
Setelah terus saja menangis di dada bidang milik Arga, Lisa langsung mendorong Arga sedikit agar renggang
" Maaf pak."
Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Lisa
" Tidak apa-apa Lisa, ayo saya antar kamu pulang."
Lisa hanya mengangguk, lalu ia mengikuti Arga yang berjalan lebih dulu. Setelah sampai rumah, Lisa langsung membirsihkan tubuhnya, lalu ia langsung mengistirahatkan tubuhnya, tapi setelah ia setengah tidur, ia merasakan kalau ada sesaorang yang memeluknya. Lisa merasa kalau ia sudah mengunci seluruh pintu, ia pun mencoba acuh dan mulai tertidur, tapi ia terbangun lagi saat merasakan ada tangan yang memeluk perutnya. Lisa langsung melihat ke arah perutnya, ternyata benar, ada tangan yang memeluknya. Lisa langsung melihat ke arah depan, ternyata yang memeluknya adalah suaminya, dengan pandangan terkejut ia menatap wajah suaminya. Lisa langsung memeluk suaminya dengan menenggelamkan dadanya di dada milik suaminya. Tangisan Lisa pecah, tapi ini bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan haru, dan bahagia. Aska memeluk Lisa untuk menenangkan tangisan istrinya. Lisa menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang sudah lama ia rindukan. Setelah tangisan Lisa reda, Aska melepaskan pelukannya, lalu turun dari ranjang dan pergi ke luar kamar. Lisa menatap nanar ke arah pintu, baru saja ia merasakan ke hangatan, tapi sudah terhempaskan. Lisa langsung duduk di atas ranjang, ia sudah tidak menangis lagi, air matanya sudah mengering. Aska masuk ke dalam kamarnya lagi, lalu ia mengelus rambut Lisa sambil memberikan air minum
"Minum dulu, bibirmu kering Lisa."
Lisa juga langsung meminum air yang di berikan Aska sambil terus menatap wajah Aska, ia takut kalau Aska menghilang lagi dari hadapanya
" Maaf, maafkan aku karena telah menghianati pernikahan kita, maafkan aku karena terus menyakiti hatimu."
Lisa masih diam, ia bingung mau mengatakan apa pada suaminya, karena ia tidak tau harus apa yang akan di lakukan suaminya selanjutnya. Bisa jadi ini permintaan maaf dan perpisahan bersama suaminya, yang bisa Lisa lakukan hanya menunggu kata-kata selanjutnya dari suaminya sambil meremas tangannya sendiri
" Mau'kah kamu memberikan kesempatan, setelah aku menyakitimu?"
Lisa sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari Aska, entah ada apa suaminya tiba-tiba datang dan meminta untuk kembali lagi, membuat Lisa berpikir
__ADS_1
" Bukan'kah mas Aska menginginkan persetujuanku untuk segera ingin bercerai, tapi kenapa sekarang meminta hubungannya di perbaiki, lalu bagai mana dengan anak yang ada di dalam kandungan Sella?" batin Lisa
Walau pun Lisa banyak pertanyaan di otaknya, tapi ia tidak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya, yang bisa Lisa lakukan hanya menatap suaminya dengan perasaan bingung sambil mencari kebenaran atas ucapan suaminya. Setelah itu Lisa menampar pipinya sendiri, ia yakin kalau ini hanyalah mimpi, tapi ia merasakan sakit di pipinya, itu berarti bukan mimpi. Aska yang menyadari istrinya ke bingungan, ia langsung berjongkok sambil meraih tangan Lisa, lalu langsung mencium tangan Lisa
" Aku tahu kamu pasti bingung dengan sikapku, tapi aku sadar bahwa sikapku selama ini salah. Memang benar aku pernah tersesat, tapi kini aku memutuskan untuk pulang, bukan'kah semewah-mewahnya fasilitas hotel lebih nyaman di rumah? Lisa, berikan aku kesempatan ke dua."
" Lalu bagai mana dengan anak kamu bersam Sella, mas?"
" Aku akan tetap bertanggung jawab dengan membiyayai segala kebutuhannya, tapi aku tidak akan menikahi Sella. Apa kamu mau memberikan kesempatan ke dua untuku?"
Lisa tidak bisa menjawab pertanyaan dari suaminya, bibirnya seperti terkunci, hatinya terlalu gembira hingga melemahkan saraf-sarafnya, lalu Lisa menganggukan kepalanya beberapa kali sambil meneteskan air mata bahagia. Aska menghapus air mata Lisa, lalu mencium keningnya. Aska membantu Lisa untuk membaringkan tubuhnya, lalu mencium keningnya lagi. Aska bebaring sambil mendekap Lisa dalam pelukannya. Lisa berpikir mungkin akan banyak orang yang mengatakan ia bodoh, dengan berjuang untuk lelaki yang sering menyakitinya, bahkan menerima lelaki itu kembali, tapi Lisa hanya ingin mengikuti kata hatinya. Hatinya masih menginginkan, merindukan dan mencintainya, biarkan ia terlihat bodoh di mata orang-orang, asalkan ia bisa bahagia selamanya bersama suaminya. Setelah beberapa menit tertidur pulas, mungkin karena Lisa sudah tidak memiliki rasa gelisah. Aska melonggarkan pelukannya, ia menatap Lisa yang sudah tertidur pulas. Aska mencoba melepaskan pelukan Lisa, tetapi ternyata usahanya gagal, hingga Aska memutuskan untuk ikut tidur
...****************...
" Aku akan mengantarmu bekerja hari ini."
Lisa hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah selsai makan, Lisa dan Aska berjalan ke luar rumah beriringan, lalu Aska membukakan pintu mobil sambil tangannya berada di atas kepala Lisa, agar tidak terkena atas mobil. Perlakuan hangat inilah yang membuat Lisa selalu mencintainya. Setelah di dalam mobil, ia mengobrol ringan dangan suaminya, lalu Lisa mengingat kalau ia belum memberitahukan tentang Putri
" Mas, aku lupa untuk mengatakan kalau Putri anak pak Arga, aku suruh memanggilku dengan panggilan mama. Kemarin Putri menangis di sekolah karena malu tidak memiliki mama seperti teman-temannya, untuk itu aku menyuruhnya memanggilku dengan panggilan mama."
Aska tidak langsung menjawab ucapan dari Lisa, membuat Lisa kuatir, respon apa yang akan di berikan suaminya. Lisa sempat menyesal karena ia mengambil keputusan mendadak, seandainya saja ia tau kalau Aska kembali, ia tidak mungkin melakukan itu, tapi ia menepis pikiran bodohnya
__ADS_1
" Mana mungkin aku membiarkan Gadis kecil seperti Putri terus menangis, apa lagi papa Putri juga selalu menolongku, mana mungkin aku membiarkan Putri tenggelam dalam kesedihan. Semoga saja mas Aska tidak marah, dan tidak salah paham atas kedekatanku." batin Lisa
Setelah beberapa menit diam, akhirnya Aska memutuskan untuk bertanya pada Lisa
" Apa'kah Arga sudah memberikan ijin untuk memanggilmu mama?"
" Sudah mas, kemarin pak Arga menyuruhku untuk meminta ijin terlebih dahulu pada mas, karena pak Arga tidak ingin kalau mas salah paham."
" Baiklah, kalau Arga sudah memberikan kamu ijin, maka aku juga mengijinkanmu, apa lagi Arga juga sudah banyak membantu istri tercintaku."
Aska mengatakannya sambil tersenyum dan mengelus pucuk kepala Lisa, membuat Lisa merasakan kehangatan lagi, kehangatan yang sudah hilang beberapa bulan ini. Lisa langsung berpikir ini mimpi, karena suaminya memanggilnya dengan panggilan istri tercinta
" Apa ini mimpi, atau ini nyata, kalau seandainya ini mimpi, semoga aku tidak pernah bangun dari tidurku." batin Lisa
Mereka sampai di depan kantor tempat Lisa bekerja, tapi Lisa masih duduk tenang dengan pikiranya sendiri. Aska langsung mencium kening istrinya sekilas
" Lisa, sekarang kita sudah sampai, apa kamu tidak ingin turun dari mobil?"
Perlakuan Aska menyadarkan Lisa dari lamunanya
" Iya, mas hati-hati di jalan."
__ADS_1
" Iya Lisa."