
Baku tembak terus terjadi. Razka masih menggendong Danita yang begitu lemah. Bahkan pandanganya semakin kosong. Sampai di lantai dasar Malvin masuk. Melihat istrinya yang dibawa oleh Razka.
Razka masih belum sadar jika disana ada Malvin. Dia terus mencoba menghindari peluru yang mengarah padanya.
"DANITA." Teriak Malvin.
Danita sadar dari apa yang terjadi. Menoleh keasal suara dan melihat Malvin yang begitu dia rindukan. Dengan sekuat tenaga Danita turun dari gendongan Razka.
Langkahnya yang tidak seimbang hampir saja membuatnya terjatuh. Peluru yang berhamburan sudah tidak dipedulikan lagi oleh Danita. Sampai dia berhasil memegang tangan Malvin dan memeluknya.
Razka menatap semua itu dalam diam. Tidak menyangka jika cinta yang bertepuk sebelah tangan ini begitu menyakitkan. Dia harus rela saat wanitanya memilih untuk memeluk pria lain.
"Kamu tidak apa?" Tanya Malvin.
Danita menggeleng. Dia kembali memeluk suaminya itu. Tidak peduli apa yang sudah terjadi. Saat ini Danita sudah jatuh cinta pada Malvin.
Sampai dimobil kembali Malvin mencoba mengecek tubuh Danita. Dia tidak ingin ada lecet sedikitpun ditubuh istrinya itu.
"Dimana Razka?" Tanya Danita kemudian.
"Kenapa kau menanyakanya disaat seperti ini?" Tanya Malvin yang tidak suka.
"Dia sudah menyelamatkan aku. Kamu bahkan datang terlambat."
"Sebaiknya kita kembali lebih dulu. Besok baru bertemu dengan Razka."
"Baiklah."
Don meminta pihaknya untuk mundur. Begitu juga dengan pihak dari Razka. Meski Razka hanya menolong Danita, namun dia merasa lebih baik karena Danita sudah aman.
Dalam perjalanan pulang. Danita terlelap, beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyaman. Bahkan pikiranya begitu kacau saat tahu jika dirinya hamil. Takut jika dia akan benar-benar dijadikan objek untuk Wina.
"Danita."
Malvin menoleh dan melihat Danita sudah terlelap. Dengan perlahan Malvin menghentikan mobilnya. Dia menyelimuti tubuh Danita dengan jas yang dia pakai. Menatap wajah itu dan mengecup pelan.
"Dimana wanita itu?" Tanya teman Razka saat sudah di mobil.
"Kembali dengan suaminya." Jawab Razka singkat.
"Apa?! Kau gila, kau melakukan semua ini untuk istri orang?"
Razka tersenyum miris. Dia tidak tahu jika Malvin akan datang saat itu. Jika tahu sudah pasti dia akan memilih untuk melihatnya saja. Ternyata cintanya yang buta membuat Razka bodoh.
"Apa mereka saling cinta?"
"Mungkin."
"Mungkin? Jadi ini yang membuatmu mengejarnya."
"Dev. Hentikan ocehanmu. Aku benar-benar sudah kacau."
Saat itu mereka tertawa dengan senang. Apa yang dialami Razka memang begitu menyakitkan. Hanya saja Razka tidak mau ambil pusing. Suatu saat, jika memang garis jodoh berada diantara Danita dan Razka. Mereka pasti akan bersama.
***
Wina masih terus menahan rasa sakit dilengan kirinya karena tembakan yang terjadi. Saat ini dia berada di dalam helikopter dan menuju ke tempat Pak Gun. Pak Gun sendiri yang menginginkan Wina datang.
Baru saja sampai. Beberapa perawat langsung menghampiri Wina. Mereka merawat Wina dengan cakap. Sampai saat Pak Gun datang menemuinya.
"Wina."
__ADS_1
"Maafkan aku Pak Gun. Aku tidak tahu jika semua itu akan terjadi."
"Tidak masalah. Siapa yang melakukan ini?"
"Aku tidak tahu."
"Malvin?"
"Bukan."
"Lalu siapa Wina?"
"Aku benar-benar tidak tahu Pak."
"Laporan baru sampai padaku. Orang yang hilang dari sana hanya Danita. Pasti Malvin yang melakukanya bukan? Apa kau mencoba menutupinya."
"Aku benar-benar tidak tahu Pak."
Percakapan itu berakhir begitu saja. Pak Gun kembali keruanganya. Dia terlihat gelisah karena bukan Malvin yang melakukan hal itu.
Sampai di hotel Malvin langsung menggendong tubuh Danita. Dia juga meminta seorang sekertasis wanita untuk membelikan baju untuk Danita. Tidak mungkin Danita akan terus memakai pakaian itu.
Baru saja meletakan Danita diatas kasur hotel. Tangan Danita terbuka dan sebuah kartu memori jatuh. Malvin mengambil dan menatapnya. Lalu menatap pada Danita.
Malvin tidak tahu jika itu kartu memori yang dia cari. Sebenarnya sebelum kekacauan. Wina sedang berada di kamar Danita. Mencoba membuat Danita merasa benci pada Malvin. Hanya saja saat Wina mencoba melakukan hal lain penyerangan itu terjadi.
Kartu memori yang awalnya berada di saku Wina jatuh. Hal itu digunakan Danita untuk mengambil kartu memori. Tidak menyangka jika yang datang Razka dan menolongnya.
Malvin bersiap melihat apa yang ada di dalam kartu memori itu. Saat Danita sadar dan langsung memegang tanganya.
"Kau bangun?"
"Bisakah kau temani aku sampai aku tidur kembali?"
"Kenapa tidak." Malvin mengantongi kartu memori itu.
Tok tok tok.
Malvin berdiri dan melihat siapa yang datang. Ternyata sekertarisnya dengan tas belanja.
"Ini kartu bapak," kata Sekertaris itu.
"Bawa saja. Mungkin aku akan butuh yang lain nanti."
"Baik Pak."
Malvin memberikan tas belanjaan itu pada Danita. Danita melihat isinya dan tersenyum.
"Terima kasih."
"Danita."
"Ya."
"Kenapa kau berubah?"
"Berubah kenapa?"
Malvin menarik tubuh Danita lebih dekat padanya. Menatap manik mata Danita dengan lekat. Dia tidak ingin ada kebohongan sama sekali.
"Apa yang terjadi padamu disana?"
__ADS_1
"Kenapa? Apa aku aneh?"
"Kau begitu penurut. Mereka memberimu obat?"
Danita tersenyum. Dia memang sudah luluh sepenuhnya pada Malvin. Bukan karena obat penurut. Hanya saja karena Danita merasa kasihan pada Malvin. Dia menjadi korban karena kekejaman orang tuanya.
"Ada apa?" Kembali Malvin bertanya.
"Bukankah kau suka seperti ini?"
Malvin hanya menyunggingkan senyum. Danita masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badanya. Saat akan memakai baju ganti Danita kaget. Pakaian dalam yang digunakan begitu seksi, terkesan seperti wanita yang sedang menggoda.
"Lupakan Danita. Kau memakaianya didalam. Malvin tidak melihatnya." Pikir Danita.
Danita masih tidak sadar jika kaca kamar mandi itu bisa terlihat dari luar. Malvin sengaja memesan kamar itu.
Kembali ke kamar sudah banyak makanan yang tersedia. Bahkan Danita tidak menyangka jika Malvin akan melakukan hal ini. Baru saja duduk Malvin mengatakan jika ada barang yang tertinggal di kamar mandi.
"Malviiiin!?" Teriak Danita begitu tahu jika kaca itu tampak jelas dari luar.
"Apa?" Tanya Malvin tanpa merasa bersalah.
"Kau pasti melihat semuanya bukan?" Tanya Danita kemudian.
"Kenapa? Kau milikku. Aku bisa melihat semuanya semauku."
Danita langsung cemberut dan merasa lelucon Malvin ini begitu keterlaluan.
"Danita. Ayo makan."
"Tidak mau," ucap Danita.
Perkataan itu langsung terbantahkan saat perut Danita berbunyi. Danita hampir tertawa dan masih berpura-pura marah. Sampai akhirnya dia tidak tahan dan tertawa, Malvin melihat tingkat lucu itu dan ikut tertawa.
"Ayo makan. Kasihan anak kita," kata Malvin.
"Apa kau yakin anakmu?" Tanya Danita menggoda.
"Apa kau sudah bermain dengan orang lain?"
"Apa aku semurahan itu?"
"Cukup. Ayo makan dulu."
"Baiklah."
Danita duduk disisi Malvin. Dengan sabar Malvin membuka bungkus makanan itu. Baru saja membukanya Danita langsung merasa mual. Dia bahkan lari ke kamar mandi.
"Kau tidak apa?" Tanya Malvin yang langsung mengikuti Danita ke kamar mandi.
"Aku tidak lapar Malvin. Aku ingin tidur saja."
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Iya."
"Lalu makananya bagaimana?"
"Berikan saja pada Don atau yang lain."
"Baiklah. Ayo aku bantu kamu ke kamar lagi."
__ADS_1