
Pemakaman Paman Mike baru saja dilakukan. Danita merasa begitu menyesal karena baru tahu semuanya. Paman Mike selalu kasar bukan karena tanpa alasan. Paman Mike ingin Danita membencinya karena pernah berniat untuk membunuh keluarga Danita. Sampai akhirnya memilih menyelamatkan Danita.
"Don. Bawa Danita pulang," kata Malvin.
"Baik."
Don menarik tangan Danita dengan kasar. Danita mencoba melepaskan, hanya saja tenaganya tidak sebesar itu. Di dalam mobil Don tidak mengatakan apapun. Sementara Malvin masih berada dipemakaman. Berharap ada orang datang dan tahu tentang Paman Mike.
Sampai dirumah Danita dibawa masuk ke kamar. Kali ini sikap Don tidak sekasar tadi. Dia sudah diberi tahu Malvin jika saat didepan orang lain. Hubungan Malvin dan Danita begitu tenang dan harmonis. Termasuk pelayan dirumah.
"Nyonya sudah kembali. Mau saya siapkan apa?" Tanya Lin.
"Aku..."
"Nyonya ingin istirahat Lin. Tolong bawa dia ke kamar." Kata Don memotong pembicaraan Danita.
"Baik Don. Mari Nyonya."
Danita hanya pasrah. Malvin memang bukan orang sembarangan. Dia terlihat begitu ramah dan suka berdonasi untuk apapun saat di muka umum. Hanya saja itu sebuah topeng belaka. Malvin adalah orang yang kejam karena masa lalu. Tidak segan untuk menyakiti orang disisimya untuk tujuanya sendiri.
"Apa yang ada didalam liontin lily itu?" Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Danita membuka kotak perhiasanya. Dia sengaja meletakan kalung itu disana. Karena jika disembunyikan akan mudah ditemukan.
Perlahan Danita membuka liontin itu. Melihat jika disana masih ada sebuah memori kecil. Tentu saja orang-orang mengincar isi didalamnya. Hal apa sampai semua orang mengincarnya? Pertanyaan itu muncul dibenak Danita.
Tuk tuk tuk.
Suara langkah kaki mendekat. Danita langsung kembali meletakan kotak perhiasan itu. Pura-pura sedang menyisir rambut yang tergerai.
Cklek.
Malvin masuk. Dia mendekat pada Danita dan menariknya. Memojokan Danita sampai Danita tidak bisa bergerak.
"Dimana kalung itu?"
"Tidak tahu."
"Apa kau sudah pandai berbohong sekarang?"
"Untuk apa aku berbohong pada orang yang ahli bohong sepertimu."
Malvin menyeringai. Entah kenapa dia lebih suka dengan Danita saat ini. Melawan dan tidak menampakan kepolosan, lebih menonjolkan rasa beraninya.
"Berikan padaku atau aku akan menelanjangimu."
"Tidak peduli. Aku tidak tahu dimana kalung itu."
Perlahan tangan Malvin mulai turun dari kepala Danita. Meraih baju Danita dan membuka kancing satu persatu. Danita memejamkan mata, bukan menikmati, tapi dia merasa begitu terhina saat ini.
Tok tok tok.
"Siapa?!" Teriak Malvin.
"Saya, Don."
"Sialan. Aku melepaskanmu saat ini. Lain kali jangan harap kau akan bisa lari Danita."
Malvin keluar. Melihat Don yang sudah siap untuk pergi.
"Mau kemana?"
"Dimarkas ada yang memberontak."
"Kamu saja yang pergi. Aku ingin istirahat." Ucap Malvin.
"Baik Tuan."
Malvin kembali masuk ke kamar. Melihat Danita yang masih terpaku dengan apa yang dilakukan oleh Malvin. Malvin tersenyum dan mendekat, menatap wanita yang sudah jatuh kedalam perangkap cintanya ini.
"Kau sedih karena Paman Mike mu meninggal?" Tanya Malvin.
"Ya. Aku kehilangan satu-satunya orang yang peduli padaku."
__ADS_1
"Dia pembunuh. Dia yang sudah membunuh keluargamu Danita."
Danita menatap pada Malvin. Pria itu sungguh keras kepala. Sulit untuk membuatnya berubah pikiran pada saat ini.
"Danita. Berikan kalung itu dan kita lihat semuanya. Kamu akan tahu siapa yang membuat orang tuamu dan ayahku meninggal."
Danita menggeleng. Saat ini Danita tidak percaya pada siapapun. Dia ingin melihat sendiri apa yang ada di dalam memori itu. Danita ingin tahu yang sebenarnya, bukan hanya sebatas kata.
"Danita. Dimana kalung itu," ucap Malvin lagi.
"Aku tidak tahu."
"Kau yakin? Apa perlu aku mencarinya sendiri?"
"Terserah kau Malvin. Aku lelah."
Danita memilih untuk pergi dari kamar. Pikiranya begitu kacau saat ini. Dia tidak tahu dirinya harus apa. Bagaimana menyikapi Malvin dan ada apa di dalam memori itu.
"Nyonya."
"Ya Lin. Ada apa?" Tanya Danita saat Lin mendatanginya di taman belakang.
"Ada telfon untuk Anda." Lin memberikan telfon pada Danita.
"Halo."
"Selamat siang. Saya Herman. Orang yang ditugaskan membersihkan rumah dari Tuan Mike. Apa semua yang ada didalam akan dibuang?"
"Jangan. Aku akan datang kesana sebentar lagi."
"Baik. Kami tunggu."
"Terima kasih."
Danita mengembalikan ponsel itu pada Lin. Kemudian kembali ke kamar. Ternyata Malvin sudah tidak ada disana. Sedikit membuat Danita lega. Dia mengambil tas juga mantel karema diluar cukup dingin.
"Mau kemana Nyonya?" Tanya Lin.
"Aku harus mengurus barang dari Paman Mike. Aku pergi dulu."
"Apa semua ini barang dari Paman Mike?" Tanya Danita.
"Ya. Hanya kardus besar ini yang berisi beberapa dokumen. Untuk baju dan hal yang biasa sudah kami bawa pergi."
"Baiklah. Terima kasih."
"Sama-sama. Untuk pembayaran Anda bisa kirim melalui aplikasi kami."
"Baik."
Danita duduk dirumah itu. Rumah yang dulu dia tinggali dengan Paman Mike. Rumah sederhana yang memiliki banyak kenangan.
Baru saja Danita akan membuka kardus itu. Seorang wanita masuk kerumah tanpa permisi. Wanita paruh baya itu mendekat pada Danita.
"Apa kau datang sendiri?" Tanya wanita itu.
"Maaf, Anda siapa ya?"
"Tidak peduli siapa aku. Apa kau datang sendiri?"
"Aku diantar sopir."
"Baguslah. Dia berada jauh dari sini."
Wanita paruh baya itu duduk disamping Danita. Mengeluarkan sebuah dompet yang terlihat lusuh. Dia tersenyum dan memberikan dompet itu ketangan Danita.
"Mike ingin kamu tenang dan bahagia. Terima ini, ini adalah tabungan yang kamu tolak dulu. Disinj juga ada kunci apartemen. Semuanya lengkap. Mike begitu menyayangimu Danita."
"Kau siapa?"
"Aku bukan siapa-siapa. Tolong tetap jadi anak Mike."
Wanita itu akan pergi sampai Danita menahan tanganya. Dia ingin tahu apa saja tentang Paman Mike. Selama ini Danita selalu tutup mata dan telinga. Sampai saat sadar semuanya sudah berakhir.
__ADS_1
"Bawa kardus besar itu. Lambat laun kau akan tahu siapa Mike."
Wanita itu pergi begitu saja. Danita hanya bisa mendengarkan wanita itu saat ini. Membawa kotak kardus itu, bukan kerumah Malvin. Danita memberikan alamat dimana sebuah apartemen atas namanya berada.
Disisi lain.
"Apa yang terjadi?" Tanya Malvin
"Seorang wanita mendatangi Danita. Sepertinya dia memberikan sesuatu pada Danita."
"Hanya itu?"
"Dia tidak pulang kerumahmu. Sepertinya dia datang ketempat lain."
"Ikuti dia. Laporkan hal yang penting. Kau tahu itu."
"Baik."
Danita tidak tahu jika Malvin sudah menyewa orang untuk mengawasinya. Tentu saja karena Malvin ingin tahu dimana Danita menyembunyikan kalung liontin lily itu.
Malvin duduk dan kembali melihat dokumen di depanya. Dia harus kembali bekerja, tentu saja untuk sebuah kamuflase dimana citra baik sudah mendarah daging baginya. Dengan donasi juga bantuan pada orang yang butuh. Malvin akan semakin terlihat menakjubkan. Mereka tidak tahu jika malaikat itu berhati iblis.
"Malvin."
"Kau datang?" Tanya Malvin saat melihat Mel datang.
Kali ini Mel tidak menggunakan pakaian kerja. Dia memakai pakaian biasa. Bahkan memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya.
"Tolong kau bawa ini ke tempat Tuan G," kata Malvin.
Mel tidak menerima itu dan malah menatap pada Malvin. Duduk di meja Malvin dengan posisi menggoda.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Malvin.
Tidak ada kata, Mel memberikan sebuah surat pada Malvin. Itu adalah surat pengunduran diri yang dibuat oleh Mel.
"Kau mau pergi?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Aku lelah berada disisimu dengan jarak. Aku ingin lebih."
"Mel. Aku sudah punya istri."
Mel tersenyum. Dia kali ini bahkan lebih berani. Melepaskan mantel hangatnya dan menampakan baju seksinya pada Malvin.
"Bagaimana? Aku lebih baik dari istrimu bukan?"
Malvin menatap wanita di depanya ini. Wanita yang tidak pernah mengejarnya meski tahu jika selalu akan dicampakan.
"Pergi."
"Kau yakin?"
"Mel."
"Shhhttt." Mel mendekat dan merangkul Malvin dari belakang, "aku rela jadi tempat kesekian bagimu. Asal kau ada untukku."
"Benarkah?"
"Ya."
"Bagaimana jika aku ingin kau melakukan hal gila?"
"Apa?"
"Kau bukan wanita biasa Mel. Aku tahu keahlianmu. Cari tahu tentang Razka."
"Razka. Ada apa dengan dia? Dia kakak sepupu yang culun bagiku. Pengusaha biasa."
"Tidak. Jika kau berhasil mengetahui siapa Razka sebenarnya. Aku akan berikan apa yang kau mau tadi."
__ADS_1
"Ok."
Cup. Setelah mengecup pelan pipi Malvin. Mel melepaskan tanganya dan kembali memakai mantelnya. Mengerling nakal pada Malvin dan pergi dari ruangan itu.