvin.
Tanpa terasa mereka sampai di vila milik Mel. Kali ini Don hanya mengantar mereka, lalu langsung pergi. Danita berada dibelakang Malvin saat berjalan. Membiarkan dirinya menjadi orang asing kali ini. Tidak berharap lebih.
"Kalian sudah datang?" Sapa Mel yang langsung mendekat.
Malvin menarik Danita kesisinya. Membuat senyum palsu. Danita hanya bisa ikut tersenyum, saat ini Danita tidak ingin mengambil resiko.
"Maaf, tadi ada hal yang mengganggu dijalan," kata Malvin.
"Tidak masalah. Masuklah, di dalam sudah banyak orang."
"Ok."
"Malvin. Papa ingin bertemu denganmu," kata Mel.
"Aku juga berniat mengenalkan istriku padanya. Dia pasti akan suka."
"Aku harap juga begitu," kata Mel yang memilih kembali pada teman-temanya.
__ADS_1
Danita terus melangkahkan kakinya mengikuti Malvin. Jelas sekali Malvin begitu paham dengan vila ini.
Sampai disebuah pintu dengan ukiran yang sangat rumit. Malvin membuka pintu, disana ada Pak Gun dan anak buahnya. Mereka langsung menatap pada Malvin dan Danita.
Tanpa sadar Danita memegang tangan Malvin. Dia takut dengan tatapan semua orang. Mau bagaimanapun kesan pertama ini tidak menyenangkan bagi Danita.
"Maaf terlambat. Tadi ada insiden kecil," kata Malvin.
"Tidak apa. Duduklah."
Para anak buah Pak Gun pergi dan langsung meninggalkan tempat itu. Malvin duduk dengan Danita.
"Apa dia istrimu? Cantik."
"Ya. Danita Brown."
"Danita. Sepertinya aku pernah dengar. Tidak salah nama Danita Agora. Putri yang hilang," kata Pak Gun.
"Anda sepertinya kenal dekat dengan keluarga Agora."
Pak Gun tertawa dan terlihat sedikit mengingat. Sampai dia berkata, "Dulu kami memang begitu dekat. Sampai insiden itu terjadi."
Danita diam. Dia menyimak pembicaraan itu. Sampai seorang pelayan datang dan mengatakan jika acara akan segera dimulai.
Benar saja. Mel sudah berada di sisi kue ulang tahunya. Begitu dengan Pak Gun yang menyusul, juga Danita dan Malvin. Suasana sangat meriah sampai acara potong kue. Mel tanpa ragu memberikan kue pertamanya pada Malvin.
"Mel. Kau tidak salah?"
"Tidak. Kau adalah bosku. Ini untukmu," kata Mel.
Entah kenapa sakit dihati Danita membuat wajahnya memerah. Hanya saja dia tidak bisa melakukan pembelaan apapun. Karena jika dia membela, Malvin merasa akan menang karena Danita tunduk.
Setelah acara potong kue. Dengan santainya Mel menggandeng tangan Malvin. Saat itu Danita maju satu langkah sampai Malvin menerima tangan Mel.
"Ini hadiah untukmu dariku," ucap Malvin.
Danita tidak menyangka jika Malvin akan melakukan ini. Padahal selama ini dia bergitu memeberinya cinta. Tidak ada celah sampai Danita memberikan hatinya. Kini, saat hatinya telah terkunci. Malvin sengaja melukai hatinya.
Malvin menari dengan Mel. Saat itu dia melirik Danita. Terlihat Danita mengepalkan tangan. Dia merasa begitu senang melihat tatapan Danita itu. Meski menginginkan, Danita tidak bisa melakukanya. Hal ini juga sama seperti Malvin, disaat ini dia ingin tahu semuanya. Hanya saja, Danita tidak memberi tahunya.
"Mau menari denganku?"
Danita menoleh. Melihat Razka yang memberikan tanganya. Awalnya Danita ragu sampai akhirnya dia menerima tangan itu. Dia ingin tahu perasaan Malvin yang sebenarnya.
"Terima kasih sudah mengajakku," kata Danita.
"Mana mungkin seorang putri tidak ada yang menginginkan."
Mereka mulai menari. Malvin melihat hal itu tidak senang. Hanya saja saat dia akan menghentikan tarian itu. Mel dengan sengaja memeluknya dengan erat. Membuat orang-orang disana menatap Malvin dan Mel.
__ADS_1
Disaat semua orang sibuk tentang Mel dan Malvin. Seseorang menatap Danita dari sebuah teropong disenapan.
DDDOOORR. DDDOORR. DDDOORR.