Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 25 Pukulan dari Dellon


__ADS_3

Mereka berempat sudah sampai di rumah orang tua Lisa. Arga ingin masuk karena ia ingin menjelaskan ke pada orang tua Lisa perihal tentang perasanya yang ia ungkapkan pada Lisa di pers konferensi tadi. Arga baru masuk ke dalam rumah orang tua Lisa, ia sudah mendapatkan pelukan dari Reyhan


" Bang, saya salut sama abang, dengan berani abang mengungkapkan perasaan pada kak Lisa."


Reyhan berbicara sambil menepuk-nepuk punggung Arga sangat keras. Reyhan melepaskan pelukanya, lalu mengacungkan dua jempol ke pada Arga. Arga hanya menggaruk-garuk tengkuknya sendiri, ia bingung dan salah tingkah dengan ke frontalan adik Lisa. Kini bisa di lihat kepala Reyhan terantuk kedepan setelah mendapatkan toyoran di kepalanya oleh Lisa. Lisa merasa kalau adiknya sungguh harus di periksa otaknya ke rumah sakit jiwa, karena yang Lisa lihat otak adiknya sedikit gesrek


" Aish... Kenapa kaka selalu memukul kepalaku?"


" Karena aku rasa otakmu harus di priksa ke dokter jiwa dek, siapa tau ada yang salah."


" Aku ini bukan gila kak, tapi pintar. Aku suka saja kalau kak Lisa lepas dari benalu, tapi dapat permata. Supaya buaya tau kalau kaka itu sangat berharga dan kaka tidak nyesel bercerai dengan buaya."


Lisa akan kembali menoyor kepala adiknya, tapi Bagas langsung membuka suara, membuat menghentika kegiatan Lisa


" Sudah-sudah, malu sama tamu, ayo nak Arga masuk dulu."


Lisa meringis malu, bagai mana ia bisa melupakan kehadiran Arga, karena beginilah Lisa, ia akan kembali menjadi anak kecil papa nya yang bisa melakukan apapun, dengan segala kekonyolannya bersama adiknya


" Begini pak, saya minta maaf karena sudah membuat bapak dan ibu terkejut dengan apa yang saya katakan tadi."


Arga memberi jeda sebelum ia melanjutkan ucapanya


" Tidak ada kebohongan pada apa yang saya katakan tadi mengenai perasaan saya pada Lisa, pak."


Bagas menghela nafas panjang, ia sangat terkejut dengan pengakuan Arga, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan perasaan Arga yang tumbuh, karena Bagas paham kalau cinta adalah anugrah dari tuhan yang di titipkan pada umatnya. Bagas juga harus memberikan batasan pada Arga, karena mengingat status Lisa yang masih menjadi istri Aska, tidak benar jika berdekatan dengan lelaki lain, maka prilakunya akan sama saja seperti Aska

__ADS_1


" Kamu tau'kan kalau Lisa masih menjadi istri orang? Terlepas dari sikap Aska, Lisa masih memiliki kewajiban untuk menjaga kehormatannya."


Arga memahami maksud dari Bagas, tentu saja ia sadar dengan posisinya dan posisi Lisa, tapi di sini ia juga tidak memaksakan perasaan Lisa, karena yang ia inginkan adalah membantu Lisa untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Tentang perasaannya akan Arga pikirkan nanti, ia juga paham jika Lisa dan ke dua orang tua Lisa masih butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya sendiri, hingga siap menerima orang baru, entah dirinya atau orang baru yang akan hadir nantinya


" Memang benar pak, saya mencintai anak bapak, saya juga sudah mengatakannya ke pada Lisa. Saya di sini hanya ingin membantu Lisa pak, itu pun jika bapak memberikan ijin pada saya."


Pada akhirnya Bagas menyerahkan semua keputusanya pada anaknya, ia yakin kalau Lisa sudah dewasa dan bisa menentukan keputusan dengan segala pertimbangan. Bagas memang sangat kuatir, ia takut Arga sama saja dengan Aska, tetapi tugasnya hanya bisa mengawasi, dan melihat semua hal yang Arga lakukan pada Lisa, membuat ia memberikan kepercayan meski hanya sedikit. Setelah itu Arga memutuskan untuk pulang, setelah ia selsai membicarakan tentang perasaanya


" Kalau begitu saya pulang dulu pak, bu."


" Iya nak, terima kasih sudah mengantar kami."


Arga menganggukan kepalanya, lalu langsung keluar dari rumah orang tua Lisa dengan di antar oleh Lisa sampai samping mobil


" Terima kasih pak untuk segalanya."


Lisa hanya menganggukan kepalanya. Arga langsung masuk ke dalam mobil, lalu langsung melajukan mobil itu


...****************...


Ting-tong


Aska langsung berjalan ke arah pintu, karena mendengar bell berbunyi, setelah membuka pintu Aska langsung di sambut dengan pukulan yang cukup keras, hingga membuatnya terjatuh. Aska mendongkakan kepalanya, untuk melihat siapa yang memukulnya, ia melihat ekspresi marah dari papa nya dan tatapan kecewa dari mama nya. Sella yang melihat Aska terjerembab ke tanah, ia langsung menghampiri Aska, lalu langsung membantu Aska untuk berdiri, walau pun ia takut untuk melihat ke dua orang tua Aska. Sella berharap ke dua orang tua Aska bisa merestui hubungannya, setelah melihat perutnya semakin membesar, apa lagi Aska juga anak semata wayang mereka


" Mulai dari sekarang kamu bukan lagi anak papa, dan jangan pernah lagi muncul di hadapan papa."

__ADS_1


Aska sangat terkejut saat mendengar ucapan dari papa nya, ia tau kalau ke dua orang tuanya sangat marah dan kecewa dengan tindakanya, tapi ia tidak menyangka kalau ke dua orang tuanya sudah tidak ingin mengakui ia sebagai anak. Aska langsung bersimpuh di kaki ke dua orang tuanya, ia berusaha memohon ampun dengan membujuk papa nya dan mama nya, ia berharap ke dua orang tuanya akan luluh


" Bukan ke pada mama dan papa, kamu bersimpuh Aska, seharusnya kamu melakukannya pada Lisa dan ke dua orang tuanya. Mama merasa, mama telah gagal mendidik kamu, melihat kamu mencoba melimpahkan semua kesalahanmu pada Lisa."


" Aska tidak memiliki pilihan lain ma, karena orang-orang menyudutkan Aska dan juga Sella. Aska kuatir kalau nanti akan berimbas pada anak kami."


Kini giliran Dellon yang berbicara pada Aska


" Papa tidak menyangka, kalau anak papa berubah menjadi banci seutuhnya, seharusnya kamu sadar kalau itu adalah konsekuensi dari perbuatanmu sendiri, karena kamu lebih memilih wanita itu dari pada kami dan Lisa. Papa berharap kamu tidak menyesali keputusanmu."


Lalu setelah itu ke dua orang tua Aska pergi dari rumah Aska. Aska langsung berdiri, ia mencoba untuk mengejar ke dua orang tuanya, tapi di tahan oleh Sella


" Nanti juga mereka akan luluh mas, setelah melihat cucunya, biarkan mereka menenangkan hati mereka."


Aska menjawab dengan anggukan kepala, ia akan memberikan ke dua orang tuanya waktu untuk menerima kehadiran Sella di kehidupanya. Aska duduk bersama Sella. Sella mengobati luka yang di sebabkan oleh Reyhan yang belum kering, di tambah lagi dengan pukulan dari papa nya, sesekali Aska meringis merasakan sakit


" Ahirnya kita akan segera besama mas, apa lagi sekarang orang-orang banyak yang memihak pada kita, setelah unggahan mas Aska."


Aska hanya tersenyum menanggapi ucapan Sella, ia merasa was-was hal yang akan terjadi kedepanya. Sekarang memang Aska bisa melimpahkan semua kesalahanya pada Lisa, tapi jika Arga sudah ikut campur, ia tidak akan mungkin untuk menang. Sella menyadari ekspersi Aska yang tidak menunjukan ekspresi kebahagiaan


" Kenapa wajah mas tidak mencerminkan kebahagiaan?"


" Aku sangat kuatir."


" Apa yang mas kuatirkan? Usaha yang mas bangun juga sudah baik? Sekarang simpati masyarakat juga sudah berpihak pada kita."

__ADS_1


" Mas tenang saja, Arga tidak akan merusak citranya hanya untuk seorang Lisa."


__ADS_2