Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Selepas kepergian Danita dan Malvin. Nenek Maria masih saja mengomel karena tahu jika yang menjadi suami Danita adalah Malvin. Bagi Nenek Maria, Malvin bukanlah pria yang baik. Dia cuek dan tidak terlalu menghormati orang tua.


"Ma. Sudahlah, lagi pula Danita saling mencintai dengan Malvin." Ucap Istri Tuan G mencoba menenangkan nenek Maria.


"Tidak. Pasti dia disihir oleh Malvin." Jawab Nenek Maria ketus.


Tuan G yang mendengar akhirnya sedikit marah. Dia menutup laptop didepanya dengan keras.


"Ma. Mau Danita dengan Malvin atau siapapun, itu bukan urusan kita. Mama juga tidak seharusnya memikirkan cucu Mama terus. Dia hanya anak panti asuhan," ucap Tuan G.


"Kau ini. Seharusnya kau punya anak agar aku tidak mengadopsi. Tahunya hanya marah saja." Setelah mengatakan itu nenek Maria langsung bangun dan pergi ke kamarnya.


Tuan G akan segera menyusul sampai istrinya menahan tangan Tuan G. Istri Tuan G memang tidak pernah bisa satu arah dengan Nenek Maria. Mungkin karena selama ini istri Tuan G tidak mau punya anak.


"Maaf. Jika saja aku tidak punya prinsip itu. Mama pasti tidak akan mudah emosi."


"Ini bukan salahmu. Kita sudah sepakat sebelum menikah." Tuan G memeluk istrinya dengan erat.


Saat itu deru mobil terdengar. Tidak lama seorang pria dengan kaca mata namun terlihat tampan itu masuk. Melihat kedua orang tuanya sedang duduk dan terlihat sedih membuatnya langsung mendekat.


"Untuk apa kamu pulang?" Tanya Tuan G ketus.


"Pa. Aku baru saja selesai kerja. Ada apa?" Tanya Lucas.


Tuan G akan bicara, namun istri Tuan G buru-buru menyela.


"Tidak ada apa-apa Lucas. Nenek menunggumu di kamar. Jangan lupa kamu juga harus makan malam."


"Baik Ma."


Istri Tuan G dan Tuan G pergi meninggalkan Lucas. Sejak awal Lucas tahu jika Tuan G tidak mengharapkannya sama sekali. Lucas sadar, hanya saja karena nenek Maria begitu mengikatnya. Membuat Lucas menepis rasa malu dan harga diri terinjak itu.


"Nenek." Panggil Lucas sembari masuk ke kamar Nenek Maria.


"Kau pulang." Nenek Maria memeluk Lucas begitu dia masuk. "Nenek ada kabar gembira," ucap Nenek Maria sembari mengajak Lucas duduk.


"Ada apa Nek?"


"Nenek melihat wanita yang begitu cantik. Hanya saja dia sudah menikah. Namanya Danita, jika bersamamu pasti sangat cocok," kata Nenek Maria.


Lucas tersenyum.


"Kenapa hanya tersenyum? Kau tidak suka."


"Aku suka Nenek."

__ADS_1


"Lain kali aku akan kenalkan kamu padanya. Aku harap Danita bercerai dengan suaminya. Dia bisa bersamamu."


"Nek. Jangan seperti itu. Apa nenek sudah minum obat?"


"Kau mengalihkan pembicaraan. Aku sudah minum."


Lucas tersenyum. Dia sudah biasa menghadapi nenek Maria. Orang tua itu begitu menginginkan seseorang yang memperhatikanya. Kenyataanya, hanya Lucas yang ada.


Setelah mengobrol banyak dengan nenek Maria. Lucas kembali ke kamar. Dia duduk dan mengingat nama Danita. Dia mengingat wanita yang dulu pernah dia sukai. Meski wanita itu sudah menikah dengan pria lain.


***


Danita dan Malvin baru saja sampai dirumah. Danita yang tidak nyaman menggunakan baju-baju seperti gaun dengan banyak hiasan membuatnya memilih berganti pakaian.


Sementara Malvin duduk di depan laptop dan melihat pekerjaan kantornya. Dia juga melihat email-email yang diberikan oleh Don.


"Bagaimana kamu kenal dengan Nenek Maria?" Tanya Malvin saat Danita keluar dari ruang ganti.


"Tidak sengaja bertemu."


"Baguslah kalau kau bisa kenal denganya."


Danita merasa aneh karena Malvin tiba-tiba baik. Danita duduk dan mulai menghapus make upnya.


"Halo. Ada apa Don?" Tanya Malvin sembari mengangkat telfonya.


Tubuh yang terlalu lelah membuat Danita langsung terlelap. Malvin menatap Danita yang tengah tertidur itu. Kenangan masa lalu muncul. Hanya saja semua itu ditepis oleh Malvin. Sebelum dia mendapat kalung itu dia tidak tahu apa Danita berpihak padanya atau tidak.


Ponsel Malvin kembali berdering lagi. Kali ini Mel yang menelfon. Semalam ini Mel menelfon pasti ada yang salah. Malvin dengan tenang mengangkatnya.


"Hei. Apa kau pacar wanita ini? Dia mabuk dipinggi jalan. Merepotkan saja," ucap wanita dari balik telfon.


"Maaf. Anda siapa?"


"Aku wanita yang menemukanya. Dia terlihat begitu gila karena mabuk. Jemput dia sekarang."


"Baik. Baik. Tolong jaga dia sebentar."


Malvin bergegas untuk menjemput Mel malam itu. Danita membuka matanya sesaat setelah Malvin pergi keluar. Sejak tadi Danita tahu jika Malvin menatapnya. Danita juga mendengar percakapan telfon Malvin.


"Apa kau benar Malvin cinta monyetku?" Bisik Danita pada dirinya sendiri.


Bahkan Danita sadar kembali. Sejak menikah Malvin sama sekali belum pernah menyentuhnya. Hal ini membuat Danita tahu jika dia bukanlah tipe Malvin. Malvin ingin wanita yang seperti Mel, berani dan mau berpakaian bebas.


Disisi lain.

__ADS_1


Mel terus meracau tentang cintanya pada Malvin. Mengatakan pada orang dijalanan jika dia selama ini belum bisa mendapatkan Malvin. Cintanya bertepuk sebelah tangan.


Setelah meracau Mel kemudian menangis sesenggukan. Dia memeluk tiang disisinya. Tidak berapa lama dia akan menari, sampai akhirnya dia bertemu seorang wanita.


"Kamu tahu pacarku? Kenapa dia masih belum datang. Aku lelah menunggu," kata Mel.


Wanita itu tidak menjawab. Dia langsung mengambil ponsel di tas Mel dan menelfon kontak teratas. Ternyata nomor Malvin.


Tidak berlangsung lama Malvin datang. Ternyata Mel sudah tidak jauh dari rumah Malvin. Melihat Mel dengan pakaian terbuka dan sedang mabuk membuat Malvin tidak tega.


"Kau pacarnya? Lain kali jaga pacarmu dengan benar. Bagaimana kalau dia dibawa oleh orang tidak bertanggung jawab."


Wanita itu memberikan ponsel Mel pada Malvin.


"Terima kasih sudah menolong."


"Ya. Sekarang urus saja wanitamu."


Dengan susah payah Malvin membawa Mel masuk ke mobil. Dia mengencangkan sabuk pengaman pada tubuh Mel dan membawanya pulang kerumah. Saat ini Malvin malas membawanya kembali pulang. Jadi membawa Mel kerumah adalah jalan terbaik saat ini.


Danita masih belum memejamkan mata saat suara gaduh terdengar. Dengan tenang Danita menggunakan baju hangat dan keluar. Melihat Malvin yang datang merangkul Mel.


Suara gaduh terjadi karena para pelayan yang datang membantu. Mereka langsung membawa selimut juga barang dari mobil Malvin.


"Kau. Kau wanita yang mengambil Malvin dariku." Ucap Mel pada Lin yang saat itu datang.


"Diam Mel. Dia asisten dirumahku," ucap Malvin.


Malvin masih membantu Mel berjalan ditangga. Sampai saat Mel melihat Danita yang sedang berdiri menatapnya. Dengan sempoyongan Mel mendekat pada Danita.


"Kau. Kau Danita bukan? Pelayan yang ingin jadi cinderella," kata Mel.


Danita hanya diam dan menatap miris pada Mel.


"Jangan harap kau menjadi cinderella dan menemukan pangeran seperti Malvin. Malvin itu milikku," kata Mel.


Saat itu tidak ada jawaban sama sekali dari Danita. Danita berfikir jika percuma menjawab orang mabuk. Tidak ada gunanya sama sekali.


"Kenapa diam? Takut padaku?" Tanya Mel.


Saat itu Mel mengayunkan tanganya untuk memukul Danita. Danita mundur satu langkah. Ayunan tangan yang hanya mengenai udara membuat Mel limbung dan akan terjatuh.


Malvin buru-buru mendekat dan membantu Mel. Wanita itu tidak jadi jatuh. Bahkan berhasil memeluk Malvin dengan erat.


"Aku mencintaimu," ucap Mel sembari akan mencium Malvin.

__ADS_1


Cup. Sebuah kecupan terjadi antara bibir dan bibir.


__ADS_2