Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 14 Aneh


__ADS_3

Arga merasa usahnya sia-sia, usahanya ternyata gagal. Bukan Arga tidak ingin berusaha menghindarinya, tapi karena ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk terus menghindarinya. Sudah 2 hari Lisa merasa Arga sedang menghindarinya, ia pun ingin tau kenapa Arga menghindarinya dan apa kesalahanya, karena ia merasa kerjanya tidak nyaman, otaknya tidak bisa fokus, otaknya terus bertanya-tanya kenapa Arga menghindarinya. Lisa langsung mengetuk pintu ruangan Arga


Tok-tok


" Masuk."


Lisa langsung masuk ke dalam ruangan Arga


" Mohon maaf pak, boleh saya bertanya?"


" Silahkan Lisa."


Arga masih fokus dengan berkas yang ada di tangannya


" Maaf kalau pertanyaan saya lancang pak, apa saya punya salah sama bapak?"


Arga yang terkejut mendengar pertanyaan dari Lisa, ia pun mendongkakan kepalanya, menatap ke arah Lisa, ia bingung harus jawab apa, apa lagi dengan jantungnya yang berdetak lebih cepat dan gugup, lalu ia sebisa mungkin untuk menutupi ke gugupannya


" Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Lisa?"


" Sikap bapak akhir-akhir ini sangat aneh, mulai dari memasang tirai, berangkat lebih pagi, dan bertanya tentang jadwal bapak melalui telpon, lalu bapak juga menolak makan bersama dengan Putri."


Arga semakin di buat terkejut dengan jawaban dari Lisa, benar'kah sikapnya sedikit aneh dan menjanggal, hingga Lisa menyadari secepat itu. Arga berpikir sejenak untuk menjawab pertanyan dari Lisa yang masuk akal, tapi otaknya tidak bisa untuk berpikir, hingga ia menjawab pertanyan Lisa dengan jawaban yang sudah ada di otaknya


" Tidak ada, mungkin hanya perasan kamu saja."


Menurut Lisa jawaban Arga kurang puas, jelas-jelas Arga sedang menghindarinya, akhirnya ia pun bertanya lagi


" Apa bapak merasa terganggu dengan saya karena saya selalu merepotkan bapak? Atau karena saya sangat lancang menyuruh Putri untuk memanggil saya dengan panggilan mama?"

__ADS_1


Lisa memperhatikan Arga, ia bisa melihat kalau tatapan Arga sendu, tapi beberapa detik kemudian Arga bersikap biasa saja. Arga ingin sekali mengucapkan


" Lisa Susanti, saya sama sekali tidak merasa di repotkan, saya juga senang kalau Putri memanggilmu mama, saya akan lebih senang kalau kamu bisa menjadi sosok ibu untuk anak saya, dan saya juga jatuh cinta sama kamu, saya juga tidak tau kapan saya jatuh cinta sama kamu." batin Arga


Tapi ucapan itu hanya bisa Arga ucapkan di dalam hati, karena ia masih sangat waras apa dampak dan akibatnya kalau ia menyatakan cintanya. Jadi Arga hanya bisa menghela nafas berat, lalu ia berdiri dari duduknya


" Dengar Lisa, sikap saya tidak ada kaitannya dengan kamu, hanya saja saya sedang banyak masalah."


Lisa ingin sekali menyela, ia ingin sekali bertanya


" Lalu kenapa bapak mengindari saya? Bukan'kah masalah bapak bukan dengan saya?" batin Lisa


Namen pertanyaan itu tidak Lisa ucapkan, karena melihat wajah lelah Arga, lalu Lisa memutuskan untuk keluar dari ruangan Arga


" Maaf pak, kalau begitu saya permisi dulu."


Arga hanya menjawab dengan anggukan kepala. Lisa langsung keluar dari ruangan Arga. Setelah Lisa pergi Arga langsung mengepalkan tangan kanannya, kini yang bisa ia lakukan hanya pasrah dengan takdir yang seolah-olah sedang menguji kesabarannya. Arga hanya bisa mencoba menata kembali hatinya dan mengabaikan kembali Lisa dengan cara yang aman. Arga akan kembali bersikap biasa saja dan mencoba berdamai dengan hatinya. Jam pulang pun sudah tiba, Lisa langsung keluar dari kantor itu, lalu masuk ke dalam mobil suaminya. Lisa langsung mencium tangan suaminya, di balas dengan Aska yang mencium keningnya, setelah itu Aska langsung melajukan mobilnya


Lisa sempat bingung dengan pertanyaan suaminya, karena dulu suaminya tidak pernah ikut campur urusan pekerjaannya, walau pun Lisa tau, sukses suaminya di bantu oleh Arga, tapi suaminya tidak pernah menanyakan tentang Arga


" Tumben mas bertanya tentang pak Arga?"


" Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja, apa lagi pertemuan terakhir kali kita tidak mengenakan. Aku takut itu mempengaruhi pekerjanmu."


" Tidak ada mas, pak Arga bukan orang seperti itu, hanya saja sikap pak Arga sudah 2 hari ini sangat aneh, dari pak Arga menyuruh memasang tirai, berangkat lebih pagi, menanyakan jadwalnya lewat telpon dan menolak makan bersama Putri juga, dengan alasan akan bertemu kelain, jelas-jelas pak Arga tidak memiliki janji tamu."


Setelah Lisa menceritakan semua tentang Arga pada Aska. Aska bisa menebak kalau Arga menyukai Lisa, ia pun tersenyum senang karena ia memiliki alasan baru untuk bercerai dengan sang istri, tapi ia juga akan memastikan terlebih dahulu, benar atau tidak bawa Arga menncintai istrinya


" Akhirnya aku memiliki alasan untuk bercerai dengan Lisa, aku akan pastikan lebih dulu tentang Arga, Agar aku tidak salah mengambil tindakan." batin Aska

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, mereka sampai di rumah. Sepertia biasa Aska dan Lisa berjalan beriringan masuk ke dalam rumahnya


" Lisa, lebih baik kamu mandi saja, aku akan pesan makanan untuk nanti kita makan, aku lihat kamu sudah terlalu capek."


" Iya mas."


Lisa langsung menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya, perlakuan Aska semakin hari semakin baik dan sangat perhatian, membuat Lisa sangat bahagia


" Aku tidak pernah menyangka, kalau mas Aska jauh lebih perhatian dari pertama awal menikah." batin Lisa


Setelah sampai di kamar, Lisa langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Aska, ia duduk di sofa sambil menunggu makanan yang ia pesan dari aplikasi. Tidak lama bell rumah berbunyi


Ting-tong


Aska langsung buru-buru mengambil makanan dari orang tersebut, setelah itu ia langsung menyajikannya di atas piring sambil menunggu Lisa. Setelah mandi Lisa langsung menuruni tangga, ia langsung mendekati suaminya yang baru saja selsai menata makanan itu


" Mas, kenapa tidak menungguku untuk menyusun makanan?"


" Tidak apa-apa, menyusun makanan soal gampang."


Aska langsung menarik kursi untuk Lisa, setelah Lisa duduk, Aska juga duduk. Mereka langsung memakan makanan itu sambil bercanda dan tertawa. Sudah lama Lisa tidak pernah bercanda dan tertawa sambil makan, tapi kini ia rasakan lagi, bahkan Aska juga sesekali menyuapi Lisa, termasuk Lisa yang sesekali menyuapi Aska, tapi tawa itu terhenti setelah ada bunyi getaran telpon milik Aska


Dret....dret...


Aska langsung melirik ke arah ponsel yang ada di atas meja, ia langsung merijek panggilan telpon tersebut, lalu langsung mematikan ponselnya. Lisa tidak tau siapa yang menelpon suaminya dan kenapa suaminya langsung mematikan ponselnya, membuat ia sangat penasaran, ia pun memutuskan untuk bertanya pada suaminya


" Mas, siapa yang menelpon? Kenapa mas merijek telponnya dan mematikan ponselnya?"


" Oh itu adalah karyawan kantor."

__ADS_1


Aska memutuskan untuk berbohong pada istrinya, yang menelpon bukanlah karyawan kantor, tapi yang menelpon adalah Sella. Lisa sebenarnya tidak yakin kalau yang menelpon suaminya itu adalah karyawan kantor suaminya, tapi ia tidak ingin bertanya lagi pada suaminya, ia hanya mencoba percaya pada suaminya, dan berharap kalau suaminya itu bisa setia padanya


" Aku berharap mas Aska bisa setia padaku, aku tidak masalah kalau mas Aska berbohong." batin Lisa


__ADS_2