Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 33 Persiapan lamaran


__ADS_3

Putri yang baru saja berusia 7 tahun, tapi ia adalah Gadis kecil yang sangat cerdas, membuat ia melontarkan pertanyaan tentang suami Lisa


" Terus bagai mana dengan om, suami mama, emangnya tidak apa-apa kalau mama memiliki dua suami?"


Arga hanya bisa menggaruk tengkuknya, ia bingung harus berbicara bagai mana, harus menjelaskan apa tentang pertanyaan dari Putri. Lisa sangat gemas dengan pertanyaan Putri, akhirnya ia pun menjawab pertanyaan Putri yang di lontarkan pada Arga


" Mama sama om itu sudah jadi teman, jadi sudah tidak tinggal serumah lagi sayang."


Dalam pikiran Putri kata teman itu sama seperti ia dan teman laki-lakinya di sekolah, membuat ia tambah bahagia karena kemungkinan Lisa akan mejadi mama seutuhnya


" Berarti mama mau'kan tinggal sama Putri dan papa, setiap hari setiap malam, setiap menit, dan setiap detik?"


Putri memandang Lisa dengan wajah penuh harap dan menggemaskan. Sedangkan Lisa tengah mati kutu dengan pertanyaan yang di ajukan Putri. Arga yang melihat Lisa hanya diam, ia pun memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan


" Hei girls, jangan terus saja berbicara, cepat selesaikan memasaknya, karena perut papa sudah ingin di kasih amunisi."


"Baiklah pa."


Lisa sedikit lega karena Arga mengerti dengan perasaanya, untuk mengalihkan topik pembicaraan. Lisa langsung melanjutkan memasaknya dengan di bantu oleh Putri. Arga juga ikut membantu Lisa, dengan sesekali mencuri- curi pandang pada wajah Lisa, sambil diam-diam tersenyum, ia merasa seperti sudah punya istri


...****************...


Sudah 1 minggu semejak masak-memasak bersama Lisa, Arga tidak menemui Lisa atau pun sekedar menelpon Lisa. Arga bukannya menghindar, tapi ia sedang memantapkan hati untuk bergerak maju, atau tetap di tempat yang sama, tetap mendampingi Lisa tanpa kejelasaan pada perasaannya sendiri.Arga mempertimbangkan tentang segala resko yang akan terjadi, ia pun siap untuk mengajak Lisa untuk mendampinginya dan menggantikan posisi yang di tinggalkan oleh mama Putri dulu. Apapun jawaban yang di berikan Lisa, Arga akan tetap menerima, entah menerima, menolak, atau memintanya untuk terus menunggu. Dengan kebersamaan Arga dan Lisa beberapa bulan terakhir, cukup membuat Arga percaya diri. Arga juga mengingat wajah Lisa beberapa kali memerah karena perlakuannya. Arga mempersiapkan dengan matang, menyewa sebuah gedung untuk tempat melamar Lisa nantinya. Hanya dengan membayangkan yang akan terjadi nanti malam, Arga tersenyum lebar. Putri yang berada di pangkuan Arga, ia menatap papa nya dengan penuh tanya, tapi papa nya tidak kunjung sadar dengan tatapannya, membuat ia menepuk pelan pipi papa nya

__ADS_1


" Papa, kenapa papa tersenyum? Kita hanya diam tanpa melakukan apapun, jangan-jangan papa seperti orang di jalanan yang berbicara sendiri?"


Arga mencubit pipi Putri dengan gemas, anaknya ini memang selalu ajaib dengan segala pertanyaan yang terkadang tidak masuk akal dan sulit untuk di jawab


" Putri mau bantu papa? Agar mama Lisa bisa tidur, makan dan tinggal bersama kita?"


Arga menatap anaknya sambil tersenyum, karena ia tau kalau anaknya akan selalu antusias jika membahas tentang Lisa. Putri menatap papa nya dengan mata berbinar, karena ia sekarang sedang membayangkan mama yang di inginkannya akan bersama ia dan papa nya selamanya. Putri tidak sabar untuk pamer pada teman-temannya. Putri sedang menjalankan perintah dari papa nya dengan menghubungi Lisa, lalu menyuruh Lisa untuk menemaninya dan di setujui oleh Lisa. Lisa sudah menyayangi Putri dengan sepenuh hati, menganggap Putri sebagai anak sendiri, jadi tidak ada alasan untuk ia menolak permintaan anaknya, lagi pula ia sedang menganggur dan hanya berdiam diri di rumah. Waktu sudah menujukan pukul 17.30WIB, Lisa masih bersantai di kamarnya, ia belum siap-siap, karena janjinya bersama Putri pukul 19.00WIB, tapi ia terperanjat saat pintu kamarnya terbuka dan di ikuti suara menggemaskan dari Putri


" Mama....Mama..."


Lisa merasa heran, karena Putri sudah ada di tempatnya, terlebih lagi dengan gaun yang di pakai Putri adalah gaun pesta, membuat Lisa merasa penasaran, sebenarnya acara apa hingga Putri menginginkan ia hadir


" Mama, kenapa masih belum berdandan? Putri sudah tidak sabar ingin melihat acaranya."


" Tentu saja Putri sudah membawa baju untuk mama, agar baju kita bisa sama."


Putri menujukan paper bag yang berada di dekat sofa kamar Lisa


" Baiklah sayang."


Lisa langsung menurunkan Putri dari pangkuannya dan segera bersiap-siap, karena sepertinya ia akan membutuhkan waktu cukup lama untuk berdandan, ia takut kalau acaranya acara pormal. Putri turun dari atas ranjang, ia akan keluar dari kamar Lisa, sebelum keluar ia minta ijin terlebih dahulu pada Lisa


" Mama, Putri akan ke bawah, Putri ingin main bersama nenek, kakek, dan juga uncle Reyhan, yang sudah berjanji akan mengajari Putri tinju untuk memukul teman yang jahat."

__ADS_1


Sebelum Lisa menjawab, Putri sudah berlalu pergi dari kamar Lisa, membuat Lisa terbengong, ia ingin sekali memarahi Reyhan yang sudah mengajari kekerasan pada anaknya. Lisa tersenyum sendiri saat mengatakan kalau Putri adalah anaknya. Putri memang sudah sangat akrab dengan ke dua orang tuanya dan juga adiknya, karena pada dasarnya Putri adalah orang yang mudah akrab dengan orang lain. Ke dua orang tuanya juga selalu tersenyum saat bermain dengan Putri, jika setiap kali Putri merengek pada Arga ingin diantarkan ke rumah Lisa, bahkan dengan Reyhan pun Putri sudah sangat lengket. Setelah beberapa jam Lisa bersiap-siap, ia sudah siap dengan penampilanya, menggunakan gaun berwarna merah dan menata rambutnya dengan simpel. Lisa segera turun, ia takut membuat Putri dan Arga menunggu terlalu lama, ia menuruni tangga dengan hati-hati. Setelah sampai di ruang tamu, Lisa hanya menemukan Putri yang sedang bercerita dengan heboh pada orang tuanya. Mata Lisa menatap ke seluruh ruangan itu, ia mencari Arga, tapi ia tidak menemukan Arga, ia merasa tidak mungkin kalau Arga meninggalkanya dan Putri untuk berangkat lebih dulu. Reyhan yang menyadari kakanya sedang mencari sesaorang, yang Reyhan yakini adalah Arga, ia langsung tersenyum jahil


" Kaka mencari siapa?"


Lisa memandang ke arah adiknya


" Mana papa Putri? Apa'kah sudah berangkat lebih dulu?"


Reyhan masih tersenyum jahil sambil mendekati kakanya, ia merangkul pundak kakanya


" Cuma tidak di apelin selama 1 minggu saja kaka sudah mencari bang Arga."


Lisa memutar bola matanya malas, selalu saja adiknya menjodoh-jodohkan ia dengan Arga, jelas-jelas pertanyaannya tidak ada yang salah, ia hanya menanyakan keberadaan orang yang mengajaknya untuk pergi, tapi ia tidak menemukannya. Kini giliran Putri yang menghampiri Lisa, lalu langsung menggandeng tangan Lisa, karena sekarang Putri sudah tidak sabar menanti acara yang akan membuatnya memiliki seorang mama


" Ayo ma, kita berangkat."


Putri sudah menyeret Lisa, tapi Lisa tidak bergeming


" Emangnya papa kemana sayang?"


Lisa langsung menurunkan pandanganya pada Putri untuk mencari jawaban


" Kita berangkat berdua saja ma. Apa lagi Putri juga tidak bilang kalau kita akan berangkat bersama papa."

__ADS_1


__ADS_2