
Dunia Aska benar-benar runtuh, anak yang menjadi harapan satu-satunya harus meninggalkannya juga, lalu harus bagai mana lagi ia harus bertahan. Aska langsung meneteskan air mata, hancur sudah harapannya untuk melihat anaknya lahir ke dunia, dan memanggilnya dengan panggilan papa, bisa bermain bersama dengan anaknya, tapi kini hancur karena kesalahanya sendiri. Bahkan tadi juga dokter bilang kalau Sella lumpuh akibat benturan jatuh terduduk. Saraf kaki yang ada di tulang ekor Sella mengalami kerusakan, dokter hanya mengatakan kalau kakinya lumpuh, tapi dokter belum bisa memastikan kelumpuhan Sella permanen, atau bisa di sembuhkan dengan terapi. Aska terdiam sambil menangisi segala yang terjadi pada ia, sungguh ia sangat menyesali perbuatannya. Kenapa Aska tidak bisa mengontrol gerakanya yang mengakibatkan Sella terjatuh dan membuat kehilangan buah hatinya, jelas-jelas ia tinggal beberapa bulan lagi untuk melihat anaknya lahir di dunia. Aska ingin marah pada Tuhan, tapi apa ia berhak marah, jika ini adalah buah hasil perbuatannya sendiri, dulu Tuhan begitu baik padanya meski ia bukan orang yang taat. Dokter menenangkan Aska dengan memegang pundaknya
" Saya tau kalau bapak sangat terpukul karena kehilangan buah hati bapak, tapi lebih baik bapak menemani istri bapak yang jauh lebih tertekan."
Aska langsung beranjak dari ruangan dokter dan berlalu menuju ruangan rawat Sella. Aska melihat Sella yang belum sadar, mungkin epek dari obat bius yang belum sembuh betul. Aska langsung duduk di samping ranjang Sella, ia memegang tangan Sella dan menggumam kata maaf berkali-kali. Air mata Aska kembali turun hingga mengenai tangan Sella yang ia genggam, hingga tangan Sella menujukan pergerakan. Aska menatap ke arah wajah Sella, ia melihat mata Sella yang mulai perlahan terbuka. Aska langsung menekan tombol, guna untuk memanggil dokter. Setelah itu seorang dokter dan suster masuk ke dalam ruangan Sella, setelah memeriksa keadaan Sella, dokter dan suster langsung pergi dari ruangan Sella. Aska kembali mendekat, lalu langsung ndudukan di samping ranjang Sella. Aska ingin menjelaskan keadaan Sella, tapi ia juga bingung harus memulai dari mana, karena berita yang ia sampaikan tidak ada satu beritapun yang baik. Sella langsung bertanya pada Aska sambil memegang perutnya yang rata, karena dari tadi Aska hanya diam saja
" Kenapa perutku rata mas? Apa dia sudah lahir?"
Aska hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala, membuat Sella mengerutkan keningnya
" Tuhan punya rencana untuk dia, dan Tuhan melindungi dia dari orang tua yang buruk seperti kita."
Aska berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan kalimatnya, karena dadanya merasakan sesak, harus kehilangan anaknya
" Tuhan juga tidak ingin dia mengalami hal buruk, karena akibat orang tuanya."
__ADS_1
Sella masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Aska, hingga satu kemungkinan muncul, membuat Sella langsung bertanya seperti yang ada di dalam pikirannya
" Jadi dia meninggal?"
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Aska. Aska hanya mampu menganggukan kepalanya sebagai jawaban untuk membenarkan ucapan Sella. Sella diam sejenak, ada perasaan sedih di dalam hatinya, tapi hanya sesaat, karena selajutnya ada perasan lega lah yang mendominasi hatinya, lega karena anaknya tidak akan hidup dengan kesmiskinan seperti ia, apa lagi Aska sudah bangkrut, lega juga karena ia bisa pergi meninggalkan Aska dengan bebas tanpa beban sedikitpun
" Syukurlah, setidaknya dia tidak akan merasakan hidup miskin, karena papa nya jatuh miskin, dan aku juga tidak ingin hidup miskin, jadi aku bisa pergi meninggalkan mas Aska tanpa harus membawa beban, karena kemiskinan mas Aska adalah beban buatku."
Kalian tau rasanya jika kita terluka dan terkena garam, walau pun sedikit, tapi tetap menimbulkan rasa perih, seperti itulah yang di rasakan Aska saat ini, mungkin Tuhan mengambil dia karena tidak ingin dia menderita akibat kebodohan papa nya. Mereka berdua sama-sama terdiam, hingga Sella merasakan kakinya tidak bisa di gerakan, ia bertanya dengan panik pada Aska sambil menatap Aska dengan cemas
" Kenapa kakiku tidak bisa di gerakan?"
" Kakiku baik-baik saja'kan?! Jawab aku mas, jangan hanya diam saja!"
Sella bertanya sambil berteriak, karena ia sunggu sangat ketakutan, ia takut kalau apa yang ada di dalam pikiranya kenyataan
__ADS_1
" Kakimu lumpuh, karena saraf yang ada di tulang belakangmu mengalami kerusakan karena jatuh terduduk. Maafkan aku."
Aska mengatakanya dengan satu tarikan nafas
" Tidak, mas pasti berbohong! Aku tidak mau jadi orang cacat!"
Sella enggan mempercayai ucapan yang di berikan Aska. Sella dengan nekad, turun dari ranjang tanpa bisa di cegah, membuat ia jatuh terduduk, karena kakinya tidak berpungsi. Sella berteriak histeris memukuli Aska sambil menangis meraung-raung. Aska sangat merasa bersalah pada Sella, ia langsung memeluk sella, dan berusaha untuk menenangkanya sambil berbicara pada Sella
" Maafkan aku Sella, kita akan melaluinya bersama."
Sella yang mendengar ucapan Aska, membuat ia semakin marah, karena ia lumpuh karena Aska, ia memukuli Aska dengan sekuat tenaga, sedangkan Aska hanya diam saja menerima pukulan dari Sella. Aska berharap dengan begitu Sella bisa tenang.
" Kenapa harus aku yang lumpuh mas?! Kenapa tidak kamu saja yang lumpuh mas?!"
Amukan Sella semakin tidak terkendali, di tambah dengan teriakan-teriakan yang menyebabkan dokter dan suster masuk ke dalam ruangan Sella. Dokter yang melihat Sella tidak baik-baik saja membuat dokter menyutikan obat penenang untuk Sella. Perlahan-lahan Sella menjadi tenang, lalu tertidur. Dokter memberikan semangat ke pada Aska untuk menghadapi istrinya, karena istrinya tentu saja lebih merasakan sakit di bandingkan dengan Aska
__ADS_1
" Saya berharap bapak bersabar, tentu saja sangat sulit untuk menerima kenyataan jika kita menjadi seperti ini. Bapak boleh saja sakit menerama prilaku istri bapak, tapi tentu saja lebih sakit oleh yang di rasakan istri bapak."
Setelah dokter pergi, Aska langsung jatuh terduduk, ia langsung menangisi keadaanya yang semakin kacau. Tidak pernah terbayangkan oleh Aska, jika ia menyakiti hati tulus seorang Lisa, akan membuatnya sangat menyakitkan. Sekarang Aska merasakan sakit dan kehilangan yang teramat dalam, mungkinkah rasa sedih dan kehilangan ini pernah di rasakan Lisa. Tuhan mungkin ingin Aska tau, bagai mana rasa sakit yang di rasakan Lisa dulu, yang ia hancurkan dengan sengaja. Aska langsung berdiri, ia menoleh ke arah Sella, lalu langsung keluar dari ruangan itu tanpa arah dan tujuan, hingga tanpa sadar kakinya berhenti di depan mesjid, ia melihat bangunan mesjid itu dalam diam, ia mengingat sudah berapa lama tidak menjalankan kewajibanya menjadi hamba. Aska memilih untuk mencurahkan isi hatinya dengan penciptanya, memohon ampun dan memohon di berikan kekuatan untuk melalui segala cobaan, tapi buka cobaan, melainkan hukuman atas perbuatanya. Setelah selsai Aska langsung keluar dari mesjid, ia langsung kembali ke ruang rawat Sella, lalu ia langsung masuk ke dalam ruangan rawat Sella, ia memutuskan untuk tidur di sofa, untuk menunggu Sella