
Di dalam lift Danita hanya menatap lurus. Menunggu sampai di lantai yang dia tuju. Sampai saat dilantai empat. Pintu lift terbuka. Danita keluar dengan kardus yang dia bawa.
Melihat nomor dipintu. Danita berhenti 910. Danita mengeluarkan kuncinya pasnya dan masuk. Di dalam sudah terlihat banyak perabotan. Bahkan terkesan jika lama tidak ditinggali.
Danita meletakan kotak itu dan mulai melihat-lihat rumah itu. Disana ada sebuah foto keluarga yang membua Danita langsung mendekat. Foto Paman Mike, sampai akhirnya Danita menyadari jika rumah itu milik keluarga Paman Mike.
Dalam foto ada Paman Mike, istri, juga dua anak yang tampan dan cantik. Danita melihat toto itu dengan senyum. Bagaimana tidak, mereka terlihat begitu bahagia.
Selama ini Danita tidak pernah melihat anak dan istri paman Mike. Danita menyimpan foto itu. Lalu kembali berkeliling apartemen barunya itu.
Ting tong ting tong.
Suara bel pintu membuat Danita kaget. Dia bergegas keluar dan melihat siapa yang datang. Ternyata seorang nenek dengan kaca mata.
"Halo Nek."
"Halo. Apa kau penghuni baru apartemen ini?" Tanya wanita itu.
"Ya Nek. Saya Danita."
"Apa kau membeli sendiri dari Mike?"
"Masuk dulu yuk, Nek."
"Tidak. Lain kali saja. Aku hanya ingin melihat siapa yang membeli apartemen ini."
"Baik Nek."
Setelah itu Nenek itu pergi. Melihat kembali apartemen itu. Dia merasa tenang dan nyaman. Mungkin untuk sesaat dia bisa lari dari Malvin. Meski itu hanya sebentar saja.
Telfon Danita berbunyi. Ternyata sopir Danita yang menelfon. Danita sengaja membuat Sopir menunggu dilantai bawah. Dia tidak mau sopir itu mengadu pada Malvin.
"Nyonya. Ini sudah waktunya kembali."
"Baik. Aku akan datang."
Setelah membereskan kardus besar yang dia bawa. Danita bergegas untuk turun. Dia kembali bertemu Nenek itu ditangga.
Danita mengulas senyum. Nenek itu juga melakukan hal yang sama. Sampai nenek itu memegang tangan Danita dengan lembut.
"Apa kau sudah menikah?"
"Sudah Nek. Ada apa?"
"Beruntung sekali suami yang mendapatkan istri cantik sepertimu. Jika belum menikah Nenek pasti akan mengenalkanmu pada cucu Nenek."
"Nenek bisa saja."
"Siapa namamu tadi?"
"Danita Nek."
"Aku Maria."
"Salam kenal Nek Maria." Ucap Danita.
Ting.
Pintu lift terbuka. Danita melangkah pergi sembari melambaikan tangan pada Nenek Maria. Nenek itu mengangguk dan tersenyum.
"Kenapa begitu lama Nyonya?"
"Ada hal kecil yang harus aku lakukan. Ayo."
"Baik Nyonya."
__ADS_1
Mobil berjalan perlahan meninggalka. Gedung apartemen Golden. Tidak menyangka jika akhirnya Danita akan memiliki apartemen ditempat itu.
*Bagaimana harimu?*
Pesan itu dikirim oleh Wina.
*Seperti biasa. Hanya memiliki bumbu yang berbeda.*
Balasan itu dikirim Danita setelah beberapa saat.
Sampai dirumah Danita turun dari mobil. Danita mengambil nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan. Begitu sedikit tenang Danita masuk kedalam.
Saat itu ada beberapa pria dan wanita. Seperti bos dan sekertaris. Mereka terlihat begitu serius saat Danita masuk.
"Maaf mengganggu." Ucap Danita.
Orang-orang itu mengangguk. Sampai Malvin menatap Danita. Danita tahu harus apa, dia mendekat pada Malvin dan mengagguk perlahan.
"Perkenalkan. Ini Danita Brown, istri saya," kata Malvin.
"Kapan kalian menikah?" Tanya sala satu dari mereka.
"Kami sengaja melakukanya dalam diam. Bagi kami cinta tidak perlu diumbar." Jelas Malvin sembari menatap pada Danita.
"Kalian memang terlihat serasi. Yang satu tampan, yang satu lagi cantik."
Mereka berbincang cukup lama sampai akhirnya para pemilik perusahaan itu berpamitan pulang. Dengan senang hati Malvin mengantarkan mereka.
"Aku harap pertemuan kita lain kali ada istrimu. Dia terlihat seperti penyemangatmu," kata pemilik group G.
"Baik Pak."
Danita duduk di sofa. Ingin sekali istirahat, tapi baru sampai rumah harus menemui tamu dari Malvin. Ingin pergi, namun tidak sopan pastinya. Baru saa Danita akan merasa nyaman. Malvin masuk dan langsung menariknya dengan keras.
"Kenapa kau datang lewat depan? Kau membuat aku malu dengan orang-orang itu."
"Apa maksudmu Malvin. Mereka terlihat baik padaku."
"Ya. Mereka kasihan karena apa yang mereka lihat. Lain kali jika kau menggunakan pakaian sederhana semacam ini jangan menemui teman dan rekan bisnisku. Paham."
"Paham."
"Dari mana saja kau hari ini?" Tanya Malvin.
"Rumah Paman Mike."
"Benarkah?"
"Apa kau begitu tidak mempercayaiku. Lain kali buat beberapa orang mengikutiku."
Ponsel Malvin ternyata berdering. Melihat nama yang menelfonya. Malvin langsung terlihat tenang.
"Pak Malvin. Aku akan menandatangani kontrak itu. Hanya saja aku ingin kau datang kerumahku untuk makan malam," kata Tuan G.
"Baik Pak. Saya dengan senang hati menerima undangan bapak."
"Apa aku bisa bicara dengan istrimu?" Tanya Tuan G.
"Tentu." Malvin memberikan ponselnya pada Danita.
Danita menerimanya dan melihat nama Tuan G.
"Angkatlah dan bicara yang benar." Bisik Malvin.
Danita mengangguk.
__ADS_1
"Halo Tuan G."
Tuan G terdengar tertawa. "Kau begitu sopan Bu Danita. Oh ya, Apa Pak Malvin sudah mengatakan tentang acara makan malam bersama?"
Danita menoleh. Melihat Malvin mengangguk, Danita akhirnya mengangguk.
"Sudah Tuan G."
"Panggil saja Pak G. Istriku ingin bertemu denganmu. Dia semangat setelah mendengar aku bercerita tentangmu," kata Tuan G.
"Baik Pak."
"Kalau begitu salam untuk Pak Malvin. Sampai bertemu nanti malam."
Telfon itu berakhir. Malvin kembali menatap Danita. Dia tidak menyangka jika Danita akan terus berkata jujur. Bahkan tahu jika Malvin akan marah dan kesal. Wanita itu tidak peduli.
"Lin." Teriak Malvin.
"Ya Tuan."
"Siapkan gaun malam untuk makan malam dengan Tuan G. Buat dia cantik namun tidak murahan," kata Malvin.
"Baik Tuan."
***
Mel sedang memikirkan apa yang dikatakan Malvin. Status lain dari Razka. Hal ini cukup menarik bagi wanita seperti Mel. Wanita yang dididik akan pengetahuan lebih.
"Mel kau disini?" Tanya Razka melihat Mel berada dikantornya.
"Ya Kak. Aku ingin jalan-jalan, tapi tidak tahu mau kemana."
"Kau ini. Bukankah kau seharusnya bekerja pada Malvin. Kenapa kau datang padaku?"
Mel tidak menjawab. Dia sibuk memakan cemilan ditanganya.
"Dia ingin kau memata-mataiku?" Canta Razka.
"Aku sudah berhenti bekerja untuknya."
"Apa?!" Razka tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Perjalanan pengejaran Mel pada Malvin hampir semua orang tahu. Jadi mendengar Mel melakukan hal ini begitu mengagetkan.
"Jangan begitu. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri saat mendekatinya. Bukan karena aku berhenti."
"Aku kira."
Razka duduk dan melihat dokumen dan beberapa email yang masuk. Meski Mel datang untuk mengganggunya. Razka selalu saja mengacuhkanya.
"Bisakah aku bekerja disini?" Tanya Mel.
"Tidak ada lowongan untuk orang sepertimu," jawab Razka.
"Aku akan bilang pada Papa."
"Aku tidak peduli."
"Kau selalu saja mengajakku berperang, Kak Razka."
"Maaf Mel. Sebaiknya kau pulang dan kembali mengejar pangeranmu itu."
"Sialan. Sudahlah, aku pergi."
Mel keluar. Razka tidak melakukan pekerjaanya lagi. Dia malah memikirkan Danita, istri Malvin. Dia tidak tahu apa Danita benar-benar saling mencintai dengan Malvin. Hanya saja pengejaran cinta Mel tentu akan semakin brutal. Razka takut wanita itu akan terluka. Mel bukanlah tandinganya.
__ADS_1