Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 15 Pengakuan Arga


__ADS_3

Sudah 1 bulan dari kepulangan Aska pada Lisa. Lisa merasa ada yang kurang tentang hubunganya, ia merasa hatinya gundah dan ragu, benar Aska telah kembali, tapi entah kenapa hatinya merasa di penuhi takut dan bimbang. Selama satu malam Lisa berpikir


" Mungkin kalau aku memiliki anak bersama mas Aska, hubunganku akan terasa hangat." batin Lisa


Lisa akhirnya berekad untuk memiliki anak, ia memutuskan berhenti bekerja agar lebih banyak waktu dengan Aska. Membuat kenang-kenangan yang manis agar bisa menghapus kenang-kenangan yang menyakitkan beberapa bulan ini. Mungkin ini waktu untuk memikirkan seorang anak. Walau pun Lisa akan berhenti bekerja, ia akan memberikan waktu untuk mendapatkan pengganti dirinya. Dengan senyum bahagia Lisa memasuki ruangan kerjanya, ia duduk di kursi kerjanya untuk menunggu Arga. Setelah beberapa menit, Lisa melihat Arga keluar dari dalam life dan melangkah menuju ke arahnya. Lisa langsung berdiri untuk menyapa Arga


" Selamat pagi pak."


Arga hanya menjawab sapaan Lisa dengan senyuman ramah, lalu langsung menuju ke ruangannya. Seperti biasa Lisa akan melaporkan jadwal ke pada Arga, ia langsung mengetuk pintu


Tok-tok


" Masuk."


Setelah mendengar jawaban dari dalam, Lisa langsung masuk ke dalam ruangan Arga. Arga sedang memeriksa laporan yang harus di selesaikan hari ini, lalu ia langsung msnyuruh Lisa untuk membaca persiapan jadwal hari ini


" Silahkan baca jadwal saya."


" Baik pak."


Lisa pun langsung membacakan jadwal Arga hari ini, setelah selsai ia masih berdiri di tempat. Melihat itu membuat Arga sedikit heran, lalu ia langsung bertanya


" Apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?"


Lisa tidak langsung menjawab pertanyan dari Arga, ia hanya memandang ke arah Arga, entah kenapa keyakinan Lisa tiba-tiba menghilang. Kebaikan-kebaikan Arga berputar di otak Lisa, membuat Lisa tidak enak hati. Arga yang melihat Lisa hanya diam dan hanya memandangnya, mencoba menyelami pikiran Lisa lewat tatapan matanya. Arga melihat ada keraguan di dalam manik matanya


" Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan."


Lisa yang mendengar perkatan Arga, ia semakin tidak enak hati, tapi ia akan tetap memberanikan diri untuk bicara, karena ini demi kebahagian rumah tangganya, kalau ia tidak segera ambil tindakan untuk berhenti kerja, ia takut kalau Aska kembali ke dalam pelukan Sella, apa lagi Sella menang satu langkah dengan memiliki anak, karena Aska sangat menginginkan anak. Arga menunggu dengan sabar, apa yang akan di katakan Lisa, walau pun mungkin ucapan Lisa membuat hatinya remuk

__ADS_1


" Saya mohon maaf pak, saya ingin berhenti dari pekerjaan ini."


Arga merasa hatinya sedang di remas-remas, ia merasakan sakit di dadanya. Arga menatap mata Lisa dengan pandangan terluka dan kecewa, tapi Arga mencoba mengendalikan dirinya dan bersikap baik-baik saja, dengan segera ia menormalkan kembali ekspresi wajahnya


" Apa alasan kamu mengundurkan diri?"


" Saya ingin fokus pada rumah tangga saya pak."


Lisa menjawab dengan sedikit ragu, karena ia melihat ekspresi Arga, yang menatapnya dengan tatapan sedih dan kecewa, walau pun hanya sebentar


" Baiklah, jika itu keputusanmu. Besok kamu bisa menyerahkan surat pengunduran dirimu pada saya, dan setelah itu kamu urus uang pesangonmu ke bagian HDR."


Setelah itu Arga langsung mengalihkan pandanganya pada berkas yang menumpuk di meja, ia mencoba menyembunyikan perasan terlukanya. Lisa sendiri merasa bingung, bukan'kah harusnya bahagia, karena telah di setuju oleh Arga, tetapi ia merasa tercubit, karena Arga semudah itu untuk melepaskannya. Bukan'kah dulu Lisa dan Arga pernah berjuang bersam-sama, tidak bisa'kah Arga menunjukan ketulusannya karena telah bekerja denganya selama ini


" Apa saya tidak perlu menunggu bapak untuk menemukan pengganti saya?"


Lisa tidak percaya dengan ucapan Arga, ia merasa kalau Arga sangat tega. Lisa masih diam di tempatnya, ia ingin mengatakan sesuatu pada Arga, tapi ia tidak tau dengan cara apa mengatakannya. Melihat Lisa yang masih diam di tempat, Arga mencoba untuk mengusir Lisa, bukan berarti Arga tidak suka pada Lisa, tapi karena ia tidak bisa lebih lama untuk menahan gemuruh di hatinya, ia takut kalau dirinya tidak bisa mengontrol perasaanya


" Pergilah, segera selsaikan pekerjanmu."


" Kenapa bapak tega sekali pada saya?"


" Apa maksudmu?"


" Bukan'kah bapak harusnya mencegah saya untuk keluar?"


Lisa melihat Arga berdiri dari tempat duduknya dan memandangnya, tapi ia tidak tau arti dari pandangan Arga


" Apa maksudmu?"

__ADS_1


" Bapak dan saya sudah bekerja sama selama bertahun-tahun, dan bapak dengan mudah melepaskan saya untuk berhenti, saya merasa tidak di hargai."


" Bukan'kah itu pilihanmu? Saya hanya mencoba untuk memahami pilihanmu."


" Seharusnya bapak berpura-pura untuk menahan saya, setidaknya kehadiran saya ini merasa di butuhkan, saya merasa bapak menunggu waktu untuk seperti sekarang ini."


Arga sudah tidak bisa lagi menahan gemuruh yang ada di hatinya, yang meminta untuk di keluarkan, ia mencoba mengatur dirinya dan mengatur emosinya, lalu ia memejamkan mata sambil membalikan badan membelakangi Lisa


" Pergilah, sebelum kamu menyesali apa yang akan saya katakan."


" Saya tidak menyangka kalau bapak egois."


Mendengar ucapan Lisa, membuat Arga sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, dengan cepat Arga membalikan badan, ia langsung menatap manik mata Lisa


" Dengar Lisa, mungkin setelah ini kamu akan menyesali keputusanmu karena telah berdebat dengan saya, dengar baik-baik yang saya katakan!"


Di tatap dengan sedemikian rupa, dengan nada tegas yang di keluarkan Arga, membuat Lisa menjadi takut, tapi harga dirinya malu untuk mengakuinya. Lisa mencoba menatap balik Arga, ia menunggu apa yang akan di katakan oleh Arga


" Saya mencintai kamu, saya tau perasan saya ini adalah kesalahan besar, karena kamu sudah bersuami, dan pagi ini kamu bilang ingin mengundurkan diri, kamu pikir perasaan saya itu sedang baik-baik saja? Tapi aku pikir ini yang terbaik untuk kebaikan kita semua. Kamu bisa bahagia bersama suami kamu, dan perasaan saya bisa memudar dengan berjalannya waktu."


Nafas Arga tersengal-sengal, ia mulai merasakan lega karena telah mengeluarkan apa yang terganjal di dalam hatinya, tapi ia juga merasa menyesal karena tidak bisa mengontrol emosinya. Kini Arga hanya menunggu respon dari Lisa. Arga menyadari kalau Lisa sangat terkejut, ia pun memutuskan untuk meninggalkan Lisa di ruangannya, sebelum Arga keluar, ia menoleh sebentar ke arah Lisa, namen Lisa masih saja diam mematung, lalu ia kembali melangkah, setelah membuka pintu, ia melihat Putri yang tersenyum lebar padanya


" Papa..!"


Putri langsung memeluk erat Arga, Arga bermaksud untuk membawa pergi Putri dengan menggendongnya, sebelum ia melihat Lisa, ia tau Lisa butuh waktu sendiri. Namen usahanya gagal karena Putri sudah menggerak-gerakan tubuhnya minta turun


" Mama.. Mama.."


Lisa tersadar dari lamunanya, lalu ia berusaha untuk tersenyum, lalu berjalan ke arah Putri. Setelah di dekat Putri dan Andika, Lisa hanya diam, ia ingin sekali mengambil Putri dari gendonganya, tapi ia merasa canggung

__ADS_1


__ADS_2