Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 7 Drama


__ADS_3

Lisa memutuskan untuk pergi ke kamar, tapi tangannya di cekal lagi oleh Aska


" Lisa, aku mohon kabulkan permintaanku, mari kita bercerai."


Lisa langsung membalikan badan, tatapan matanya tajam, dan ia menghela nafas kasar berkali-kali


" Jika mas datang ke rumah untuk memohon perceraian , lebih baik mas pergi dari rumah ini, karena keputusanku akan tetap sama."


" Lisa, aku mohon sama kamu, tolong kasihani Sella dan anaknya, mereka butuh pertanggung jawabanku, kamu seorang wanita, bayangkan jika kamu ada di posisinya."


" Kenapa harus aku yang mengalah mas? Mereka yang merebut kamu dariku, tapi kenapa harus aku yang di salahkan, seolah-olah aku ini orang jahat. Seharusnya kamu berpikir mas, bagai mana kalau Sella di posisiku?!"


" Maafkan aku Lisa, aku telah menyakitimu, tapi kandungan Sella semakin hari semakin besar, anak Sella butuh status dariku, Lisa."


" Itu tidak ada urusannya denganku mas, aku tidak peduli tentang urusan kalian, seharusnya kalian berpikir dua kali untuk melakukanya."


" Lisa."


" Cukup Mas!"


Aska belum selsai bicara, tapi Lisa sudah membentaknya. Lisa sudah tidak tahan mendengar permintaan dari suaminya


" Pergilah, aku juga butuh waktu untuk istirahat."


" Aku mohon Lisa."

__ADS_1


Lisa menghela nafas kasar, ia tidak menanggapi ucapan Aska lagi, ia pergi ke kamar untuk membaringkan tubuhnya yang sudah benar-benar lelah. Lisa lelah berjuang sendiri untuk ke utuhan rumah tangganya, ia sekarang merasa seperti sedang menjahit kain, berharap bisa terlihat bagus, tapi lagi-lagi tangannya tertusuk oleh jarum, kira-kira itulah yang di rasakan Lisa sekarang


" Apa aku lepaskan saja mas Aska? Mas Aska sudah tidak lagi mencintaiku."


Lisa mencoba bertanya pada dirinya sendiri, ia tidak mungkin mempertahankan rumah tangganya seorang diri, ia juga merasa sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan suaminya kembali, tapi tiba-tiba ia mengingat perjuangan ia dengan Aska, perjuangan agar mendapat restu dari ke dua orang tuanya, membuat ia tidak mungkin untuk melepaskan Aska


" Tidak, tidak mungkin aku melepaskan mas Aska, aku seharusnya tidak menyerah untuk memperjuangkan mas Aska, aku tidak ingin wanita murahan itu mendapatkan mas Aska seutuhnya. Iya, aku akan tetap bertahan, dan aku juga ingin tau sampai di mana perjuangan mereka."


Setelah berbicara sendiri Lisa memutuskan untuk tidur, tapi tiba-tiba pintu kamar itu terbuka lebar. Lisa langsung duduk, ia melihat Aska masuk ke dalam kamar mendekati Lisa, hingga ia berhenti di depan Lisa


" Tolong jangan egois Lisa dan berhentilah keras kepala."


" Kalau kamu saja bisa keras kepala, kenapa aku tidak boleh mas?"


" Lisa, mengertilah, aku mohon."


" Pergi dari rumahku mas! Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah mau bercerai, biarkan saja anak itu di juluki anak haram!"


Aska langsung mengepalkan ke dua tangannya, ia tidak terima kalau calon anaknya di juluki anak haram


" Tutup mulutmu Lisa!"


" Itu memang pakta mas, kalau anak itu akan di juluki anak haram! Sudah aku katakan, seharusnya kamu berpikir dua kali untuk melakukanya, jadi tidak akan ada orang yang menjadi korban, kalau aku saja menjadi korban atas perbuatan kalian, maka biarkan anak itu juga menjadi korban atas perbuatan kalian."


Aska pun memutuskan untuk pergi dari rumah itu, karena baginya akan percuma beradu mulut dengan istrinya. Setelah Aska pergi, Lisa langsung menangis sambil memukul dadanya yang sakit

__ADS_1


" Kenapa hanya aku yang ingin jadi korban kalian mas? Kenapa kamu terus memohon hanya untuknya, dan kenapa kamu minta maaf juga karena dia."


Setelah beberapa menit menangis, Lisa jauh lebih tenang, ia memutuskan untuk membersihkan sisa air matanya di wastapel, lalu ia memutuskan untuk tidur, karena jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB. Baru saja membaringkan tubuhnya, ia mendengar ponselnya bergetar, itu menandakan bahwa ada pesan masuk


Dret...Dret..


Lisa langsung mengambil ponselnya, ia langsung membaca pesan itu yang tertulis. Kak, ini nomer Sella yang baru, aku ingin bertemu dengan kaka, aku ingin berbicara dengan kaka, aku tunggu kaka di cafe dekat kantor kaka. Setelah membaca pesan itu, Lisa sama sekali tidak berniat untuk membalas pesan itu, tapi ia putuskan untuk datang ke cafe itu, ia juga ingin melihat pertujukan apa yang akan di berikan Sella, terlebih lagi ia juga akan membuktikan, bahwa ia baik-baik saja. Lisa langsung memutuskan untuk tidur


...****************...


Pagi hari Lisa bangun lebih awal, ia memakai baju kemeja dan rok span seperti biasanya, tapi kali ini ia tampil berbeda, dengan mengoleskan make up di wajahnya, ia ingin terlihat cantik dari biasanya dan membuktikan kalau ia baik-baik saja pada Sella. Jam makan siang yang ia tunggu-tunggu sudah tiba, ia pergi ke toilet untuk merapihkan kembali riasannya agar terlihat lebih segar, setelah selsai ia memutuskan untuk pergi ke cafe. Lisa berjalan perlahan memasuki cafe, lalu ia langsung duduk di depan Sella, ia menatap Sella dengan tatapan menyelidik, ia ingin tau apa yang di rencanakan oleh Sella


" Kak Lisa, mau pesan apa? Lebih baik kaka pesan makanan dulu."


" Tidak perlu basa-basi! kamu mau bicara apa mengajaku bertemu?"


Lisa melihat Sella yang menangis, semua pengunjung mencuri-curi pandang pada meja mereka. Lisa biarkan saja drama itu berlanjut, ia terus menatapnya sambil bersidakep, tanpa ada niatan untuk menghentika tangisannya. Setelah selang beberapa menit, Sella menghentikan tangisannya, ia menghapus air matanya sendiri


" Kak Lisa, aku mohon, kasihani aku dan anaku, tolong tinggalkan mas Aska, aku butuh sosok seorang ayah untuk anakku. Aku tau kaka wanita yang baik, jadi tolong kaka tinggalkan mas Aska."


Lisa hanya diam, ia sekarang tau, kenapa Sella memilih di tengah-tengah cafe karena Sella ingin mempermalukannya. Lisa mencoba mengontrol emosinya, ia mencoba untuk tidak terpancing dengan drama murahan, bahkan Sella menggunakan kata-kata baik, seolah-olah Lisa lah yang merebut Aska. Lisa masih tetap diam, ia membiarkan Sella di atas angin, karena pengunjung cafe mulai berbisik-bisik mengatai Lisa pelakor dan sebagainya. Lisa masih tetap bersikap biasa saja, karena ia ingin membalas atas perbuatan Sella. Sella langsung berdiri, lalu langsung bersimpuh di kaki Lisa sambil menangis sekencang-kencangnya


" Kak Lisa, tolong kasihani aku, aku sedang mengandung anaknya, aku lebih membutuhkan mas Aska. Aku akan melakukan apa saja asal kaka merelakan mas Aska."


Orang-orang yang awalnya berbisik-bisik tentang Lisa, tapi kini mereka secara terang-terangan memaki Lisa. Lisa juga melihat ke arah orang-orang itu, ada juga yang sedang merekam ke jadian itu, hingga pandangan matanya berhenti di mata hitam logam milik atasanya, ia sangat tekejut saat melihat atasannya, tapi kemudian ia kembali fokus pada drama yang di suguhkan oleh Sella. Sudah cukup Lisa dari tadi diam saja

__ADS_1


" Sudah selesai dengan drama yang kamu bangun? Aku tidak menyangka kalau pelakor jaman sekarang lebih berani untuk bertindak. Bukan'kah kamu yang merebut suamiku? Lalu kenapa kamu meminta aku untuk melepaskanya dan merelakan suamiku untukmu?"


__ADS_2