
Lisa sudah berada di dalam ruangan rawat inap Aska, setelah pulang untuk membersihkan tubuhnya dan mengistirahatkan tubuhnya sebentar, lalu ia datang ke sini lagi. Tubuh Lisa mungkin boleh saja ada di sini, tapi hati Lisa dan pikiranya sedang sibuk memimirkan lelaki yang telah ia sakiti, ia juga penasaran dengan pertemuan adiknya dengan Arga. Lisa menatap ponselnya, ia berharap ada panggilan masuk dari Arga atau dari adiknya, tapi tidak ada satu pun yang menelponnya. Aska memandang Lisa yang terus-menerus menatap ponselnya, ia langsung berbicara, agar mengalihkan Lisa untuk tidak menatap ponselnya
" Lisa, terima kasih sudah mau menemaniku di sini."
Lisa langsung menghela nafas, ia tidak berminat untuk menanggapi ucapan Aska, ia hanya memandang ke arah Aska sekilas, lalu matanya langsung kembali fokus pada ponselnya. Aska mencoba berbicara lagi untuk menarik perhatian Lisa
" Lisa, mau'kah kamu memberikan kesempatan lagi ke padaku?"
" Apa kamu sedang becanda denganku?"
Lisa memandang Aska dengan malas dan jengah, dengan tidak tau malunya Aska meminta kesempatan, setelah banyak luka yang Aska torehkan padanya.
" Aku serius, aku sadar dan begitu bodoh untuk melepaskanmu."
Aska memandang Lisa dengan penuh harap.
" Dan sekarang juga aku sadar kalau kamu bukan lelaki yang baik untuku, dan jika aku kembali lagi padamu, maka aku adalah wanita yang paling bodoh di dunia ini."
Aska langsung turun dari ranjangnya, ia mendekati Lisa yang duduk di sofa ruang inapnya, setelah sudah dekat, ia langsung bersimpuh di depan Lisa untuk memohon pada Lisa. Lisa hanya diam memandang Aska, kini ia tersadar jika rasa cintanya sudah hilang sepenuhnya pada Aska. Aska langsung berbicara pada Lisa untuk memberikan kesempatan ke dua
__ADS_1
" Aku tau kamu masih mencintaiku, jika tidak, tidak mungkin kamu lari ke sini dan meninggalkan Arga."
Memang benar Lisa kemarin malam langsung berlari, tapi bukan karena Aska, tapi karena mantan mama mertuanya yang menelponnya sambil menangis dan mengatakan rumah sakit Harapan, tanpa menjelaskan siapa yang sakit, membuat ia berpikir yang bukan-bukan, ia pikir mantan Papa mertuanyalah yang masuk ke dalam rumah sakit, karena ia tidak tau kalau hubungan ke dua orang tua Aska sudah membaik bersama Aska.
" Jangan salah paham, aku pikir yang ada di rumah sakit itu adalah papa, karena aku tidak tau kalau hubunganmu dengan ke dua orang tuamu sudah membaik."
Aska menangis memeluk kaki Lisa, memohon untuk di berikan kesempatan lagi oleh Lisa. Bertepatan itu, ke dua orang tua Aska masuk ke ruang rawat inap Aska. Aska yang melihat ke datangan ke dua orang tuanya, ia beralih menatap ke dua orang tuanya, dan membujuk mamanya untuk meminta Lisa agar memaafkannya. Key yang melihat anaknya sangat menyedihkan, membuat ia ikut membujuk Lisa untuk memberikan anaknya kesempatan, dan menerima anaknya kembali. Lisa bingung dengan situasi seperti ini, ia menjadi serba salah, membuat ia hanya meminta untuk memberikan waktu, agar ia bisa berpikir sebelum mengambil keputusan. Setidaknya itulah yang terpikir di pikiran Lisa untuk segera keluar di situasi sekarang dan masalah lainnya akan ia pikirkan nanti, yang penting ia tidak melihat tangisan dari mantan suaminya dan mantan mama mertuanya. Setelah terjadi drama di rumah sakit, Lisa memutuskan untuk segera pulang, pada awalnya Aska menyuruh Lisa tetap tinggal di sini, tapi Lisa beralasan untuk memikirkan keputusannya
" Ma, pa, mas, aku ingin pulang dulu."
" Kamu di sini saja Lisa."
" Baiklah."
Dellon dan Key hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Lisa langsung pulang ke rumahnya. Setelah ia menempuh perjalanan yang lumayan lama memakai taksi, ia sampai di rumah, lalu langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya, ia sekarang begitu banyak yang harus di pikirkan, apa lagi Reyhan yang marah padanya, membuat beban pikiranya bertambah. Selama semalaman Lisa sama sekali tidak bisa berpikir tentang keputusannya, hingga menjelang pagi, ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya walau pun hanya sebentar. Lisa merasa kosong, karena sudah dua hari semenjak malam itu, Arga tidak pernah menghubunginya sama sekali. Lisa mendudukan diri di atas ranjang, lalu mengambil ponselnya yang terus bergetar
Dret....dret...
Di situ menampilkan nama mama mertua, membuat Lisa menghela nafas berat, ia langsung mengangkat telpon dari mantan mama mertuanya
__ADS_1
" Halo, ada apa ma?"
" Lisa, bisa ke sini'kan? Aska tidak mau makan nak, tolong ke sini iya."
Sudah lelah dengan permintaan dari mantan mama mertuanya, akhirnya Lisa mengiyakan permintaan mama mertuanya, agar urusannya segera selsai
" Baiklah ma."
Setelah itu Lisa langsung memutuskan sambungan telponnya sepihak, sebelum mantan mama mertuanya bersuara lagi, lalu ia berjalan ke arah kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, tapi ia terpaku saat melihat jas Arga yang tergeletak di sofa kamarnya. Lisa langsung mengambil jas Arga, lalu langsung memeluk jas itu untuk menghirup aroma Arga yang tertinggal di sana. Lisa merindukan Arga, merindukan aromanya, pelukannya dan segala lelucon yang Arga berikan untuk menghiburnya. Lisa langsung meneteskan air mata sambil terus memeluk jas milik Arga, untuk menyalurkan rasa rindunya pada Arga, tapi bukannya mereda, ia bahkan sekarang semakin merindukan Arga, dan ingin memeluk Arga dengan secara nyata. Lisa sadar sepenuhnya kalau ia sudah memiliki pilihan hatinya, karena hatinya sudah sepenuhnya mencintai Arga. Lisa langsung segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, agar segera menyelsaikan urusannya bersama Aska. Setelah itu Lisa akan segera berlari untuk menghampiri Arga, yang sudah lama menantikan sambutan dari ia. Lisa langsung menuruni tangga, untuk menemui Aska di rumah sakit dengan senyuman yang terpatri di wajah cantiknya. Lisa melihat Reyhan yang berdiri di tangga paling bawah, ia langsung menghampiri Reyhan, lalu langsung memeluk Reyhan untuk menyalurkan rasa bahagianya. Lisa memeluk Reyhan sambil melompat-lompat, karena sekarang ia sudah tidak bingung untuk menentukan pilihan hatinya. Sedangkan Reyhan mengerutkan keningnya dan tidak suka dengan kebahagian kakanya, karena iya yakin kalau kakanya bahagia oleh Aska. Reyhan langsung melepas pelukan kakanya dengan paksa, dan langsung menatap mata kakanya sangat marah
" Kaka benar-benar bahagia dan akan kembali dengan lelaki brengsek itu?!"
" Dengarkan kaka dulu dek."
Lisa tau jika adiknya salah paham dan mencoba untuk menjelaskannya. Reyhan langsung mengambil tangan kakanya, lalu langsung meletakan cincin yang di titipkan Arga padanya kemarin. Lisa hanya mengerutkan keningnya, untuk mengingat-ingat cincin itu, rasanya ia sangat familiar dengan cincin yang di berikan adiknya, semenit kemudian tubuhnya menegang, karena ia mengingat cincin itu adalah cincin yang di bawa Arga malam itu, lalu ia memandang adiknya dengan penuh tanya, kenapa bisa cincin ini di tangan adiknya. Reyhan tau kalau tatapan kakanya adalah tatapan bertanya
" Bang Arga menitipkannya padaku, katanya terserah kaka, mau menjualnya atau membuangnya, karena cincin itu milik kaka."
Mata Lisa sudah berkaca-kaca, ia menunggu ucapan selanjutnya
__ADS_1
" Hari ini bang Arga akan meninggalkan indonesia bersama Putri untuk melupakan kaka."