Agora : Love And Hurt

Agora : Love And Hurt
Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Buru-buru Malvin menaiki tangga. Dia mencari tempat yang dikatakan oleh penculik itu. Benar saja Malvin melihat seorang wanita terikat dengan pakaian yang sudah tidak beraturan. Bahkan kepalanya ditutup dengan kain hitam.


Dengan tenang Malvin mendekat dan membuka ikatatan itu. Wanita itu langsung membuka penutup kepalanya.


"Kamu!" Seru Malvin melihat wanita itu.


Tanpa ragu Mel langsung memeluk Malvin. Dia menangis tersedu saat itu. Membuat Malvin hanya bisa diam dan membawanya kemobil.


Malvin tidak menyangka jika Mel lah yang diculik. Sementara sejak tadi ponsel Danita tidak bisa dihubungi. Sampai di mobil Malvin langsung menelfon Don.


"Cari dimana Danita."


"Apa Nyonya belum ditemukan?"


"Cari saja. Aku akan pulang sebentar lagi."


"Baik."


Baru saja Don akan keluar. Mobil yang digunakan Danita datang. Danita turun dengan selamat. Bahkan tidak terlihat baru saja diculik.


"Nyonya. Anda kembali."


"Ya. Kenapa Don?"


"Bukankah Anda diculik?"


"Diculik? Aku baru saja dari apartemenku."


"Lalu siapa yang diculik?" Don terlihat kebingungan.


Danita mengambil ponselnya dan melihat panggilan tidak terjawab dari Malvin. Bukan satu atau dua, melainkan puluhan kali.


"Sekarang dimana Malvin?" Tanya Danita.


"Tuan sudah menelfon jika dia akan kembali beberapa saat lagi."


"Baiklah."


Benar saja. Tidak lama Malvin datang. Dia menggendong Mel dan membawanya masuk. Saat melihat melihat Danita. Malvin langsung memberikan Mel pada Don. Dia berlari pada Danita dan langsung memeluknya dengan erat.


Danita terperanjat karena hal itu. Kali ini jelas sekali jika Malvin begitu khawatir akan dirinya. Untuk sesaat Danita memejamkan mata. Dia merasakan kenyamanan yang begitu dia rindukan. Bahkan pesan dari Paman Mike sudah tidak pedulikan oleh Danita.


"Kau tidak apa?" Tanya Malvin.


"Aku tidak apa-apa."


"Baguslah. Aku begitu sulit menghubungimu."


"Maaf. Aku istirahat tadi."


Saat Malvin akan mendekat dan mencium Danita. Tiba-tiba Mel terbangun, melihat hal itu di depanya langsung tidak terima. Dia langsung turun dari gendongan Don dan berjalan terhuyung pada Malvin.


"Jangan," ucap Mel dan langsung memeluk Malvin dari belakang "dia bukan wanita yang baik." Kata Mel.


Danita yang melihat kelakuan Mel menatap tidak percaya. Dia bahkan tidak tahu tentang penculikan ini. Kenapa saat ini tiba-tiba Mel mengatakan hal aneh.


"Lepaskan aku Mel."


Malvin melepaskan pelukan itu, kembali Mel pingsan saat itu. Don dengan sigap langsung menggendong Mel dan membawanya ke kamar tamu.

__ADS_1


"Panggilkan Dokter, Lin," kata Malvin.


"Baik Tuan."


Sementara Danita memilih masuk ke dalam kamar. Dia duduk dan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Apa yang diketahui Mel sampai melakukan hal seperti itu. Bahkan Mel memeluk Malvin dengan sangat erat.


"Kamu marah?" Tanya Malvin saat masuk ke dalam kamar.


"Tidak. Aku hanya tidak tahu apa yang terjadi."


"Jangan pikirkan apa yang dikatakan Mel."


Danita mengangguk. Entah kenapa perlakuan Malvin pada Danita kini semakin halus dan menenangkan. Seakan apa yang pernah terjadi dan jadi tujuanya tidak pernah ada sebelumnya.


"Maaf. Aku tidak bisa membawa kalung itu kembali." Ucap Malvin.


Danita terdiam. Ternyata penculikan ini masih bersangkutan dengan kalung liontin lily itu. Membuat Danita semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam kalung itu.


"Danita." Panggil Malvin.


"Ya."


"Aku akan menemui Dokter lebih dulu. Kamu istirahat dulu."


"Baik."


***


Tuan G duduk di ruanganya dengan tidak sabar. Dia bahkan mengabaikan telfon dan pesan yang dikirim padanya. Sampai saat pintu terbuka dan mendapati Lucas disana.


"Akhirnya kamu datang juga," kata Tuan G dengan senang hati.


"Kau sudah mendapatkanya?" Tanya Tuan G.


Lucas mengambil barang itu dari kantung celananya. Tuan G mengambil itu dan langsung memeluk Lucas dengan tawa senang. Dia merasa sudah menang saat ini.


"Mulai hari ini kau bisa memanggilku Papa, Lucas."


"Pa...papa."


"Ya. Kemarilah, aku bangga padamu."


"Terima kasih, Pa."


"Temui nenekmu dulu. Nanti kita bicara lagi."


"Baik."


Lucas keluar dari ruangan Tuan G dengan bahagia. Dia merasa sudah mendapatkan hati dari ayah angkatnya itu. Selama ini Tuan G tidak pernah menerima jika Lucas memanggilnya Papa. Sekarang ayah angkatnya sendiri yang memintanya.


"Akhirnya usahaku tidak sia-sia."


Selama ini Lucas tahu jika Danita memiliki kalung liontin lily itu. Itu sebabnya Lucas begitu perhatian. Tidak menyangka jika akhirnya Lucas benar-benar jatuh hati. Tidak tega menyakiti wanita itu.


Sampai sebuah informasi datang. Kalung itu diambil oleh Mel. Tentu saja ini kesempatan bagus. Tanpa melukai Danita, tapi Lucas berhasil mendapatkan kalung itu.


"Lucas." Panggil nenek Maria begitu sampai di rumah.


"Ya Nek. Nenek dari mana?" Tanya Lucas.

__ADS_1


"Dari apartemen. Kau terlihat bahagia," kata Nenek Maria.


"Tentu saja. Papa sudah mau memelukku Nek."


"Benarkah. Nenek ikut senang ya sayang," kata Nenek Maria.


Lucas merentangkan tanganya dan berniat untuk memeluk Nenek Maria. DDOORRR, DDOORR. Dua tembakan berhasil menembus tubuh Lucas. Membuat Lucas langsung terjatuh pada pelukan nenek Maria.


Nenek Maria kaget saat melihat tanganya sendiri penuh dengan darah. Menatap kearah tembakan dan melihat Tuan G disana.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nenek Maria.


"Dia pantas mendapatkanya. Dia pembohong yang handal."


"Nek. Maafkan Lucas ya Nek," ucap Lucas dengan terbata dan lemas.


"Lucas. Bangun Lucas. Lucas." Panggil nenek Maria.


Istri Tuan G yang mendengar keributan langsung keluar dari kamar. Melihat jika anak angkatnya sudah bersimbah darah dipelukan nenek Maria.


"Lucas. Kamu kenapa Lucas?" Tanya istri Tuan G.


Nenek Maria hanya menangis dan menggenggam tangan Lucas.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya istri Tuan G pada Tuan G.


"Ini pantas untuknya. Dia sendiri yang mengatakan. Jika misi ini gagal, dia harus dibunuh. Untuk menutupi jejak." Ucap Tuan G tanpa rasa bersalah.


"Dia anak angkat kita."


"Aku tidak pernah menganggapnya."


Setelah mengatakan itu Tuan G kembali masuk ke dalam ruanganya. Dia melempar kalung itu dengan sembarangan. Dia merasa sudah dihianati. Dalam kalung yang ia dapatkan, tidak ada kartu memori. Kosong.


"Cari kembali tentang kalung itu." Kata Tuan G dalam telfon.


"Baik."


Sementara Nenek Maria hanya bisa menahan amarah saat cucu kesayanganya meninggal. Bahkan rasa bahagia itu rasanya hancur karena apa yang dia lihat. Senyuman itu menjadi senyuman yang terakhir bagi Lucas.


Istri Tuan G mendekat dan akan memegang Lucas. Nenek Maria menepis tangan itu dengan kasar.


"Jangan sentuh cucuku. Kamu tidak berhak," kata nenek Maria.


Istri Tuan G langsung terdiam dan menundukan kepalanya. Dia merasa begitu salah saat ini. Apa lagi nenek Maria menatapnya dengan dingin. Seperti saat mereka bertemu pertama kali.


"Jika kau tidak punya prinsip itu. Pasti cucuku saat ini sudah besar. Hal ini juga tidak akan terjadi. Kau memang wanita pembawa sial."


Air mata istri Tuan G tidak bisa dibendung. Air mata itu bukan hasil dari kata-kata menyakitkan nenek Maria. Melainkan karena dia tidak bisa menyentuh Lucas. Dimana dia sudah menganggap anak itu seperti anaknya sendiri.


"Tidak usah berwajah sedih. Kau tidak punya hati seorang ibu." Kembali nenek Maria mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan hati.


"Maaf, Bu."


Nenek Maria tidak menggubris. Dia meminta pengawalnya untuk melakukan hal baik pada tubuh Lucas.


"Jangan sampai wanita ini menyentuh cucuku. Kalian paham?"


"Paham Nyonya."

__ADS_1


__ADS_2