
Aska belum menyerah dengan usahanya, ia tidak akan membiarkan usaha yang ia bangun dari nol hancur berantakan. Jika usahanya bangkrut maka Aska akan jatuh miskin, lalu bagai mana dengan hidupnya, karena kini orang tuanya tidak ingin mengakuinya, belum lagi sekarang ada anak di dalam kandungan Sella yang perlu ia biayai nantinya, ia juga tidak ingin anaknya mengalami hidup yang sulit, jadi malam ini Aska untuk mencoba peruntunganya untuk menjalin relasi atau mencari dukungan dari orang-orang untuk usahanya di pesta yang di adakan oleh salah satu pengusaha sama seperti ia. Aska datang bersama Sella. Aska tau banyak yang berbisik-bisik tentang ia, tapi ia memilih untuk mengacuhkannya, karena ia datang kesini untuk mencoba mengajak orang-orang, agar mau bekerja sama. Aska langsung menghampiri orang-orang yang ada di sana, untuk bergabung membicarakan bisnis. Aska berusaha keras untuk mempromosikan usahanya, dan berharap ada orang yang mau menjalin kerja sama denganya. Aska bisa melihat bahwa orang-orang yang ia ajak bicara seolah hanya menanggapinya untuk formalitas, bukan tertarik berbicara denganya, tapi Aska tetap berusaha keras untuk menemukan orang yang bisa membantu usahanya, dengan mendatangi orang-orang yang ada di sana secara bergantian, pada mulanya orang-orang tetap menanggapinya meski hanya sesekali, namen tiba-tiba perhatian orang-orang tertuju pada satu titik, membuat Aska dan Sella juga ikut melihat ke arah tersebut. Mereka berdua bisa melihat yang menjadi pusat perhatian adalah Arga dan Lisa. Lisa terlihat sangat cantik memakai gaun dan sangat serasi dengan Arga. Orang-orang mulai meninggalkan Aska, mereka menghampiri Arga, seolah-olah kehadiran Arga adalah lentera yang muncul di tengah malam. Sedangkan Aska dan Sella kini tersisih karena orang-orang yang Aska ajak bicara, menolaknya dengan halus dan memilih untuk menghampiri Arga. Aska bisa melihat kalau Arga dan Lisa seperti menjadi bintang pada malam hari ini, karena orang-orang silih berganti untuk menghampiri mereka. Aska berusaha untuk menghindari satu obrolan bersama Arga, tapi kini mau tidak mau ia bergabung bersama Arga, karena orang yang memiliki acara memanggil Aska untuk bergabung dengan mereka. Arga sendiri hanya tersenyum saat melihat Aska dan Sella berjalan ke arah ia. Arga tau kalau Aska akan datang ke sini, oleh sebab itu Arga mengajak Lisa untuk hadir di acara ini
" Wah, saya tidak menyangka jika ke dua bintang yang akhir-akhir ini sangat banyak di beritakan berada di satu acara yang saya adakan."
" Saya tau kamu memang yang merencanakan hal ini."
Arga menanggapinya dengan santai
" Hahahaha.... Kamu memang sangat cerdas, tidak heran kalau kamu bisa membangun usahamu sendiri dengan sesukses ini."
Aska hanya diam mendengarkan orang itu berbicara dengan Arga, ia menyadari kebodohannya sendiri, bagai mana ia tidak berpikir kalau Arga juga akan hadir di acara ini. Sesekali Aska melirik ke arah Lisa, yang tengah melingkarkan tangannya di lengan Arga. Sesekali Lisa juga tersenyum saat orang-orang memuji ia cantik atau terlihat serasi bersama Arga. Aska merasa kini hatinya sangat sakit, ia baru menyadari jika cintanya untuk Lisa masih ada. Arga yang dari tadi menyadari kalau Aska sedang memandang Lisa, ia langsung tersenyum pada Aska, lalu ia langsung berdehem, agar Aska berhenti memandang Lisa
"Ehhmmm..."
__ADS_1
Aska sadar telah terus memandang Lisa, kini ia beralih memandang Arga
" Karena pak Arga sangat sukses, bantulah pak Aska, dari tadi dia sedang mencari investor, tapi pak Arga tau sendiri mana bisa saya menjadi investor jika saya saja masih dalam pengembangan."
Aska sangat geram, mendengar ucapan dari orang itu, seolah-olah ucapannya sedang membantunya, tapi ternyata orang itu ingin mempermalukannya
" Bagai mana mungkin saya membantunya, jika yang menimpa pak Aska adalah karyaku."
" Saya tidak menyangka jika seorang pak Arga akan melakukan cara kotor demi hanya untuk mendapatkan seorang wanita."
" Saya tidak melakukan cara kotor, saya hanya melakukan kesepakatan yang lebih menjanjikan ke pada mereka dan mereka juga menyetujuinya."
" Baiklah, kita lihat saja, apa caramu bisa menjatuhkan usahaku."
__ADS_1
Aska menggandeng tangan Sella untuk pergi dari sana. Sebelum Aska menjauh dari sana, Arga melontarkan pertanyaan yang membuat Aska marah
" Bukan'kah usahamu memang sudah hancur?"
Aska tidak menggubris pertanyaan dari Arga, ia memilih terus berjalan untuk meninggalkan pesta, ia akan menjadi semakin malu jika terus meladeni Arga, karena tentu saja orang-orang akan membela Arga. Pengaruh Arga sangat kuat, dari pada Aska, mungkin saja orang-orang itu akan memojokan ia, demi untuk bekerja sama dengan Arga, jadi ia tidak ingin orang-orang itu memanfaatkan ia untuk mendapat kontrak dengan Arga. Aska dan Sella masuk ke dalam mobil. Aska berkali-kali memukul setir pada mobilnya, karena dengan begitu ia bisa melampiaskan amarahnya, lalu ia langsung melajukan mobilnya
" Apa mas Aska hanya bisa diam saja saat di permalukan? Seharusnya mas Aska melawan mereka."
" Jangan membuatku semakin marah!"
" Aku ingin jadi selingkuhan mas Aska karena aku ingin hidup terhormat, bukan malah di permalukan seperti ini."
Aska memarkirkan mobilnya dengan asal di depan rumah Sella yang dulu di belikan oleh Lisa, saat Sella baru menjadi asisten pribadi Aska, ia langsung memasuki kamar yang berbeda dengan Sella, karena ia tidak ingin mendengar ocehan dari Sella, ia ingin menenangkan emosi dan pikiranya. Setelah memasuki kamar Aska langsung membuka jasnya dan melemparnya ke lantai, saat Aska melempar dompetnya secara asal, perhatian ia tertuju pada foto yang jatuh dari dalam dompetnya, ia langsung melihat foto Lisa bersama ia saat liburan. Di foto Aska bisa melihat senyum cerah ia bersama Lisa, ia juga tidak menyangka jika rumah tangganya berakhir seperti ini. Kenang-kenangan Aska bersama Lisa, sekarang berputar di kepalanya, membuat ia tidak sadar sampai meneteskan air matanya. Bagai mana Aska dan Lisa berjuang dari nol, Lisa yang selalu mendukungnya, selalu menyemangatinya tanpa mengeluh, bahkan saat Lisa harus ikut hidup menderita, Lisa memberikan tabungan pribadi Lisa padanya, dan melakukan pinjaman untuk modal, tapi Lisa tidak pernah menyalahkan ia. Lisa selalu tersenyum saat menyambut kedatangan Aska, dan menyiapkan semua yang di perlukan ia. Aska menjambak rambutnya sambil menangis saat mengingat pengorbanan Lisa, di saat usahanya berhasil, tapi Lisa belum menikmatinya, bahkan ia dengan tega menghadiahkan rasa sakit hati pada Lisa. Hanya dengan melihat Lisa menggandeng tangan Arga saja, Aska sudah merasakan sakit hati, apa lagi dengan perasaan Lisa, bahkan Lisa melihat ia sedang memadu kasih bersama Sella di rumah mereka, dan Lisa masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki semuanya, tapi ia sia-sia'kan kembali. Jika Aska meminta kesempatan lagi apa Lisa mau memberikan kesempatan pada ia, setelah ia terus menorehkan rasa sakit hati, bahkan sekarang Lisa sudah mendapatkan orang yang tentu saja bisa membahagiakan Lisa
__ADS_1