Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 46 Melahirkan


__ADS_3

Dokter sudah memeriksa tentang ke adaan Lisa dan bayi dalam kandungan Lisa. Lisa tetap dalam pendiriannya untuk melahirkan secara normal. Dokter juga mengatakan kalau Lisa telah mengalami pembukaan satu, dan masih ada beberapa pembukaan lagi yang harus di lalui Lisa, dengan rasa sakit yang semakin lama semakin terasa. Tadi juga Arga sudah menghubungi mama mertuanya dan mama nya sendiri, kalau Lisa akan melahirkan, jadi sekarang mereka sudah ada di rumah sakit untuk memberikan dukungan pada Lisa dan sambil menjaga Putri. Putri sekarang duduk di samping ranjang Lisa, sambil mengelus perut Lisa, matanya sudah berkaca-kaca melihat Lisa yang meringis ke sakitan. Lisa yang melihat mata Putri berkaca-kaca, ia langsung mengelus kepala Putri, ia tau kalau Putri sangat kuatir padanya, ia mencoba tersenyum dan menahan rasa sakit yang semakin lama semakin terasa


" Mama tidak apa-apa sayang, kamu tidur dulu sama Nenek, nanti saat kamu bangun pasti dedek bayinya sudah ada di luar."


" Mama, Putri hanya ingin menemani mama."


" Putri harus nurut apa kata mama, bukannya Putri ingin punya adik?"


Putri hanya menganggukan kepalanya, lalu sedetik kemudian ia menggeleng, dengan arti kalau ia memang ingin memiliki adik, tapi ia juga tidak ingin meninggalkan Lisa. Arga yang melihat Putri tidak mau untuk tidur, ia pun langsung mencoba untuk membujuk Putri


" Sayang, tolong kamu nurut apa yang di katakan mama, kasian mama kalau terus melihat kamu yang menghawatirkan mama. Bukan'kah kamu ingin punya adik? Kalau kamu ingin punya adik kamu harus nurut, agar adiknya cepat keluar."


Putri mau tidak mau ia pun akhirnya hanya menuruti ucapan dari papa nya, ia pun tidur di sofa kamar ruangan Lisa. Arga langsung duduk di kursi dekat ranjang Lisa, ia menggenggam tangan Lisa, untuk menguatkan sang istri. Sudah dari tadi Arga menyuruh Lisa untuk melakukan sesar, karena ia tidak tega melihat Lisa yang terus merasakan sakit, tapi lagi-lagi Lisa selalu menolak. Arga akhirnya menuruti saran dokter untuk mengajak Lisa berjalan-jalan di dalam kamar, untuk mempercepat proses pembukaan pada Lisa. Lisa yang merasakan sakit di pinggangnya, sesekali ia mengalungkan ke dua tangannya pada leher Arga, dan menyadarkan kepalanga di dada milik Arga. Arga dengan sigap mengelus pinggang Lisa, sambil membisikan kata-kata sayang dan juga memberikan semangat. Setelah merasakan sakit tidak tertahan Lisa memilih untuk berbaring di ranjang lagi


" Mas, aku sudah tidak kuat, aku ingin berbaring."


" Baiklah sayang."


Arga menuntun Lisa untuk berbaring di atas ranjang. Setelah Lisa berbaring, Arga juga duduk di samping Lisa sambil mengelus perut Lisa. Lisa yang merasakan semakin sakit, ia meringis ke sakitan sambil sesekali ia menggigit bibir bawahnya. Tidak lama dokter juga mengatakan kalau Lisa sudah lengkap untuk pembukaan, hingga Lisa langsung di bawa ke ruang bersalin. Arga menemani Lisa dengan memakai pakaian seteril. Lisa menggenggam tangan Arga sangat erat, untuk menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan. Sedangkan Arga terus memberikan semangat pada Lisa sambil membisikan kata-kata sayang dan cintanya. Arga juga membiarkan Lisa untuk memegang tangannya sambil di remas sangat kuat. Entah berapa lama Lisa berjuang hingga terdengar tangisan bayi dari buah hati mereka, karena Arga merasa waktu sangat lama saat mendengar Lisa yang terus kesakitan. Arga mencium seluruh bagian wajah Lisa, ia mulai mencium kening, ke dua matanya, hidung, ke dua pipinya, dan hingga mencim bibir ranum milik Lisa. Arga menyalurkan rasa bahagia, bangga, terima kasih dan rasa cinta yang di rasakannya, melalui ciumannya. Sedangkan Lisa hanya menatap wajah Arga sambil tersenyum. Dokter membuka baju Lisa dan mempertemukan dada telanjang milik Lisa dengan anaknya untuk yang pertama kalinya. Lisa yang melihat anak lelaki untuk pertama kalinya, ia langsung meneteskan air mata bahagianya, karena kini ia memiliki buah hati dari cintanya bersama Arga. Sekarang bergiliran, Arga juga membuka dada telanjangnya untuk meletakan bayi lelakinya untuk pertama kalinya. Setelah itu orang tua Lisa dan orang tua Arga termasuk Putri pun langsung masuk ke dalam ruangan bersalin. Putri langsung berteriak saat memasuki ruangan bersalin Lisa

__ADS_1


" Mama...!"


Setelah itu Putri langsung memeluk Lisa yang masih terbaring lemas sambil dengan posisi menyondongkan tubuhnya ke depan


" Mama ternyata tidak bohong, kalau Putri tertidur, dedek bayinya akan keluar, ternyata benar!"


Putri mengatakannya dengan suara bahagia dan mata berbinar, sunggu ia sangat bahagia karena sekarang ia memiliki seorang adik. Lisa mengelus punggung Putri dengan elusan sayang


" Tentu saja mama tidak bohong sayang, Putri bahagia'kan sekarang karena sudah memiliki adik?"


Putri langsung melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Lisa dengan mata yang berbinar


" Syukur deh kalau Putri senang."


Setelah itu ke dua orang tua Lisa langsung mendekati Lisa


" Selamat iya sayang, akhirnya kamu sudah menjadi seorang mama dari anak kamu, semoga kamu bisa menjadi mama yang baik untuk mendidik Putri mau pun dede bayinya. Akan kamu namakan siapa bayimu?"


" Terima kasih ma. Amin."

__ADS_1


Setelah itu Lisa melirik ke arah Arga, untuk bertanya kira-kira nama yang pas siapa, karena selama ini, Lisa tidak pernah memikirkan nama untuk anaknya, apa lagi ia juga tidak melakukan USG, karena ia ingin anaknya lahir dengan penuh kejutan, ia tidak mempermasalahkan bayinya lelaki atau perempuan. Arga langsung tersenyum saat melihat istrinya dengan tatapan bertanya


" Sayang, anak kita, kita namakan Arta Susanti Wijaya, apa kamu setuju?"


Arga memang menyantumkan nama Susanti agar kelak Arta tidak pernah melupakan perjuangan Lisa untuk melahirkannya. Lisa langsung tersenyum saat nama anaknya ada nama Susanti, ia langsung paham maksud dari suaminya, agar kelak Arta tidak melupakan perjuangannya untuk melahirkan Arta


" Aku sangat setuju mas."


Mama nya Arga yang dari tadi diam, ia pun langsung angkat bicara, karena melihat anak dan menantunya belum menyiapkan nama selama ini


" Kalian itu bagai mana? Kenapa baru cari nama sekarang? Bukan'kah seharusnya mencari nama sebelum anak kalian itu lahir."


Lisa yang mendengar ucapan dari mertuanya langsung tersenyum malu, seharusnya ia memang sudah menyiapkan nama anaknya dari jauh-jauh bulan, mau pun anaknya lelaki atau pun perempuan, tapi Lisa masih dengan santainya tidak memikirkannya


" Maaf ma, aku tidak meng USG jenis kelamin anakku, dan aku juga bingung mau memberikan nama siapa, apa lagi ini anak pertamaku."


Arga langsung tersenyum saat melihat istrinya yang sangat malu


" Ma, ini memang salahku, karena tidak merencanakan nama bayinya bersama Lisa, tapi aku memang sudah menyiapkan dua nama jika bayi itu lahir lelaki atau perempuan. Mama jangan bilang begitu, yang penting Lisa selamat dan anakku juga selamat."

__ADS_1


Arga memang sangat bersyukur karena istri dan anaknya selamat, awalnya ia sangat kuatir pada Lisa, hingga menyuruh Lisa untuk melakukan sesar, karena ia tidak ingin Lisa mengalami hal yang sama seperti istri sebelumnya


__ADS_2