Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 10 Mama


__ADS_3

Pagi hari Lisa seperti biasa, ia akan membersihkan tubuhnya lalu sarapan, tapi hari ini ia menyiapkan bekal untuk Arga, sebagai ucapan terima kasih. Lisa hanya menyiapkan sanwich kerena waktu yang ia miliki tidak banyak. Setelah itu Lisa langsung berangkat ke kantor dengan menggunakan taksi yang di pesannya. Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, Lisa sampai di kantor, ia masuk ke lantai 20, lalu langsung menyiapkan keperluan kerjanya. Arga juga baru sampai, ia langsung menuju ruangannya melewati ruangan Lisa. Lisa yang melihat Arga, ia langsung menyapa sambil menunduk hormat


" Selamat pagi pak."


Arga hanya menanggapi dengan senyuman ramah. Setelah sudah melihat atasanya masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya, Lisa memutusakan untuk keruangannya, ia langsung mengetuk pintu


Tok-tok


" Masuk."


Setelah mendengar jawaban dari dalam, Lisa langsung masuk ke dalam


" Bapak hari ini tidak ada meeting di luar, bapak hanya akan meeting di kantor jam 10.30."


" Baiklah. Lisa tolong jemput Putri di sekolah, nanti bawa Putri kemari."


" Baik pak, oh ini ada sedikit makanan sebagai rasa ucapan terima kasih saya."


" Terima kasih Lisa."


Setelah itu Lisa keluar dari ruangan atasanya, ia juga memasang alaram pukul 10.00WIB untuk menjemput Putri, lalu ia mulai mengerjakan pekerjaannya


Dret...dret..


Alaram yang Lisa nyalakan sudah berbunyi, ia langsung mematikan alaram itu, lalu langsung ke ruangan atasanya


Tok-tok


" Masuk."

__ADS_1


Lisa masuk ke dalam setelah mendapat ijin dari dalam


" Permisi pak, sudah waktunya bapak menuju ruangan meeting."


" Iya, berkasnya saya bawa sendiri, kamu berangkat menjemput Putri. Supir saya sudah menunggu di lobi."


" Baik pak."


Lisa langsung keluar dari ruangan itu, ia langsung pergi untuk menjemput Putri. Setelah menempuh perjalanan 30 menit, Lisa sampai di sekolah Putri. Lisa turun dari mobil, ia melihat sekolah itu sudah sepi, ia memutuskan masuk ke dalam kelas, lalu melihat Putri yang sedang menangis sambil di tenangkan oleh ibu guru


" Putri..."


Ibu guru itu melihat ke arah Lisa, termasuk Putri yang melihat Lisa dengan pandangan sedih


" Mohon maaf bu, saya tidak tau kenapa Putri menangis, saya sudah bertanya padanya, tapi Putri tidak menjawab pertanyaan saya."


Lisa langsung tersenyum saat mendengar penjelasan dari ibu guru itu, ia langsung berjongkok di depan Putri


Putri tidak menjawab pertanyaan dari Lisa, ia langsung memeluk Lisa dan menenggelamkan kepalanya di leher Lisa. Lisa langsung menggendong Putri, lalu berpamitan pada ibu guru


" Kalau begitu saya pamit dulu bu, terima kasih karena sudah menjaga Putri."


" Sama-sama bu, tentu itu sudah tugas saya."


Lisa langsung keluar dari kelas menuju mobil, seteleha di mobil ia menenangkan Putri sambil mengelus rambutnya perlahan. Isak tangis Putri kini berubah menjadi nafas beraturan. Lisa mengusap air mata Putri dan ingusnya, lalu mengecup kening putri dengan perasan sayang. Setelah sampai di kantor, Lisa langsung menggendong Putri untuk menuju ke ruangan atasanya. Seluruh karyawan memandangnya dengan pandangan terkejut, ada juga yang memandangnya dengan iri dan benci. Lisa tidak peduli dengan tatapan para karyawan, ia terus berjalan ke ruangan atasannya, hingga ia sampai di ruangan atasanya, lalu ia langsung masuk ke dalam ruangan itu, ia yakin kalau atasanya belum selsai meeting. Lisa duduk di sofa bersama Putri yang masih di dekapannya. Lisa melihat ke arah pintu yang terbuka, ia melihat atasanya. Arga langsung membuka jas nya, lalu ia memutuskan mengambil Putri dari Lisa, tapi ternyata Putri mengeratkan pelukannya dengan keadaan masih tertidur, bahkan kini Putri menangis lagi, membuat Arga ke bingungan karena Putri menangis tanpa sebab


" Putri kenapa menangis, apa mau cerita sama kak Lisa?"


Putri mendongkakkan kepalanya dengan pipi yang penuh dengan air mata, lalu ia menatap ke arah papanya, tanpa menjawab pertanyaan dari Lisa

__ADS_1


" Papa, apa mama tidak ingin menemani Putri seperti teman-teman Putri?"


Arga sangat terkejut dengan pertanyaan Putri, ia langsung merentangkan ke dua tangannya untuk menggendong Putri dan akan menjelaskan tentang mama Putri, akan tetapi Putri enggan untuk melepaskan pelukannya dari Lisa. Arga menghela nafas, lalu ia mengelus rambut Putri


" Sayang, mama selalu menemani Putri di mana pun Putri berada, walau pun mama tidak terlihat, tapi mama selalu ada di sisi Putri, hanya saja mama tidak bisa seperti teman-teman Putri."


" Tapi Putri ingin mama yang terlihat pa, Putri malu sama temen-temen Putri, setiap kali teman-teman Putri bertanya di mana mama Putri."


Putri kembali menangis, saat mendengar jawaban dari Arga, ia langsung menenggelamkan kepalanya lagi pada leher Lisa. Lisa hanya bisa mengelus rambut Putri untuk menenangkan. Arga menunduk, memijat pelipisnya yang merasakan sakit. Arga tau kalau Putri membutuhkan sosok seorang mama, tapi mau bagai mana lagi kalau tuhan berkehendak lain. Lisa melonggarkan pelukan Putri, ia menatap Putri sambil menampilkan senyum terbaiknya


" Putri boleh ko menganggap kak Lisa sebagai mama Putri, kak Lisa juga akan senang kalau memiliki anak secantik Putri."


Dengan suara Pelan Putri memanggil Lisa mama


" Mama."


Lisa tersenyum saat mendengar panggilan mama dari Putri. Arga menatap Putri dan Lisa secara bergantian, lalu ia memanggil sesaorang untuk membawa Putri keluar, awalnya Putri menolak, tapi dengan segala bujukan, ia pun mau untuk keluar. Sekarang hanya tinggal Lisa dan Arga di ruangan itu


" Lisa, kamu serius menyuruh Putri memanggilmu mama?"


Pertanyaan Arga membuat Lisa sedikit tidak enak, bahkan ia meminta Putri untuk memanggilnya mama tanpa persetujuan sang ayah. Lisa berpikir dan bertanya-tanya pada hatinya, akan'kah Arga marah atas ucapanya, karena ia terlalu lancang dan gegabah. Lisa langsung terduduk dengan pikiran gelisah. Arga yang melihat Lisa, ia menyadari kalau Lisa takut ia marah


" Saya tidak marah Lisa."


Mendengar suara Arga, Lisa langsung melihat ke arah Arga, ia menunggu ucapan Arga selanjutnya


" Setelah kamu memberikan ijin memanggilmu mama, lalu bagai mana dengan suamimu. Apa'kah suamimu memperbolehkan Putri memanggilmu mama juga?"


Lisa yang mendengar pertanyan dari Arga, matanya mulai berkaca-kaca, ia mengingat kembali masalah bersama suaminya. Lisa langsung menundukan kepalanya karena ia sudah tidak bisa menahan air matanya yang menetes. Arga menyadari, kalau ucapanya salah, ia merasa bersalah karena telah mengingatkan luka yang ada di hati Lisa

__ADS_1


" Maaf, saya tidak bermaksud untuk mengingatkanmu dengan masalah yang kamu alami, tapi saya takut kalau masalahmu semakin banyak."


Lisa masih terus menangis, ia tidak menjawab ucapan dari Arga. Arga mengerti kalau Lisa sangat membutuhkan sandaran, ia bangun dari duduknya, ia langsung mendekati Lisa, lalu langsung memeluk Lisa tanpa minta ijin pada Lisa terlebih dahulu, karena hanya itu yang bisa di lakukan Arga. Lisa masih terus menangis, ia sama sekali tidak membalas pelukan dari Arga, tapi ia merasakan nyaman di pelukannya. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan, bahkan ia seperti tidak memiliki sandaran, tapi kali ini ia merasakan semuanya, tapi sayang bukan dari suaminya


__ADS_2