Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 21 candaan Reyhan


__ADS_3

Setelah selesai menjelaskan, Arga memutuskan untuk langsung pulang, agar ke dua orang tua Lisa bisa segera bicara dengan Lisa, dan Lisa juga perlu waktu untuk mereka berdua


" Kalau begitu saya permisi dulu pak, bu."


" Ko buru-buru nak?"


" Iya pak, ada urusan di kantor, jadi saya harus segera kembali ke kantor."


" Baiklah kalau begitu."


Arga keluar dari rumah dengan di ikuti Lisa yang mengantar Arga sampai samping mobil. Arga mengelus pucuk kepala Lisa sambil tersenyum


" Semuanya akan baik-baik saja, bicaralah pada orang tuamu."


Lisa hanya menjawab dengan anggukkan kepala. Setelah melihat Lisa menjawab ucapanya, Arga langsung masuk mobil, ia langsung melajukan mobil itu untuk meninggalkan pekarangan rumah Lisa. Setelah mobil Arga hilang dari pandangan, Lisa melangkah memasuki rumah, ia melihat raut kesedihan di wajah orang tuanya yang mencoba di sembunyikan. Inilah yang di takutkan oleh Lisa, saat perpisahan menjadi jalan terakhir untuk rumah tangganya, ia akan melihat ke dua orang tuanya bersedih. Seharusnya Lisa bisa memberikan ke bahagian pada orang tuanya atau setidaknya tidak membuat orang tuanya menghawatirkan dirinya, tapi ternyata harapanya gagal. Lisa sudah duduk di sofa depan orang tuanya dari tadi, tapi hanya ada ke heningan. Lisa tidak tau harus dari mana ia mulai cerita, sedangkan orang tua Lisa, mereka merasa tidak enak hati untuk menyuruh anaknya bercerita. Akhirnya Bagas membuka suara setelah beberapa menit diam


" Tidak apa-apa, Papa dan mama tidak akan memaksamu untuk bercerita, lebih baik kamu istirahatlah lebih dulu."


Bagas berdiri, ia tersenyum sambil mengelus kepala Lisa, lalu pergi ke kamarnya di ikuti oleh istrinya. Lisa pun masuk ke dalam kamarnya, keadaan kamar itu masih sama seperti saat ia belum menikah, lalu ia merebahkan diri di atas ranjang. Mata Lisa tertuju pada foto pernikahannya dengan Aska, masih berdiri kokoh di atas dinding. Lisa akan membersihkan semuanya yang bersangkutan dengan Aska, bahkan sampai ke hatinya. Lisa sekarang memutuskan untuk tidur, agar ia bisa memiliki tenaga. Namen saat Lisa akan benar-benar terlelap ia merasa pintu itu terbuka, tapi ia tetap memejamkan matanya, dan ia merasa orang itu mendekati ranjang. Bagas duduk di atas ranjang, menatap lekat wajah lelah anaknya, ia berusaha untuk tegar dan tidak menetaskan air mata, tapi tetap saja air matanya mengenai kening anaknya


" Maafkan papa, seharusnya dulu papa lebih keras untuk melarangmu menikah."


Lisa merasa ada tetesan-tetesan air mata di keningnya, ia tau kalau papa nya sedang menangis, ia mencoba terus berpura-pura untuk tetap tidur, tapi ia tidak bisa menahannya lagi, ia bangun lalu langsung memeluk papa nya, ia tidak bisa melihat papa nya menyalahkan diri sendiri, yang harus papa nya salahkan adalah Aska


" Tidak pa, ini bukan salah papa, tapi ini salahku yang tidak bisa mendengarkan kata-kata papa, dan salahnya yang tidak bisa memegang janjinya."

__ADS_1


Bagas memeluk anaknya sambil mengelus punggung anaknya


" Lalu apa keputusanmu?"


" Aku ingin mengakhiri saja pa, aku sudah tidak sanggup, aku sudah berkali-kali untuk bertahan, tapi usahaku selalu gagal, semakin aku bertahan, dia semakin berbuat seenaknya, mungkin dengan mengakhirilah jauh lebih baik dari pada terus bertahan pada sesuatu yang tidak seharusnya di pertahankan."


Bagas tau, kalau anaknya memang masih sangat mencintai Aska, lelaki yang sudah membuat anaknya kecewa


" Apapun keputusanmu papa slalu mendukungmu, dan pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu, nak."


" Terima kasih pa, terima kasih karena selalu memahamiku dan menerimaku kembali ke rumah ini."


" Iya nak, lebih baik kamu istirahat, besok papa akan menemui Aska bersama adikmu."


" Jangan kuatir, papa hanya akan mengambil tanggung jawabnya untuk menjaga dan melindungimu, karena dulu papa yang menyerahkannya, jadi karena sekarang dia tidak sanggup, papa harus mengambilnya."


Lisa hanya menjawab dengan anggukan kepala. Bagas langsung keluar dari kamar Lisa. Lisa sangat terharu dengan ucapan papa nya, kini Lisa sangat menyesalinya, kenapa ia dulu mati-matian berjuang hingga bertentangan dengan papa nya hanya untuk menikahi Aska. Lisa malu mengingat dulu ia dengan bangga menggandeng tangan Aska di depan papa nya sambil mengatakan


" Papa aku yakin kalau Aska akan bisa menggantikan tanggung jawab papa untuk menjagaku."


Belum sempat ia selsai dengan lamunannya, Lisa terkejut saat melihat pintu di buka dengan paksa. Masuklah sosok lelaki yang menampilkan cengiranya, lalu langsung memeluk Lisa, ia adalah adik Lisa yang bernama Reyhan


" Apa hari ini hari pelukan sedunia? Kaka sudah mendapatkan empat pelukan."


Lisa diam saja, ia memilih mengabaikan candaan adiknya. Reyhan melepaskan pelukannya

__ADS_1


" Aku sudah melihatnya, dan aku sangat bangga pada kaka karena menendang burung lelaki itu, tapi lebih bagus lagi jika kaka menyeret lelaki itu untuk pergi ke dokter, supaya langsung di kebiri."


Lisa tertawa mendengar penuturan adiknya, adiknya memang selalu punya cara sendiri untuk menghiburnya. Sedangkan Reyhan hanya bisa ngedumel dan mencibir kakanya karena ucapannya, jelas-jelas ia mengatakan ide yang akan membuat lelaki itu tidak bisa berkutik.


" Aku memberikan kaka ide, bukan untuk melucu."


" Kamu mau punya kaka kriminal?"


Reyhan mengabaikan pertanyan kakanya, ia lebih memilih untuk menggoda kakanya, karena ia yakin kalau kakanya sudah lama tidak tertawa


" Ngomong-ngomong lelaki yang di sebelah kaka itu sangat cocok bersama kaka, apa lagi kata papa dia yang mengantar kaka pulang. Bagus kak, buanglah sampah untuk sebuah berlian."


Reyhan menggoda kakanya dengan mendekatkan wajahnya pada wajah kakanya sambil menaik turunkan satu alisnya. Lisa yang mendengar ucapan ngelantur adiknya, membuat ia menoyor kepala adiknya, adiknya itu bisa-bisanya sudah menargetkan kaka ipar baru


" Aishh... Kenapa kaka memukul kepalaku?"


" Karena otakmu perlu di bersihkan, sudah tau kaka baru patah hati, bisa-bisanya kamu sudah mencari kaka ipar baru."


" Kaka tidak tau iya? Kalau patah hati karena lelaki maka obatnya lelaki baru."


" Terserah, pergi sana kaka mau istirahat, dari pada mendengar ocehanmu."


" Baiklah. Besok aku akan mengantar papa untuk bertemu dengan buaya kaka. Aku akan membawa rambutnya untuk kaka."


Lisa diam saja, ia lebih memilih untuk mengabaikan ucapan adiknya yang tidak masuk akal, lagi pula untuk apa rambut Aska. Lisa sangat heran pada adiknya, apa dirinya itu psikopat yang menginginkan hal-hal tersebut. Setelah itu Reyhan langsung keluar dari kamar kakanya. Setelah pintu tertutup Lisa langsung tiduran lagi, ia sekarang sudah tidak ingin membayangkan masa lalunya, ia memutuskan untuk tidur. Sudah cukup Lisa terus saja membayangkan masa lalunya yang manis dan masalah nya yang terus saja berlarut-larut, memang ia sangat susah untuk tidur, tapi jika tidak tidur maka ia akan selalu mengingat kenangan masa lalunya dan masa sekarang bersama Aska. Tidak lama kemudian Lisa pun tertidur pulas dengan nafas memburu, dan air matanya menetes di pipinya

__ADS_1


__ADS_2