
Malvin buru-buru pulang setelah mendapat kabar dari Lin. Dia juga menelfon langsung dokter keluarga itu. Mengingat beberapa hari lalu Danita ditemukan lemah. Malvin tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan Danita.
"Dimana Danita?" Tanya Malvin begitu masuk kerumah.
"Nyonya di dalam kamar." Ucap seorang pelayan wanita.
Langkah panjang Malvin tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kamar. Ternyata Lin ada disana dia yang awalnya duduk langsung berdiri dan mempersilahkan Malvin untuk duduk.
"Apa obatnya sudah diminum?" Tanya Malvin.
"Belum. Sejak tadi Nyonya belum bangun."
Malvin memegang kepala Danita. Tidak panas, hanya keringat dingin terus muncul saat itu.
"Kamu bisa istirahat Lin. Aku akan berada disini."
"Baik, Tuan."
Mata Malvin menatap Danita. Tidak tahu apa yang wanita itu sembunyikan. Hanya saja Malvin merasa ada yang aneh. Akhir-akhir ini Danita sering melamun. Bahkan saat bersama orang lain.
"MAMA!!" Teriakan Danita berhasil membuat Malvin tersadar dari lamunanya.
"Danita. Bangun Danita, ini aku Malvin. Bangun Danita."
Perlahan Danita membuka mata. Tatapanya sedih, bahkan perlahan bulir air mata mulai muncul dimata Danita. Dia langsung memeluk Malvin dengan erat.
"Ada apa? Mimpi apa kamu?"
"Mama. Mama dan Papa meninggal," ucap Danita dengan derai air mata.
"Danita. Maaf sebelumnya, bukankah kau mengatakan jika kau tidak ingat apapun. Kenapa beberapa kali kau mengatakan tentang orang tuamu."
Danita menggeleng, "Aku tidak tahu."
Saat itu Malvin hanya menenangkan Danita. Dia ingin bertanya lebih lanjut, hanya saja keadaan Danita yang tidak memungkinkan.
"Minumlah."
Danita menerima gelas itu dan langsung meminumnya.
"Terima kasih."
"Kau sudah tidak apa?"
"Malvin. Sebenarnya aku terus bermimpi hal aneh. Aku merasa itu diriku, tapi saat aku sadar. Aku tidak punya memori itu."
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Ya."
"Terakhir kau ingat tentang dirimu umur berapa?"
"Aku hanya ingat saat itu bertemu dengan Paman Mike. Mungkin umurku lima belas tahun. Mungkin," jawab Danita masih ragu.
"Kau tidak punya kenangan masa kecil?"
"Aku tidak tahu Malvin. Saat aku mencoba mengingatnya kepalaku sakit."
"Tidak apa. Perlahan pasti kamu ingat. Saat ini istirahatlah."
"Baik."
Malvin merasa lebih tenang. Setidaknya saat ini Malvin sudah mendapat kepercayaan dari Danita. Dia sudah mulai berbicara tentang dirinya. Ini menjadi lampu hijau bagi Malvin.
Membiarkan Danita kembali istirahat. Malvin keluar dan melihat Don sudah duduk diruang tamu.
__ADS_1
"Dimana Wina?"
"Dia tidak bisa datang kesini. Anak-anaknya membutuhkanya." Jawab Don.
Malvin duduk disisi Don. Memijat kepalanya sendiri dengan lembut.
"Wina hanya berpesan untuk menjaga Danita. Dia sepertinya mengalami hal yang mengerikan."
"Wina mengatakanya?"
"Ya."
"Bawa aku kerumahnya saat ini. Aku ingin tahu lebih lanjut."
"Mari saya antar."
"Lin. Jaga Danita, jika ada apa-apa telfon aku saja."
"Baik Tuan."
***
Wina sedang memasak untuk anak-anaknya saat deru mobil terdengar. Dirumah yang sederhana ini Wina hidup bertiga dengan kedua anaknya. Perceraian harus dia lakukan karena suaminya memilih bersama wanita lain. Bahkan suaminya belum pernah memberi Wina sepeserpun uang untuk anaknya.
Wina membuka pintu karena mendengar ketukan. Melihat Malvin dan Don yang datang Wina buru-buru membersihkan ruang tamunya. Karena benar-benar seperti kapal pecah.
"Tuan Malvin ingin bertemu denganmu," kata Wina.
"Kenapa tidak menelfon dulu. Aku tidak persiapan sama sekali."
"Tuan Malvin yang langsung mengajak."
"Bawa masuk saja. Aku akan siapkan minum."
"Baiklah."
"Silahkan Tuan," kata Wina sembari meletakan minuman.
"Dimana anak-anakmu?" Tanya Malvin.
"Mereka baru saja tidur, Tuan."
"Padahal aku ingin melihat mereka."
"Maaf Tuan. Aku akan membangunkan mereka."
"Jangan. Biarkan mereka tidur."
"Baik Tuan. Silahkan duduk," kata Wina.
Mereka duduk. Don juga ikut duduk walau dia mencari kesibukan sendiri saat ini.
"Anakmu dengan siapa saat kau kerja?"
"Aku menitipkanya pada Bibi tetangga."
Malvin tahu. Tidak mungkin Wina mampu membayar orang untuk mengasuh. Dengan ekonomi yang saat ini terlihat begitu sulit.
"Apa kau akan fokus bekerja nanti?"
Wina diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika jujur, dia sama sekali tidak bisa fokus.
"Don. Siapkan pengasuh untuk anak dari Wina. Pilihkan yang terbaik," kata Malvin.
"Baik."
__ADS_1
"Jangan Tuan. Saya..."
"Saya akan mengurusnya untukmu Wina. Aku hanya ingin kau juga fokus saat bersama Danita. Aku sudah mendengar dari Don. Aku ingin penjelasan darimu."
"Tuan jangan marah ya?"
"Tentu."
"Apa Tuan dan Nyonya menikah karena cinta? Dimana pertemuan kalian? Apa Nyonya punya masa lalu yang baik?"
Malvin menatap tajam dengan semua pertanyaan yang diberikan oleh Wina. Dia merasa tersinggung.
"Begini Tuan. Saat saya bertemu dengan Nyonya. Dia terlihat begitu ceria, mudah akrab. Hanya saja dia terlihat linglung dari tatapan matanya."
"Maksudmu?"
"Dulu saya punya teman seperti itu. Awalnya saya tidak peduli, saya hanya senang karena dia mudah akrab. Sampai saya tahu, dia adalah kelinci percobaan."
Malvin semakin menatap Wina. "Kelinci percobaan apa?"
"Dalam hal mata-mata. Tentu saja banyak percobaan. Teman saya dapat penghilang ingatan. Dia sama sekali tidak ingat masa lalunya. Bahkan orang yang dia cintai juga hilang dalam ingatanya," kata Wina.
Malvin hanya diam. Mendengarkan penjelasan Wina.
"Obat ini sangat berguna saat mata-mata akan berhenti bertugas. Ini mengantisipasi tersebarnya informasi."
"Apa temanmu bisa sembuh?" Itu pertanyaan yang muncul dibenak Malvin saat ini.
Wina mengangguk.
"Bagaimana caranya?"
"Buat dia ingat. Tanpa sepengetahuanya, misal foto semasa kecil atau video."
Mereka membicarakan banyak hal mengenai itu. Sampai pada titik Malvin meminta bantuan pada Wina.
"Tidak masalah. Aku akan senang jika Nyonya Danita sembuh."
"Terima kasih Wina."
"Sama-sama Tuan."
Dalam perjalanan pulang Malvin terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Wina. Jika itu memang terjadi pada Danita, seharusnya Malvin tidak menyalahkanya. Bahkan beberapa kali Malvin hampir membuat Danita dalam masalah karena membawanya ke rumah Agora.
'Siapa yang melakukanya pada Danita?' pikiran itu juga muncul di benak Malvin. Apa ada yang sengaja menghapus ingatan Danita karena ada sesuatu, tapi apa? Pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan cepat. Malvin tidak ingin Danita terus dalam masalah.
"Don. Apa aku harus percaya dengan Wina?"
"Kenapa Tuan tanya saya. Tuan tanya pada diri Tuan."
Jawaban Don berhasil membuat Malvin menatap pada dirinya sendiri. Bertanya apa dia harus percaya atau tidak. Hanya saja saat ini Wina lah yang bisa membantunya.
Bahkan selama ini Malvin mengira Danita menutupi masa lalunya. Ternyata tidak, Danita juga ingin tahu akan masa lalunya itu. Tiba-tiba Yani menelfon.
"Ada apa dengan Danita, Yani?" Tanya Malvin langsung.
"Badan Nyonya sangat panas Tuan."
"Apa?"
"Iya Tuan. Bahkan menggigau juga."
"Kau bisa merekam igauanya?"
"Bisa Tuan."
__ADS_1
"Baguslah. Aku akan segera sampai dirumah."
Sejak Danita beberapa kali bermimpi dan berteriak. Hal itu membuat Malvin sadar. Masa lalu Dyra selalu muncul bagai mimpi. Cepat atau lambat, Danita pasti akan mengingat semuanya.