Air Mata Lisa

Air Mata Lisa
BAB. 47 Hidup dalam penyesalan


__ADS_3

Aska duduk di balkon kamarnya, sambil sesekali meminum alkohol agar sedikit melupakan tentang penyesalannya pada Lisa, apa lagi ia sudah1 tahun hidup dengan penyesalan, walau pun ia mencoba untuk mengiklaskan Lisa bersama Arga, tapi hatinya tetap saja, ia merasakan hidupnya hancur berkeping-keping, ia juga berpikir mungkin Lisa dulu lebih merasakan sakit, karena terus berjuang untuk mendapatkannya, tapi kini bahkan Lisa sudah benar-benar melupakannya. Pernikahan Lisa sudah cukup menjadi pukulan untuknya, belum lagi saat mendengar kalau Lisa tengah mengandung anaknya Arga, dan bahkan 1 hari yang lalu Aska mendengar kalau Lisa sudah melahirkan, membuat ia semakin menyesalinya, menyesali semua yang telah ia lakukan karena kebahagiaan sesaat, seharusnya ia dan Lisa sudah bahagia karena perekonomiannya sudah bisa terpenuhi, dan Lisa mengandung anaknya, tapi sekarang Lisa memiliki anak dengan Arga, lelaki yang selalu berdiri di belakang Lisa selama ini


" Aska, kenapa kamu bodoh?! Lisa sudah bahagia bersama Arga, tapi kamu selama 1 tahun ini hidupnya hanya mabuk-mabukan dan hidup dengan penyesalan."


Aska berbicara sendiri sambil meneteskan air mata, saat Lisa menikah dan mencoba untuk iklas, tapi tetap saja hatinya tidak bisa mengiklaskan Lisa, bahkan bayangan awal ia menikah bersama Lisa selalu berputar-putar di otaknya. Aska sudah berkali-kali minum alkohol untuk melupakan Lisa sesaat saja, tapi hasilnya selalu saja nihil


" Apa ini hukuman buatku, hingga aku menjadi tersiksa tanpa Lisa?"


Aska bertanya pada diri sendiri. Tubuh Aska semakin tidak terurus dan semakin kurus, ternyata ampunan dari ke dua orang tuannya tetap saja tidak bisa membuat ia bahagia, karena hubungan bersama Lisa sama sekali tidak bisa di perbaiki. Aska malam ini sudah menghabiskan 4 botol alkohol, tapi tetap tidak bisa membuat ia mabuk. Ke dua orang tua Aska hanya menatap Aska dari kamar Aska, mereka merasa sangat sedih karena anak satu-satunya sekarang hidup dengan penyesalan, hingga membuat anaknya selalu meninum alkohol, ke dua orang tua Aska memang sudah berkali-kali untuk melarang Aska meminum alkohol, karena mereka takut kalau Aska kenapa-napa, tapi Aska tidak menggubris ucapan mereka berdua, Aska selalu memunum alkohol setiap harinya


" Pi, kita harus melakukan apa? Kita sudah sebisa mungkin untuk melarang Aska meminum alkohol, bahkan kita juga sudah mencari bayak wanita agar Aska mau memilih salah satu dari wanita itu, tapi Aska tetap saja selalu menolak, dan sekarang Aska menjadi semakin kurus, tubuhnya tidak terurus."


Key bertanya dengan mata berkaca-kaca, ia sangat kasihan melihat anaknya menjadi seperti itu, tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa, sudah berbagai cara sudah ia lakukan, tapi hasilnya tetap saja nihil. Dellon hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia juga benar-benar tidak tau harus melakukan apa lagi untuk merubah kebiasaan buruk anaknya yang selalu saja mabuk-mabukan. Key yang melihat jawaban dari suaminya, ia langsung memeluk suaminya sambil menangis pelan, ia juga ikut tersiksa dengan kejadian yang menimpa anaknya, tapi ia hanya bisa diam dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena semua ide yang ia coba selalu saja gagal di mata anaknya. Dellon juga membalas pelukan dari istrinya sambil mengelus kepala istrinya

__ADS_1


" Mi, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena sudah berbagai cara kita lakukan untuk Aska, tapi hasilnya tetap saja nihil. Mami jangan menangis lagi, sudah setiap hari mami menangis karena kelakuan Aska, mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan untuk Aska, karena Aska selalu tidak menghargai perjuangan Lisa yang mencoba untuk keutuhan rumah tangganya."


" Sampai kapan Pi? Sampai kapan Aska selalu seperti ini, mami sudah lelah dengan semua ini, mami ingin melihat Aska tersenyum ceriah seperti dulu lagi, ingin melihat Aska bahagia dengan wanita yang Aska cintai."


Key berbicara sambil memukul-mukul dada kanan milik suaminya, tapi ia tetap menyandarkan kepalanya di dada kiri milik suaminya, tentu saja ia merasa sangat sedih melihat anaknya yang selalu seperti itu, karena bagai mana pun ia adalah seorang ibu, yang akan selalu sedih saat melihat anaknya hidup dalam penyesalan


" Papi tidak tua sampai kapan mi, tapi kita jangan lelah untuk berdo'a dan meminta pada Tuhan, agar Aska menerima kenyatan, hidup seperti semula lagi, dan mengiklaskan Lisa untuk selamanya."


Tentu saja Dellon tidak tau, sampai kapan anaknya berhenti menyesalinya dan mengiklaskan Lisa. Aska menghapus air matanya dengan kasar, entah sudah berapa ribu air mata yang ia keluarkan selama 1tahun ini, selama 1 tahun ia akan meneteskan air mata, jika mengingat tentang Lisa, bahkan semenjak Lisa menikah, ia tidak sedetikpun bisa melupakan Lisa, kalau ia tidak tertidur


Lagi-lagi Aska berbicara sendiri, bahkan pembicaraannya tidak pernah luput dari pandangan ke dua orang tuanya, karena ke dua orang tuanya selalu saja mendengar keluh kesahnya, walau pun ke dua orang tuanya tidak berbicara apa-apa padanya


" Seandainya saja aku tidak takut gagal bunuh diri, mungkin aku akan melakukannya, agar aku tidak merasakan sakit yang ada di dadaku yang seperti di tusuk-tusuk oleh ribuan pedang, tapi aku takut kalau aku masih hidup hingga nanti aku merasakan sakit di tubuhku bukan hanya di hatiku."

__ADS_1


Aska ingin sekali ia bunuh diri, karena merasakan sakit yang teramat dalam di hatinya, tapi ia juga takut kalau gagal, hingga membuat ia merasakan sakit di dalam tubuhnya juga. Sedangkan Key langsung melepaskan pelukan dari suaminya dengan sepontan, karena mendengar anaknya yang ingin bunuh diri. Selama 1 tahun ini Key selalu mendengar semua keluh kesah anaknya, tapi ia tidak pernah mendengar ucapan anaknya yang ingin bunuh diri


" Pi, apa yang Aska ucapkan akan Aska lakukan? Atau Aska hanya berbicara ngawur saja?"


Dellon juga sangat terkejut dan takut terjadi apa-apa saat mendengar ucapan dari anaknya, tapi ia sebisa mungkin untuk menenangkan sang istri, agar istrinya tidak terlalu kuatir


" Papi yakin kalau Aska tidak akan melakukan yang membahayakan dirinya sendiri, mami tidak perlu kuatir, mami harus tenang, dan sebisa mungkin kalau kita selalu memantau anak kita mi."


Key hanya menjawab dengan anggukan kepala, ia menyetujui saran dari suaminya, kalau ia tidak boleh lengah, dan selalu mengawasi anak satu-satunya itu, agar tidak terjadi apa-apa. Setelah itu Dellon langsung mengajak istrinya duduk di sofa kamar Aska, karena ia merasakan kakinya sudah pegal


" Mi, ayo kita duduk di sofa, kaki papi sudah merasakan pegal."


Key hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu mereka langsung berjalan ke arah sofa, setelah itu mereka duduk di sofa. Key menyadarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya sambil terus melihat anaknya

__ADS_1


...****************...



__ADS_2