Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 13 Menghindar


__ADS_3

Arga memutuskan untuk tidak banyak berinteraksi berama Lisa, karena ia menyadari kalau ia mulai mencintai Lisa, tapi baginya sangat tidak mungkin bersama Lisa. Arga mencoba untuk tidak memperhatikan kehadiran Lisa. Seperti saat ini, Arga hanya menganggukan kepala saat mendengar sapaan dari Lisa. Arga mencoba fokus pada file-file yang ada di meja kerjanya, walau pun hatinya ingin sekali melirik ke arah Lisa yang hanya di batasi dengan dinding kaca. Berkali-kali Arga menghela nafas, karena untuk tidak melirik ke arah Lisa, tapi pada akhirnya ia pun mengikuti kata hatinya, untuk melirik ke arah Lisa. Arga menyadarkan tubuhnya sambil memandangi Lisa yang sibuk mengetik sesuatu di komputernya. Entah berapa lama Arga menatap Lisa, hingga Lisa juga menatap balik padanya sambil tersenyum. Arga yang di tatap oleh Lisa, ia langsung kembali melihat file-file dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Sedangkan Lisa menyiratkan dahinya, ia bingung dengan perlakuan Arga. Lisa memutuskan untuk ke ruangan Arga, karena ia berpikir mungkin Arga membutuhkan sesuatu


Tok-tok


" Masuk!"


Setelah mendapat ijin dari dalam, Lisa langsung masuk ke ruangan Arga, ia melihat Arga yang sedang fokus pada file-filenya


" Permisi pak, apa ada yang bisa saya bantu? Tadi saya lihat bapak memandang ke arah saya."


" Kamu tidak perlu ikut dengan pertemuan, saya akan pergi sendiri."


Arga bicara tanpa memandang Lisa, ia berpura-pura sibuk dengan berkas-berkasnya


" Baik pak."


Setelah baru juga beberapa langkah, Arga langsung melihat ke arah Lisa


" Oh iya, besok tolong suruh OB untuk pasang tirai iya Lisa."


Arga menyuruh untuk memasang tirai di dinding kaca pemisah dengan ruangan Lisa, karena ia takut kalau usahanya untuk melupakan Lisa gagal, walau pun ia merasa ragu, apa'kah usahanya akan berhasil, tapi jika Arga tidak bisa mengontrol hatinya, semua usaha akan tetap sia-sia, bukan'kah jika hati berkata, maka logika pun akan terkalah'kan

__ADS_1


" Baik pak."


Walau Lisa sangat terkejut dengan ucapan Arga, tapi ia hanya bisa menuruti kemauan Arga, ia di sini hanyalah sekretarisnya. Setelah itu Lisa keluar dari ruangan Arga, ia melanjutkan kembali pekerjannya. Baru saja jam menujukan pukul 10.00WIB, Arga sudah memutuskan untuk keluar dari kantor dengan membawa file yang belum di selsaikan, sebelum itu Arga menghampiri meja Lisa untuk berpamitan


" Lisa, saya akan pergi, jika ada orang yang ingin bertemu dengan saya, katakan kalau saya bisa di temui besok pagi. Setelah jam kerjamu habis kamu pulang saja, tidak perlu menunggu saya, saya akan langsung pulang ke rumah."


Tanpa menunggu jawaban dari Lisa, Arga sudah lebih dulu meninggalkan Lisa. Sikap Arga membuat Lisa bertanya-tanya karena tidak seperti biasanya, akan tetapi Lisa bisa apa, ia hanya berpikir kalau sikap Arga sedang memiliki masalah, jadi mood Arga sangat buruk


" Sebenarnya kenapa dengan pak Arga, kenapa sikap pak Arga berbeda, atau pak Arga sedang memilik masalah jadi mood pak Arga sangat buruk." batin Lisa


...****************...


Keesokan harinya, Arga berangkat pagi-pagi sekali, ia tersenyum puas saat melihat tirai yang sudah terpasang, ini yang di sukai oleh Arga, Lisa akan cepat dan sigap dalam menangani permintannya. Lisa berbeda dengan mantan-mantan sekretarisnya dulu, Lisa cerdas, sopan, ceria dan tidak pernah menyalahi atau melampaui batas antara sekretaris dan atasan, bahkan sebelum Lisa menikah dulu. Arga telah melihat kalau Lisa sudah keluar dari life dan menuju meja kerjanya, maka cepat-cepat Arga menarik tirainya, sebelum Lisa memasuki ruangannya untuk memberi tahu'kan jadwal, ia lebih dulu menelpon ke telpon kantor milik Lisa, lalu menanyakan jadwalnya hari ini melalui telpon. Setelah panggilan telpon berakhir Lisa melihat ke arah ruangan Arga, kini Lisa tidak bisa melihat lagi keadaannya di dalam, karena sudah ada tirai yang menghalangi pandangannya. Lisa sempat berpikir kesalahan apa yang ia buat, ia merasa ada yang janggal dengan sikap Arga, ia merasa kalau Arga sedang menghindarinya. Bukan apa-apa ia takut kalau ia melakukan kesalahan yang tidak ia sadari, sehingga membuat atasanya antipati pada dirinya dan membuat suasana kerja tidak nyaman. Jam makan siang sudah tiba, Lisa pun mengetuk pintu ruangan Arga, karena tadi Putri memintanya untuk makan bersama


Tok-tok


Setelah dapat ijin dari dalam, Lisa langsung masuk ke dalam ruangan Arga, dan di sambut pelukan hangat oleh Putri


" Mama.."


Setelah berpelukan, mereka melepaskan pelukannya, lalu Putri memutuskan mengajak makan bersama, seperti yang di janjikan Putri pada Lisa, sebelum Putri masuk ke dalam ruangan papa nya

__ADS_1


" Papa, ayo makan bersama mama."


Arga langsung berjongkok di depan Putrinya


" Maaf sayang papa tidak bisa makan bersama, papa sangat sibuk, papa harus menemui Klien, jadi Putri harus makan sama mama saja, tidak apa-apa'kan sayang?"


Putri sebenarnya sempet kecewa pada papa nya, tapi Putri mengerti kalau papa nya sedang sibuk, untuk itu ia pun menyetujui ucapan yang di katakan papa nya


" Baiiklah pa, Putri tidak apa-apa kalau harus makan sama mama saja."


Arga langsing tersenyum, lalu ia mencium kening Putri sekilas sebelum ia berdiri melihat ke arah Lisa


" Lisa, maaf saya harus merepotkanmu lagi."


" Tidak apa-apa pak."


Kecurigaan Lisa sangat kuat saat Putri mengajak dirinya dan Arga makan bersama, bahkan Arga menolak ajakan Putri dengan halus, dengan dalil bahwa Arga akan menemui klien, dan menyuruh Lisa untuk menemani Putri makan, jelas-jelas Arga tidak memiliki janji tamu karena Lisa lah yang mengatur pekerjaan Arga, tapi ia mencoba menepis ke curigannya, ia berpikir kalau Arga akan bertemu dengan urusan pribadi atau sedang pendekatan dengan wanita, sehingga Arga malu untuk mengakui kalau sudah memiliki anak, karena Lisa tau semenjak meninggal istrinya, ia tidak pernah melihat Arga memiliki hubungan dengan wanita mana pun. Lisa juga sudah sering melihat kunjungan dari wanita-wanita berkali-kali, tapi selalu berakhir gagal. Lisa berharap Arga bisa segera mendapatkan pendamping baru, yang bisa menyayanginya dengan tulus dan bisa merawat Putri


" Semoga saja pak Arga bisa segera mendapatkan pendamping yang baru, yang bisa menyanginya dengan tulus dan bisa merawat Putri." batin Lisa


Sepeninggalan Lisa dan Putri, Arga juga mengikuti mereka secara diam-diam, ia memilih tempat duduk yang tersembunyi, sehingga tidak bisa di ketahui oleh Lisa dan Putri. Setelah memesan makanan dan jus, Arga mulai memekan makanan itu sambil memandangi ke arah wanita yang sayangnya tidak bisa di takdirkan untuk bersama, ia membiarkan dirinya menjadi pengutit dan bayangan yang akan selalu ada di belakang Lisa dengan waktu yang ia juga tidak tau

__ADS_1


" Aku memang tidak tau, sampai kapan aku harus terus mengikuti Lisa, yang jelas aku lebih nyaman seperti ini, aku tidak ingin Lisa tau tentang perasanku. Entahlah, kenapa aku bisa semudah itu mencintainya, apa lagi jelas-jelas Lisa sudah memiliki suami. Arga, kamu itu bodoh, bisa-bisanya kamu mencintai wanita yang sudah bersuami." batin Arga


__ADS_2